NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11 - Bella Mulai Takut

Bella baru benar-benar takut ketika Arman tidak membalas pesannya sampai malam.

Ia duduk di kamar, menatap layar ponsel yang berkali-kali gelap. Pesan terakhirnya masih terbaca satu centang.

Mas, Ibu tanya kapan keluargamu datang.

Tidak ada jawaban.

Mas, jangan diam begini. Aku takut.

Tetap tidak ada jawaban.

Bella menggigit kuku ibu jari.

Di kehidupan lalu, ia selalu membayangkan Arman sebagai laki-laki yang pasti akan bertanggung jawab. Bagaimana tidak? Nadia yang menikah dengannya dulu terlihat begitu terhormat. Setiap pulang kampung, ia memakai pakaian rapi, membawa oleh-oleh, dan semua orang memandangnya seperti perempuan yang berhasil.

Bella tidak pernah melihat Nadia menangis.

Mungkin karena Nadia pandai menyembunyikan.

Atau mungkin karena hidup Nadia memang tidak sesulit yang Bella bayangkan sekarang.

Bella menggeleng cepat.

Tidak. Ia tidak boleh ragu.

Nadia hanya sedang mencoba menakutinya. Nadia iri karena Arman memilih Bella. Nadia sengaja mendekati Om Raka agar terlihat menang.

Arman pasti mencintainya.

Pintu kamar terbuka. Bu Ratna masuk membawa segelas teh.

"Belum tidur?"

Bella menggeleng.

"Mas Arman tidak balas chat."

Bu Ratna meletakkan gelas di meja.

"Mungkin dia dimarahi keluarganya."

"Kalau dia berubah pikiran bagaimana?"

"Tidak bisa. Semua orang sudah tahu."

"Tapi Pak Hendra bilang tunggu Arman siap. Bagaimana kalau dia sengaja tidak siap?"

Bu Ratna duduk di tepi kasur.

"Bella, dengarkan Ibu. Laki-laki seperti Arman tidak boleh dikejar terlalu keras. Kamu harus membuat dia merasa kamu butuh dilindungi, bukan ditagih."

Bella menatap ibunya.

"Aku sudah menangis."

"Menangis saja tidak cukup. Kamu harus menangis di waktu yang tepat."

Kalimat itu membuat Bella sedikit tenang. Ibunya selalu tahu cara mendapatkan simpati orang.

"Besok kamu sakit."

"Apa?"

"Demam. Pusing. Tidak mau makan. Biar Pak Hendra dan Bu Lilis merasa kalau keluarga mereka menunda, kamu bisa kenapa-kenapa."

Bella ragu.

"Kalau Mas Arman malah kesal?"

"Arman akan kesal sebentar. Tapi orang tuanya akan bergerak. Laki-laki bisa keras, tapi keluarga terpandang tidak suka disebut tidak bertanggung jawab."

Bella mengangguk pelan.

Bu Ratna membelai rambutnya.

"Kamu sudah sampai sejauh ini. Jangan kalah oleh Nadia."

Nama itu membuat Bella kembali panas.

"Dia sekarang sombong sekali."

"Karena ada Raka."

"Om Raka sakit."

"Sakit bukan berarti tidak punya posisi. Justru karena dia adik Pak Hendra, Nadia bisa masuk lebih tinggi darimu kalau kita tidak hati-hati."

Bella meremas sprei.

Tidak.

Ia tidak boleh memanggil Nadia Tante. Tidak boleh melihat Nadia duduk lebih tinggi dalam keluarga Wiratmaja. Semua rencana ini untuk membuat hidupnya lebih baik daripada Nadia, bukan sebaliknya.

Keesokan paginya, sandiwara dimulai.

Bella tidak keluar kamar. Bu Ratna sengaja membuat suara panik di dapur. Eyang Marni yang awalnya tidak peduli akhirnya ikut berteriak memanggil Pak Darto.

"Bella demam! Badannya panas."

Pak Darto datang dengan wajah bingung.

"Bawa ke puskesmas."

Bella berbaring dengan mata setengah tertutup. Sebenarnya tubuhnya tidak sepanas itu, tapi ia sudah menggosokkan minyak kayu putih terlalu banyak ke leher sampai wajahnya tampak merah.

"Aku tidak mau keluar," bisiknya. "Malu. Semua orang melihatku."

Bu Ratna menangis.

"Lihat, Mas. Anak ini tertekan. Kalau keluarga Arman tidak segera memberi kepastian, bagaimana mentalnya?"

Pak Darto menghela napas.

"Aku hubungi Pak Hendra."

Eyang Marni mengangguk cepat.

"Iya. Mereka harus tanggung jawab. Jangan sampai Nadia saja yang diurus, Bella ditinggal."

Pak Darto keluar untuk menelepon.

Bella memejamkan mata. Ada rasa puas kecil.

Namun kepuasan itu tidak lama.

Siang hari, yang datang bukan Arman.

Pak Hendra datang bersama Bu Lilis dan Raka.

Tanpa Arman.

Bella hampir lupa berpura-pura lemah.

Bu Ratna menyambut dengan wajah cemas.

"Pak Hendra, Bella sejak pagi tidak mau makan. Dia merasa sangat malu."

Pak Hendra mengangguk, tapi wajahnya tidak selembut yang diharapkan.

"Kami datang untuk memastikan keadaan Bella. Kalau sakit, kita bawa ke dokter."

Bu Lilis menatap Bella dari ambang pintu kamar.

"Demam?"

Bella melemahkan suara.

"Sedikit, Bu."

Bu Lilis mendekat, meletakkan punggung tangan ke dahi Bella.

Lalu alisnya naik sedikit.

"Tidak terlalu panas."

Bu Ratna cepat berkata, "Mungkin turun setelah dikompres."

Raka berdiri di belakang, diam. Tapi Bella merasa matanya terlalu jernih. Seolah ia tahu sandiwara ini.

Pak Hendra duduk di kursi.

"Bella, saya tanya langsung. Kamu ingin menikah dengan Arman?"

Bella mengangguk cepat, lalu ingat harus lemah.

"Iya, Pak. Saya mencintai Mas Arman."

"Kamu paham setelah menikah, kalian tidak akan langsung tinggal di rumah utama?"

Bella membeku.

Bu Ratna juga.

"Maksud Pak Hendra?"

"Arman harus belajar bertanggung jawab. Saya bisa membantu awal, tapi tidak akan membiayai semua. Mereka bisa menempati rumah kontrakan kecil dekat bengkel teman saya. Arman akan mulai bekerja di sana sambil menunggu peluang lain."

Bella merasa telinganya berdenging.

Bengkel?

Kontrakan kecil?

Tidak.

Ini tidak sama dengan kehidupan Nadia dulu.

Bu Ratna mencoba tersenyum.

"Pak, bukankah Arman punya rencana masuk instansi?"

"Rencana itu terganggu karena perbuatannya sendiri."

Bu Lilis menambahkan dingin, "Dan karena calon istrinya juga ikut membuat masalah."

Bu Ratna menahan marah.

"Bu Lilis, Bella tidak sendiri di kamar itu."

"Saya tidak bilang Arman suci. Tapi jangan harap kami akan berpura-pura Bella korban yang ditemukan pingsan di jalan."

Bella mulai benar-benar ingin menangis.

Pak Hendra menatapnya.

"Kalau kamu tetap mau, saya akan mengatur lamaran resmi dan akad setelah Nadia dan Raka. Bukan hari yang sama."

"Kenapa bukan hari yang sama?" Bella tidak bisa menahan diri.

Bu Lilis menjawab, "Karena kami tidak akan membiarkan akad Raka dibayangi masalah kalian."

Kata kalian terasa seperti tamparan.

Raka akhirnya bicara.

"Bella, kalau kamu yakin pada Arman, tanggal tidak seharusnya membuatmu takut."

Bella menatapnya.

"Om Raka mudah bicara. Om tidak ada di posisiku."

"Benar," kata Raka. "Karena saya tidak masuk kamar dengan calon pasangan orang."

Bu Ratna berdiri.

"Mas Raka!"

Pak Hendra mengangkat tangan.

"Raka tidak salah."

Bella merasa dunia memusuhinya.

Di saat yang sama, suara motor berhenti di depan rumah. Arman masuk beberapa detik kemudian. Rambutnya berantakan, wajahnya kusut. Ia jelas baru bangun atau sengaja tidak datang sejak awal.

"Ada apa lagi?" tanyanya.

Bu Lilis menatap anaknya seperti ingin menampar.

"Kamu baru datang?"

Arman menggaruk kepala.

"Aku ada urusan."

Pak Hendra berkata dingin, "Urusan apa?"

"Teman."

Bella menatap Arman. Ia berharap Arman segera mendekat, memegang tangannya, berkata jangan takut. Tapi Arman hanya berdiri di dekat pintu, bahkan tidak melihatnya lama.

Pak Hendra menunjuk kursi.

"Duduk. Kita bicarakan masa depanmu."

Arman tampak tidak suka.

"Ayah, aku sudah bilang aku akan menikahi Bella."

"Menikahi bukan hanya akad dan foto. Kamu akan menafkahi dengan apa?"

Arman terdiam.

"Saya bisa kerja."

"Di bengkel Pak Jaya mulai Senin."

"Bengkel?" Arman berseru. "Ayah serius?"

"Sangat."

"Aku lulusan SMA bagus. Aku mau daftar seleksi."

"Dengan kabar yang sudah menyebar, kamu pikir rekomendasi siapa yang masih mau dipakai untuk menutup kelakuanmu?"

Wajah Arman memerah.

Bella menatap Arman dengan jantung berdebar.

Arman marah bukan karena malu pada Bella. Ia marah karena masa depannya dipotong.

Dan entah kenapa, tatapannya saat itu jatuh pada Bella.

Seperti Bella penyebabnya.

Bella tiba-tiba merasa dingin.

Pak Hendra berdiri.

"Pikirkan baik-baik. Kalau kalian tetap mau menikah, datang ke rumah besok bersama keluarga. Tapi ingat, saya tidak akan membiayai kebodohan kalian tanpa batas."

Bu Lilis keluar lebih dulu. Raka menyusul, tapi sebelum pergi, ia menatap Bella sebentar.

Tidak mengejek.

Tidak mengasihani.

Justru itu membuat Bella makin tidak nyaman.

Setelah keluarga Wiratmaja pergi, Arman berbalik kepada Bella.

"Kamu puas?"

Bella terkejut.

"Mas?"

"Gara-gara kamu terus mendesak, Ayah makin marah."

Bu Ratna langsung maju.

"Arman, jangan bicara begitu. Bella hanya takut."

"Semua orang takut. Tapi tidak semua orang membuat drama demam."

Bella membeku.

Ia menatap Arman, lalu sadar.

Arman tahu.

Dan ia tidak membelanya.

Untuk pertama kalinya sejak merebut laki-laki itu, Bella merasa sesuatu yang ia pegang mulai licin.

Sangat licin.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!