⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pasca pertempuran di kamp Elf, tiga pihak yang terlibat tidak ada yang benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi.
Perkemahan kecil Nazarick di pinggir hutan Elf Kingdom tidak pernah terasa begitu sunyi sejak pertama kali didirikan.
Bukan karena tidak ada aktivitas. Para NPC bergerak seperti biasa, menjalankan tugas patroli dan komunikasi dengan efisiensi yang sudah menjadi standar Nazarick. Tapi ada kekakuan di udara, sesuatu yang membuat setiap gerakan terasa lebih berat dari seharusnya.
Ainz duduk di kursi lipat yang berfungsi sebagai takhta sementara, menatap laporan yang tergeletak di atas meja kayu di depannya.
Laporan dari Aura. Laporan dari Mare. Laporan dari mata-mata Theocracy yang berhasil disadap. Semuanya sudah dibaca. Semuanya sudah dianalisis. Tidak ada satupun yang memberikan jawaban.
Di sampingnya, Albedo berdiri dengan postur sempurna, menunggu perintah. Di belakangnya, Aura dan Mare berdiri sedikit lebih jauh, tidak berani bersuara.
"Shalltear?" suara Ainz datar.
"Masih dalam kondisi tidak stabil, Ainz-sama," jawab Albedo. "Ia tidak bisa memberikan laporan yang koheren. Mulutnya hanya mengulang angka '404' dan kata 'hancur'. Saya sudah mencoba menstabilkan jiwanya menggunakan Scroll Penenang Pikiran tingkat tinggi, tapi efeknya minimal."
"Luka fisiknya?"
"Sudah ditangani. Tapi lukanya... tidak biasa. Bukan hanya dari serangan musuh. Beberapa luka tampaknya berasal dari sihirnya sendiri."
Ainz tidak merespon.
Dalam hati, Suzuki Satoru mencoba mencerna informasi itu. Shalltear — salah satu Guardian terkuat Nazarick — terluka oleh sihirnya sendiri? Tunggu dulu, apa dia melakukan kesalahan saat menggunakan taktik? Tapi Shalltear diprogram sebagai ahlinya pertempuran jarak dekat dan sihir! Dan apa-apaan dengan angka 404 itu? Apakah itu kode eror internet? Jangan-jangan musuh kali ini adalah Player dari duniaku dulu?!
Aduh, kepalaku yang tidak punya otak ini mulai sakit lagi... Cahaya hijau emosinya memancar sesaat, memaksa mental Suzuki Satoru kembali tenang secara instan.
"Kesimpulan Demiurge?"
Albedo menghela napas kecil sebelum menjawab.
"Demiurge menyampaikan bahwa ini adalah 'fenomena yang belum pernah tercatat dalam database Nazarick'. Ia menyarankan untuk tidak mengambil tindakan ofensif terhadap target sampai kita memiliki lebih banyak informasi."
"Setuju."
Ainz mengangguk pelan.
Dia tidak perlu Demiurge untuk menyadari bahwa menyerang sesuatu yang tidak bisa dipahami adalah tindakan bodoh. Tapi masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah: mereka kehilangan jejak target.
"Aura."
Elf perempuan itu melangkah maju.
"Target — Slamet — tidak ditemukan di lokasi pertempuran setelah semuanya selesai?"
"Benar, Ainz-sama. Kami sudah menyisir area dalam radius dua kilometer. Tidak ada jejak. Tidak ada mayat yang cocok dengan deskripsinya."
"Kemungkinan?"
Aura tidak perlu berpikir lama.
"Mungkin tewas dan tubuhnya hancur dalam pertempuran. Mungkin melarikan diri saat Shalltear-sama mengamuk. Atau mungkin dia tidak pernah ada di sana sejak awal. Mungkin yang Shalltear-sama lihat hanyalah ilusi."
Ainz menatap Aura cukup lama.
Ilusi. Mungkin juga. Tapi kalau iya, ilusi macam apa yang bisa membuat Shalltear kehilangan akal sehat?
Dia tidak mengucapkan pikiran itu keras-keras. Tidak perlu.
"...Kumpulkan semua informasi yang bisa didapat. Jangan biarkan satu detail pun terlewat."
"Baik, Ainz-sama."
Aura mundur.
Ainz kembali menatap laporan di depannya.
Di luar tenda, kabut tipis mulai naik dari tanah hutan yang basah oleh embun pagi. Suara burung — yang sempat hilang selama beberapa hari — mulai terdengar kembali. Seolah alam perlahan-lahan mulai melupakan bahwa ada sesuatu yang salah di tempat ini.
Tapi Ainz tidak bisa melupakan.
Karena dia tidak punya jawaban.
Ruang bawah tanah yang diterangi cahaya lilin suci terasa lebih dingin dari biasanya.
Di tengah ruangan, The Thousand Leagues Astrologer duduk di hadapan bola kristalnya, wajahnya pucat. Captain of the Black Scripture berdiri di depannya, tubuhnya masih diperban di beberapa tempat.
Di sudut ruangan yang gelap, sesosok pria tua berjubah putih duduk di balik tirai. Salah satu dari Enam Cardinal.
"Kau yakin tidak bisa mengidentifikasi monster itu?" suaranya berat.
Cardinal itu diam sebentar.
"Target anomali?"
Captain menggeleng.
"Tidak ditemukan. Kami sudah memeriksa area tersebut setelah monster itu mundur. Tidak ada pria dengan pakaian aneh atau alas kaki aneh yang dijepit di sela jarinya. Mayat pun tidak."
"Mungkin tewas."
"Mungkin. Tapi kami tidak bisa memastikan."
The Thousand Leagues Astrologer mengangkat tangan, matanya masih tertutup.
"Aku sudah mencoba divinasi ke arah koordinat itu tiga kali. Hasilnya sama. Kacau. Tidak ada gambar yang terbentuk. Hanya kekacauan dan rapalan kata asing yang terus berdengung."
"Kata asing?"
"'Empat-Nol-Empat'. Diucapkan berulang-ulang seperti sebuah rapalan kutukan. Seperti ada kutukan tingkat tinggi yang menolak untuk dilihat."
Keheningan mengisi ruangan.
Cardinal itu akhirnya bersuara.
"Tingkatkan kewaspadaan di perbatasan. Jangan kirim pasukan ke area itu untuk sementara waktu. Kita tunggu dan amati dari jarak jauh."
"Dan monster itu?"
"Jika dia muncul lagi, kita akan siap. Tapi jangan cari masalah yang tidak perlu. Fokus utama kita masih Kerajaan Elf."
Captain membungkuk.
"Baik, Yang Mulia."
Matahari terbit di atas reruntuhan kamp.
Komandan elf — yang usianya sudah mencapai tiga ratus tahun — berdiri di tengah-tengah bekas tenda logistik. Tanah di sekitarnya hitam gosong. Beberapa batang pohon masih menyala redup meskipun api sudah padam sejak dini hari.
Seorang elf muda menghampirinya, wajahnya pucat.
"Komandan... korban sementara tiga puluh tujuh tewas, dua puluh luka-luka. Beberapa masih dalam pencarian."
Komandan itu tidak menjawab. Matanya menatap ke arah timur, ke arah di mana perempuan dengan rambut perak itu datang.
"Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?"
Elf muda itu tidak bisa menjawab.
"Ada dua kelompok asing. Satu dari utara — perempuan itu. Satu dari selatan — kelompok berseragam hitam. Mereka bertempur. Dan kita... terjebak di tengah."
Komandan elf menghela napas panjang.
"Korban dari pihak kita?"
"Lumayan parah, Komandan."
Dia tidak perlu angka spesifik. Cukup "lumayan parah" untuk menggambarkan situasi.
"Tamu aneh kita?"
"Tidak ditemukan, Komandan. Mungkin... mungkin dia salah satu korban. Atau melarikan diri."
"Atau mungkin dia penyebab semua ini."
Elf muda itu menatap komandannya dengan tatapan bingung.
Komandan itu tidak menjelaskan. Dia tidak punya bukti. Hanya firasat.
"Laporkan ke ibukota. Ini bukan lagi masalah kamp kecil. Ada kekuatan asing yang bergerak di hutan kita, dan kita tidak tahu apa yang mereka cari."
Meskipun, melaporkan hal ini pada Yang Mulia Raja kemungkinan besar hanya akan membuat kami dihukum mati, batin Komandan elf itu dengan getir.
"Baik, Komandan."
Elf muda itu berlari.
Komandan elf berdiri sendirian di tengah reruntuhan, menatap sisa-sisa kamp yang dulu ramai.
Dia tidak tahu bahwa tragedi semalam akan menjadi awal dari bencana yang jauh lebih besar.
Informasi tidak pernah bisa disembunyikan selamanya.
Tiga hari setelah pertempuran, cerita mulai keluar dari hutan Elf. Bukan berita resmi. Bukan laporan dari otoritas mana pun. Tapi bisik-bisik dari pedagang yang melintas di dekat area tersebut, dari tentara yang selamat, dari mata-mata yang dikirim untuk menginvestigasi.
Dan seperti semua rumor, cerita itu berubah setiap kali mulut baru membisikkannya.
Versi pertama, yang beredar di kalangan pedagang:
"Ada pertempuran besar di hutan Elf. Dua kekuatan kuat bertabrakan. Katanya, bumi terbuka dan langit berubah hitam."
Versi kedua, dari mulut seorang tentara elf yang selamat:
"Monster perempuan. Dia datang sendirian. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Dia menghancurkan kamp hanya dalam beberapa menit."
Versi ketiga, yang beredar di kalangan petualang:
"Target dari Theocracy bertemu dengan kekuatan asing yang tidak diketahui identitasnya. Mereka bertempur, lalu ada pihak ketiga — sesosok makhluk misterius — yang memicu kekacauan. Makhluk itu... The Destroyer."
Versi keempat, yang paling liar:
"The Destroyer adalah entitas dari luar dunia ini. Dia datang saat dua kekuatan besar bersiap bertempur, dan dia membuat mereka saling membunuh satu sama lain."
Tidak ada yang tahu mana yang benar.
Karena tidak ada yang melihat semuanya.
Dua minggu setelah pertempuran.
Ainz duduk di Throne of Kings di Ruang Takhta Nazarick, mendengarkan laporan dari Albedo.
"Rumor mulai menyebar ke berbagai wilayah, Ainz-sama. Sebagian besar tidak akurat, tapi ada satu nama yang mulai muncul berulang kali."
Ainz menatap Albedo. "Nama?"
"The Destroyer."
Keheningan.
Ainz mengulang nama itu dalam hati.
The Destroyer.
Itu tidak muncul dalam laporannya. Tidak ada entitas bernama The Destroyer di lokasi pertempuran. Yang ada hanya Shalltear, Black Scripture, elf, dan target yang hilang.
Namun di balik topeng tengkoraknya yang tidak bisa berubah ekspresi, batin Suzuki Satoru berteriak panik.
The Destroyer?! Nama macam apa itu? Kedengarannya seperti julukan bos rahasia di game YGGDRASIL, atau jangan-jangan... itu hanya julukan norak yang dibuat oleh penduduk dunia ini karena ketakutan? Sial, jika Shalltear saja sampai dibuat gila, makhluk yang dijuluki The Destroyer ini jelas bukan entitas sembarangan!
Ainz mengetukkan jari-jari tulangnya yang berhias cincin sihir ke lengan takhta, menimbulkan suara ketukan ritmis yang membuat Albedo menahan napas, mengira sang tuan sedang menyusun strategi genius yang melampaui akal manusia.
"...Begitu rupanya," suara Ainz menggema berat, dalam, dan penuh wibawa yang dibuat-buat. "The Destroyer... menarik sekali. Albedo, perintahkan para Shadow Demon untuk memperluas radius pencarian. Aku ingin tahu siapa atau apa yang berada di balik nama itu. Dan..."
Dia berhenti sejenak.
"Terus cari target. Slamet. Aku tidak bisa memastikan bahwa dia telah mati."
Albedo membungkuk.
"Hamba laksanakan, Ainz-sama yang bijaksana," jawab Albedo sambil membungkuk dalam, matanya berkilat penuh pemujaan.
Di luar tembok Nazarick, di dunia yang lebih luas, rumor tentang "The Destroyer" terus menyebar.
Tidak ada yang tahu bahwa seseorang telah muncul di tempat yang seharusnya mustahil untuk dimasuki.
Tidak ada yang tahu bahwa malapetaka Nazarick yang sesungguhnya baru akan dimulai.
Dan tidak ada yang tahu bahwa jawaban atas semua misteri ini adalah seorang pria dengan sandal jepit satu yang hanya ingin hidup tenang dan suatu hari nanti minum kopi lagi.