NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Nasihat dari Orang Bijak

Langkah Cepot dan Dawala terasa lebih ringan saat menuruni lereng menuju tengah Alas Jati Mulya. Semakin dekat, udara terasa makin sejuk, beraroma campuran getah pohon jati dan bunga liar yang harumnya menenangkan. Tidak ada lagi suara gemuruh atau bisikan mengganggu, hanya kicauan burung yang merdu dan desiran daun yang terdengar seperti nyanyian lembut.

Gubuk yang mereka lihat dari kejauhan ternyata lebih sederhana dari yang dibayangkan. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang masih kuat, atapnya dari daun rumbia yang rapi, dan di halamannya tumbuh berbagai tanaman obat serta bunga berwarna-warni yang tidak pernah mereka temui di tempat lain. Di depan gubuk itu, duduk seorang lelaki tua bersandar pada tongkat kayu, rambut dan janggutnya seputih kapas, matanya bening dan menatap lurus ke depan seolah sudah mengetahui kedatangan mereka sejak lama.

Begitu mendengar langkah kaki, lelaki tua itu menoleh perlahan dan tersenyum ramah. “Sudah lama aku menunggu kedatangan kalian, anak muda. Silakan mendekat, tidak perlu ragu.”

Cepot dan Dawala saling berpandangan, lalu melangkah mendekat dengan sikap hormat. Mereka membungkuk sedikit sebagai tanda sopan santun.

“Kami datang dengan niat baik, Kakek. Nama saya Cepot, dan ini adik saya Dawala. Kami mencari tempat ini untuk meminta petunjuk, agar bisa menghentikan kebangkitan kembali Ki Burak yang ingin mendatangkan malapetaka,” kata Cepot dengan nada tenang dan jelas.

Lelaki tua itu mengangguk pelan, lalu menepuk tempat duduk dari anyaman bambu di sampingnya. “Aku bernama Mbah Jati, sudah puluhan tahun tinggal di sini untuk menjaga keseimbangan alam. Duduklah dan ceritakan semuanya secara rinci, dari awal sampai akhir.”

Mereka pun duduk dan mulai menceritakan perjalanan mereka: mulai dari kedatangan Ki Burak, pertarungan pertama, pertemuan dengan Jin Caplak, bahaya di Desa Sindangasih, hingga perjalanan sulit menembus hutan berliku dan menolong Kala Penjaga Jalan. Mbah Jati mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk atau menghela napas panjang mendengar setiap kejadian.

Setelah selesai bercerita, Dawala bertanya dengan nada penuh harap. “Kakek, apakah benar Ki Burak belum benar-benar mati? Dan apa yang harus kami lakukan agar dia tidak bangkit kembali selamanya?”

Mbah Jati menatap ke arah hutan yang lebat, suaranya terdengar berat namun penuh kearifan. “Kalian benar. Ki Burak bukan makhluk biasa yang bisa musnah hanya dengan luka fisik. Dulu saat dia dikalahkan oleh leluhur, kekuatannya terbagi menjadi tiga bagian: satu bagian terperangkap di dalam tanah, satu bagian tersimpan di tempat persembunyiannya, dan satu bagian lagi menyatu dengan kebencian serta ketakutan manusia dan makhluk di sekitarnya. Selama ketiga bagian itu tidak diputuskan ikatannya, dia akan terus berusaha bangkit.”

Cepot menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tampak bingung namun tetap santai. “Wah, jadi seperti membagi bekal menjadi tiga bagian ya? Kalau begini caranya, mana yang harus kami selesaikan lebih dulu? Jangan sampai kami kebingungan malah membuatnya makin kuat, nanti bisa celaka.”

Mendengar ucapan itu, Mbah Jati tertawa renyah. “Kau memang anak yang pandai mengambil kesimpulan sederhana. Itulah sebabnya hatimu tetap tenang meski menghadapi bahaya. Tapi ingat, kekuatan terbesar Ki Burak bukanlah sihir atau tenaga kasarnya, melainkan kemampuannya memanfaatkan keraguan, ketakutan, dan keinginan yang tidak terkendali.”

Ia lalu menunjuk ke arah pinggang Cepot tempat Golek Pancasona terselip rapi. “Pusaka yang kalian bawa itu adalah kunci utamanya. Dia tidak hanya berfungsi sebagai senjata, tapi juga sebagai cermin yang memantulkan sifat asli penggunanya. Kalau hatimu bersih dan tujuannya benar, dia akan memancarkan cahaya yang membakar kegelapan. Tapi kalau hatimu mulai penuh rasa sombong atau takut berlebihan, kekuatannya akan hilang begitu saja.”

Dawala mengernyitkan dahi, bertanya dengan nada polos. “Jadi, kuncinya ada di hati kami sendiri, bukan hanya di benda ini? Kalau begitu, tugasnya jadi lebih mudah sekaligus lebih sulit ya, Kakek. Mengendalikan makhluk jahat mungkin lebih gampang daripada mengendalikan diri sendiri.”

“Benar sekali,” jawab Mbah Jati sambil tersenyum bangga. “Kalian sudah mulai mengerti intinya. Sekarang, untuk menghancurkan sepenuhnya kekuatan Ki Burak, kalian harus pergi ke tempat yang disebut Gua Akar Dunia. Di sanalah tersimpan inti sisa kekuatannya yang paling besar dan menjadi sumber segala kebangkitannya.”

“Di mana letak gua itu, Kakek?” tanya Cepot dengan wajah mulai serius.

“Berada di bawah puncak Gunung Karang, tempat kalian berasal. Jalan menuju ke sana dijaga oleh dua rintangan berat: pertama, ujian kesabaran yang membuat waktu terasa berjalan sangat lambat; kedua, ujian kebenaran yang akan mempertunjukkan apa yang paling kalian takuti dan inginkan dalam hati. Hanya mereka yang bisa melewatinya tanpa tergoda yang bisa masuk ke dalamnya.”

Cepot mendengus pelan, lalu cengengesan lagi. “Ujian kesabaran dan kebenaran? Seperti menunggu nasi matang atau mencari jarum di tumpukan jerami ya? Tenang saja, Kakek. Kami sudah terbiasa menahan lapar dan lelah, apalagi kalau sudah ada tujuan yang jelas. Asal jalannya tidak terlalu berliku dan tidak penuh ular lagi, kami pasti bisa.”

Mbah Jati tertawa melihat tingkahnya yang tetap santai. “Jangan meremehkan ujian itu, Cepot. Ketakutan dan keinginan seringkali datang dalam wujud yang terlihat sangat nyata, sehingga sulit dibedakan mana yang asli dan mana yang hanya ilusi. Tapi bawa satu pesan ini selalu: kebenaran tidak akan pernah menyakiti hati nurani, sedangkan kebohongan akan selalu terasa berat dan menyesakkan dada.”

Ia lalu masuk ke dalam gubuk sebentar dan kembali membawa dua benda kecil: sebuah kalung dari akar pohon jati yang sudah dikeringkan dan dihaluskan, serta selembar daun yang tertulis tanda-tanda rahasia.

“Kalung ini akan melindungi kalian dari pengaruh sihir yang mencoba membingungkan pikiran. Sedangkan tanda ini akan membuka pintu masuk ke Gua Akar Dunia saat kalian sudah sampai di mulut guanya. Tapi ingat, tanda ini hanya bekerja jika kalian datang dengan hati yang tulus, bukan dengan niat ingin berkuasa atau membalas dendam.”

Dawala menerima kedua benda itu dengan hati-hati, lalu menyimpannya dengan aman di dalam bungkusan kain. “Terima kasih banyak, Kakek. Nasihat dan bantuan ini sangat berharga bagi kami. Kami berjanji akan menjaga kepercayaan ini dan berusaha sebaik mungkin.”

Mbah Jati mengangguk, lalu menatap mereka dengan pandangan penuh doa restu. “Pergilah sekarang. Semoga cahaya kebenaran selalu menuntun langkah kalian. Jika nanti tugas selesai dan kalian lewat jalan ini lagi, mampirlah ke sini. Aku ingin mendengar cerita akhir perjuangan kalian.”

Mereka pun berpamitan, membungkuk hormat, lalu berbalik arah melangkah keluar dari halaman gubuk. Saat berjalan kembali melewati hutan jati yang rindang, suasana hati mereka terasa jauh lebih tenang dan mantap dibandingkan saat pertama kali datang.

“Kang, sekarang jalannya sudah jelas. Tinggal menghadapi dua ujian terakhir dan masuk ke gua itu,” kata Dawala sambil melangkah cepat.

Cepot mengangguk sambil memegang erat Golek Pancasona di pinggangnya. “Iya, Da. Perjalanan ini memang panjang dan melelahkan, tapi setiap langkahnya membuat kita mengerti banyak hal. Ingat pesan Mbah Jati: kendalikan hati dan pikiran sendiri, jangan biarkan ketakutan atau keinginan berlebihan menguasai kita. Kalau kita berdua tetap kompak dan saling mengingatkan, tidak ada rintangan yang tidak bisa dilewati.”

Saat matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang menyinari jalan setapak, keduanya melangkah kembali menuruni lereng, menuju arah timur yang kelak akan membawa mereka pulang ke Gunung Karang—tempat di mana segalanya dimulai, dan tempat di mana segalanya harus diselesaikan.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!