NovelToon NovelToon
Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.

Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.

Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Dia Penyihir

Ruangan itu penuh. Seratus lebih warga duduk di kursi-kursi kayu yang diatur berbaris. Pak RT duduk di depan, di samping meja panjang yang menjadi mimbar sidang. Di sisi kiri ruangan, Paman Harto dan Bibi Laras duduk dengan wajah congkak. Di samping mereka, seorang laki-laki yang tidak Saskia kenali, mungkin "saksi" yang mereka bawa.

"Sidang desa hari ini," suara Pak RT terdengar gugup, "adalah untuk menyelesaikan sengketa antara Saskia Utami dan keluarga Paman Harto serta Bibi Laras. Saudara Harto, silakan sampaikan keluhan Anda terlebih dahulu."

Paman Harto berdiri. Wajahnya penuh percaya diri. "Terima kasih, Pak RT. Saya di sini mewakili keluarga besar untuk menyelamatkan keponakan kami, Saskia, dari pengaruh buruk. Sejak kematian orang tuanya, dia berubah. Dia menyendiri. Dia bicara sendiri di kandang. Dia tiba-tiba bisa menyembuhkan sapi-sapi sakit. Warga semua tahu, itu bukan hal normal. Itu ilmu hitam. Pesugihan."

Bisik-bisik di antara warga semakin kencang.

"Dua sapi mati di kandangnya," lanjut Paman Harto. "Itu tumbal. Saya saksi sendiri, malam-malam ada asap hitam keluar dari kandang. Bau kemenyan. Sapi-sapi impornya baru bisa hidup setelah dia ngasih tumbal. Ini membahayakan seluruh desa. Saya cuma mau menyelamatkan dia sebelum terlambat."

Beberapa warga mengangguk. Bibi Laras menyeka sudut matanya yang kering, pura-pura menangis.

Pak RT menoleh ke Saskia. "Saudari Saskia, silakan tanggapi."

Saskia berdiri. Ia berjalan ke depan, ke meja yang sudah disiapkan Budi dengan laptop dan proyektor. "Terima kasih, Pak RT. Terima kasih, warga sekalian. Saya tidak akan berbicara panjang lebar. Saya hanya akan menunjukkan fakta."

Julian menyalakan proyektor. Di dinding bambu Balai Desa, sebuah slide muncul. Foto botol kaca kecil. Foto sumur belakang kandang. Foto jejak kaki di tanah.

"Ini botol potasium sianida. Ditemukan di rumah Paijo, preman pasar yang dikenal sebagai kaki tangan Paman Harto. Sidik jari di botol ini ada dua: Paijo dan Paman Harto."

Warga mulai bergumam.

"Ini foto jejak kaki di sekitar sumur kandang saya. Sepatu boot ukuran empat puluh dua, cocok dengan sepatu Paijo yang kami sita. Sandal jepit ukuran tiga puluh delapan, cocok dengan sandal Paman Harto."

"Ini fitnah!" teriak Paman Harto. "Dia mereka-reka! Mana buktinya itu sepatu saya?!"

Saskia mengabaikannya. Slide berikutnya muncul. Foto CCTV. "Ini rekaman CCTV dari malam sapi saya mati. Listrik kandang mati selama satu jam. Tapi sebelum listrik mati, kamera sempat merekam ini."

Di layar, terlihat jelas dua sosok mendekati tiang listrik. Satu bersepatu boot. Satu bersandal jepit. Wajah mereka tertangkap jelas oleh kamera infrared. Wajah Paman Harto. Wajah Paijo.

Ruang Balai Desa langsung ribut.

"Itu... itu bukan saya!" teriak Paman Harto. Wajahnya sudah tidak congkak lagi. Sekarang pucat. "Itu rekayasa! Dia kerja sama sama polisi! Dia penyihir! Dia pakai ilmu hitam buat merekayasa CCTV!"

"Saudara Harto, harap tenang," potong Pak RT.

Tapi Paman Harto tidak tenang. Ia berdiri, menunjuk Saskia. "Kalian semua lihat sendiri! Dia pakai blazer putih! Dia dikawal! Dia bawa proyektor! Ini semua ilmu hitam! Tumbalnya dua sapi, berikutnya tumbal manusia!"

Saskia mengangkat tangannya. Julian mengganti slide.

"Ini rekam medis saya dari Rumah Sakit Umum Surabaya. Saya menderita anemia aplastik genetik. Penyakit bawaan sejak lahir. Sumsum tulang saya tidak memproduksi cukup darah." Saskia menatap ke arah warga. "Saya pucat karena sakit. Saya sering pingsan karena sakit. Bukan karena pesugihan. Bukan karena ilmu hitam. Saya sakit."

Seorang ibu tua di barisan depan bergumam, "Kasihan sekali..."

"Sapi-sapi saya tidak mati karena tumbal. Mereka mati karena diracun. Racun sianida yang dibeli Paman Harto sendiri dari Pasar Besar. Ini kesaksian penjualnya." Julian menampilkan slide berikutnya. Foto seorang bapak tua dengan kemeja lusuh. Di bawah fotonya, salinan tanda tangan dan pernyataan.

Warga semakin ribut.

"Satu lagi." Saskia menatap Paman Harto yang sekarang sudah berdiri dengan wajah panik. "Rekaman CCTV di sumur. Malam sebelum sapi-sapi saya keracunan."

Video diputar.

Di layar, terlihat jelas dua bayangan melompati pagar belakang kandang. Satu bersepatu boot. Satu bersandal jepit. Mereka mendekati sumur. Yang bersandal jepit mengeluarkan botol dari sakunya. Menuangkan isinya ke sumur. Wajahnya jelas.

Paman Harto.

"ITU BUKAN SAYA! ITU... ITU REKAYASA! DIA PUNYA DUKUN! DUKUNNYA YANG MEMBUAT VIDEO PALSU!"

Tapi warga sudah tidak mendengarkan. Beberapa sudah berdiri. Seorang bapak berteriak, "Dasar pembunuh!" Ibu-ibu yang tadinya bersimpati pada Bibi Laras sekarang menatapnya dengan jijik.

Pak RT mengetuk meja berkali-kali. "Saudara Harto, silakan duduk! Sidang belum selesai!"

Tapi Paman Harto tidak duduk. Ia meraih lengan Bibi Laras, mencoba menariknya ke pintu. "Ayo! Kita pergi!"

Pintu Balai Desa terbuka sebelum mereka mencapainya.

Dua orang polisi berdiri di ambang pintu. Seragam coklat, senjata di pinggang. Wajah mereka serius. "Bapak Hartono, alias Paman Harto? Ibu Laras, alias Bibi Laras? Kami dari Polres Malang. Anda berdua diminta ikut kami ke kantor untuk pemeriksaan."

"Ini... ini salah tangkap! Saya tidak melakukan apa-apa!"

Polisi pertama mengeluarkan selembar kertas. "Surat perintah penangkapan. Pasal 340 KUHP, percobaan pembunuhan berencana. Pasal 406, perusakan properti. Anda berdua berhak diam. Apapun yang Anda katakan bisa digunakan sebagai bukti di pengadilan."

Paman Harto terdiam. Wajahnya yang tadi pucat, sekarang abu-abu. Bibi Laras di sampingnya mulai menangis. Bukan tangis pura-pura kali ini. Tangis sungguhan.

"Tolong... tolong lepaskan suami saya... kami tidak bersalah..."

Tapi polisi sudah menggandeng mereka berdua. Warga menyingkir, memberi jalan. Beberapa meludah ke tanah begitu Paman Harto lewat. Seorang ibu melempar sandalnya ke arah Bibi Laras.

Ketika Paman Harto melewati Saskia, ia berhenti sejenak. Matanya menatap Saskia dengan kebencian murni. "Kau... kau tidak akan menang. Ini belum selesai."

Saskia menatapnya balik. Matanya tenang. "Ini sudah selesai, Paman."

Polisi membawa mereka keluar. Suara sirene meraung di kejauhan. Mobil patroli menunggu di depan Balai Desa. Warga berhamburan keluar, menonton tetangga mereka digiring masuk ke mobil polisi.

Di dalam Balai Desa yang mulai kosong, Saskia berdiri sendirian di depan meja. Proyektor sudah dimatikan. Laptop sudah dilipat. Bukti-bukti sudah dimasukkan kembali ke map plastik.

Daniel mendekat. "Kau menang."

"Aku tahu."

"Kau tidak tersenyum."

Saskia menatap ke arah pintu, ke arah di mana Paman Harto dan Bibi Laras baru saja dibawa pergi. "Aku tidak bisa tersenyum. Dua sapi mati. Data penelitianku bocor. Kepercayaanku pada Julian... pada orang-orang di sekitarku... sudah tidak sama lagi."

"Itu bukan salahmu."

"Aku tahu. Tapi itu tanggung jawabku."

1
4revenge
aku suka bagian ini
Lini Krisnawati
bagus
gina altira
Suka nie sama Saskia tegassss
gina altira
semangat SASKIA
gina altira
jadi Dilema ya Saskia,
sukensri hardiati
baru mulai buka mata dah banyak banget masalah saskia yg harus diurus....smangatttt....
gina altira
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!