Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Siapa yang Lebih Ganteng
Tan Ardian tetap menghadap jendela, seolah "Selamat pagi, Pak Tan" tadi tidak membuat seluruh rumah kembali bernapas.
Sekar pura-pura tidak melihat matanya yang merah.
Itu pelajaran pertama setelah kembali: beberapa hal lebih baik disimpan sebentar, terutama kalau pemiliknya punya gengsi setinggi pagar Rumah Tan.
"Saya taruh koper di kamar staf dulu," kata Sekar.
"Setelah itu buat sarapan," jawab Ardian.
Darren yang masih berdiri di dekat tangga langsung berbinar. "Koko mau makan?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi Koko menyuruh sarapan."
"Untuk orang rumah."
Sekar menunduk agar senyumnya tidak terlalu jelas. "Baik, Pak Tan. Orang rumah mau menu apa?"
Ardian diam sesaat.
Lalu ia berkata, sangat pelan, "Yang kemarin."
Darren hampir jatuh dari anak tangga.
Sekar mengangkat wajah polos. "Yang kemarin ada beberapa, Pak. Nasi goreng, sup ayam, sandwich ayam ala Prancis, atau dada ayam panggang dengan irisan tomat dan selada dalam wrap gandum?"
Telinga Ardian kembali merah. "Yang terakhir."
"Baik."
Darren menutup mulutnya dengan dua tangan, matanya bersinar seperti baru melihat bayi pertama berjalan. Sekar melewati dia sambil berbisik, "Jangan terlalu jelas."
"Aku berusaha," bisik Darren balik, gagal total.
Pagi itu, Rumah Tan terasa sedikit berbeda.
Bukan hanya karena Sekar kembali. Ardian juga berbeda, meski caranya sangat Tan Ardian: tidak mengakui apa pun. Ia meminta Tony, tukang cukur langganannya, datang lebih pagi untuk merapikan rambut. Jenggot tipis yang beberapa hari lalu mulai tumbuh sudah hilang. Kemeja yang dipakainya bukan kaus rumah longgar, melainkan kemeja biru tua yang disetrika rapi.
Ketika Sekar membawa wrap gandum ke ruang makan, ia berhenti setengah detik.
Pria itu tampan.
Sangat menyebalkan bahwa orang dengan mulut seperti itu bisa punya wajah seperti itu.
Ardian melihatnya berhenti. "Ada masalah?"
"Tidak." Sekar meletakkan piring. "Saya cuma memastikan ini orang yang sama dengan yang kemarin melempar laptop."
Darren batuk lagi.
Ardian mengambil wrap tanpa menjawab. Ia menggigitnya, mengunyah, lalu berkata, "Tomatnya terlalu percaya diri."
"Berarti sudah cocok dengan rumah ini."
Untuk sesaat, sudut bibir Ardian bergerak sangat tipis. Hampir tidak terlihat. Tetapi Sekar melihatnya.
Belum sempat Darren meledak karena penemuan sejarah itu, bel pintu berbunyi.
"Kalau Kevin lagi, aku pura-pura mati," kata Darren cepat.
Staf rumah masuk. "Pak Rio datang."
Wajah Darren langsung lega. "Oh, Dok Rio."
Laki-laki yang masuk beberapa menit kemudian membawa tas dokter, kacamata hitam, dan kepercayaan diri yang cukup untuk mengisi satu ruangan. Salim Rio melepas kacamatanya begitu melihat Ardian.
"Wah." Ia menatap dari rambut sampai kemeja. "Siapa pria rapi ini? Pasienku yang biasanya seperti pangeran dibuang ke gudang?"
"Keluar," kata Ardian.
Rio tertawa. "Baru datang sudah diusir. Aku rindu sambutan hangatmu."
Ia lalu menoleh pada Sekar. Matanya langsung berbinar dengan rasa ingin tahu profesional yang bercampur gosip.
"Kamu pasti Budiman Sekar."
"Iya. Dok Rio?"
"Rio saja boleh. Tapi kalau mau memuji ketampananku, pakai Dok Rio juga tidak apa-apa."
Darren mengangkat tangan. "Dok, jangan mulai."
Rio menarik kursi, duduk santai, lalu menunjuk dirinya dan Ardian bergantian. "Mbak Sekar, objektif ya. Aku dan Ardian, siapa lebih ganteng?"
Sekar menatap Rio. Lalu menatap Ardian.
Ardian meletakkan wrap-nya dengan suara pelan. "Rio."
"Apa? Aku belum selesai bertanya."
"Dia tidak perlu menjawab."
Rio menyeringai. "Takut kalah?"
"Takut kamu terlalu senang kalau menang."
Sekar menahan tawa. "Kalau dari sisi kesehatan mental, Dok Rio lebih ceria."
Rio menepuk meja. "Jawaban diplomatis. Aku suka."
"Kalau dari sisi wajah..." Sekar melirik Ardian sekilas. "Pak Tan lebih cocok jadi poster rumah sakit mahal."
Darren mengeluarkan suara seperti balon bocor.
Rio tertawa keras. "Poster rumah sakit mahal! Ardian, selamat. Itu pujian paling aneh yang pernah kamu dapat."
Ardian mengambil gelas airnya, wajah tetap datar. Hanya telinganya yang mengkhianati sedikit.
Pemeriksaan dilakukan di ruang terapi lantai satu. Rio menjadi serius begitu membuka tas dokter. Ia memeriksa tekanan darah, refleks ringan, dan catatan pijat dua hari terakhir. Sekar berdiri di samping dengan map jadwal, menjawab semua pertanyaan dengan rapi.
"Pijat pertama di teras?" tanya Rio.
Sekar mengangguk. "Saya mengikuti catatan aman dari map."
Rio melirik Ardian. "Dia mengizinkan?"
Ardian diam.
Sekar menjawab jujur, "Awalnya tidak."
Rio menatapnya lebih lama. "Lalu?"
"Saya cabut baterai kursi rodanya."
Rio berhenti menulis.
Darren yang ikut masuk untuk menonton reaksi dokter langsung menunduk.
Rio menoleh perlahan ke Ardian. "Aku pergi dua hari, pasienku dibajak?"
"Dia masih hidup," kata Ardian.
"Kamu juga masih hidup. Itu yang mengejutkan."
Sekar merasa harus menjelaskan. "Saya tahu itu melewati batas. Tapi pijatnya selesai. Tidak ada luka baru."
Rio mengamati Sekar. Kali ini tidak bercanda. "Kamu pernah belajar teknik pijat?"
"Saya membantu Papa di Pijat Bahagia sejak kecil. Papa tukang pijat profesional."
"Bagus." Rio mengangguk. "Tanganmu cukup stabil?"
"Cukup."
Rio menatap Ardian. "Aku perlu memeriksa bekas luka dan respons kulit. Biasanya dia tidak suka orang baru melihat."
Ardian menatap Sekar.
Ruangan hening sebentar.
Lalu ia berkata, "Boleh."
Sekar menahan napas.
Satu kata itu lebih berat daripada "lumayan" saat sarapan. Ia tahu Ardian tidak suka disentuh. Ia tahu luka itu bukan hanya kulit. Memberi izin berarti sesuatu.
Sekar membuka selimut dengan hati-hati. Rio memeriksa bekas luka keloid, suhu kulit, dan beberapa titik respons saraf. Sekar membantu mencatat. Tangannya tetap ringan, tidak memaksa.
Ardian tidak memalingkan wajah, tetapi jemarinya menekan sandaran kursi.
Setelah pemeriksaan selesai, Rio menutup map dan menyuruh Darren keluar mengambil dokumen. Begitu pintu tertutup, ekspresinya berubah.
"Mbak Sekar," katanya lebih pelan, "ada hal yang perlu kamu tahu karena mulai sekarang kamu terlibat dalam perawatan hariannya."
Sekar menegakkan tubuh. "Iya, Dok."
Rio tidak langsung bicara. Ia lebih dulu menunjuk ponsel Sekar yang tergeletak di meja kecil.
"Boleh aku minta ponselmu dimatikan sebentar? Bukan karena aku tidak percaya kamu. Ini prosedur."
Sekar mengambil ponselnya, mematikan layar, lalu meletakkannya terbalik di atas meja. "Kalau ini soal kondisi pasien, saya paham. Apa yang saya dengar di ruang terapi tidak akan saya bawa keluar."
"Termasuk ke keluarga sendiri?"
Pertanyaan itu pelan, tapi berat.
Sekar teringat wajah Mama yang selalu khawatir setiap ia pulang terlambat, juga Papa yang membaca gerak bibirnya dengan sabar. Ia menarik napas, lalu mengangguk.
"Termasuk ke keluarga sendiri," katanya. "Tapi saya perlu tahu batas aman. Kalau ada gerakan yang tidak boleh dilakukan, makanan yang memengaruhi obat, atau tanda bahaya yang harus saya laporkan, saya tidak bisa kerja sambil tebak-tebakan."
Untuk pertama kalinya sejak pemeriksaan dimulai, Ardian menatapnya tanpa sisa sindiran.
"Kalau menurutmu terlalu merepotkan," katanya datar, "kamu bisa mundur."
Sekar melirik kursi roda elektrik, bekas luka di kaki, lalu wajah pria yang pura-pura tidak peduli itu.
"Kontrak saya tertulis asisten rehabilitasi pribadi, Pak Tan. Selama pasiennya masih hidup dan tidak melempar saya dari jendela, saya kerja."
Rio menutup mulut dengan map, jelas menahan tawa. Ardian memalingkan wajah, tetapi ketegangan di bahunya turun sedikit.
Rio menatap Ardian sebentar, seperti meminta izin.
Ardian diam.
Diam yang kali ini berarti boleh.
Rio berkata, "Kaki Ardian punya peluang sembuh sekitar sembilan puluh persen."
Sekar membeku.
Rio melanjutkan, suaranya makin rendah.
"Dan kecelakaan tiga bulan lalu bukan kecelakaan biasa. Ada orang yang sengaja mengaturnya."