Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Tanah Air
Kabut di Lembah Harau belum sepenuhnya terangkat ketika Purwa Wangsa kembali ke ruang kerjanya di dalam Pos Harau.
Kekacauan di halaman sudah mulai mereda. Kuda-kuda yang sempat mengamuk kini telah ditenangkan dengan paksa, sementara beberapa prajurit masih membersihkan tanah dari sisa kekacauan yang terjadi pagi tadi.
Namun suasana di dalam benteng tidak kembali normal.
Purwa berdiri di depan meja jati di ruang kerjanya. Matanya masih tertuju pada satu benda yang tidak seharusnya ada di sana.
Sebuah sembilu bambu berlumuran darah yang sudah mengering.
Ia tidak langsung menyentuhnya.
Beberapa detik ia hanya diam, memperhatikan posisi benda itu. Tidak ada kerusakan pada pintu. Tidak ada tanda perlawanan. Tidak ada jejak masuk yang jelas.
Justru itu yang membuatnya merasa tidak nyaman.
“Dia tidak masuk seperti pencuri biasa…” gumamnya pelan.
Purwa melangkah perlahan mengitari ruangan. Matanya menyapu lantai, dinding, jendela, hingga langit-langit. Setiap sudut ia periksa dengan teliti. Lalu ia berhenti di jendela. Selotnya tidak rusak. Tapi simpul pengikatnya berbeda. Terlalu rapi untuk ukuran prajurit biasa, seolah orang yang masuk ke sini tidak sedang terburu-buru. Melainkan… sedang mengukur ruangan ini.
Di saat yang sama, di luar pos Harau. Sena berdiri diam di antara bayangan pohon. Ia mengamati dari kejauhan. Ia memang tidak melihat Purwa di dalam ruang kerjanya, tetapi perubahan suasana di pos terasa bahkan dari jarak ini.
Para prajurit lebih displin, tapi juga terlihat tegang, mereka terlihat tidak nyaman dan sensitif dengan gerakan kecil.
Ia melihat prajurit yang bereaksi cepat dengan menarik anak panahnya ketika seekor kelinci berlari membelah semak-semak.
Sena tersenyum, setidaknya dalam beberapa hari kedepan, mereka tidak kembali ke perkampungan penduduk.
Tapi ia juga menyadari satu hal. Purwa tidak panik. Tidak seperti sebelumnya, saat pagi tadi.
Purwa ini tidak lagi bereaksi secara liar, sepertinya dia sedang berpikir. Dan itu berarti satu hal : permainan telah berubah arah.
‘Dia mulai membaca medan ini dengan cara yang sama denganku.’ batinnya. Sena perlahan berbalik dan masuk ke dalam bayangan hutan. Namun langkahnya tidak lagi sesantai sebelumnya.
Karena permainan ini… baru saja berubah bentuk.
Sementara itu di dalam Pos Harau. Purwa keluar dari ruang kerja dan berdiri di halaman utama.
Seluruh prajurit segera berkumpul.
Suasana masih tegang, tetapi kini bukan lagi ketakutan acak seperti sebelumnya. Ini ketegangan yang lebih terarah.
Purwa mengangkat tangan. “Mulai hari ini, tidak ada patroli maupun berjaga satu orang tiap titik,” katanya tegas. “Semua bergerak berpasangan. Saling menjaga, saling mengingatkan, tanpa terkecuali.”
Para prajurit saling pandang, tetapi tidak ada yang berani bertanya.
Purwa melanjutkan. “Dan mulai sekarang… kita tidak mengejar Siampa.” Ia berhenti sejenak. “Mulai sekarang… kita menunggu dia bergerak lagi. Tidak ada yang keluar dari Pos tanpa ijin dariku ataupun dari Pepuluh.”
——————
Sosok Sena kian menjauh dari Pos Harau, dengan Surat kerajaan Singasari dan Peta wilayah Sumatera.
Untuk pertama kalinya sejak infiltrasi dimulai, ia tidak langsung bergerak mundur. Ia kini tidak hanya diam. Dan di wajahnya, ada perubahan kecil yang hampir tidak terlihat.
Bukan takut. Bukan ragu. Tapi sebuah kesadaran. Bahwa menuntaskan dendam yang ia janjikan untuk Sena, kini tak lagi sederhana seperti yang ia perkirakan sebelumnya.
———————
Di malam harinya, kegelapan di luar rumah Datuk Lagang terasa lebih pekat, seolah-olah lembah Harau sendiri sedang menahan napas.
Di dalam ruangan utama yang hanya diterangi oleh dua buah lampu damar yang berkedip-kedip, Sena duduk bersila. Tubuhnya masih menyisakan aroma lumpur dan bau busuk saluran limbah, namun pandangannya tajam mengarah pada gulungan surat resmi kerajaan dan peta kulit kambing yang baru saja ia letakkan di atas tikar pandan.
Balun, Jagu, dan Danta duduk melingkar dengan wajah tegang. Mereka menatap benda-benda itu seolah-olah benda itu bisa meledak kapan sapun Bagi mereka, apa yang dilakukan Sena adalah keajaiban, masuk ke jantung musuh dan kembali membawa rampasan tanpa luka sedikit pun.
Sena membuka gulungan surat dengan ikat tali dari serat nanas yang tersimpul. Ia menatap deretan aksara yang meliuk-liuk rumit di atasnya.
Di dalam pikirannya, ia sudah mencoba memetakan karakter-karakter itu seharian sepulang dari infiltrasi di Pos Harau, membandingkannya dengan kanji Jepang maupun Melayu, namun hasilnya nihil. Baginya, tulisan itu hanyalah guratan-guratan asing yang tak bermakna. Jangankan memahami isinya, mengeja satu huruf pun ia tak mampu.
Dunia ini benar-benar berbeda, dan ia menyadari bahwa keahlian membunuhnya tidak akan berguna jika ia buta terhadap informasi.
"Datuk," Sena menggeser gulungan itu ke arah Datuk Lagang. "Saya hanya bisa mengambilnya, tapi tidak bisa membacanya. Aksara ini sangat asing bagi saya."
Datuk Lagang memperbaiki posisi duduknya. Ia mengambil lentera kecil lalu mendekatkannya, dan perlahan mulai membaca dengan mata tuanya.
Suasana ruangan mendadak sunyi senyap. Hanya terdengar derit kayu rumah saat tertiup angin dan napas tertahan dari Balun dan kawan-kawannya.
Awalnya, dahi Datuk berkerut bingung. Namun, perlahan-lahan wajahnya mulai berubah. Dari keraguan menjadi kejutan, lalu pucat pasi, hingga akhirnya memerah padam dengan rahang yang mengeras. Tangan tua itu mulai bergetar, meremas pinggiran perkamen hingga kaku.
Sena, Balun dan lainnya hanya saling memandang, tak mengerti apa yang terjadi, hingga Datuk Lagang bersikap seperti itu.
"Arai..." bisik Datuk Lagang. Suaranya pecah, mengandung kesedihan yang mendalam sekaligus amarah yang teredam.
"Ada apa, Datuk? Apa isinya?" tanya Balun tak sabar, mewakili rasa penasaran semua orang. "Apakah itu perintah untuk membakar desa kita?"
Datuk Lagang membanting surat perintah itu ke lantai kayu dengan penuh emosi. Matanya berkaca-kaca saat ia menatap satu per satu pemuda di hadapannya.
"Puti Kirai... Putri Kerajaan Dharmapuri," suara Datuk terdengar berat. "Singasari di Jawa sana telah mengirimkan perintah resmi. Mereka meminta para putri kerajaan untuk dikirim ke Singasari sebagai bukti hubungan diplomatik.”
Datuk Lagang menunduk menatap kembali surat itu, ”Puti Kirai akan dijadikan selir bangsawan sebagai jaminan kesetiaan Dharmapuri kepada Singasari. Ini bukan hubungan diplomatik, ini sebagai bentuk ketundukan pada Singasari" Ia memandang para pemuda Harau di hadapannya, ”Mereka menyebutnya Upeti Kehormatan.”
Ruangan itu mendadak terasa dingin.
Bagi warga setempat, Puti Kirai bukan sekadar bangsawan; ia adalah simbol kehormatan tanah mereka. Menjadikan seorang putri kerajaan sebagai upeti bukan hanya soal penculikan, itu adalah penghinaan total terhadap martabat seluruh rakyat di wilayah itu.
"Mereka ingin menundukkan kita semua bukan dengan senjata, tapi dengan merendahkan martabat kita!" Datuk Lagang berdiri, dia seakan ragu untuk mengatakan sesuatu, hingga langkahnya terhenti.
Ia menatap Sena. Di matanya, Sena bukan lagi bocah yatim piatu yang sering diberi makan karena belas kasihan. Sena adalah satu-satunya harapan yang tersisa di tengah keputusasaan ini.
Tiba-tiba, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Datuk Lagang, tetua yang paling dihormati di lembah itu, perlahan-lahan menjatuhkan kedua lututnya ke lantai kayu. Ia membungkuk dalam, menyentuhkan keningnya ke lantai di hadapan Sena.
"Sena..." suara Datuk terdengar serak. "Datuk tahu kamu masih terlalu muda untuk memikul beban ini. Tapi aksimu sebagai Siampa Puncak Harau telah membuktikan bahwa kamu bukan orang biasa. Kamu memiliki kekuatan yang tidak kami miliki."
Datuk mengangkat wajahnya, menatap Sena dengan tatapan penuh permohonan. "Tolong bantu tanah ini, Sena. Pinjamkan kekuatanmu untuk menyelamatkan Puti Kirai. Jika ia jatuh ke tangan Jawa, maka runtuhlah harga diri kita semua."
Sena tertegun. Di kehidupan sebelumnya sebagai Hattori Zen, sujud adalah pemandangan sehari-hari. Ia selalu membungkuk di hadapan Daimyo ataupun pada Ketua Klan sebagai bentuk ketaatan mutlak sebagai alat perang. Namun kini, posisinya terbalik. Seorang kepala desa yang bijaksana, seorang tetua adat yang seharusnya ia hormati, justru bersujud memohon padanya.
Tak hanya Datuk Lagang.
Balun, Jagu, dan Danta pun ikut melakukan hal yang sama. Mereka semua bersujud di hadapan Sena, menciptakan sebuah pemandangan yang membuat jantung Sena berdesir hebat.
Hattori di dalam raga Sena merasakan sebuah getaran yang asing. Ini bukan lagi soal perintah tugas dari atasan untuk sebuah misi penyelamatan. Ini adalah panggilan jiwa.
Ada sesuatu yang menusuk langsung ke tulang sumsumnya, sebuah rasa tanggung jawab terhadap tanah yang telah memberinya kehidupan baru. Ini bukan misi penyelamatan biasa; ini adalah panggilan tanah air Harau dan Dharmapuri.
"Bangunlah dulu... Tolong, bangunlah," kata Sena lembut namun tegas. Ia merasa berat menerima penghormatan setinggi itu.
Setelah semua kembali duduk, Sena menatap mereka dengan mata yang berkilat penuh determinasi. Ia mulai menyusun strategi. “Saya tidak bisa melakukannya sendiri. Jika ini melibatkan pengawalan resmi pasukan Singasari, saya butuh bantuan kalian semua."
"Kami siap menerima perintah apapun darimu, Sena! Katakan saja apa yang harus kami lakukan!" jawab Balun, Jagu dan Danta serempak.
Semangat yang tadinya padam kini berkobar kembali di mata mereka.
Sena mengangguk. Ia mulai mengambil arang dan menggambar beberapa bentuk aneh di atas kain.
"Kita butuh banyak bahan. Kita tidak akan menyerang mereka dengan kekuatan fisik semata, kita akan menggunakan cara yang tidak pernah mereka bayangkan."