Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.
Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.
Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.
Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Kamu Punya Affair Sama Mantan Bos Kamu?
Sepulang kerja, Bella menyempatkan diri pergi ke mall untuk membeli beberapa pakaian yang akan dipakai untuk bekerja. Semua pakaian yang ada di rumahnya semua pakaian branded berharga jutaan. Seperti pakaian yang ia pakai kemarin, ia beli ketika berlibur ke Milan musim panas tahun lalu. Kini dia harus menyesuaikan pakaiannya dengan kebanyakan staf di sana.
"Banyak sekali kamu beli barang-barang ini, Bel? Yang di sini aja jarang kamu pakai, kan?" Ibu Hani heran melihat Bella pulang membawa beberapa paper bag besar berisi pakaian, sepatu dan juga tas kerja. Padahal Bella jarang berada di Jakarta. Apalagi Bella jarang memakai pakaian formal, lebih senang memakai jeans dan t-shirt dipadu dengan cardigan untuk bekerja di perusahaannya sendiri.
"Ini pakaian dinas, Mih. Nggak mungkin 'kan Bella pakai baju yang biasa Bella pakai, nanti orang-orang pada curiga liat baju yang dipakai Bella lebih mahal dibanding gaji mereka." Sambil tertawa, Bella menjelaskan alasannya memborong beberapa fashion.
"Mamih tahu, nggak? Tadi di kantor, dress yang Bella pakai ini sempat jadi pergunjingan. Sampai Gilang aja suruh Bella pakai baju yang lebih formal." Bella pun menceritakan soal kehebohan di kantor soal outfit yang dipakainya.
Tawa Ibu Hani pecah mendengar cerita putrinya dan langsung berkomentar, "Outfit kamu tadi lebih cocok buat ibu bos daripada sekretaris."
"Nah, tadi juga ada yang nyinyir gitu, Mih." Bella terkekeh, membenarkan apa yang diucapkan sang mama.
"Apa? Ada yang bully kamu? Siapa namanya? Bagian apa? Biar Mamih suruh Papih tegur Gilang supaya pecat dia!" Mengetahui Bella mulai mendapat perundungan, Ibu Hani langsung senewen, bahkan siap melibatkan suaminya untuk segera mengambil tindakan.
"Iihh, Mamih nggak usah lebay, deh!" Bella memutar bola matanya, "Kalau lapor papih nanti mereka tahu kalau Bella sedang menyamar, dong!?" jelasnya kemudian.
"Mamih takut kamu dibully kayak di drama-drama itu, Sayang." Apa yang dikatakan Bella belum dapat membuat hati Ibu Hani tenang.
"Mamih nggak usah khawatir, Bella bisa jaga diri, kok! Tinggal di Amrik sendirian aja Bella berani, apalagi cuma menghadapi bully-an dari para karyawan dengki. Anak Mamih ini wanita yang kuat dan anti ditindas!" Kembali Bella mencoba meyakinkan Ibu Hani yang insecure akan suasana di tempat kerja Bella.
"Ya sudah, yang penting kamu harus hati-hati, ya!" Ibu Hani mengusap punggung putrinya, tetap meminta Bella untuk tetap waspada.
"Beres, Mih." Bella mengacungkan ibu jarinya, "Bella mau mandi dulu deh, Mih." Lalu ia melangkah ke arah kamar mandi. Sedangkan ibu Hani membantu membereskan barang-barang yang baru saja dibeli oleh Bella.
***
Sesuai permintaan Gilang, Bella hari ini memakai outfit formal. Dia memilih celana kulot panjang dan blazer berwarna cappucino layar dan kemeja berwarna oat. Rambut diikat Bun dan memakai kalung imitasi untuk mempermanis penampilannya.
Bella memulai pekerjaannya dengan mengecek jadwal Gilang hari ini. Ada dua jadwal pertemuan dengan relasi bisnis dan calon relasi bisnis Mahesa Persada. Bella pun menyiapkan apa saja yang diperlukan untuk pertemuan bisnis itu.
Ting
Arah pandangan Bella bergerak ke arah lift saat mendengar suara di sana. Diikuti dengan gerakan tubuhnya yang seketika bangkit ketika melihat Gilang dan Jimmy datang bersamaan di ruangan itu.
Gilang dan Jimmy sama-sama berebut pandang pada Bella. Seakan penasaran seperti apa penampilan Bella hari ini.
"Selamat pagi, Pak." Bella menyapa seperti biasa ketika jarak mereka mulai mendekat.
"Pagi." Gilang menjawab datar. Seakan ingin menjaga imej sebagai CEO yang tegas.
"Pagi, Bella." Sementara Jimmy menyapa lebih hangat, membuat Gilang menggerakan sudut matanya pada Jimmy.
"Bel, kamu belum jawab pertanyaan saya kemarin. Kamu masih single atau sudah ...."
"Bella, ke ruangan saya sekarang!" Sebelum Jimny menyelesaikan kalimatnya, Gilang sudah memberi perintah agar Bella ikut ke ruangannya.
"Baik, Pak," sahut Bella dengan melengkungkan senyuman. Dia merasa jika Gilang sangat terganggu dengan sikap Jimmy padanya. "Okey, let's play the game," gumamnya kemudian.
"Saya belum menikah, Pak." Bella sempat menjawab pertanyaan Jimmy tadi sebelum mengikuti langkah Gilang.
Gilang menahan langkahnya. Tubuhnya yang berjalan di depan Bella seketika berputar menoleh pada Bella. Tatapan matanya tajam ke arah wanita itu, tak menyangka Bella akan menjawab pertanyaan Jimmy tadi. Tak lama netranya begerak ke arah Jimmy, dibarengi dengan giginya yang mengerat dengan tangan mengepal.
"Hahaha ..." Tawa bahagia Jimmy pecah. Sebenarnya dia juga tak menduga Bella akan menjawab langsung di depan Gilang. "Oke, sip, Bel," sambungnya sambil bergerak menuju ke ruangannya. Dia merasa senang melihat Gilang kesal.
Langkah Gilang kini lebih lebar menuju ruang kantornya membuat Bella mempercepat langkahnya.
"Ada apa, Pak?" Bella bertanya, seolah tak melakukan kesalahan. Padahal ia yakin Gilang jengkel karena dia memberi jawaban pada Jimmy.
"Saya sudah memperingatkan kamu untuk tidak meladeni Jimmy!" Kata-kata Gilang terdengar dingin.
Bella merasa ada kemarahan dari kalimat Gilang tadi. Sangat percaya diri sehingga ia merasa kalau Gilang sedang cemburu.
"Maaf, Pak. Saya hanya menjawab pertanyaan Pak Jimmy. Kalau saya nggak menjawab, khawatir Pak Jimmy akan terus bertanya." Bella beralasan, padahal ia memang sengaja melakukannya.
Gilang mendengus sambil merapihkan simpul dasinya. Seraya berpaling muka, menampakkan gestur tak suka dengan penjelasan Bella.
"Apa Pak Jimmy sudah berkeluarga, Pak?"
Pertanyaan Bella membuat Gilang kembali menatap tajam wanita di hadapannya, yang tidak ia sadari jika wanita cantik itu adalah calon istrinya sendiri.
Gilang menduga jika Bella mulai terhipnotis pesona Jimmy yang mudah menaklukkan hati wanita.
"Dia sudah bertunangan!" tegas Gilang, "Karena itu saya minta kamu untuk tidak meladeni Jimmy!" Gilang memanfaatkan pertanyaan Bella tadi untuk menekan Bella agar mau mendengar perintah.
"Baik, Pak. Saya mengerti." jawab Bella, "Apa ada lagi yang ingin Bapak sampaikan?" tanyanya kemudian.
"Tidak! Kamu boleh kembali ke mejamu!" Gilang membuka laptopnya dan menyuruh Bella meninggalkan ruangannya.
"Baik, Pak. Permisi." Bella memutar tubuh dan melangkah ke arah pintu. Senyum pun melebar di bibirnya, merasakan Gilang mulai memupuk rasa cemburu di hatinya.
***
Pukul 11.30 Bella menemani Gilang bertemu dengan calon relasi bisnis Mahesa Persada, karena perusahaan Gilang belum pernah berhubungan dengan perusahaan bernama PT. Maharani Putra itu.
Mereka berdua pergi diantar supir kantor menggunakan mobil dinas Gilang. Mobil yang biasa dipakai Gilang untuk urusan kantor, jika ia tidak mengendarai mobil pribadinya.
Bella dan Gilang duduk di kursi belakang, tak sejajar dengan driver atas kehendaknya sendiri. Itu membuat Gilang tampak canggung berdampingan dengan Bella.
"Sebelumnya kamu pernah bekerja?" Gilang berusaha mengontrol sikap dan tak memperlihatkan rasa canggungnya pada Bella. Dia sendiri heran, sebelumnya tidak pernah merasa demikian pada wanita lain.
"Pernah, Pak," jawab Bella.
"Di mana?" tanya Gilang, bersyukur menemukan topik untuk dibicarakan dengan Bella.
"Di perusahaan advertising di Bandung." Pada kenyataannya Bella memang mengeluti bisnis advertising. Namun, tidak mungkin dia menyebut di mana perusahaan itu berada, karena perusahaannya berada jauh dari Indonesia.
"Berapa lama kerja di sana?" tanya Gilang kembali.
"Kurang lebih dua tahun," jawab Bella.
"Kenapa keluar dari sana?"
"Karena ..." Bella berpikir mencari alasan agar tak mencurigakan Gilang.
"Karena apa?" Gilang bertanya seperti penyelidik, bertanya secara mendetail.
"Karena istri bos di sana cemburu pada saya, Pak." Bella akhirnya menyebut alasan itu yang ia pikir bisa membuat Gilang percaya, mengingat Gilang pun melarangnya akrab dengan Jimmy.
Pupil Gilang melebar mendengar alasan yang disampaikan Bella. Sudut bibirnya terangkat tipis. Melihat paras Bella, alasan itu memang masuk akal.
"Apa kamu punya affair dengan mantan bos kamu dulu?" Pertanyaan Gilang bernada mencibir.
Bella menoleh pada Gilang dengan tatapan tajam mendengar tuduhan itu.
"Sialan! Dia pikir aku wanita selingkuhan!?"
❤️❤️❤️,,
bakal makin gencar gak nih Bella menggoda Gilang setelah dengar cerita Jimmy😁
.