Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAMPIR KETAHUAN.
Yulia memperhatikan perubahan ekspresi Damar setelah mendengar pengakuannya. Pria itu masih menatap benda pipih bergaris dua di tangannya, seolah belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Jangan bercanda, Sayang,” ucap Damar dengan suara tertahan.
Yulia menggeleng pelan. Ia kemudian meraih tangan Damar, menggenggamnya sebentar sebelum mengarahkannya ke perutnya sendiri.
“Aku gak bercanda, Dam.” Ia menatap wajah pria itu lekat-lekat. “Kata dokter, usia kandunganku sudah dua bulan. Bayinya juga sehat.”
Yulia mengusap punggung tangan Damar yang masih menempel di perutnya. Senyum kecil terbit di bibirnya, berharap kabar itu bisa membuat pria di hadapannya ikut bahagia.
“Kamu senang, Dam?” tanyanya lagi. “Senang karena kamu akan jadi seorang ayah?”
Namun, Damar tak kunjung memberikan jawaban yang diharapkannya. Pria itu justru masih menatapnya dengan sorot mata tak percaya.
Senyum Yulia perlahan memudar. Ia melepaskan tangan Damar dari perutnya, lalu menyentuh lengan pria itu dengan lembut.
“Dam, kamu kenapa? Kok diam saja?” tanyanya, berusaha mencari tahu apa yang sedang dipikirkan menantunya itu.
Yulia kembali menunggu, tetapi tatapan Damar masih membuatnya bertanya-tanya. Namun, beberapa saat berlalu, pria itu tak kunjung mengatakan apa pun. Ia mulai gelisah dan kembali bertanya.
“Damar, kamu gak senang?” tanyanya.
Damar segera mengalihkan pandangan kepadanya.
“Sayang, bukan begitu. Aku cuma bingung bagaimana harus memberitahu Nafisa dan keluargaku.”
Yulia terdiam. Jawaban itu membuat senyum yang sempat menghiasi wajahnya perlahan menghilang setelah Damar mengingatkannya untuk berpikir bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada Nafisa dan keluarga menantunya.
Lalu ia menatap lekat ke arah Damar.
“Ya, tinggal mengakui saja kalau aku hamil anakmu, Dam,” jawabnya kemudian. “Memangnya apa yang sulit?”
Damar mengembuskan napas, lalu mengusap wajahnya sekilas. “Jangan sekarang, Sayang.”
Yulia mengerutkan kening. Ia menatap pria itu lekat-lekat, berusaha memahami maksud perkataannya.
“Lalu sampai kapan?” tanyanya, kali ini dengan nada yang lebih serius.
Damar meraih tangannya dan menggenggamnya erat. “Kita lihat saja nanti, Sayang. Untuk sementara, sembunyikan dulu kehamilanmu, ya?”
Yulia tak langsung menjawab. Ia menunduk, memandangi perutnya sendiri.
Setelah beberapa saat mempertimbangkan perkataan Damar, Yulia akhirnya mengembuskan napas panjang.
“Baiklah,” jawabnya pelan. “Tapi kalau kehamilanku sudah membesar dan kamu belum memberitahu, biar aku sendiri yang mengatakannya.”
Setelah mengatakannya, Damar mengangguk, kemudian menarik tangannya dengan lembut. Tanpa menolak, Yulia mendekat hingga akhirnya duduk di pangkuan pria itu.
Damar memeluk pinggangnya, san salah satu tangannya kemudian bergerak mengusap perutnya yang masih rata.
“Anak kita harus sehat, ya, Sayang,” bisik Damar.
Yulia tersenyum tipis. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Damar.
. . .
Waktu berlalu tanpa terasa.
Tepat hampir menjelang subuh. Di dalam kamar, Nafisa perlahan terbangun, pandangan tertuju pada sisi kasur yang kosong.
Keningnya mengernyit. Ia lalu terduduk menatap heran karena tak menemukan keberadaan suaminya.
“Mas Damar kemana ya? Apa sudah bangun duluan?”
Nafisa mengembuskan napas pelan, lalu melangkah keluar kamar. Ia berniat ke dapur untuk mengambil minum. Namun saat ia hampir tiba di dapur, langkahnya seketika terhenti saat sudut matanya menangkap sekelebat bayangan di dekat pintu belakang.
Keningnya berkerut. “Siapa, ya?” gumamnya pelan.
Rasa penasaran membuatnya berjalan mendekati pintu belakang. Tangannya meraih gagang pintu, lalu membukanya perlahan.
Begitu berada di ambang pintu, Nafisa mengedarkan pandangan ke seluruh halaman. Udara pagi buta yang dingin menyentuh kulitnya, tetapi ia tak menemukan siapa pun di sana.
Belum sempat ia melangkah lebih jauh, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang.
“Nafisa, kamu sedang apa?”
Bahunya sedikit terangkat karena terkejut. Nafisa segera berbalik dan mendapati Damar sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Mas—” Ia mengerjap, lalu menghampiri suaminya. “Mas kamu sudah bangun ternyata? Tadi kemana kok di kamar kamu gak ada?”
Damar tampak mengusap tengkuknya sekilas sebelum menjawab, “Maaf, ya, sudah bikin kamu khawatir. Tadi Mas di luar. Soalnya, Mas gak bisa tidur.”
Nafisa menatap wajah suaminya lekat-lekat.
“Di luar?” ulangnya pelan.
“Iya.” Damar mengangguk santai. “Mas cuma mencari udara segar.”
Nafisa terdiam sesaat. Ia ingin bertanya lebih jauh, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya.
“Ya sudah, Mas. Aku mau siap-siap salat Subuh dulu.”
Damar mengangguk, kemudian melirik ke arah kamar mandi. “Mas mandi dulu, ya, Naf.”
Nafisa mengerutkan kening. “Mandi, jam segini?”
“Iya. Tadi Mas mimpi basah, jadi harus mandi wajib sebelum salat.”
“Mimpi basah?” ulang Nafisa. “bukannya tadi Mas bilang gak bisa tidur?”
“I-itu, tadi sempat tertidur, Naf. Hanya saja Mas mimpi basah jadi mau balik tidur, malah gak bisa.”
“Oh.” Nafisa mengangguk kecil setelah memahami maksud suaminya. “Ya sudah.”
Nafisa pun berbalik dan berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Meski berusaha mengabaikan rasa janggal yang sejak tadi mengusik pikirannya.
Melihat istri berjalan menuju keran. Damar mengembuskan napas lega setelah Nafisa menerima penjelasannya tanpa banyak bertanya.
Pandangannya beralih kearah halaman belakang. Tatapannya kemudian tertuju pada sebuah pohon yang tumbuh tak jauh dari gudang. Di balik rimbunnya dedaunan, ia melihat sosok Yulia yang masih bersembunyi.
Wanita itu mengintip dari balik batang pohon.
Damar segera memberi isyarat kecil dengan tangannya, meyakinkan ibu mertuanya bahwa Nafisa tidak mengetahui apa pun. Wanita itu tampak membalas dengan anggukan singkat dan mengendap pergi.
Damar mengalihkan pandangan, berusaha memasang wajah biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan.
‘Untung saja ada CCTV. Semuanya aman.’
Ia mengusap wajahnya sekilas.
.
Sementara itu, Yulia yang akhirnya berhasil keluar dari pelantaran rumah putri dan menantunya. Kini ia berjalan menyusuri sisi bangunan hingga tiba di rumah tempat dirinya menitipkan sepeda motor semalam.
Setibanya di halaman rumah itu, pandangannya langsung tertuju pada seorang satpam yang berjaga di dekat pos. Yulia segera menghampirinya sambil merapikan pakaian yang dikenakannya.
“Pak, saya mau ambil motor,” ujarnya.
Satpam itu menoleh, lalu mengangguk ramah. “Oh, silakan, Bu. Motornya ada di belakang pos.”
“Terima kasih, Pak.”
Yulia melangkah menuju bagian belakang pos. Begitu melihat sepeda motornya masih terparkir di tempat semula, ia segera mengambil helm, mengenakannya, lalu naik ke atas kendaraan tersebut.
Mesin motor dinyalakan. Setelah memastikan keadaan jalan cukup aman, Yulia perlahan melajukan kendaraannya meninggalkan halaman rumah itu.
Di tengah perjalanan, tangan Yulia sesekali bergerak mengusap perutnya.
“Yang sabar, ya, Sayang. Ayahmu sedang mencari waktu yang tepat untuk memberi tahu ke semua orang,” gumamnya pelan. “Dan Untung saja Nafisa belum hamil anak ayahmu.”
. . .
Di dalam kamar, Nafisa yang telah selesai menunaikan salat Subuh tidak langsung beranjak dari tempatnya. Ia masih duduk di atas sajadah, kedua tangan terangkat menengadah, sementara pandangannya sedikit terarah ke atas.
Dengan hati yang masih dipenuhi kegelisahan, ia mulai memanjatkan doa.
‘Ya Allah, ya Rabbi. Tolong jauhkan perasaan dan pikiran buruk ini dari hamba. Hamba ingin rumah tangga dan pernikahan ini dijalani sekali seumur hidup, tanpa masalah dan tanpa orang lain yang masuk ke dalam kehidupan rumah tangga kami.’
‘Sehatkanlah ibu hamba dari penyakit yang terus datang. Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbii 'ala diinik. Kabulkanlah doa hamba, ya Allah. Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.’
Setelah mengakhiri doanya, Nafisa mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah. Ia menarik napas panjang, berharap kegelisahan yang belakangan ini sering muncul bisa segera mereda.
Namun, belum sempat ia melipat mukena, terdengar derit pintu dari belakangnya.
Nafisa menoleh dan mendapati Damar baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah.
“Mas, sholat dulu,” ujarnya sembari tersenyum tipis.
Damar mengangguk. “Iya, Naf.”
Pria itu kemudian berjalan menuju tempat perlengkapan salat diletakkan. Nafisa memperhatikannya sejenak. Setidaknya, ia merasa lega melihat suaminya masih mengingat kewajiban kepada Sang Pencipta.
Akan tetapi, senyum di bibirnya perlahan memudar ketika pandangannya tanpa sengaja jatuh pada leher Damar.
Ada bercak kemerahan di sana.
Nafisa mengernyit. Ia mengenali warna bercak itu karena beberapa hari terakhir, ia juga sempat melihat tanda serupa di leher ibunya.
‘Kenapa sama seperti punya Ibu?’
Pikiran itu membuatnya kembali teringat pada keganjilan yang dirasakannya sejak semalam.
“Mas,” panggilnya.
Damar yang sedang mengambil perlengkapan salat segera menoleh. “Ada apa?”
Nafisa bangkit dari sajadah, lalu melangkah mendekat agar bisa melihat leher suaminya dengan lebih jelas.
“Itu, apa yang ada di lehermu, Mas?” tanyanya sambil menunjuk bagian yang kemerahan.
Gerakan tangan Damar seketika terhenti. Tangannya segera terangkat untuk mengusap tengkuknya.
“Kamu masuk angin juga, sama seperti Ibu?” tanya Nafisa polos.
Ia menatap wajah suaminya, menunggu jawaban.
Damar terdiam begitu mendengar pertanyaan istrinya.
‘Masuk angin?’
“Mas ...,” panggil Nafisa lagi.
Damar tersentak kecil. Ia segera mengangkat wajah dan menatap istrinya, berusaha memasang ekspresi sewajar mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan.
“Enggak, kok, Naf. Mas tadi cuma pusing sama kembung. Mungkin karena kemarin banyak kerja di luar, jadi badan Mas agak gak enak.” Ia mengusap tengkuknya sekali lagi. “Mas minta teman Mas kerokin. Mungkin bekasnya masih kelihatan.”
Damar memperhatikan wajah Nafisa, mencoba membaca reaksi istrinya. Ia berharap penjelasan itu cukup untuk mengakhiri kecurigaan istrinya.
Namun sepertinya, Nafisa belum mempercayai penjelasannya.
“Ah, Naf, Mas mau sholat dulu, ya. Nanti keburu mataharinya terbit.”
Nafisa terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Iya, Mas.”
Damar segera mengambil perlengkapan salatnya. Ia baru bisa bernapas sedikit lebih lega ketika melihat Nafisa beranjak dari tempatnya, kemudian melipat sajadah dan mukena sebelum berjalan keluar kamar.
Begitu pintu tertutup, Damar mengembuskan napas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu kembali menyentuh tengkuknya.
‘Hampir saja.’
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.