Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menelan penolakan sang istri
Setelah kepergian Kevin, ruangan itu kembali dipenuhi keheningan yang terasa menyesakkan.
Tidak ada satu pun kata yang keluar.
Felisyah masih mempertahankan posisinya, memalingkan wajah dan menatap ke arah lain, seolah keberadaan Garendra di ruangan itu tidak ada.
Sementara Garendra tetap duduk di tempatnya. Tatapannya tidak pernah lepas dari wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
Bukan tatapan marah.
Bukan pula tatapan kesal karena diabaikan.
Melainkan tatapan penuh penyesalan, kekhawatiran, dan kesabaran.
Ia tahu, luka yang dirasakan Felisyah bukan sesuatu yang bisa sembuh hanya dengan beberapa kata manis.
Ia telah mengambil keputusan besar dalam hidup wanita itu tanpa memberikan kesempatan bagi Felisyah untuk mengalaminya sendiri.
Dan kini, ia harus menerima semua kemarahan dan penolakan itu.
Ceklek.
Pintu kembali terbuka.
Bayu masuk dengan sebuah kantong makanan di tangannya. Namun, begitu melihat suasana di dalam ruangan, langkahnya langsung terhenti.
Matanya bergantian menatap kedua orang itu.
Yang satu terus memalingkan wajah dengan hati yang masih terluka.
Yang satu lagi terus menatap tanpa lelah dengan penuh rasa bersalah.
Bayu menghela napas panjang.
Bahkan suasana ruangan itu terasa lebih dingin daripada ruangan ber-AC.
"Bos, makanannya sudah datang," ucap Bayu hati-hati, seolah takut suaranya akan menghancurkan keheningan yang sudah ada.
Namun, Garendra tidak menjawab.
Ia hanya melirik sekilas ke arah makanan itu sebelum kembali menatap Felisyah.
Melihat tingkah bosnya, Bayu hanya bisa menggeleng pelan.
"Astaga, Bos. Biasanya menandatangani kontrak miliaran rupiah saja tidak pernah berpikir selama ini. Tapi menghadapi satu perempuan, Bos sampai seperti kehilangan seluruh kemampuan berpikir," gumam Bayu dalam hati.
Namun di balik rasa gemasnya, Bayu merasa lega.
Untuk pertama kalinya ia melihat Garendra memperjuangkan seseorang dengan begitu tulus.
Pria yang selama ini dikenal dingin dan sulit tersentuh, kini rela menunggu, mengalah, bahkan menahan egonya demi satu wanita.
Dan wanita itu adalah Felisyah.
"Kasihan juga Bos saya," lanjut Bayu dalam hati.
"Baru saja menemukan wanita yang membuatnya jatuh cinta, tapi sekarang harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan hati istrinya sendiri."
Senyum kecil terukir di bibir Bayu.
Ia tahu, saat ini bukan waktunya untuk mengganggu mereka.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Bayu berbalik dan melangkah keluar, membiarkan dua orang yang terikat dalam sebuah hubungan suci itu menyelesaikan perasaan mereka masing-masing.
Di dalam ruangan itu, keheningan kembali mengambil alih.
Satu hati masih dipenuhi luka.
Sementara satu hati lainnya memilih bertahan, menunggu hingga luka itu perlahan sembuh.
Pada akhirnya, Garendra menghela napas panjang. Ia menyadari bahwa diam dan menunggu tidak akan membuat kondisi Felisyah membaik.
Perlahan, ia bangkit dari tempat duduknya dan mengambil makanan yang tadi dibawa Bayu. Dengan tangan yang sedikit bergetar karena rasa cemas, ia membuka bungkus makanan itu lalu menatanya dengan rapi.
Untuk sesaat, ia hanya menatap punggung wanita yang masih membelakanginya.
Wanita yang kini menjadi istrinya, tetapi masih merasa dirinya adalah orang asing.
"Felisyah..." panggil Garendra pelan.
Tidak ada jawaban.
"Makanlah. Tubuhmu membutuhkan nutrisi. Kalau kamu tidak makan, bagaimana kamu bisa pulih dan keluar dari rumah sakit?"
Suara Garendra begitu lembut, penuh kesabaran.
Namun, Felisyah tetap berada dalam posisi yang sama.
Kedua tangannya memeluk lututnya, tatapannya kosong ke arah jendela, seakan tidak mendengar satu pun kata yang keluar dari mulut pria itu.
Garendra kembali mencoba.
"Kalau tidak banyak, makan sedikit saja. Nanti makanannya dingin."
Tetap tidak ada jawaban.
Keheningan yang diberikan Felisyah terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan atau teriakan.
Setidaknya jika Felisyah marah, ia masih bisa mendengar suara wanita itu.
Tetapi diamnya Felisyah membuat Garendra merasa semakin jauh darinya.
Ia menundukkan kepala sejenak, menahan rasa sesak yang memenuhi dadanya.
"Aku tahu kamu marah kepadaku," ucapnya lirih.
"Aku tahu apa yang aku lakukan sudah melukai hatimu."
"Tapi tolong, jangan hukum dirimu sendiri karena kesalahanku."
Garendra menatap tubuh kecil itu dengan mata yang dipenuhi kekhawatiran.
"Makanlah demi kesehatanmu. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu."
Tatapannya turun melihat tubuh Felisyah yang semakin kurus.
"Kamu sudah terlalu banyak menderita. Jangan membuat tubuhmu semakin sakit."
Untuk beberapa detik, ruangan kembali dipenuhi keheningan.
Hingga akhirnya—
"Aku tidak membutuhkanmu."
Kalimat itu keluar dengan begitu datar.
Namun, entah mengapa, terasa seperti pisau tajam yang menghujam tepat di hati Garendra.
"Aku hanya butuh Ayah di sini."
Mata Garendra sedikit melemah mendengar ucapan tersebut.
Ia tidak marah.
Tidak juga membantah.
Karena ia mengerti.
Di saat hati Felisyah sedang hancur, orang yang paling ingin ia lihat adalah ayahnya, bukan pria yang tiba-tiba hadir dan mengubah seluruh hidupnya.
Garendra mengepalkan tangannya pelan, menahan rasa sakit yang muncul di dadanya.
Namun sedetik kemudian, ia kembali menenangkan dirinya.
Jika mendapatkan hati Felisyah berarti ia harus menahan ribuan penolakan seperti ini...
Maka ia akan tetap bertahan.
Karena sejak hari pertama melihat air mata wanita itu, Garendra telah berjanji pada dirinya sendiri—
Ia tidak akan membiarkan Felisyah menghadapi dunia seorang diri lagi.
"Baiklah... aku akan membawa Ayah ke sini."
Suara Garendra terdengar tenang, meskipun ada rasa kecewa yang berusaha ia sembunyikan.
Untuk sesaat, ia menatap Felisyah dengan penuh harapan. Berharap wanita itu akan menoleh, menahan langkahnya, atau setidaknya memberikan sedikit perhatian kepadanya.
Namun harapan itu tidak terjadi.
Felisyah masih diam dengan tatapan kosong, seakan dinding besar telah ia bangun di antara dirinya dan Garendra.
Senyum kecil yang pahit terukir di bibir Garendra.
"Beristirahatlah. Aku akan segera kembali."
Setelah mengucapkan itu, ia melangkah keluar dengan langkah berat.
Ceklek.
Pintu tertutup.
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Untuk pertama kalinya sejak Garendra pergi, Felisyah perlahan mengangkat wajahnya dan menatap pintu yang telah tertutup rapat.
Ada rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya.
Ia tahu sikapnya mungkin menyakiti Garendra.
Ia tahu pria itu telah menyelamatkan ayahnya, menepati semua janjinya, bahkan terus bersabar menghadapi penolakannya.
Namun hatinya belum mampu menerima semuanya begitu saja.
Luka karena kehilangan momen paling penting dalam hidupnya masih terlalu segar.
"Maaf..." gumamnya lirih.
Bukan karena ia menyesal telah menyelamatkan ayahnya.
Tetapi karena ia belum mampu memberikan penerimaan kepada pria yang kini menyebut dirinya sebagai seorang istri.
---
Di ruangan lain, Pak Sanggara yang sejak tadi melihat wajah murung menantunya hanya bisa menghela napas panjang.
Seorang ayah tentu mengenal putrinya lebih dari siapa pun.
Ia tahu sekeras apa hati Felisyah ketika merasa sebuah keputusan besar diambil tanpa dirinya.
"Maafkan putri saya, Nak Garendra."
Suara Pak Sanggara terdengar penuh penyesalan.
"Felisyah memang seperti itu. Jika sesuatu yang penting terjadi tanpa sepengetahuannya, dia akan sulit menerimanya."
Pak Sanggara menundukkan pandangannya.
"Semua ini juga kesalahan Ayah. Ayah yang menjadi alasan hingga kamu dan Felisyah harus melalui keadaan seperti ini."
Mendengar itu, Garendra langsung menggeleng.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Ayah. Tidak ada yang salah dengan Bapak."
Kalimat "Ayah" yang keluar dari bibir Garendra membuat hati Pak Sanggara menghangat.
Meskipun hubungan itu baru saja terjalin, Garendra sudah menerimanya sebagai keluarga.
"Felisyah hanya membutuhkan waktu," lanjut Garendra dengan tatapan sendu.
"Dan saya akan menunggunya selama yang dia butuhkan."
Pak Sanggara tersenyum kecil, merasa sedikit lega mendengar ketulusan pria di hadapannya.
"Biarkan Ayah yang membujuknya, Nak. Kadang seorang anak tidak membutuhkan jawaban, dia hanya membutuhkan seseorang yang paling ia percaya untuk menenangkan hatinya."
Garendra terdiam sesaat lalu mengangguk.
Untuk pertama kalinya, ia memilih mundur satu langkah.
Bukan karena menyerah.
Tetapi karena ia ingin memberikan ruang agar hati Felisyah bisa perlahan menerima dirinya.
Dan untuk pertama kalinya juga, Garendra menyadari bahwa mendapatkan status sebagai suami jauh lebih mudah daripada mendapatkan kepercayaan dari seorang istri.
Apakah pak sanggara mampu membujuk felisyah ataukah malah sebaliknya ..
semangat✍️😉