Ren, seorang pemuda yang hidupnya hancur di dunia modern, terbangun di dunia yang ia kenal hanya melalui layar kaca—dunia Shinobi yang penuh dengan darah, air mata, dan pengkhianatan.
Tepat saat ia lahir di tengah kekacauan serangan Kyuubi, Ren menyadari bahwa ia tidak memiliki garis keturunan klan hebat, tidak memiliki chakra yang melimpah, dan hanya dianggap sebagai sampah oleh dunia.
Namun, tepat saat ia menginjak usia 6 tahun, sebuah layar transparan muncul di depannya: [Selamat datang, Ren. Sistem Evolusi Shinobi telah aktif.]
Dengan pengetahuan tentang masa depan yang pahit dan sistem yang memungkinkan segalanya, Ren bersumpah untuk mengubah nasib. Dari seorang anak yatim piatu yang diabaikan, ia akan bangkit, melampaui para Hokage, hingga menantang para dewa yang bermain-main dengan takdir dunia ini.
Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai penjahat. Dia adalah Faktor X yang akan mengubah dunia Shinobi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Berdarah
Suara petir tidak pernah sekeras ini. Bukan, itu bukan petir. Itu adalah raungan—sebuah pekikan purba yang begitu pekat dengan kebencian hingga mampu menggetarkan udara dan membuat gendang telinga terasa seperti ditusuk jarum perak. Bersamaan dengan raungan itu, gelombang hawa panas menyapu atmosfer, membawa aroma hangus dari kayu yang terbakar, daging yang terpanggang, dan bau besi yang menyengat dari darah yang mengalir di mana-mana.
Di mana ini? Jiwa seorang pria dewasa berontak di dalam kegelapan. Di kehidupan sebelumnya, dia hanyalah seorang pecundang. Seorang pria yang selalu berjalan menunduk, menerima setiap kegagalan sebagai takdir, dan mati dalam kesunyian yang menyedihkan. Namun sekarang, kesadurannya tersentak bangun oleh rasa sakit yang luar biasa. Ketika dia mencoba membuka mata, pandangannya sangat buram, hanya mampu menangkap bayangan kabur dan distorsi warna yang kacau. Lebih buruk lagi, dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri. Otot-ototnya seringkih bubur, dan setiap kali dia mencoba berteriak, yang keluar dari tenggorokannya hanyalah tangisan melengking yang tipis dan menyedihkan.
"Cepat! Evakuasi koridor barat! Rumah sakit tidak aman lagi!"
"Monster itu... Monster itu menuju ke arah sini!"
Suara-suara panik dalam bahasa asing—yang entah bagaimana langsung dimengerti oleh otaknya—bergema di langit-langit gedung. Langkah kaki yang terburu-buru berdentum di lantai kayu, berbaur dengan getaran konstan yang mengguncang fondasi tempatnya berada. Pria itu, yang kini berada di dalam tubuh seorang bayi mungil bernama Ren, perlahan menyadari realitas yang mengerikan lewat indra penglihatannya yang terbatas. Bayangan merah raksasa bergoyang di langit malam di balik jendela besar ruangan. Itu bukan kobaran api biasa. Itu adalah ekor. Satu, dua, tiga... Sembilan ekor raksasa yang menari liar, merobek awan dan menghancurkan bangunan seolah-olah desa ini hanyalah istana pasir di tepi pantai.
Kyuubi. Dunia Naruto. Sebelum Ren sempat mencerna kejutan budaya yang masif ini, sebuah bayangan melintas cepat di luar jendela. Seorang ninja Konoha dengan rompi pelindung hijau terlempar badannya, menghantam kaca jendela hingga hancur berkeping-keping. Darah ninja itu memercik ke dinding ruangan, matanya mendelik tanpa nyawa tepat ke arah ranjang bayi tempat Ren berbaring. Tidak ada kepahlawanan di sini. Yang ada hanyalah pembantaian massal yang acak, dingin, dan tidak peduli pada siapa pun.
"Astaga, masih ada bayi di sini!" Sebuah tangan gemetar dengan pakaian putih perawat mengangkat tubuh Ren dengan tergesa-gesa. Perawat wanita itu menangis, napasnya tersengal-sengal oleh ketakutan yang murni saat dia memeluk Ren erat-erat dan berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar. Namun, takdir tidak pernah berbaik hati pada seorang pecundang. Udara di sekitar mereka mendadak meledak. Salah satu ekor raksasa Kyuubi menghantam bagian atas Rumah Sakit Konoha dengan kekuatan yang mampu meratakan gunung. Langit-langit beton runtuh seketika, menciptakan gempa lokal yang dahsyat. Guncangan itu melempar tubuh perawat tersebut ke lantai dengan keras. Ren terlepas dari pelukan, berguling di atas lantai yang dingin sebelum kilatan beton besar jatuh tepat di atas mereka. Suara jeritan perawat itu terputus dalam sekejap, digantikan oleh suara redam daging dan tulang yang remuk di bawah berton-ton puing bangunan.
Kegelapan total langsung menyelimuti Ren. Dia terjebak di dalam celah kecil yang sempit di bawah reruntuhan bangunan. Rasa sakit yang tajam mulai menjalar dari dada dan kaki mungilnya. Tulang rusuk bayinya retak. Udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat tipis, dipenuhi oleh debu semen yang pekat dan mencekik paru-parunya yang baru berfungsi. Dinginnya malam mulai menembus kulitnya yang tanpa perlindungan baju, memicu hipotermia yang mematikan dalam hitungan menit.
Sial... Apakah ini akhir dari segalanya? Batin Ren berteriak di dalam kepalanya yang mulai pening. Setiap embusan napas adalah siksaan yang luar biasa. Pandangannya yang buram kian menggelap, bersiap menuntunnya kembali ke alam kematian. Jiwa dewasanya meraung penuh amarah, frustrasi, dan penolakan yang mutlak. Aku baru saja dilahirkan kembali! Aku bahkan belum sempat berjalan di atas tanah ini! Kenapa aku harus mati konyol lagi sebagai figuran tak bernama di malam bencana ini?! Pecundang di kehidupan pertama, dan umpan meriam di kehidupan kedua? Tidak... Aku tidak mau! Aku bersumpah, jika aku bisa selamat dari neraka ini, aku akan menjadi penguasa atas takdirku sendiri! Aku tidak akan membiarkan siapa pun, atau monster apa pun, mendikte hidup dan matiku!
Tepat ketika detak jantung bayi itu melemah dan peluang hidupnya hampir menyentuh titik nol, sebuah kilatan cahaya biru redup memotong kegelapan mutlak di bawah reruntuhan. Cahaya itu membentuk sebuah layar holografis yang transparan, mengambang tepat di depan wajah Ren yang bersimbah darah. Bersamaan dengan itu, sebuah suara mekanis yang dingin, monoton, dan tanpa emosi bergema langsung di dalam lubuk jiwanya.
[SISTEM EVOLUSI SHINOBI: Inisialisasi Berhasil.]
[Pengguna: Ren | Usia: 0 tahun | Status: Bayi (Fase Pertumbuhan)]
[Kondisi Fisik: Kritis (Cedera Internal, Hipotermia)]
[Peluang Bertahan Hidup: 3.4%]
[Analisis Lingkungan: Terdeteksi Sisa Radiasi Chakra Bijuu (Kyuubi) di sekitar.]
[Peringatan Kritis: Mengaktifkan Protokol "Survival Instinct".]
[Tindakan: Menyerap sisa radiasi chakra untuk stabilisasi sel tubuh inang.]
Seketika, Ren merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Udara di sekitarnya yang tadinya terasa hampa dan mencekik, mendadak dipenuhi oleh partikel energi berwarna merah pekat yang bergejolak ganas. Itu adalah sisa-sisa chakra Kyuubi yang tertinggal akibat hantaman ekor monster itu sebelumnya. Energi merah yang terkenal sangat korosif, panas, dan penuh kebencian itu mulai tersedot masuk melalui pori-pori kulit Ren secara paksa. Jika itu adalah bayi biasa, tubuh mereka pasti akan hancur atau terkontaminasi hingga tewas seketika. Namun, di bawah kendali mutlak dari Sistem, energi liar itu dijinakkan, dipaksa mengalir untuk memperbaiki jaringan tubuh Ren yang rusak, menyambung tulang-tulangnya yang retak, dan menghangatkan kembali darahnya yang hampir membeku.
[Pemberitahuan: Deteksi perubahan pada plot asli (Kanon). Penyerapan sisa Chakra Kyuubi memicu pergeseran garis waktu sebesar 0.001%.]
Napas Ren yang tadinya putus-putus perlahan menjadi stabil dan teratur. Layar biru di depannya kembali berkedip, memperbarui informasi statusnya dengan sangat cepat.
[Status Sinkronisasi: Berhasil. Trait Unik Terbuka: 'Semangat Bertahan Hidup (Level 1)'.]
[Efek Trait: +1 pada Atribut Ketahanan/Stamina, Regenerasi Sel +5% dalam kondisi bahaya.]
[Misi Utama Jangka Panjang Ditetapkan:]
Misi: Bertahan hidup hingga usia 6 tahun di dunia Shinobi.
Imbalan: 100 Poin Evolusi, Akses Toko Fungsi Dasar, dan Bonus Bakat Dasar Shinobi.
Sanksi Gagal: Penghapusan Eksistensi (Kematian Permanen).
Ren menatap nanar baris kalimat terakhir pada layar sistem tersebut. Penghapusan Eksistensi. Sebuah sanksi yang dingin, kejam, dan mutlak. Sistem ini jelas tidak berniat untuk memanjakannya atau menjadikannya pahlawan yang disuapi kekuatan; ini adalah alat beraliran keras yang akan memaksanya terus merangkak naik melampaui batas atau mati hancur di tengah jalan. Namun, alih-alih merasa takut, sebuah senyuman tak terlihat justru terukir di dalam batin Ren. Ini adalah modalnya. Ini adalah senjatanya untuk menjungkirbalikkan dunia ninja yang penuh dengan diskriminasi klan, politik kotor, dan hak istimewa genetika ini.
Energi sisa Kyuubi di sekitar area tersebut telah habis diserap seluruhnya, dan tubuh bayi Ren yang kelelahan setelah melewati ambang kematian mulai menuntut haknya untuk beristirahat. Rasa kantuk yang luar biasa berat menyerang kesadarannya yang kian menipis Ren tidak menyadari bahwa didada kirinya, Tepat di atas jantung,sisa chakra merah tersebut mengental dan membentuk sebuah tanda lahir kecil berwarna hitam pekat yang menyerupai segel kuno yang retak. Layar sistem biru itu perlahan memudar, kembali tersimpan ke dalam alam bawah sadarnya.
Tepat sebelum Ren benar-benar kehilangan kesadaran dan tenggelam dalam tidur yang dalam, indra pendengarannya yang mulai menajam menangkap suara asing di luar celah reruntuhan tempatnya berbaring. Suara gesekan batu-batu beton yang digeser perlahan terdengar konstan di keheningan malam yang mulai mereda dari ledakan.
Tap.
Tap.
Tap.
Itu adalah suara langkah kaki seseorang. Seseorang sedang berjalan di atas puing-puing bangunan Rumah Sakit Konoha yang telah hancur total, bergerak perlahan namun pasti menuju ke arah tempat Ren terjebak. Langkah kaki itu terdengar sangat tenang, terlalu tenang dan berirama untuk seseorang yang berada di tengah-tengah medan perang yang baru saja luluh lantah oleh amukan monster ekor sembilan.
Apakah itu ninja penyelamat dari korps medis Konoha yang sedang mencari korban selamat? Ataukah itu adalah sekelompok ninja misterius yang bergerak di bawah bayang-bayang kegelapan, seperti ANBU Root milik Danzo Shimura yang sedang berpatroli mencari 'aset' baru tak beridentitas di antara sisa-sisa reruntuhan korban bencana? Ren tidak tahu jawabannya. Matanya terpejam sepenuhnya, menyerahkan nasib tubuh bayinya pada langkah kaki misterius yang kian mendekat di tengah sisa malam yang berdarah itu.