NovelToon NovelToon
Arsitek Memori

Arsitek Memori

Status: tamat
Genre:Misteri / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Wildyan NA

Di kota Neo-Veridia, ingatan bisa diperjualbelikan. Rian, seorang penata memori, menemukan kristal ingatan terlarang yang memperlihatkan dirinya di masa depan—atau masa lalu yang telah dihapus dari otaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wildyan NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membuka segel kedua

Keheningan merayap di dalam laboratorium yang terbengkalai itu. Kata-kata Maya menggantung di udara bagai racun yang tak terlihat. Rian menatap foto holografis di tangannya—dua wajah yang identik, satu tersenyum dengan jas putih peneliti, dan satu lagi berdiri tegap dengan seragam militer dingin tanpa cela.

"Leon... saudaraku?" Rian berbisik, menyentuh permukaan foto berdebu itu. "Dia yang memimpin Penjaga Kategori? Dia yang menginginkan ingatan seluruh kota ini dihapus?"

"Leon percaya bahwa penderitaan, rasa bersalah, dan pemberontakan manusia berasal dari ingatan buruk," ujar Maya seraya meringis, mencoba menahan rasa nyeri di bahunya. "Dia ingin menciptakan kedamaian buatan dengan menjadikan Proyek Oblivion sebagai mesin pemutih otak massal. Ketika kau menyadari betapa gilanya rencana itu dan berusaha menghentikannya, Leon sendiri yang menembakmu delapan tahun lalu."

Maya menunjuk ke arah pipi kiri Rian. "Luka parut di wajahmu dalam memori itu... itu bukan dari ledakan laboratorium. Itu adalah jejak peluru yang dilepaskan saudaramu sendiri saat kau melarikan diri membawa Inti Kode."

Rian mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Kebenaran yang terungkap satu per satu bukan lagi sekadar potongan puzzle, melainkan belati yang merobek bagian dalam dadanya. Rasa bersalah yang tak kasat mata selama bertahun-tahun kini menemukan muaranya.

"Aku yang menciptakan monster ini bersamanya," kata Rian, suaranya bergetar penuh penyesalan. "Maka aku juga yang harus mengakhirinya."

Rian melangkah mantap menuju konsol komputer utama di tengah laboratorium. Ia meletakkan koper perak berisi alat Neura-Pulse dan silinder merah di atas meja baja. Di samping konsol, terdapat sebuah kursi sinkronisasi syaraf bertingkat—alat yang jauh lebih canggih dan aman daripada pemindai rakitan milik Kael atau dekoder tua di safehouse.

"Kau yakin ingin membuka segel kedua sekarang, Rian?" tanya Maya cemas. "Integrasi memori tingkat dua akan menyatukan struktur genetik syarafmu dengan algoritma silinder secara penuh. Jika otakmu gagal memproses arus data itu, ingatanmu tidak hanya terhapus... kau bisa mengalami mati otak secara permanen."

"Kita tidak punya waktu lagi, Maya," jawab Rian tegas. Ia mengatur sistem pendingin cairan di kursi sinkronisasi dan menghubungkan kabel-kabel elektroda bermaterial emas ke alat Neura-Pulse. "Leon punya seluruh armada kota. Kita hanya punya algoritma ini."

Rian mendudukkan dirinya di atas kursi besi yang dingin. Ia memasang visor transmisi ke matanya, lalu menancapkan silinder merah ke slot utama konsol.

"Aktifkan jalurnya, Maya."

Dengan tangan gemetar, Maya menekan tombol Override pada panel utama.

BZZZZZZT!

Suara dengung elektromagnetik berkekuatan tinggi menggema di seluruh ruangan. Cahaya merah menyala terang dari silinder, mengalir melalui kabel-kabel transparan dan langsung menghujam masuk ke pelipis Rian.

Dunia nyata menghilang seketika. Kesadaran Rian terlempar ke dalam ruang hampa bernuansa digital. Di sekelilingnya, jutaan untaian memori yang terdistorsi berputar cepat seperti badai kristal:

Ia melihat masa kecilnya bersama Leon di Distrik Atas...

Ia melihat malam saat ide Proyek Oblivion pertama kali dicetuskan di atas meja kerja mereka...

Dan ia melihat detik-detik saat Leon menodongkan senjata ke arahnya di laboratorium utama Sektor Nol, mata saudaranya memancarkan kegilaan atas nama 'kedamaian abadi'.

"Kau terlalu lemah, Rian!" suara Leon bergema di dalam kepalanya, memecah kesadaran Rian. "Manusia tidak butuh kebebasan memilih, mereka hanya butuh ketenangan tanpa beban!"

"Tidak, Leon!" teriak Rian di dalam ruang pikirannya. "Tanpa memori dan rasa sakit, manusia hanyalah mesin bernapas!"

Dengan seluruh tekad yang tersisa, Rian menerobos badai memori itu, menyambar Inti Kode yang berpendar emas di pusat badai syarafnya, dan menyatukannya dengan struktur genetik otaknya sendiri.

BOOM!

Gelombang kejutan syaraf meledak dari dalam tubuh Rian, memicu kilatan listrik yang memadamkan seluruh indikator di laboratorium. Visor terlepas dan terlempar ke lantai. Rian tersungkur dari kursi, napasnya memburu hebat saat sistem otaknya melakukan boot ulang secara menyeluruh.

Ketika ia perlahan membuka matanya, pendar keemasan redup berkilat di retina matanya. Seluruh memori Dr. Rian Vance telah kembali secara utuh. Ia mengingat setiap sudut Sektor Nol, setiap enkripsi rahasia, dan setiap jalan pintas menuju jantung pemancar utama.

Namun, saat Rian hendak berdiri, suara tawa dingin bergema melalui pengeras suara internal laboratorium yang mendadak menyala.

"Selamat datang kembali, Saudaraku," suara Leon Vance bergema dari balik speaker, dingin dan penuh kemenangan. "Terima kasih telah menyatukan kembali Inti Kode itu untukku."

1
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!