Seluruh bangunan yang berada di pulau Kanawa terancam di gusur, karena kepemilikannya berpindah tangan pada pria asing berasal dari Jerman. Yang akan merubah semua isi pulau tersebut untuk di jadikan tempat wisata yang akan menambah kekayaannya.
Pria asing itu adalah Jerricco
Alessandro, pria sukses dalam bidang teknologi dan wisata mancanegara.
Tidak ingin mata pencaharian warga hilang begitu saja karena ke serakahan pria itu, Damara harus merelakan diri menjadi istri Jerry, agar dirinya serta seluruh warga pulau Kanwa tetap bisa bekerja dan mencari pundi-pundi rupiah.
"Hidupnya harus membawa banyak keuntungan besar untukku!" pria paru baya tersebut menyeringai sambil memandangi foto wanita berparas cantik dengan rambut sebahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Salahmu
Cium-an itu semakin menuntun dan semakin panas, bahkan Jerricco tanpa sadar meraba gundukan kenyal milik Mira yang cukup besar. Karena selama ini Jerricco tidak pernah meraba sedikit pun tubuh Mira, dia hanya menjaga semuanya dengan aman bahkan dari dirinya sendiri. Tapi malam ini mereka tidak bisa menahannya lagi, bahkan tanpa ragu Mira membuka setiap kancing kemeja yang di pakai Jerricco.
Semua penghalang yang ada di tubuh Jerricco dan Mira sudah berceceran di lantai, Jerricco menatap Mira yang tampak bergairah.
“Dear, aku menginginkannya.”
Mira menganggukkan kepalanya, dengan pipi yang bersemu Merah. “Lakukanlah,” Mira memberi izin untuk Jerricco agar melanjutkan kegiatan panas mereka untuk yang pertama kali.
Jerricco mengecup bibir Mira, dia mulai melakukan aksinya. Pusakanya menerobos benda yang lembut dan hangat. Saat merasakan suatu penghalang, Jerricco menekan sedikit lebih keras hingga miliknya masuk ke dalam kelembutan Mira, hingga tenggelam seluruhnya.
Mira meneteskan air matanya, perasaannya bahagia satu tahun dia menunggu dan menggoda Jerricco. Baru kali ini mereka bisa membagi rasa cinta lewat kegiatan panas yang mereka lalui.
Permainan itu cukup lama, bahkan tubuh mereka berdua kini banjir dengan keringat. Mira tersenyum puas saat merasakan semburan hangat di dalam kelembutan miliknya.
“Terima kasih,” ucap Mira tulus.
Jerricco menyatukan kening mereka, dia menggesekkan ujung hidangannya pada hidung Mira. “Aku akan melakukan apa pun, agar kamu tetap di sini bersamaku.”
Bibir Mira merekah, menampakkan senyumnya. “Dear kau harus berjanji tidak akan pernah meninggalkanku, dan melakukan hal panas dengan wanita lain.”
Arvan mengecup bibir Mira, “Iya aku berjanji, Dear. Hanya kamu wanita satu-satunya.”
Flashback op0ff
Jerricco mengacak-acak rambutnya dengan kasar, helaan nafas terus keluar dari mulutnya. Dia tidak bisa melupakan janjinya, bahkan kejadian itu sudah terjadi tiga belas tahun lalu, saat ia berusia dua puluh lima tahun.
Dan sampai sekarang memori itu masih tertanam jelas di kepalanya, tidak ada satu wanita pun yang berhasil menarik perhatiannya setelah lima tahun yang lalu semenjak kepergian Mira.
Hanya Damara yang berhasil membuat Jerricco tertarik, tapi dia tidak bisa melakukan hubungan di atas tempat tidur.
Apalagi wajah Mira benar-benar tergambar jelas di kepalanya, bibirnya mengerucut, tangannya berkacak pinggang dan matanya menyipit.
Jerricco memilih menyelesaikan acara mandinya, dia harus segera bertemu Damara untuk meminta maaf.
Damara memilih memejamkan matanya saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Air matanya kembali menetes jika mengingat kejadian Jerricco yang meninggalkannya begitu saja.
Jerricco menghela nafasnya saat melihat Damara memunggunginya, dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke leher.
Dengan perlahan Jerricco berjalan dan duduk di samping Damara. “Maaf,” ucap Jerricco pelan.
Hanya kata maaf yang keluar dari mulut Jerricco, bahkan rasa sakit di hati dan tubuhnya tidak bisa di sembuhkan dengan kata maaf.
Jerricco merasa semakin bersalah melihat tubuh Damara bergetar, menahan isak-an. Dia merebahkan tubuh basahnya di samping Damara, dan memeluknya dari belakang.
Damara memilih mengakhiri tangisnya, dia mengusap air matanya saat merasakan tubuh Jerricco yang memeluknya.
“Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu.”
Rasanya Damara ingin bertanya pada Jerricco, apa yang membuatnya seperti ini. Mencampakkannya di malam pertama, mengambil mahkotanya lalu pergi begitu saja.
“Apa aku pernah berbuat salah padamu, hingga kamu tega melakukan ini?” tanya Damara dengan suara bergetar, bahkan kelopak matanya kini penuh kembali oleh air mata yang siap menetes.
Jerricco menarik tubuh Damara agar melihat ke arahnya, dengan lembut Arvan menghapus air mata istrinya. “Kamu tidak salah, ini salahku.”
Damara memilih diam dia tidak berniat menjawab ucapan Jerricco, fokusnya jatuh pada manik Jerricco yang memancarkan kesedihan. “Kamu sebenarnya kenapa?” pertanyaan itu muncul di benak Damara, dia tidak berani lancang berbicara seperti itu pada Jerricco.
Kenapa setelah menikah terjesan spt gadis cengeng..?
koq aku ga paham yaa