NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Siasat Dibalik Pintu Kamar

Aeros menatap punggung Sael yang bergerak menjauh dan menaiki tangga. Bahkan setelah Sael menghilang di balik belokan lantai dua, Aeros masih enggan menarik matanya.

"Dih, dasar si Sael. Makan cuma tiga suap, sisa capcay-nya malah ditinggalin gitu aja," gerutu Kael sambil mendengus, tangannya dengan santai menarik piring capcay Sael agar mendekat ke arahnya. "Tapi untung sih, porsiku jadi nambah."

"Kael, jangan dihabisin semua, biasanya Sael tengah malam pengen makan lagi," tegur Mama sambil menggeleng lelah melihat kelakuan anaknya, lalu menatap Aeros dengan raut tidak enak. "Maaf ya, Aeros. Sael itu kalau habis pulang kerja emang kadang suka langsung masuk kamar. Apalagi dia baru selesai sidang besar kemarin, pasti energinya habis."

Aeros mengerjapkan mata. Ia memasang senyum tipis. "Nggak apa-apa. Tante, Sael pasti capek banget."

"Oh ya, Aeros," Papa Sael melipat tabletnya dan meletakkannya di sisi meja, beralih menatap Aeros. "Om dengar dari Papa kamu, kafe barumu yang di area pusat kota itu peminatnya makin ramai, ya? Sampai harus tambah staf administrasi?"

Aeros mengangguk, "Iya, Om. Kewalahan kalau cuma pakai sistem yang lama. Makanya minggu ini saya agak sibuk kurasi berkas legalitasnya juga,"

"Nah, pas banget!" Kael tiba-tiba menyela dengan mulut yang masih penuh kunyahan capcay, matanya berbinar heboh memandang Aeros. "Kak Aeros kenapa nggak minta tolong Sael aja? Dia kan kerjanya di firma hukum. Ngurusin berkas gituan mah makanan sehari-hari si Sael!"

𝘋𝘦𝘨.

Jantung Aeros berdegup kencang mendengar usulan Kael. Meminta bantuan Sael secara profesional berarti ia akan punya alasan untuk sering bertemu.

"Benar juga kata Kael, Aeros," Mama Sael ikut menimpali sambil tersenyum setuju. "Sael itu kalau di rumah kelihatan santai begitu, tapi kalau sudah urusan berkas hukum, dia teliti sekali. Daripada kamu pusing cari orang luar, mending sewa jasa Sael saja."

Aeros terdiam sejenak, ia berpura-pura menimbang-nimbang. Tangannya di bawah meja meremas celananya sendiri menahan semangatnya. "Apa Sael nggak bakal kerepotan, Tante? Dia baru saja menyelesaikan sidangnya, kan?"

"Halah, sok sungkan kamu, Kak," cibir Kael sambil tertawa lepas. "Si Sael itu kalau malam gabut banget di kamar. Paling cuma dengerin musik atau baca buku. Bilang aja ke dia, nanti aku bantu komporin biar dia mau!"

Papa Sael terkekeh pelan melihat kehebohan Kael. "Coba nanti kamu bicarakan langsung dengan Sael, Aeros. Om rasa dia tidak akan keberatan membantu tetangga sendiri."

Aeros menunduk, menyembunyikan binar matanya.

"Baik, Om, Tante. Nanti... selesai makan malam, saya coba bicara dengan Sael," jawab Aeros.

Setelah menyelesaikan suapan terakhir dan membantu Mama Sael merapikan piring kotor, Aeros pun bersiap untuk menemui Sael.

"Tante, Om, Aeros izin ke atas sebentar ya. Mau coba tanya Sael soal berkas tadi," ujar Aeros pamit.

"Oh iya, Ros. Langsung naik saja, pintunya paling nggak dikunci," sahut Mama Sael dari arah dapur.

Aeros melangkah menaiki satu per satu anak tangga kayu rumah itu. Setiap langkahnya terasa berat. Begitu sampai di depan pintu kamar Sael, Aeros sempat terdiam selama beberapa detik. Ia merapikan kausnya dan mengembuskan napas panjang menetralkan detak jantungnya yang mendadak kencang.

𝘛𝘰𝘬 𝘛𝘰𝘬 𝘛𝘰𝘬

Aeros mengetuk tiga kali. Tidak ada sahutan dari dalam. Mengingat ucapan Mama Sael tadi, Aeros memberanikan diri memutar kenop pintu perlahan dan mendorongnya.

"Sael?"

Kamar itu beraroma persis seperti wangi tubuh Sael—manis, dan segar. Lampu utama kamar dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur berwarna kuning temaram di sudut meja kerja.

Di atas ranjang, Sael tengah berbaring miring memunggungi pintu, menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada.

Aeros melangkah masuk dengan pelan, Ia mendekati ranjang dan mendapati Sael ternyata belum tidur. Ia sedang menatap layar ponselnya membolak-balik halaman sebuah 𝘦-𝘣𝘰𝘰𝘬.

Mendengar langkah kaki yang mendekat, Sael menoleh sedikit. Alisnya terangkat sebelah begitu mendapati Aeros yang berdiri di samping ranjangnya.

"Kak Aeros? Ada apa?" tanya Sael, suaranya terdengar lebih serak khas orang yang sudah nyaman di tempat tidur. Ia mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada 𝘩𝘦𝘢𝘥𝘣𝘰𝘢𝘳𝘥 kasur, menatap Aeros dengan ekspresi tenang namun ada kebingungan di dalamnya.

Aeros berdeham, menahan diri agar matanya tidak melihat bagaimana kaus rumahan Sael sedikit melorot di bagian bahu. "Kata Kael, kamu baru menang sidang kemarin."

Sael mengangguk pelan, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Iya. Kenapa? Kael ngadu apa lagi?"

"Bukan ngadu," Aeros berjalan mendekat ke arah meja kerja Sael, bersandar di tepiannya. "Aku lagi butuh orang buat kurasi berkas legalitas dan administrasi buat ekspansi kafe baru di pusat kota. Tante sama Kael bilang... Kamu bisa bantu."

Sael terdiam sejenak. Matanya menatap Aeros lurus-lurus, mencoba membaca maksud Aeros. "Aku bakal bayar sesuai tarif profesional kamu di firma hukum. Gimana?" ujar Aeros beralasan.

Sael tampak menimbang-nimbang. Ia mengetukkan jemari lentiknya di atas lutut—gerakan kecil yang entah kenapa terlihat sangat seksi di mata Aeros.

"Boleh aja sih," ucap Sael akhirnya. "Kebetulan minggu ini jadwalku lagi nggak banyak. Kirim aja drafnya ke 𝘦𝘮𝘢𝘪𝘭-ku, nanti aku periksa."

"Nggak bisa lewat 𝘦𝘮𝘢𝘪𝘭, Sael. Berkas fisiknya banyak dan ada beberapa poin internal yang harus aku jelasin langsung," ujar Aeros dengan suara rendah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!