Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊
Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
POV Author
Tepat setelah asar, Adila di ajak oleh Om dan Tante nya. Sementara dirumah, kedua pasangan suami istri tengah menikmati sore di halaman depan rumah. Meskipun dengan suasana canggung, namun semuanya terlihat seperti biasa.
"Bapak harap setelah ini kamu bisa menentukan sikap, jangan sampai kamu kehilangan istri karna tidak bijak dalam menghadapi persoalan" kata bapak Nisya di angguki oleh Gani.
"Iya pak, insyaallah Gani akan berubah. Gani juga sebetulnya nggak percaya kalau ibu Gani seperti itu, tapi kenyataan yang Gani dengar berbanding terbalik dengan apa yang selama ini ibu Gani sampaikan" kata Gani.
"Itulah dilema nya seorang suami dan juga anak yang sudah menikah, kita harus berada ditengah-tengah antara keduanya. Jangan sampai kita ingin membahagiakan salah satunya tapi juga menyakiti salah satunya" kata bapak Nisya.
"Iyaa Pak, saya mengerti" kata Gani.
"Bagus kalau begitu, bapak harap bapak bisa pegang kata-kata kamu" kata bapak dengan nada tegas.
setelah obrolan itu, tidak ada lagi percakapan di antara satu sama lain.
Keesokan harinya saat semua tengah berkumpul untuk sarapan, pintu rumah terketuk dari luar. Nisya yang kebetulan berada paling ujung itu berdiri lebih dulu, ia berlalu untuk membuka pintu.
Didepan rumah, Nisya sangat terkejut saat melihat kedatangan mertua dan Iparnya.
"Ibu.. Ada apa ibu datang kesini?" tanya Nisya.
"Kenapa memangnya? Kamu nggak suka kalau aku sama ibu datang kesini?" tanya Lika.
"Heran aja, ini rumah orangtua ku loh bukan rumah kalian. Untuk apa kalian datang kesini? Ada kepentingan kah?" tanya Nisya denga dahi menyerit.
"Kamu jangan kurang ajar ya Nis, kami kesini karna mau ketemu sama Gani. Pasti Gani ada didalam kan?" tanya ibu Gani dengan nada ketus.
"Oh nyari Mas Gani, ada kok. Sebentar aku panggilkan!" kata Nisya yang langsung berlalu kedalam tanpa mempersilahkan tamunya masuk.
"Siapa Nis?" tanya Mama ketika melihat Nisya sudah kembali keruang makan.
"Ibu Mas Gani Ma. Mas, ibumu datang. Samperin dulu gih" kata Nisya.
"Hah? Ibu... Ngapain ibu datang kesini?" tanya Gani dengan wajah terkejut.
"Ya mana aku tau ngapain ibu datang kesini, makanya sama cepat temui biar tau kenapa ibu kamu datang kesini?" kata Nisya dengan sinis.
"Nis... Nggak boleh begitu, biar gimana pun itu mertua kamu" kata bapak dengan bijak.
"Masalahnya pak, nggak diundang nggak di suruh tiba-tiba datang kesini. Kalau kerumah kami sendiri sih nggak masalah, tapi kalau kesini. Buat apa? Kan aneh!" kata Nisya yang juga di angguki yang lainnya.
"Bener apa yanh di bilang Nisya, Pak! Coba sana Gan kamu samperin dulu, jangan sampai ibumu membuat keributan dirumah ini" kata Mama Nisya di angguki oleh Gani.
Gani pun langsung menuju depan untuk menemui ibu dan kakaknya, ia cukup terkejut dan heran atas kedatangan mereka.
"Ibu... Kak Lika, kenapa kalian datang kesini?" tanya Gani ketika sudah berhadapan dengan keduanya.
"Memangnya kenapa Gan? Nggak boleh kalau ibu datang kesini?" tanya Ibu Gani dengan ketus.
"Tau... Nisya juga, udah tau ada mertua dan iparnya datang bukannya di suruh masuk dan dibikinkan minum malah ditinggal begitu aja didepan pintu!" kata Lika.
"Bukan begitu bu.. Tapi untuk apa kalian datang kesini, ini rumah mertua Gani bu, kak. Kalau kalian ada perlu sama Gani kan kalian bisa telpon Gani aja kenapa mesti datang kesini?" kata Gani yang cukup kesal dengan ibu dan kakaknya.
"Ibu memang sengaja datang kesini, ingin tau rumah mertua kamu sekalian mau ketemu sama kamu!" kata ibu Gani.
"Kita nggak disuruh masuk ini Gan?" tanya Lika.
"Kita duduk di teras aja!" kata Gani menuntun keduanya keteras depan, dimana disana pun tersedia bangku anyaman panjang yang cukup untuk mereka.
"Jadi, ada apa kalian kesini? Apa cuma ingin tau rumah mertua Gani?" tanya lelaki itu dengan dahi menyerit heran.
"Tapi ngomong-ngomong Gan, bagus juga rumah mertua kamu. Kayaknya waktu kamu nikah sama Nisya rumahnya nggak begini deh, baru renovasi ya? Pasti kamu yang biayain renovasi rumah ini kan? Waahhh pilih kasih kamu Gan!" kata Lika membuat Ibu Gani yang mendengar itu pun merasa panas di hatinya.
"Apa sih kak, Gani nggak pernah bantuin renovasi rumah ini. Sama sekali nggak ada uang Gani dalam pembangunan rumah ini, ini murni rumah milik mertua Gani. Kalau saat ibi jadi bagus berarti mereka memang sedang ada rezeki lebih saat merenovasinya" kata Gani menatap tajam kakaknya.
"Mana mungkin Gan, mertua kamu itu kerja apa sih? Cuma kuli bangunan doang masa iya punya rumah sebagus ini, kakak lihat juga dalamnya perabotannya lengkap dan bagus. Bahkan rumah ibu aja kalah!" kata Lika.
"Terserah kamu aja kak! Jadi, kalian kesini hanya untuk mengomentari rumah mertua Gani?" tanya Gani.
"Ibu kesini mau minjam uang Gan... Sebetulnya ibu mau bilang dari kemarin saat dirumah kamu, tapi ibu lupa dan juga karna kemarin keburu istri kamu berbuat ulah!" kata Ibu Gani membuat lelaki itu bingung.
"Minjem uang? Untuk apa bu, kan selama ini ibu juga masih punya tabungan dari hasil peninggalan bapak. Terus juga hasil dari minimarket yang ibu kelola nggak sedikit, aku bahkan nggak minta sama sekali walaupun aku tau kalau disana juga ada bagianku!" kata Gani.
"Minimarket kehabisan modal...."
"Apa? Kehabisan modal? Bagaimana bisa bu? kenapa sampai kehabisan modal? Biasanya juga nggak pernah sampai kehabisan modal seperti ini, kenapa sekarang justru acak-acakan begini?" tanya Gani dengan suara nyaring.
"Gan... Minimarket kita sekarang sepi, kalah saing dengan Minimarket retail yang sudah ada disana. Kamu tau kan disana sekarang sudah di bangun dua minimarket yang saling berhadapan, itu lah kenapa minimarket kita jadi sepi" kata Ibu Gani.
"Itu bukan alasan bu, kita masih bisa bersaing di harga jika kita bisa mengelolanya. Minimarket itu kan pasto harganya jauh di bawah pasaran sementara kalau kita jual dibawah pasaran pasti pelanggan banyak yang beli di minimarket kita, taktik ini sudah Gani jalankan waktu Gani memegang kendali Minimarket itu. Kenapa sekarang jadi begini?" tanya Gani.
"Gani... Kalau kita nggak buat harga sama dengan minimarket itu ya kita nggak dapat untung lah Gan, gimana sih kamu. Apalagi saat ini semua barang itu naik, masa harga kita jaug dibawah mereka!" kata Lika membuat Gani menggelengkan kepala.
"Nggak begitu konsepnya kak, harusnya kita bisa membuat pelanggan jauh lebih percaya pada minimarket kita sehingga mereka lebih sering belanja ke minimarket kita. Kakak tau kan kebanyakan orang itu ingin harga murah dengan kwalitas yang bagus, ini yang kita pakai. Jangan bilang kalau harga di minimarket kita jauh lebih mahal dari sebelumnya makanya orang pun enggan belanja?" kata Gani membuat keduanya terdiam.
"Mas.. Ada apa?" tanya Nisya yang mendengar suara Gani yang sangat nyari terdengar.
"Nggak apa-apa Nis, maaf ya. Aku cuma kaget aja tadi, kamu balik lagi sarapan sama yang lain ya. Nanti aku nyusul, oiya kalau boleh aku minta minum untuk ibu dan kak Lika" kata Gani yang langsung di angguki oleh Nisya.
"Bukannya dari tadi dibuatin, nggak sopan banget sama tamu!" kata Lika.
"Untuk apa sopan sama tamu yang tidak diundang!" kata Nisya yang langsung berlalu meninggalkan ketiganya.
"Hei... Jangan kurang ajar!..."
"Kak Lika, cukup!!" bentak Gani dengan wajah memerah marah.
"Kenapa kamu malah bentak kakak kamu, seharusnya yang kamu marahi itu istri kamu yang nggak punya sopan santun sama sekali. Mertua dan iparnya datang bukannya di buatkan minum malahan dia asik sarapan!" kata ibu Gani.
"Tolong jangan bahas apa yang nggak penting bu. Sekarang pertanyaan Gani, kenapa minimarket sampai kekurangan modal? Kalau minimarket itu bangkrut bagaimana cara ibu bertahan hidup nanti?" tanya Gani kembali membuat keduanya terdiam.
Lika tau jika semua karna dirinya, dia yang selalu memakai uang minimarket untuk kepentingannya sendiri sehingga uang yang ada saat ini tidak bisa menutup modal minimarket kedepannya.
Nisya yang baru saja membuatkan minuman untuk keduanya pun mendadak terhenti, ia sengaja ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan sehingga ada sedikit keributan kecil.
Bersambuuuunngggg
****
Guys.. Maaf ya aku baru update lagi, kemarin aku sudah sempat tulis naskah tapi kepala tiba-tiba tuh muter-muter. Jadi aku nggak lanjutin nulisnya... Sekali lagi aku minta maaf ya guys, hari ini insyaallah aku akan nulis seperti biasanya ya...😊🙏