Zayyan Mahendra membawa Lolly ke Swiss untuk merayakan kelulusannya sekaligus melamar wanita itu. Namun di saat Zayyan berharap cinta mereka berakhir bahagia, Lolly justru memilih pria lain.
Dengan hati hancur, Zayyan memutuskan pulang ke Indonesia. Tak disangka, di bandara ia bertemu kembali dengan teman lamanya dan membuat keputusan gila. Dia menikah Alin, teman lamanya itu.
Pernikahan tanpa cinta itu awalnya hanya pelarian. Tapi siapa sangka, takdir justru mempertemukan mereka pada cinta yang sebenarnya. Namun, keberadaan Lolly selalu mengganggu rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Mobil yang dikemudikan Zayyan terus melaju membelah jalanan berliku menuju kawasan puncak. Udara perlahan berubah semakin dingin seiring mobil mereka meninggalkan hiruk-pikuk kota. Deretan gedung tinggi mulai tergantikan oleh hamparan pepohonan hijau dan kabut tipis yang menggantung di antara perbukitan.
Dari dalam mobil terdengar alunan musik pelan yang sengaja diputar Zayyan untuk menemani perjalanan mereka. Sesekali pria itu mengetukkan jarinya di setir mengikuti irama lagu, sementara Alin di sampingnya lebih banyak diam sambil menatap keluar jendela.
Matanya memperhatikan setiap pemandangan yang mereka lewati. Kebun teh yang luas, pedagang jagung bakar di pinggir jalan, anak-anak kecil yang tertawa sambil membawa layangan. Semuanya terasa begitu berbeda dari rutinitas hidupnya selama ini.
Alin tanpa sadar menyandarkan pipinya di dekat kaca jendela mobil. Sorot matanya tampak tenang, meski pikirannya sebenarnya dipenuhi banyak hal. Selama ini hidupnya hanya berputar antara rumah, kampus, pekerjaan, dan tanggung jawab. Bahkan untuk sekadar menikmati perjalanan seperti ini saja rasanya sangat jarang.
Zayyan melirik sekilas ke arah Alin. "Kamu diam aja dari tadi," ucapnya sambil tetap fokus menyetir.
Alin menoleh pelan. "Lagi lihat pemandangan."
"Bagus ya?"
Alin mengangguk kecil. "Iya."
Jawabannya singkat, tetapi cukup membuat Zayyan tersenyum tipis. Entah kenapa dia merasa senang melihat Alin menikmati perjalanan mereka meski gadis itu tidak banyak bicara.
Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi mulai melambat sebelum akhirnya berhenti di sebuah area wisata di puncak. Tempat itu cukup ramai dipenuhi pengunjung. Dari area parkir saja sudah terlihat hamparan pegunungan hijau yang tertutup kabut tipis.
Udara dingin langsung menyergap begitu mesin mobil dimatikan.
Zayyan membuka seatbelt-nya lalu menoleh ke arah Alin. "Kamu pernah kesini?" tanyanya santai.
Alin menggeleng pelan sambil ikut melepaskan seatbelt.
"Belum."
"Serius?"
"Iya."
Zayyan tampak sedikit terkejut. "Padahal tempat ini lumayan terkenal."
Alin hanya tersenyum kecil. "Aku nggak punya waktu buat jalan-jalan."
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah kenapa membuat Zayyan diam beberapa detik.
Dia menatap Alin sekilas. Wajah gadis itu terlihat biasa saja saat mengatakannya, seolah memang sudah terbiasa menjalani hidup seperti itu.
"Hidupku ya cuma belajar sama kerja aja," lanjut Alin pelan. "Kadang kalau libur juga dipakai buat bantu nenek."
Tidak ada nada mengeluh dalam suaranya. Justru itu yang membuat Zayyan merasa aneh di dadanya. Dia terbiasa melihat perempuan seusia Alin sibuk nongkrong, liburan, atau mengejar kesenangan. Tetapi gadis di sampingnya ini malah terlihat seperti seseorang yang terlalu cepat dewasa.
Zayyan turun dari mobil terlebih dahulu lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk Alin. "Nah, sekarang kamu bisa jalan-jalan," katanya sambil sedikit membungkukkan badan dramatis.
Alin spontan terkekeh kecil. "Biasa aja kali."
"Nggak bisa. Hari ini spesial."
"Memangnya kenapa spesial?"
"Soalnya kamu jalan sama aku."
Alin langsung memutar bola matanya malas. "Narsis."
Namun sudut bibirnya tak bisa berhenti tersenyum.
Mereka pun mulai berjalan memasuki area wisata itu. Udara dingin membuat Alin otomatis mengusap kedua tangannya pelan. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin pegunungan.
Zayyan yang menyadari hal itu langsung membuka jaketnya.
"Pakai."
Alin menatap jaket yang disodorkan kepadanya. "Nggak usah, kamu nanti dingin."
"Aku kuat."
"Aku juga kuat."
"Iya, tapi aku lebih kuat."
Alin mendesah pelan karena tahu pria itu tidak akan menyerah. Akhirnya ia menerima jaket tersebut dan memakainya perlahan. Jaket itu terasa hangat. Entah karena memang tebal atau karena masih menyimpan aroma parfum Zayyan yang samar.
Mereka berjalan berdampingan melewati banyak spot foto dan taman bunga yang tertata rapi. Beberapa wisatawan terlihat sibuk mengabadikan momen bersama keluarga maupun pasangan mereka. Sementara Alin tampak sibuk memperhatikan semuanya dengan mata berbinar kecil.
Zayyan diam-diam memperhatikan ekspresi gadis itu."Kamu suka?" tanyanya.
Alin mengangguk pelan. "Tempatnya bagus."
"Cuma bagus?"
Alin menoleh. "Terus harus bilang apa?" bingung Alin.
"Misalnya... keren banget, terima kasih Zayyan sudah ngajak aku ke sini."
Alin mendengus pelan. "Nggak usah kepedean."
Zayyan tertawa kecil mendengar itu. Mereka kemudian berhenti di sebuah gardu pandang yang langsung menghadap pegunungan. Kabut bergerak perlahan tertiup angin, menciptakan suasana yang tenang sekaligus indah.
Alin berdiri di dekat pagar kayu sambil menatap jauh ke depan. Akhirnya setelah sekian lama, dadanya terasa ringan. Tidak ada tugas, tidak ada pekerjaan, tidak ada tekanan. Hanya udara dingin, suara angin, dan suasana tenang yang belum pernah benar-benar ia nikmati sebelumnya. Tanpa sadar senyum kecil muncul di wajahnya.
Zayyan yang berdiri di sampingnya sampai sedikit terpaku melihatnya.
"Kenapa lihat aku begitu?" tanya Alin ketika menyadari tatapan pria itu.
Zayyan tersadar lalu berdeham kecil. "Nggak kenapa-kenapa."
"Bohong."
Zayyan menyelipkan kedua tangannya ke saku celananya sambil tersenyum tipis. "Aku baru sadar ternyata kamu kalau senyum manis juga."
Alin langsung salah tingkah. "Apaan sih."
"Tuh kan, malu."
"Aku nggak malu."
"Wajah kamu merah."
"Itu karena dingin."
"Iya, iya. Karena dingin."
Zayyan sengaja mengangguk panjang sambil menahan tawa. Sementara Alin memilih memalingkan wajahnya ke arah lain karena merasa pipinya benar-benar mulai panas. Padahal udara di sana sangat dingin.
*
*
Zayyan dan Alin duduk berdampingan di sebuah bangku kayu yang berada di area outdoor kafe kecil di kawasan wisata itu. Kabut tipis turun perlahan menyelimuti sekitar, sementara udara dingin khas puncak membuat suasana terasa semakin tenang.
Di atas meja kecil di depan mereka terdapat dua gelas es kopi dan beberapa cemilan hangat yang baru saja datang. Asap tipis dari kentang goreng dan roti bakar masih terlihat mengepul.
Alin memegang gelas kopinya dengan kedua tangan, menikmati hangat yang merambat dari permukaan gelas. Sesekali matanya memandang ke arah pegunungan yang terlihat samar tertutup kabut.
Sementara itu Zayyan lebih sibuk memperhatikan Alin dibanding pemandangan di sekitar mereka.
"Kamu selama ini cuma tinggal sama nenekmu?" tanya Zayyan membuka obrolan.
Alin yang sedang meminum kopinya berhenti sejenak. Ia menurunkan gelas perlahan sebelum menjawab. "Dia bukan nenekku."
Zayyan mengernyit bingung. "Bukan?"
Alin menggeleng pelan. "Dia mantan pelayan di rumahku."
Kalimat itu sukses membuat Zayyan menoleh penuh heran. "Mantan pelayan?"
"Iya."
"Lalu... orang tua kamu?" Pertanyaan itu membuat ekspresi Alin sedikit berubah. Tatapannya yang tadi tenang perlahan meredup.
"Mereka sudah meninggal." Jawabannya singkat, tetapi cukup membuat suasana di antara mereka berubah hening.
Zayyan langsung merasa tidak enak hati. Dia sama sekali tidak menyangka. "Maaf, aku tidak tahu" ucapnya pelan.
Alin tersenyum kecil, meski senyum itu terlihat dipaksakan. "Nggak apa-apa kok. Sudah lama meninggalnya." Namun tetap saja, ada kesedihan yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan dari sorot matanya.
Alin menunduk pelan sambil memainkan sedotan minumannya. Untuk sesaat pikirannya kembali pada masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam. Rumah besar, keluarga hangat, tawa kedua orang tuanya. Lalu semuanya hilang begitu saja dalam waktu singkat.
Sejak saat itu hidupnya berubah total.
Zayyan diam memperhatikan gadis di depannya. Baru kali ini dia melihat sisi rapuh Alin yang biasanya selalu terlihat kuat dan galak. Entah kenapa dadanya terasa sedikit sesak. Biasanya dia tidak terlalu peduli dengan kehidupan orang lain. Tetapi mendengar cerita Alin justru membuatnya ingin tahu lebih banyak tentang gadis itu.
Suasana kembali hening beberapa saat. Hanya suara angin dan obrolan samar pengunjung lain yang terdengar di sekitar mereka.
Lalu tiba-tiba Zayyan membuka suara lagi. "Kamu udah punya pacar?"
Alin langsung menoleh cepat dengan wajah datar. Pertanyaan itu terdengar begitu tiba-tiba sampai membuatnya malas menanggapi.
Ia memutar bola matanya pelan. "Kalau aku udah punya pacar, aku nggak mungkin nerima ajakan kamu."
Zayyan terkekeh geli mendengar jawabannya.
"Iya juga sih."
"Pertanyaan aneh."
"Habis penasaran."
"Penasaran buat apa?"
Zayyan menyandarkan tubuhnya santai di kursi sambil menatap Alin lekat-lekat. "Buat memastikan aku masih punya kesempatan."
Deg.
Jantung Alin mendadak berdetak aneh. Untung wajahnya berhasil tetap terlihat biasa saja.
"Narsis banget."
"Bukan narsis. Percaya diri."
Alin mendengus pelan lalu kembali meminum kopinya untuk mengalihkan rasa gugup yang tiba-tiba muncul.
Namun beberapa detik kemudian—
"Kalau gitu..."
Zayyan menggantung ucapannya.
Alin menoleh malas. "Apa lagi?"
"Menikah sama aku aja."
Uhuk.....
Alin hampir tersedak minumannya sendiri. Ia langsung membulatkan mata tidak percaya lalu menatap Zayyan seolah pria itu baru saja kehilangan akal sehat.
"Hah?!"
Zayyan justru terlihat santai sambil menggigit kentang goreng.
"Aku serius."
"Kamu gila ya?!"
"Kok marah?"
"Ya jelas marah! Orang ngomong nikah kayak ngajak beli gorengan!"
Zayyan tertawa kecil melihat ekspresi panik Alin. Wajah gadis itu benar-benar lucu saat terkejut.
"Aku cuma ngajak."
"NGGAK ADA CUMA-CUMANYA!"
Beberapa pengunjung sampai menoleh karena suara Alin yang sedikit meninggi. Gadis itu langsung menurunkan volumenya sambil menatap sekitar malu.
Sementara Zayyan malah makin menahan tawa.
"Kamu jangan bercanda sembarangan."
"Aku nggak bercanda."
Alin kembali terdiam. Kali ini ia benar-benar bingung apakah pria di depannya serius atau hanya sedang mengerjainya.
Zayyan menatap Alin cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Aku suka sama kamu."
Kalimat itu sukses membuat Alin semakin kehilangan kata-kata. Angin dingin berhembus pelan menerbangkan beberapa helai rambutnya, tetapi anehnya wajah gadis itu justru terasa panas. Jantungnya berdetak semakin tidak karuan.
Sementara Zayyan masih menatapnya tanpa melepaskan senyum kecil di wajahnya.
lanjut Thor 💪💪💪
lanjut Thor 🔥🔥🔥