NovelToon NovelToon
Dalang Di Balik Pembunuhan

Dalang Di Balik Pembunuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dian umar

Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Denis dan Rafael ingin sekali merayakan ulang tahun Kayla. Namun, Wiliam dan Agnes tidak mengijinkan mereka masuk. Mereka malah diusir layaknya pengemis.

Tapi semangat mereka tidak pudar begitu saja. Melihat kamar Kayla dari bawah sini sempat membuat mereka bingung. Bagaimana caranya mereka masuk kalau balkonnya sangat tinggi, sedangkan mereka baru anak-anak yang berumur 12 tahun.

"Saya akan membantu!"

Seruan dari Tuan Sam membuat mereka memiliki harapan. Tuan sam kemudian pergi sebentar untuk mengambil sesuatu yang bisa membantu mereka berdua.

Tuan Sam mengambil dua tangga yang tingginya bisa mencapai pagar balkon. Tak lupa juga beliau membawakan rafia agar Denis dan Rafael bisa membawa kue dan bunga api ke atas sana.

Sebelum naik ke tangga, Tuan Sam mengikatkan dua seuntai tali ke tubuh mereka. Agar jika mereka sudah selamat, barang-barang ini akan di bawa melalui tali yang diikatkan tadi.

"Sudah siap?" Tanya Tuan Sam memastikan mereka berdua sudah siap atau belum.

"Kami siap!" Ucap mereka serentak dan penuh semangat.

Mereka berdua menaiki tangga secara bersamaan. Tangga itu cukup aman dan kuat untuk digunakan. Jadi mereka tidak khawatir akan bahaya.

Saat mereka sudah berada di puncak tangga. Kepala mereka sudah sejajar dengan pagar balkon. Tangan-tangan kecil itu berusaha naik dengan berpegangan pada sela-sela pagar.

Tangan mereka menjadi merah dan sedikit lecet. Namun, mereka tetap tidak menyerah. walaupun sakit, mereka akan terus berjuang demi Kayla.

Akhirnya mereka berdua berhasil memanjat balkon. Mereka melompat-lompat karena sudah melewati rintangan yang sulit.

Setelah itu, mereka menghadap ke bawah. Mereka memberikan kode agar Tuan Sam mengikatkan barang-barang dibawah sana dengan tali rafia.

"AKHIRNYA BERHASIL!" Teriak Denis dengan penuh kegembiraan. Nafasnya tak beraturan, menandakan bahwa ia sangat kelelahan.

"Sssst!" Rafael meletakan jari telunjuk di mulutnya, ia memberikan kode agar Denis tidak bersuara keras.

Kalau Wiliam dan Agnes tahu rencana mereka ini, usaha mereka yang tadi akan sia-sia.

Mereka Mengetuk-ngetuk jendela balkon dengan sangat keras. Namun, Kayla tak kunjung keluar.

Mereka berdua lalu menempelkan telinga di jendela agar bisa mengetahui Kayla sedang melakukan apa di dalam sana.

"Kayla sedang menangis!" Ucap Denis yang saat itu mendengar suara tangisan dari dalam kamar.

"Iya aku tahu." Ucap Rafael sambil terus mendengar apa saja yang terjadi di dalam sana.

Mereka kembali mengetuk jendela sambil memanggil nama Kayla. Cara itu pun berhasil membuat Kayla sadar bahwa ada orang di balkon kamarnya.

Sreet!

Kayla membuka lebar-lebar Gorden kamarnya. Dia bisa melihat jelas ada Rafael dan Denis di luar sana.

Cleck!

Sebelum keluar, Kayla menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan sahabatnya.

"Kalian...."

Kayla seakan tidak percaya dengan kedatangan kedua sahabatnya ini.

"Happy birthday!" Ucap mereka serentak sambil memberikan kue yang terlihat sedikit berantakan.

"Hehehe... Maaf ya, kuenya berantakan banget. Aku tidak hati-hati tadi." Ucap Rafael penuh penyesalan.

Dalam hati ia merasa sangat menyesal. Seharusnya di hari yang spesial ini Kayla mendapatkan kue yang cantik. Namun, karena tidak berhati-hati kuenya jadi sangat berantakan.

Tess!

Air matanya jatuh, Kayla langsung menundukkan wajahnya. Ia menghapus air matanya sebelum kembali mengangkat kepala.

"Ini...Adalah kue paling mahal yang pernah kulihat..."

Kayla menatap kue itu dengan mata yang berbinar. Ia sangat bersyukur.Karena di hari kelahirannya ini, ia bisa merasakan kue ulang tahun yang pertama kalinya.

 Yah... Walaupun bukan dari orang tua.

Kayla meletakan kue ulang tahun. Kemudian ia merentangkan tangannya. Rafael dan Denis yang mengerti langsung mendekat dan merentangkan tangan.

Mereka berpelukan seperti Teletubies.

"Makasih untuk semua yang kalian berikan. Kalian bukan teman biasa, kalian adalah keluargaku." Ucap Kayla penuh rasa syukur.

Istilah "Darah lebih kental dari pada air" adalah istilah yang tidak berlaku untuk Kayla. Baginya, Air yang memberikan manfaat jauh lebih berharga dari pada darah yang memberikan racun.

"Kami juga punya ini!" Denis menunjukan bunga api yang terlihat sangat panjang itu.

"Ayo main ini!" Ajak Denis seraya mengeluarkan bunga api dari kemasannya.

"Nih!" Rafael memberikan korek api kepada Denis.

Bunga api yang menyala di tengah gelapnya malam membuat suasana jadi makin seru. Percikan-percikan api itu mampu membuat hati Kayla yang tadinya sedih menjadi sangat bahagia.

Mereka bermain Bunga api dengan sangat gembira, tak jarang juga mereka berlarian kesana kemari dengan sangat gembira.

 Kalau dilihat dari jauh, mereka seperti anak-anak yang sedang menikmati masa-masa kecil.

Mereka tidak akan menyangka... bahwa gadis kecil yang paling bahagia itu justru adalah gadis yang paling menyedihkan.

        ********Flashback Of**********

"Kayla! Hey!" Teriak Alfian seraya melambaikan tangannya di depan wajah Kayla.

"Eh..."

Kayla akhirnya tersadar, Ia menatap wajah Alfian dengan seksama.

"Ayo tiup lilinnya!" Ucap Alfian seraya menyodorkan kue yang sudah dipasang lilin itu.

Kayla pun meniup lilin itu hingga padam. Lalu ia menatap Alfian lama seraya berkata, "Makasih."

"Aku juga punya ini!" Serunya sambil mengeluarkan kembang api.

Lagi dan lagi Kayla terpaku. Suasana ini sudah tidak ia rasakan.

Semenjak Denis meninggal persahabatan mereka jadi hancur. Tak ada lagi perayaan di hari kelahirannya. Canda tawa dan kembang api menjadi momen yang terus tersimpan di benaknya.

Namun... Sekarang Alfian merayakan hari ulang tahunya persis seperti yang dilakukan Denis dan Rafael dulu.

Momen yang sama, suasana yang sama, namun dengan orang yang berbeda.

"Kau semakin mirip sama mereka!" Ucap Kayla seraya tersenyum hangat.

Kayla menatap jauh ke depan.

"Entah bagaimana sekarang nasibnya. Semoga dia selalu sehat dan kuat."

Kayla teringat tentang Rafael. Ia tidak tahu apakah Rafael masih hidup sekarang, atau sudah meninggal.

"Kau begitu sangat menyayanginya? Walaupun dia pernah... membunuh Denis?" Tanya Alfian penasaran.

"Aku tidak membencinya. Aku tidak tahu apa masalahnya dengan Denis. Tapi aku yakin... Dia pasti memiliki alasan yang kuat." Ucapnya dengan serius. Ia seolah percaya kepada Rafael.

"Rafael adalah orang yang seperti apa? Apakah dia adalah cowok yang kuat? Atau dia adalah cowok yang gagah?" Tanya Alfian dengan rasa penasaran yang tinggi.

Kayla terdiam sesaat, ia mencoba mengingat kembali sosok Rafael.

"Hm...Dia adalah sosok yang gentel banget. Dia anaknya perhatian dan juga sangat baik."

"Kau mencintainya?"

Deg!

Pertanyaan yang dilontarkan oleh Alfian membuat Kayla terdiam. Ia sedang memikirkan apakah ia mencintai Rafael atau tidak.

Kayla menggelengkan kepalanya. "Entah... Aku juga bingung dengan perasaanku. Tapi yang aku tahu... Aku selalu percaya padanya walaupun dunia menyalahkannya."

Alfian tersenyum kecut, "Aku semakin insecure."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!