Di hari yang sama, **Kirana Halim** ditinggalkan kekasih empat tahunnya hanya karena dianggap "tidak selevel"—dan di hari yang sama pula, nomor teleponnya diserahkan sang ayah kepada penagih utang demi utang keluarga **Rp 2 miliar**. Malam itu, dalam keadaan mabuk dan hancur lebur, Kirana melakukan satu kesalahan fatal: tidur dengan bosnya sendiri—**Arka**, manajer dingin yang diam-diam diidamkan seluruh karyawati **PT Cakra Nusantara**.
Paginya, Kirana cuma ingin menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Tapi Pak Bos yang biasanya tak tersentuh itu malah berubah jadi pria yang tak sudi melepasnya.
"Anggap saja tidak pernah terjadi, Pak."
"Kamu terlalu manis. Mana bisa kulepas?"
Dari karyawan kontrak bergaji **Rp 6 juta**, Kirana bertekad naik dengan tangannya sendiri—memenangkan tender, diangkat jadi karyawan tetap, naik jadi manajer, sampai kursi direktur. Sementara itu, fitur **"JodohMatch"** di aplikasi Belio terus mencocokkan jodohnya sesuai penghasilan: dari satpam, pegawai kantoran… sampai akhirnya menunjuk pria yang sama—Arka.
Di antara mantan yang menyesal, saingan anak konglomerat, cinta lama yang tiba-tiba kembali, tekanan "bibit-bebet-bobot", dan badai keluarga yang merenggut segalanya, hanya satu hal yang tak pernah berubah: **Arka selalu memilih Kirana.** Dan Kirana? Ia bersumpah akan menjadi perempuan yang pantas—untuk Arka, dan untuk siapa pun.
Tapi kalau pada akhirnya takdir benar-benar mempertemukan mereka lagi… kira-kira, siapa yang akan melamar lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011: Batas yang Kutarik
Hanya garis pertama dalam perang yang mungkin akan ia kalah perlahan, sedikit demi sedikit nanti.
Kirana tidak suka mengakui bahwa kalimat itu benar.
Karena itu, begitu kembali ke Surabaya, ia melakukan satu-satunya hal yang selalu bisa menyelamatkannya dari perasaan: bekerja sampai kepala terlalu penuh untuk memikirkan hal lain.
Hari pertama di kantor setelah perjalanan dinas Semarang, ia datang lebih pagi dari biasanya. Ia mengirim catatan lanjutan Proyek Mata Elang ke Sandi, merapikan dokumen Sensor IoT, lalu membuat daftar risiko instalasi yang bahkan belum diminta siapa pun. Ketika Arka masuk ke area Divisi IS pukul delapan lebih sedikit, Kirana sudah berdiri di depan printer dengan tumpukan kertas.
"Pagi, Pak," katanya.
Nada suaranya rapi. Terlalu rapi.
Arka berhenti di sampingnya. "Pagi."
Tidak ada yang aneh dari dua kata itu. Namun tubuh Kirana mengingat terlalu banyak hal untuk bisa memperlakukannya seperti sapaan biasa.
"File Semarang sudah saya kirim ke Pak Sandi. Untuk revisi dashboard, saya tandai bagian yang perlu dihitung ulang. Kalau Bapak butuh, saya bisa jelaskan di ruang meeting dengan tim."
"Dengan tim?"
"Iya, Pak. Supaya semua punya konteks yang sama."
Arka menatapnya. "Baik."
Kirana seharusnya lega.
Ia justru merasa seperti baru saja menutup pintu di depan seseorang yang tidak mengetuk terlalu keras.
***
Selama tiga hari, pola itu berulang.
Arka mengirim pesan: Bisa bicara sebentar?
Kirana menjawab: Terkait file mana, Pak?
Arka mengajak makan siang: Ada tempat soto enak dekat kantor.
Kirana membalas: Saya sudah bawa bekal, Pak.
Arka menawarkan mengantar pulang saat hujan: Saya searah.
Kirana mengetik: Saya sudah pesan Grab. Terima kasih.
Setiap balasan itu sopan. Tidak ada yang bisa menyebutnya kasar. Tidak ada yang bisa dijadikan bukti bahwa ia menghindar.
Justru karena itu, rasanya semakin melelahkan.
Di ruang meeting, ia duduk dua kursi dari Arka meski kursi di sebelahnya kosong. Di pantry, ia keluar begitu Arka masuk. Di lift, ia pura-pura menerima telepon dari Mega padahal layar ponselnya mati.
Yang paling berat bukan menjauh.
Yang paling berat adalah tetap bekerja seolah menjauh itu tidak menguras tenaga.
Pada rapat vendor Sensor IoT, Kirana memimpin pembahasan dengan suara stabil. Ia menolak estimasi biaya yang terlalu tinggi, meminta pembuktian durasi instalasi, dan menandai titik rawan banjir yang bisa membuat sensor rusak lebih cepat. Dua kali vendor mencoba melompati pertanyaannya dan menatap Arka untuk mencari keputusan.
Arka hanya berkata, "Jawab Bu Kirana. Dia yang pegang detailnya."
Semua orang kembali menoleh padanya.
Kirana merasakan dadanya menghangat oleh pengakuan itu, lalu langsung memarahi dirinya sendiri. Ini kerja. Ini bukan perhatian pribadi. Ia tidak boleh mencampuradukkan dua hal yang sedang ia pisahkan mati-matian.
Selesai rapat, Sandi memberi jempol kecil. "Mbak, tadi tajam sekali."
"Kalau tidak tajam, vendor akan menganggap kita bisa dibodohi."
"Pak Arka juga kelihatan puas."
Kirana memasukkan laptop ke tas. "Pak Arka puas kalau angka masuk akal."
Sandi tidak membantah, tapi ekspresinya menunjukkan ia mendengar hal lain yang tidak Kirana ucapkan.
Mega, yang akhirnya tahu sebagian ceritanya tanpa nama lengkap hubungan itu, hanya mengirim pesan:
Mega: Lo lagi mode kabur elegan ya?
Kirana: Aku lagi menjaga batas.
Mega: Batas atau benteng beton?
Kirana tidak menjawab.
***
Sandi Kurnia melihat semuanya.
Ia bukan orang yang suka ikut campur urusan pribadi atasannya. Selama bertahun-tahun bekerja dengan Arka, Sandi belajar bahwa Pak Arka paling tidak suka dilihat goyah. Namun minggu itu, goyahnya terlalu jelas.
Arka membaca satu halaman proposal selama lima menit tanpa membalik. Kopinya dingin dua kali. Saat Wanda masuk membawa dokumen yang salah format, biasanya ia akan langsung memotong dengan instruksi tajam. Hari itu ia hanya berkata, "Perbaiki."
Sandi akhirnya menutup pintu ruang kerja Arka setelah rapat internal selesai.
"Pak, maaf kalau saya lancang."
Arka tidak mengangkat wajah dari laptop. "Kalau tahu lancang, biasanya tetap akan bicara."
"Iya, Pak."
Arka menghela napas. "Bicara."
"Mbak Kirana sedang menjaga jarak?"
Jari Arka berhenti di keyboard.
Sandi langsung menambahkan, "Saya tidak perlu tahu detail. Tapi kalau itu mengganggu keputusan kerja, saya perlu tahu batasnya."
Arka bersandar. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya lelah.
"Keputusan kerja saya tidak berubah."
"Saya tahu. Justru itu masalahnya." Sandi memilih kata hati-hati. "Bapak terlalu berusaha membuktikan itu tidak berubah."
Sudut bibir Arka bergerak tipis. "Sejak kapan kamu jadi konsultan hubungan?"
"Sejak Pak Arka membaca dokumen vendor dari halaman terakhir ke halaman pertama."
Arka melirik kertas di mejanya. Benar.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia tertawa pendek.
"Dia menarik batas," kata Arka akhirnya.
"Dan Bapak?"
"Saya menghormati batasnya."
Sandi mengangguk. "Sambil berdiri tepat di depan garisnya?"
Arka menatapnya.
"Maaf, Pak."
"Tidak. Kamu benar." Arka memutar pulpen di jarinya. "Saya hanya belum tahu bagaimana mundur tanpa benar-benar pergi."
Sandi diam sejenak, lalu berkata, "Mungkin jangan mundur. Tapi jangan dorong."
Kalimat itu tinggal di ruangan lebih lama dari yang seharusnya.
Arka menatap pintu kaca yang mengarah ke area kerja. Dari celah tirai, ia bisa melihat Kirana berdiri di depan whiteboard kecil, menjelaskan ulang timeline kepada dua staf junior. Rambutnya diikat seadanya, lengan kemejanya digulung, spidol hitam di tangannya bergerak cepat. Ia terlihat sepenuhnya milik pekerjaannya.
Dan mungkin itu alasan Arka menyukainya sejak awal.
Bukan karena malam-malam yang membuatnya kehilangan kendali, melainkan karena perempuan itu selalu berusaha berdiri dengan kakinya sendiri bahkan ketika dunia menarik lantai dari bawahnya.
"Saya tidak mau jadi alasan orang meragukan pekerjaannya," kata Arka pelan.
Sandi mengikuti arah pandangnya, lalu mengangguk. "Kalau begitu bantu dia menang karena kerja, Pak. Bukan karena Bapak."
***
Kirana menghabiskan malam di kos dengan laptop terbuka dan mi instan yang sudah mengembang. Ia sedang menghitung ulang kebutuhan perangkat untuk Sensor IoT Dishub, mencoba mencari cara agar biaya instalasi tidak meledak di titik rawan banjir.
Jika ia bisa membuat paket implementasi kecil itu rapi, peluang proyeknya berhasil lebih besar. Jika proyek berhasil, evaluasi formasi bukan hanya janji kosong. Ia tidak bisa mengontrol Arka, gosip kantor, atau utang Papa.
Tapi ia bisa mengontrol angka.
Ponselnya bergetar.
Arka: Kamu belum tidur.
Kirana menatap pesan itu. Ia tidak bertanya dari mana ia tahu. Lampu kamarnya mungkin masih menyala; atau lebih mungkin, Arka mengenalnya terlalu baik sekarang.
Kirana: Masih kerja.
Arka: Makan?
Kirana melihat mi instan yang sudah tidak layak disebut makanan. Ia mengetik: Sudah.
Arka: Bohong.
Kirana menahan senyum, lalu langsung menghapusnya dari wajah sendiri.
Kirana: Pak, kalau tidak ada urusan kerja, sebaiknya jangan chat malam-malam.
Pesan itu terkirim sebelum ia sempat takut.
Lama tidak ada balasan.
Ketika balasan masuk, hanya satu kalimat.
Arka: Baik. Kita pelan-pelan dulu.
Kirana membaca kalimat itu berkali-kali.
Tidak ada marah. Tidak ada desakan. Tidak ada "kamu berlebihan" atau "kamu salah paham". Ia memberi ruang, tapi tidak menghilang. Dan entah kenapa, justru itu membuat mata Kirana panas.
Ia meletakkan ponsel terbalik di meja.
Lima menit kemudian, pesan baru masuk.
Arka: Tapi makan sesuatu yang benar. Itu perintah kerja, kalau perlu.
Kirana menutup wajah dengan kedua tangan.
"Orang ini..."
Ia tertawa pelan, kesal pada dirinya sendiri karena masih bisa tertawa.
Malam itu ia akhirnya turun ke warung depan kos dan membeli nasi telur. Sambil makan, ia membuka lagi file Sensor IoT. Di halaman pertama, ia menulis catatan baru tentang strategi implementasi bertahap, risiko cuaca, dan efisiensi vendor.
Ia akan membuat proyek itu berhasil.
Bukan untuk Arka.
Bukan untuk membuktikan sesuatu pada Fajar.
Untuk dirinya sendiri.
Namun saat ponselnya tetap sunyi setelah itu, bagian kecil di dadanya yang paling keras kepala justru menunggu layar menyala lagi.
Dan Kirana membenci betapa jujurnya rasa tunggu itu.
woyyyyyyyy,,,buruan,,,,ayo baca novel ini,,, sumpah,,, bagus banget ceritanya,,,