NovelToon NovelToon
Setetes Embun Penakluk Hati

Setetes Embun Penakluk Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:139
Nilai: 5
Nama Author: Moora Ayunda

Dion Nugroho adalah lelaki yang memiliki segalanya.

Wajah tampan, kehidupan mewah, popularitas, dan nama besar keluarga yang membuat siapa pun mengenalnya. Ia adalah putra tunggal pemilik Anggoro Group, perusahaan obat-obatan medis ternama yang bisnisnya telah menjangkau berbagai penjuru dunia.

Namun, di balik semua kemewahan itu, Dion tumbuh menjadi lelaki yang dingin, cuek, angkuh, dan sulit dikendalikan.

Baginya, perhatian dari perempuan hanyalah sesuatu yang mengganggu.

Berkali-kali wanita datang membawa perasaan tulus, tetapi Dion tak pernah menghargainya. Ia terlalu terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan hingga lupa bahwa hati manusia bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan kekayaan.

Sampai suatu hari...

Seorang mahasiswi baru datang ke kampusnya.

Namanya Alya Andini.

Gadis sederhana yang berasal dari sebuah kampung kecil. Penampilannya jauh berbeda dari mahasiswi lain. Rambutnya selalu dikuncir dua, mengenakan kacamata bulat hitam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Ayunda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11 Keputusan Alya.

Pagi berikutnya, kampus terlihat jauh lebih ramai dari biasanya.

Matahari pagi menyinari halaman kampus dengan cahaya keemasan. Mahasiswa berjalan melewati taman, sebagian duduk di bangku-bangku panjang sambil menikmati sarapan, sementara yang lain terburu-buru menuju gedung perkuliahan.

Namun pagi itu, perhatian hampir semua orang perlahan tertuju pada satu sosok.

Alya.

Gadis yang selama ini selalu datang dengan rambut dikuncir sederhana, kacamata bulat, pakaian yang tidak mencolok, dan tanda hitam di pipi kanannya.

Tetapi hari ini...

tidak ada tanda hitam itu.

Tidak ada riasan yang sengaja dibuat untuk menyamarkan wajahnya.

Tidak ada usaha untuk membuat dirinya terlihat biasa.

Alya berjalan memasuki gerbang kampus dengan langkah sedikit gugup.

Rambutnya dibiarkan tergerai rapi melewati bahu. Wajahnya hanya menggunakan riasan tipis yang membuat kulitnya terlihat segar. Bibirnya diberi warna lembut, sementara matanya terlihat lebih jelas tanpa kacamata yang biasanya selalu ia gunakan.

Pipi kanannya...

bersih.

Tidak ada noda hitam sedikit pun.

Alya beberapa kali menarik napas.

Tangannya bahkan sempat menyentuh pipinya sendiri.

"Tenang..."

gumamnya pelan.

"Aku cuma menghapus riasan."

Namun kenyataannya, jantungnya berdetak jauh lebih cepat.

Semalam ia berdiri cukup lama di depan cermin.

Awalnya tangannya ragu ketika membersihkan tanda hitam yang selama bertahun-tahun selalu menjadi bagian dari penampilannya.

Ia bahkan sempat berhenti.

Takut.

Takut melihat wajahnya sendiri.

Takut pada tatapan orang lain.

Takut pada kemungkinan bahwa semua kekhawatiran ibunya akan menjadi kenyataan.

Tetapi kemudian ia teringat perkataan Dion.

Kamu tidak perlu mengubah wajahmu supaya orang lain belajar menghargaimu.

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Akhirnya...

Alya menghapus semuanya.

Untuk pertama kalinya, ia melihat wajahnya sendiri tanpa penyamaran.

Dan untuk pertama kalinya juga, ia tersenyum kepada bayangannya di cermin.

"Aku Alya."

Bukan wajah ibunya.

Bukan masa lalu ibunya.

Dan bukan seseorang yang harus bersembunyi hanya karena dirinya cantik.

Kini Alya berdiri di tengah halaman kampus.

Namun baru beberapa langkah berjalan...

suasana di sekitarnya berubah.

"Eh..."

Seorang mahasiswa yang sedang berjalan tiba-tiba memperlambat langkah.

"Itu Alya, kan?"

Temannya menoleh.

"Alya?"

"Iya. Alya yang sekelas sama Dion."

Keduanya menatap ke arah yang sama.

Kemudian salah satu dari mereka membelalakkan mata.

"Serius itu Alya?"

Bisikan kecil mulai terdengar.

Awalnya hanya dua atau tiga orang.

Lalu semakin banyak.

"Ya ampun..."

"Dia cantik banget."

"Selama ini dia nyembunyiin wajahnya?"

"Kenapa aku baru sadar?"

"Yang di pipinya selama ini ternyata cuma riasan?"

Alya semakin gugup.

Langkahnya melambat.

Beberapa mahasiswa bahkan terang-terangan menoleh ketika ia lewat.

Ada yang tersenyum kagum.

Ada yang berbisik kepada temannya.

Ada pula yang buru-buru mengeluarkan ponsel.

Alya mulai merasa tidak nyaman.

Tangannya kembali menyentuh pipi kanannya.

"Kenapa semua orang melihatku?"

Ia hampir saja berbalik dan kembali ke rumah.

Namun saat itulah...

sebuah suara terdengar dari belakang.

"Alya!"

Alya menoleh.

Sahabatnya berlari kecil menghampirinya.

Begitu sampai di depan Alya, gadis itu langsung berhenti.

Matanya membesar.

"Astaga."

Alya semakin gugup.

"Kenapa?"

Sahabatnya memegang kedua bahunya.

"Kamu..."

Ia menatap Alya dari atas sampai bawah.

"Kamu benar-benar Alya?"

Alya tertawa kecil.

"Iya."

"Yang biasanya pakai kacamata bulat dan punya tanda hitam di pipi?"

Alya mengangguk malu.

"Iya."

Sahabatnya langsung menutup mulut.

"Selama ini kamu ternyata menyembunyikan wajah seperti ini?"

Alya hanya tersenyum canggung.

"Aku cuma ingin mencoba."

"Ini bukan cuma mencoba!"

Sahabatnya menoleh ke sekitar.

"Seisi kampus melihatmu!"

Alya semakin salah tingkah.

Dan benar saja.

Dalam beberapa menit, kabar tentang perubahan penampilan Alya menyebar begitu cepat.

Di kantin.

Di lorong fakultas.

Di depan perpustakaan.

Bahkan mahasiswa dari jurusan lain mulai penasaran dengan gadis yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian.

"Alya yang mana?"

"Itu."

"Yang rambut panjang?"

"Iya."

"Wah..."

Alya yang biasanya tidak pernah diperhatikan kini justru kesulitan berjalan tanpa mendapat tatapan.

Ia menundukkan wajah.

"Sepertinya aku salah keputusan."

Sahabatnya tertawa.

"Kenapa?"

"Aku tidak terbiasa dilihat seperti ini."

"Biasakan."

"Aku tidak mau."

"Terlambat."

Alya mengerutkan hidung.

"Maksudnya?"

Sahabatnya menunjuk ke arah kerumunan kecil di depan gedung.

"Karena kamu sudah jadi bintang kampus."

Alya menghela napas.

"Jangan bercanda."

"Aku serius."

Namun di tengah keramaian itu...

ada seseorang yang tidak mengatakan apa-apa.

Dion.

Sejak tadi pria itu berdiri di dekat tangga gedung perkuliahan.

Tangannya memegang buku.

Tetapi buku itu sudah lama tidak dibuka.

Tatapannya hanya tertuju pada Alya.

Tanpa berkedip.

Dion benar-benar terdiam.

Ia sudah pernah melihat Alya berkali-kali.

Dengan kacamata.

Dengan rambut yang dikuncir.

Dengan pakaian sederhana.

Dengan tanda hitam di pipinya.

Tetapi Alya yang berdiri di hadapannya sekarang terasa berbeda.

Bukan karena wajahnya menjadi lebih cantik.

Melainkan karena untuk pertama kalinya...

Alya terlihat benar-benar menjadi dirinya sendiri.

Dion bahkan tidak sadar bahwa seseorang sudah berdiri di sampingnya.

"Dion."

Tidak ada jawaban.

"Dion."

Tetap diam.

Temannya mengikuti arah pandang Dion.

Kemudian tersenyum jahil.

"Oh..."

Dion akhirnya tersadar.

"Apa?"

"Kamu dari tadi menatap Alya."

Dion langsung mengalihkan pandangan.

"Aku tidak menatap."

"Terus?"

"Aku cuma..."

Dion terdiam.

Ia kembali melihat Alya.

"...memastikan sesuatu."

"Memastikan apa?"

Dion tidak menjawab.

Sebab saat itu Alya tiba-tiba menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Alya langsung tersenyum kecil.

Senyum yang berbeda dari biasanya.

Tidak gugup.

Tidak berusaha menyembunyikan diri.

Dion terdiam lagi.

Kali ini Alya justru berjalan menghampirinya.

Setiap langkahnya membuat beberapa pasang mata kembali mengikuti.

Begitu sampai di depan Dion, Alya berhenti.

"Kenapa?"

Dion mengerutkan kening.

"Apa?"

"Kamu dari tadi melihatku."

Dion tidak langsung menjawab.

Matanya kembali turun sebentar ke pipi kanan Alya yang kini bersih.

Lalu kembali menatap matanya.

"Aku cuma..."

Dion tersenyum tipis.

"...sedang melihat rahasia yang kamu bilang minggu lalu."

Alya tersipu.

"Jadi?"

Dion menatapnya beberapa detik.

"Bagaimana menurutmu?"

Alya bertanya dengan suara pelan.

Dion tersenyum.

"Lebih dari yang aku bayangkan."

Wajah Alya langsung memerah.

"Jangan bilang begitu."

"Kenapa?"

"Aku jadi malu."

Dion tertawa kecil.

"Kamu yang memilih datang seperti ini."

Alya menyentuh pipinya.

"Aku sempat takut."

Dion menatapnya serius.

"Tapi kamu tetap datang."

Alya mengangguk.

"Iya."

"Berarti kamu sudah mulai percaya."

Alya tersenyum.

"Pada diriku sendiri..."

Ia berhenti sebentar.

"...dan padamu."

Dion terdiam.

Kalimat sederhana itu justru membuat senyumnya semakin lebar.

Di sekitar mereka, bisikan mahasiswa masih terdengar.

Namun kali ini Alya tidak menundukkan wajah.

Ia berdiri tegak.

Membiarkan dirinya terlihat.

Tanpa tanda hitam.

Tanpa penyamaran.

Tanpa rasa takut.

Hari itu, Alya memang menjadi pusat perhatian kampus.

Tetapi bagi Dion...

yang paling menarik bukanlah kecantikannya.

Melainkan keberanian gadis itu untuk akhirnya berhenti bersembunyi.

Dan tanpa mereka sadari...

dari kejauhan, seseorang sedang memperhatikan Alya.

Tatapannya berbeda dari mahasiswa lainnya.

Tidak kagum.

Tidak terpesona.

Justru penuh keterkejutan.

Pria itu melihat wajah Alya yang kini terbuka tanpa penyamaran.

Tangannya perlahan mengepal.

"Jadi..."

gumamnya pelan.

"Dia akhirnya berani menunjukkan wajah aslinya."

Senyumnya tipis.

"Kalau begitu, waktunya sudah tiba."

Masa lalu yang selama ini terkubur...

perlahan mulai kembali ke permukaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!