NovelToon NovelToon
The Savior

The Savior

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Misteri / Action / Fantasi / Sci-Fi / Horor
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.

Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.

Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.

Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.

Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.

Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari seseorang part 2

Perempuan pirang itu sudah sampai di meja resepsionis.

Ia meletakkan tumpukan kertas di samping buku besar, lalu berbicara pelan dengan resepsionis. Suaranya tidak terdengar jelas dari jarak ini.

"Bicaralah seperti pemula biasa," pikirnya.

Will berjalan mendekati meja. Ia berdiri di samping, menunggu dengan sabar. Sesekali ia berpura-pura melihat-lihat selebaran yang tertempel di meja.

Setelah beberapa saat, perempuan pirang itu menyelesaikan bicaranya dan berbalik.

Matanya bertemu dengan Will.

"Oh," ia tersenyum ramah.

"Ada yang bisa dibantu, Nak?"

Will mengangkat wajahnya. Ia tersenyum tipis, senyum pemula yang sedikit canggung.

"Permisi, Kak. Aku anggota baru. Masih bingung soal misi-misi pemula,"

Perempuan pirang itu mengangguk. "Misi pemula ada di papan pengumuman sebelah sana. Pilih yang tulisannya hitam,"

"Sudah aku lihat, Kak. Tapi..." Will berpura-pura ragu.

"Aku ingin tahu, apakah ada misi yang bisa langsung dikerjakan hari ini? Yang tidak terlalu sulit,"

Perempuan itu tersenyum. "Ada kok. Ambil saja kertas misi dari papan, lalu bawa ke sini untuk didaftarkan,"

Will baru saja hendak berbalik ketika resepsionis itu bersuara.

"Jangan begitu. Dia orang baru di sini,"

Ia menatap perempuan pirang itu.

"Karena tinggimu sama dengannya, kenapa kau tidak menemaninya? Lagian, ini tugas pertama yang diberikan padanya,"

Perempuan pirang itu mengerjap, lalu tersenyum. "Benar juga. Kebetulan aku ada waktu luang untuknya,"

Ia menatap Will.

"Kakak, tidak masalah soal itu?" tanya Will.

"Tidak. Aku dulu juga sepertimu."

"Kalau begitu, ini misinya."

Resepsionis mengambil selembar kertas dari tumpukan di mejanya dan menyerahkannya pada Will.

Will menerima dan membacanya.

Tulisan hitam, misi pemula.

"Misi panen?" Will mengerjap.

"Misi itu ada di perkebunan milik seseorang, letaknya di luar kota," kata resepsionis.

"Terima kasih. Ayo berangkat, Will," ucap perempuan pirang itu.

"Iya,"

"Tunggu sebentar, ya. Aku mau mengambil sesuatu dulu,"

Perempuan pirang itu berbalik dan berjalan menuju pintu belakang.

Selagi perempuan itu pergi, Will melihat sekeliling. Tidak ada yang memperhatikan.

Ia menjauh dari keramaian, berdiri di sudut ruangan dekat pintu keluar.

Will memasukkan tangan ke dalam kantong dan mengeluarkan batu komunikasi.

"Kak Aisa,"

Batu itu bergetar hangat.

"Will? Ada apa?"

"Kak, aku berhasil menemukan salah satu orang yang dicari. Apa yang harus kulakukan?"

Diam sejenak.

"Kukira kau tahu maksud Lola,"

Will mengerjap.

"Begini. Kau usahakan bujuk dia, agar mau menjadi timmu,"

Will terdiam. "Jadi... aku tidak langsung minta tolong? Harus diajak kerja sama dulu?"

"Iya... Orang itu tidak akan mau membantu orang asing begitu saja. Kau harus dekat dulu. Cari tahu apa yang ia butuhkan,"

Will mengangguk. "Baik, Kak. Aku paham,"

"Hati-hati. Jangan terburu-buru,"

Batu itu berhenti bergetar.

Will menyimpannya kembali ke kantong.

Beberapa menit kemudian...

Perempuan pirang itu kembali.

Ia membawa peralatan bertani, keranjang bambu besar di tangan kiri, sabit kecil di tangan kanan.

"Maaf ya, lama. Ini alat panennya."

Will melihat keranjang itu. "Berat, Kak?"

"Tidak. Lagipula kau tidak perlu bawa apa-apa. Nanti kau ikut petik saja,"

Ia berjalan lebih dulu menuju pintu keluar. Will mengikuti dari belakang.

Mereka melewati gerbang Guild. Udara pagi menyambut.

Will berjalan di samping perempuan itu. Tingginya sama, sekitar 150 cm.

"Nama dia siapa? pikir Will.

Belum tahu namanya. Belum tahu apa pun selain wajah dan tempat kerjanya.

Ia tidak mau bertanya langsung. Terlalu mencurigakan.

Mereka berjalan berdampingan dalam diam. Sesekali orang yang lewat menatap mereka, lalu mengabaikan.

Perempuan itu yang memulai lebih dulu.

"Kamu baru datang ke kota ini?"

Will mengangguk. "Iya, Kak,"

"Sendirian?"

"Iya, sendirian,"

Perempuan itu tersenyum. "Berani juga,"

Will balas tersenyum. "Kakak sendiri? Kerja di Guild?"

"Iya. Sudah tiga tahun,"

Ia menoleh. Matanya sedikit menyipit. Tidak curiga. Hanya seperti sedang mengukur.

"Kerja di restoran juga. Sekarang masih di sana,"

Will mengangguk pelan. Hatinya berdegup lebih cepat.

Tapi... sabar. Jangan tanya nama dulu. Nanti juga tahu.

Mereka melewati gerbang kota. Dua penjaga perempuan berdiri di sisi, tinggi sekitar 170 cm.

Mereka melirik Will sekilas, lalu mengangguk pada perempuan itu. Seperti saling kenal.

"Kakak sering ke luar kota?" tanya Will.

"Iya. Kadang antar dokumen Guild ke desa-desa,"

Mereka melewati ladang-ladang terbuka. Rumput hijau bergoyang ditiup angin.

Di kejauhan, tampak perkebunan dengan pagar kayu.

"Itu tempatnya," kata perempuan itu.

Ia menunjuk ke depan.

Will mengikuti arah jarinya.

"Harus mulai dekat," pikirnya.

"Cari tahu apa yang ia butuhkan,"

"Baiklah, mana kertasnya,"

Will menyerahkan kertas misinya, pada perempuan itu.

Perempuan itu menerimanya, membaca sebentar.

"Hmm, jadi ini misinya,"

Ia melipat kertas itu dan menyimpannya di saku.

"Baiklah, ayo kita panen,"

"Iya,"

Mereka berjalan melewati pagar kayu perkebunan.

Di dalam, sayuran hijau tumbuh rapi dalam barisan. Tanahnya lembap, baru saja disiram. Beberapa pekerja sudah mulai memetik di bagian lain.

Perempuan itu memberikan keranjang kosong pada Will.

"Kamu petik yang sudah besar-besar saja. Jangan cabut sampai akarnya. Potong batangnya pakai sabit ini,"

Ia menyerahkan sabit kecil.

Will menerimanya. Tangannya menggenggam gagang kayu itu.

"Ini pertama kali?" tanya perempuan itu.

"Iya,"

"Kalau begitu, lihat aku dulu," kata perempuan itu yang mau mengajarinya.

Ia berjongkok di samping tanaman sayur. Tangan kirinya memegang daun, tangan kanannya memotong batang dengan sabit. Satu gerakan. Bersih.

"Giliranmu,"

Will meniru.

Tangannya sedikit gemetar. Potongan pertama terlalu pendek. Daunnya hancur.

Perempuan itu tersenyum. "Jangan terburu-buru. Pegang erat-erat. Potong di bagian bawah,"

Will mencoba lagi.

Kali ini lebih baik.

"Bagus," kata perempuan itu.

"Lanjutkan,"

Tanpa Will sadari, ia bisa meniru gerakan perempuan itu dalam memanen, cara memegang sabit, cara memotong batang, cara memilih sayur yang matang.

Ia melakukannya dengan sempurna. Seperti sudah bertahun-tahun melakukannya.

Perempuan itu berhenti sejenak. Ia menatap Will.

"Kau cepat belajar," katanya.

Will mengerjap. Ia baru menyadari bahwa tangannya sudah bergerak tanpa berpikir. Hanya mengikuti apa yang dilihatnya.

"Aku... tidak tahu," jawab Will jujur.

Perempuan itu tersenyum. "Bakat alami," gumamnya.

Will tidak membantah. Tapi dalam hati, ia tahu itu bukan bakat.

Tapi kemampuan meniru.

Mereka bekerja berdampingan. Sesekali perempuan itu, mengawasi cara Will memotong atau memilih sayur yang tepat.

Sunyi. Hanya suara sabit memotong batang dan sayuran jatuh ke keranjang.

Will mencuri pandang ke arah perempuan itu.

"Kapan waktu yang tepat untuk bertanya?" pikirnya.

Beberapa jam kemudian...

Matahari semakin tinggi. Udara mulai panas. Keringat membasahi dahi Will, tapi ia tidak berhenti.

Perempuan itu bekerja dengan tenang di sampingnya. Cepat dan rapi.

Sesekali ia menoleh, melihat keranjang Will, lalu mengangguk kecil.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!