Di lelang gelap, seorang gadis dijual kepada penawar tertinggi. Pembelinya adalah Hendra Wirakusuma, mafioso yang ditakuti seisi kota, dingin, berbahaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.
Sekar tak punya siapa-siapa lagi. Ia dikhianati keluarganya sendiri dan kini terkurung di rumah pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun di balik tatapan dan tangan yang berlumur dosa itu, ada sisi Hendra yang tak pernah dilihat orang lain.
Antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin, mampukah Sekar bertahan? Dan sampai di mana seorang mafioso rela melangkah demi satu perempuan yang ia beli?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Temani Aku
POV Baskoro
"Wah, makan malamnya kelihatan lezat. Ayo kita makan?" Aku mencoba mencairkan suasana tegang itu.
POV Hendra
"Ya."
Semua mengambil makanan dan makan malam berlangsung hangat, penuh obrolan santai. Tapi setiap ada kesempatan, aku melirik Sekar, yang menyadarinya dan karena canggung tidak sekali pun menoleh padaku.
POV Ratna
Ucapan anakku tadi membuatku senang sekali. Sepertinya semuanya mulai berjalan seperti yang kuinginkan.
POV Hendra
"Enak sekali, Beti."
POV Beti
"Terima kasih banyak, Nak." Aku tersenyum.
POV Ratna
"Nak?"
POV Beti
"Hendra sekarang maunya begitu."
POV Ratna
"Astaga..." Aku terkejut.
POV Hendra
"Ibu cemburu?"
POV Ratna
"Bisa saja, tapi untung buatmu, yang dipanggil begitu itu Beti." Aku tersenyum.
POV Hendra
"Tenang, tempatnya cukup untuk semua." Aku mengedip. "Aku ke ruang tengah. Kalian?" Aku berdiri.
POV Baskoro
"Ide bagus."
POV Beti
"Pencuci mulutnya Ibu bawa ke sana?"
POV Hendra
"Ya, Beti."
Kami pindah ke ruang tengah dan duduk, mengobrol sebentar, lalu orang tuaku pulang. Aku kembali ke kamar dibantu Sekar. Begitu ia keluar, aku mandi dan berbaring hanya mengenakan celana dalam.
POV Sekar
Setelah mengantarnya ke kamar, aku mandi, memakai kaus pendek dan celana pendek, lalu kembali ke sana untuk menanyakan apa dia perlu sesuatu sebelum tidur.
Tok... tok...
POV Hendra
"Sebentar..." Aku membuka pintu. "Hai." Aku tersenyum melihatnya.
POV Sekar
"Ah... ma... maaf... Aku cuma mau tanya Tuan perlu sesuatu atau tidak." Dia gila, ya? Mau membunuhku? Susah banget pakai celana? Itu yang kupikirkan.
POV Hendra
"Tidak, Sekar, aku tidak perlu apa-apa." Aku tersenyum melihat betapa gugupnya dia dan caranya memandangku.
POV Sekar
"Permisi..." Saat aku berbalik, ia menarik lenganku.
POV Hendra
"Gugup?" Wajahku nyaris menempel di wajahnya.
POV Sekar
"Tidak, aku..."
POV Hendra
Aku tak tahan lagi dan menciumnya.
POV Sekar
Begitu sadar, kudorong dia. "Ini tidak seharusnya terjadi." Aku lari keluar.
POV Hendra
"Sekar, tunggu..." Ia tak memberiku kesempatan bicara dan pergi. Aku tersenyum melihat reaksinya, menutup pintu, lalu kembali ke ranjang. Apa yang sedang terjadi padaku?
POV Sekar
"Sekar, Sekar, Sekar... Awas kamu." Aku bicara pada bayanganku di cermin. "Bisa-bisanya kamu membiarkan dia menciummu? Kamu mikir apa? Kamu kira dia sudah jadi malaikat cuma karena berubah sedikit? Atau dia bakal mau sama bocah seperti kamu? Kalau sampai kamu jatuh cinta padanya, habis kamu. Sadar diri, Sekar, sadar diri." Aku naik ke ranjang dan segera tertidur, tapi semalaman memimpikannya, lalu terbangun di tengah malam dengan kesal. Aku bangkit menuju dapur, dan di sana kulihat dia duduk di meja. Aku baru mau menyelinap pergi.
POV Hendra
"Sekar... kurasa aku perlu obat." Aku bicara sambil menunduk.
POV Sekar
"Kamu kenapa?" Kusentuh keningnya. "ASTAGA! Kamu demam tinggi, Hendra."
POV Hendra
"Kurasa ciumanmu tidak baik buatku." Aku tersenyum.
POV Sekar
"Jangan ngawur... Kamu yang menciumku." Aku mengambil obatnya. "Minum ini, lalu naik."
POV Hendra
Kuminum obat dari tangannya dan kami naik bersama. Ia membaringkanku di ranjang, dan saat hendak pergi, kupegang tangannya.
"Temani aku..."
POV Sekar
"Kurasa lebih baik..."
POV Hendra
"Kumohon, aku tidak enak badan."
POV Sekar
"Baiklah..." Aku berbaring di sampingnya dan tak lama kami tertidur.