Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENIH YANG MULAI TUMBUH
Keramaian pasar ibu kota masih dipenuhi suara para pedagang dan tawa para pengunjung. Lampion-lampion merah bergantung di sepanjang jalan, sementara aroma makanan memenuhi udara. Di tengah keramaian itu, Yanran yang sedang berjalan bersama Mo Chen tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Tatapannya tertuju pada dua sosok yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Pangeran Pertama dan Murong Meiying.
Yanran langsung menyipitkan mata. Ia mengenal ekspresi Murong Meiying dengan sangat baik. Gadis itu sedang menatap Mo Chen dengan mata berbinar-binar, seolah baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga.
Yanran kemudian mendekat sedikit ke arah Mo Chen dan berbisik pelan.
“Bersiaplah. Sebentar lagi nona Murong akan berlari ke arahmu dan mulai bermanja-manja.”
Mo Chen menoleh heran.
“Kau bisa menebaknya?”
Yanran mendengus kecil.
“Tentu saja. Aku yang menulis karakternya. Aku tahu persis apa yang akan dia lakukan.”
Benar saja.
Belum sampai beberapa detik, Murong Meiying langsung mengangkat sedikit roknya dan berlari kecil ke arah mereka dengan wajah cerah.
“Mo Chen!”
Suara lembut dan manja itu membuat beberapa orang di sekitar menoleh.
Murong Meiying berhenti tepat di depan Mo Chen dengan senyum manisnya. Tatapannya penuh kegembiraan, seolah sudah lama tidak bertemu dengannya.
Sementara itu, Mo Chen yang sekarang bukanlah Mo Chen asli langsung merasa canggung.
Sangat canggung.
Namun anehnya, saat melihat Murong Meiying mendekat, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Deg.
Deg.
Deg.
Mo Chen sedikit mengernyit.
“Apa yang terjadi…?”
Ia menatap Murong Meiying dengan bingung.
“Kenapa jantungku berdebar seperti ini?”
Ia bergumam dalam hati.
Perasaan itu bukan seperti rasa cinta. Bukan rasa gugup seorang pria kepada wanita yang disukainya. Rasanya lebih seperti emosi yang tertinggal jauh di dalam tubuh ini.
Seolah tubuh Mo Chen asli masih menyimpan perasaan terhadap Murong Meiying.
Mo Chen terdiam cukup lama sampai akhirnya Yanran mendorong bahu Murong Meiying tanpa peringatan.
“Minggir.”
Nada suara Yanran dingin dan datar.
“Dia calon suamiku.”
Murong Meiying langsung terkejut.
Sementara Mo Chen akhirnya tersadar dari lamunannya. Ia menatap Yanran beberapa detik sebelum tersenyum tipis.
“Kau cemburu?”
Yanran langsung menyikut perutnya dengan keras.
Bugh!
“Ukh—!”
Mo Chen langsung membungkuk sambil memegangi perutnya.
“Yanran! Kau mau membunuhku?!”
Yanran mendengus kesal.
“Mulutmu terlalu banyak bicara.”
Mo Chen hanya bisa tertawa kering sebelum akhirnya mengangkat kedua tangannya menyerah.
“Baik, baik. Aku salah.”
Ia menatap Yanran sambil tersenyum kecil.
“Maaf. Aku hanya bercanda.”
Melihat interaksi keduanya, wajah Murong Meiying langsung berubah sedikit jelek. Sementara Pangeran Pertama yang berdiri tidak jauh dari sana hanya memperhatikan mereka dalam diam.
Tatapannya perlahan menjadi suram.
Namun ia segera menyembunyikan ekspresinya dan memberi isyarat halus kepada Murong Meiying.
Murong Meiying langsung mengerti.
Ia kembali mendekati Mo Chen dengan senyum lembut.
“Mo Chen… bukankah kita teman masa kecil?”
Nada suaranya terdengar lembut dan penuh nostalgia.
“Dulu kau selalu bermain denganku.”
Saat mengatakan itu, Murong Meiying perlahan mengulurkan tangannya, berniat memegang lengan Mo Chen.
Namun sebelum tangannya menyentuh Mo Chen, pria itu langsung mundur selangkah dan menghindar dengan tenang.
Murong Meiying langsung membeku.
Mo Chen tersenyum sopan.
“Maaf, Nona Murong.”
Ia kemudian melirik Yanran yang berdiri di sampingnya.
“Aku harus menemani calon istriku berkeliling sebelum hari mulai gelap.”
Ucapan itu terdengar santai, tetapi cukup untuk membuat wajah Murong Meiying pucat sesaat.
Yanran sendiri terlihat cukup puas.
Melihat Murong Meiying gagal, Pangeran Pertama akhirnya maju sendiri.
Wajahnya masih terlihat tenang dan elegan seperti biasa.
“Nona Yanran.”
Yanran menatapnya datar.
“Ada apa, Yang Mulia?”
Pangeran Pertama tersenyum tipis.
“Bisakah kita berbicara sebentar?”
Namun tanpa memberi kesempatan sedikit pun, Yanran langsung menolak.
“Maaf, Yang Mulia.”
Ia menggenggam lengan Mo Chen dengan santai.
“Hari ini aku sedang menemani calon suamiku.”
Pangeran Pertama langsung terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia ditolak secara terang-terangan oleh seorang wanita di depan banyak orang.
Yanran bahkan tidak terlihat ragu sedikit pun.
“Kami permisi dulu.”
Setelah mengatakan itu, Yanran langsung menarik Mo Chen pergi meninggalkan mereka.
Murong Meiying menatap punggung mereka dengan wajah tidak rela.
Sementara itu, Pangeran Pertama masih berdiri diam di tempatnya.
Aneh.
Sangat aneh.
Dadanya tiba-tiba terasa berdebar.
Ia menatap punggung Yanran semakin jauh di tengah keramaian pasar.
“Perasaan apa ini…?”
Ia mengerutkan kening pelan.
Tak lama kemudian, ia mulai berpikir sendiri.
“Mungkin dia masih marah karena kejadian di aula waktu itu…”
Semakin dipikirkan, semakin yakin dirinya.
“Benar. Pasti begitu.”
Pangeran Pertama mengangguk kecil seolah menemukan jawaban yang tepat.
“Aku harus meminta maaf padanya.”
Tanpa sadar, ia mulai berpikir terlalu tinggi tentang dirinya sendiri.
“kau coba Besok lagi” ucap pangeran pertama pada murong meiying.
Murong meiying mengangguk pelan.
Sementara itu, Yanran dan Mo Chen sudah berjalan cukup jauh dari pasar.
Mereka akhirnya tiba di depan Kediaman Gu saat langit mulai berubah jingga.
Namun begitu melihat gerbang utama, langkah keduanya langsung berhenti bersamaan.
Di depan gerbang, seorang pria tinggi dengan pakaian perang hitam berdiri sambil menyilangkan tangan.
Jenderal Gu Zhengyuan.
Aura dingin dan menakutkan langsung memenuhi suasana.
Pengawal di sekitar gerbang bahkan tidak berani bersuara.
Seketika suasana menjadi sangat hening.
Yanran dan Mo Chen saling melirik sesaat sebelum kembali menatap ke depan.
Mo Chen tersenyum kaku.
Ia tahu betul pria di depannya bukan orang biasa.
Ini adalah seorang ayah posesif yang sangat menjaga putrinya.
Gu Zhengyuan akhirnya membuka mulut.
“Yanran.”
Nada suaranya lembut.
Sangat berbeda dibanding aura menyeramkan yang mengelilinginya.
“Kemarilah. Kau pasti lelah.”
Yanran langsung berjalan mendekat tanpa ragu.
“Benar, Ayah.”
Ia menghela napas panjang.
“Keliling pasar ternyata jauh lebih melelahkan daripada pergi berperang.”
Gu Zhengyuan tertawa kecil mendengar itu.
Tatapannya dipenuhi rasa sayang.
“Ternyata anak ini masih sama seperti dulu.”
Yanran hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya masuk ke dalam kediaman.
“Kalau begitu aku masuk dulu.”
“Masuklah.”
Setelah Yanran benar-benar menghilang di balik gerbang, senyum Gu Zhengyuan perlahan menghilang.
Ia menoleh perlahan ke arah Mo Chen.
Tatapannya langsung berubah dingin.
Sangat dingin.
Mo Chen refleks menegakkan tubuhnya.
Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Angin sore berhembus pelan melewati halaman depan kediaman Gu.
Akhirnya, Gu Zhengyuan mendengus pelan sebelum berkata singkat.
“Pulanglah.”
Lalu…
Brak!
Gerbang besar Kediaman Gu langsung ditutup di depan wajah Mo Chen tanpa basa-basi.
Para pengawal langsung menundukkan kepala, berusaha menahan tawa.
Mo Chen hanya bisa tersenyum pahit.
“Jenderal Gu benar-benar menakutkan…”
Ia menghela napas panjang sebelum menoleh kepada pengawalnya.
“Ayo kita pulang.”
“Baik, Yang Mulia.”
Kereta kerajaan pun bergerak meninggalkan Kediaman Gu menuju istana.
Sepanjang perjalanan, Mo Chen terus memikirkan banyak hal.
Tentang Murong Meiying.
Tentang Pangeran Pertama.
Dan tentang perasaan aneh yang tadi muncul di dalam dirinya.
Ia menyandarkan kepala sambil menatap langit malam di luar jendela kereta.
“Tubuh ini masih menyimpan emosi Mo Chen asli…”
Gumamnya pelan.
“Kalau begini terus, cepat atau lambat itu akan memengaruhiku.”
Namun anehnya, saat mengingat Yanran, sudut bibirnya perlahan terangkat.
Wanita itu selalu bertindak sesuka hati.
Kasarnya tidak tertahankan.
Tetapi justru karena itu, ia merasa nyaman berada di dekatnya.
Tanpa sadar, Mo Chen tersenyum kecil sepanjang perjalanan.
Tak lama kemudian, kereta kerajaan akhirnya memasuki area istana.
Namun baru saja ia turun dari kereta, seorang kasim tua langsung berjalan cepat menghampirinya.
“Yang Mulia Pangeran Ketiga.”
Mo Chen mengangkat alis.
“Ada apa?”
“Kaisar sedang menunggu Anda.”
Senyum kecil di wajah Mo Chen langsung menghilang.
Tatapannya perlahan berubah serius.
“Malam-malam begini?”
“Benar, Yang Mulia.”
Mo Chen terdiam sesaat sebelum akhirnya menghela napas pelan.
“Sepertinya… malam ini tidak akan tenang.”