Mikayla tidak hanya dikhianati.
Ia dihancurkan.
Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.
Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.
Ia datang untuk menghancurkan.
Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Mika, lihat aku pokoknya apapun yang terjadi, aku dan papah mamah ada dibelakang mu mengerti, sekarang ulurkan tanganmu" Rasya sudah menyiapkan jarum suntik dengan jarum besar untuk mengambil sampel darah.
"Kamu mau menyuntik ku? " Tanya mikayla.
"Bisa dibilang iya, papah minta sampel darahmu untuk di cek seberapa besar peluang untuk sembuh" Ucap Rasya. Sambil menunjukkan chat ayah dan ibu rasya.
Mikayla menatap jarum suntik di tangan Rasya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan trauma di matanya, mengingat bagaimana selama lima tahun ia begitu patuh menyodorkan tubuhnya untuk "vitamin" dan "suplemen" yang ternyata adalah racun bagi mimpinya menjadi seorang ibu.
Perlahan, Mikayla mengulurkan lengan kirinya. Ia melipat lengan kemeja sutranya, menampakkan kulitnya yang putih pucat.
"Lakukan, Ras," ucap Mikayla rendah. "Ambil sebanyak yang kalian butuhkan. Aku ingin tahu seberapa banyak sampah yang mereka masukkan ke dalam tubuhku.”
Rasya mengangguk dengan mata yang masih sembab. Dengan sangat hati-hati, ia mencari pembuluh darah Mikayla. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena tidak profesional, ia adalah dokter yang ahli tapi karena ia merasakan beban penderitaan sahabatnya di ujung jarum itu.
Sambil menunggu darah mengalir masuk ke tabung sampel, Rasya mengarahkan layar ponselnya ke depan wajah Mikayla. Di sana, grup WhatsApp keluarga Rasya penuh dengan dukungan:
Papah Rasya: "Nduk, Mikayla... sampaikan pada dia, Papah sudah bicara dengan kolega di lab pusat. Kami akan cek toksikologi lengkap. Jangan takut, rahim yang mereka coba matikan itu adalah milik wanita kuat. Kita akan cari jalan pulihnya."
Mamah Rasya: "Mika sayang, kalau di sana dingin, pulang ke rumah Mamah ya. Ada kamar yang sudah Mamah rapikan. Jangan minum-minum lagi, Nak. Tubuhmu itu berharga, jangan biarkan mereka menang dengan melihatmu hancur.”
Clekk.
Rasya mencabut jarumnya dan segera menekan bekas suntikan itu dengan kapas alkohol. "Selesai. Sampel ini akan langsung dibawa supir Papah ke laboratorium pusat malam ini juga. Hasilnya akan keluar dalam dua hari."
Mikayla menatap kapas yang perlahan memerah oleh darahnya sendiri. "Peluang untuk sembuh..." Mikayla bergumam pelan, suaranya terdengar seperti bisikan hantu. "Dulu aku sangat menginginkan anak karena aku pikir Elang adalah rumahku. Sekarang... aku ingin sembuh hanya untuk membuktikan pada mereka bahwa mereka gagal mematikan asaku.”
Rencana Balasan melalui Tubuh
"Ras," Mikayla menatap sahabatnya tajam. "Jika hasil lab menyatakan aku bisa hamil lagi... aku tidak akan membiarkan mereka tahu. Aku ingin mereka tetap mengira aku 'cacat' sampai saat aku berdiri di pengadilan nanti dengan bukti bahwa mereka sengaja merusak kesehatanku."
Rasya mengangguk paham. "Rahasia ini aman bersamaku dan keluargaku, Mika. Kami tidak akan membiarkan satu informasi pun bocor ke keluarga pengkhianat itu.”
Mikayla menarik nafas panjang, mencoba menyingkirkan rasa pening akibat alkohol yang mulai mereda. Ia mengambil tabletnya kembali. dan ia baru saja menerima notifikasi bahwa transfer 1,57 Triliun Rupiah-nya telah terverifikasi di rekening kustodian luar negeri yang aman.
Lalu ia membuka file kiriman Reno. Di sana ada foto orang tuanya yang sedang menerima hadiah tas mewah dari Elang di sela-sela acara pertunangan "Lihat ini, Ras," Mikayla menunjukkan foto itu dengan tawa sinis. "Ibukku tersenyum lebar memegang tas Hermes pemberian Elang. Dia tidak tahu kalau tas itu dibeli menggunakan uang yang seharusnya menjadi tabungan masa depanku. Mereka sedang berpesta di atas bangkaiku."
Mikayla mengepalkan tangannya yang baru saja disuntik, rasa sakit dari jarum itu tidak ada apa-apanya dibanding lubang besar di hatinya, tapi malam ini, dengan darah yang sudah diambil untuk diperiksa, Mikayla merasa satu langkah lebih dekat untuk merebut kembali otoritas atas hidupnya sendiri.
"Dua hari lagi, Ras," ucap Mikayla tegas. "Dua hari lagi hasil lab keluar, dan koleksi 'Rebirth' akan meluncur. Itu akan menjadi hari di mana Melodi mereka mulai sumbang.”
"Betul jangan tumbang dulu, sini tangan satunya aku infus cairan vitamin agar segar bonusnya glowing." Ucap rasya yang begitu perhatian, apalagi mereka berdua berteman sejak kecil.
Mikayla bersandar pada bahu rasya "kamu cuti berapa hari? " Tanya mikayla.
"Ya elah ngga usah khawatir, lagian rumah sakit itu milik papah, pokoknya aku mau menemani sahabatku ini, ya ampun ternyata kamu cantik juga dengan warna rambut barumu ini" .
Mikayla tersenyum tipis—kali ini sebuah senyuman yang tulus meski masih terlihat lelah. Ia membiarkan Rasya menyeka lengannya dengan kapas alkohol, lalu merasakan tusukan kecil saat jarum infus masuk dengan sempurna ke pembuluh darahnya. Cairan bening yang kaya akan nutrisi dan antioksidan itu mulai mengalir, membawa rasa dingin yang menenangkan ke seluruh tubuhnya yang sempat terbakar alkohol.
"Kamu benar-benar memanfaatkan privilese anak pemilik rumah sakit ya, Ras," gumam Mikayla sambil menyandarkan kepalanya lebih dalam di bahu sahabatnya.
Rasya tertawa kecil sambil mengatur tetesan infus. "Tentu saja. Untuk apa punya rumah sakit kalau tidak bisa dipakai menyelamatkan sahabat sendiri dari keterpurukan? Lagipula, asistenku sudah tahu kalau dr. Rasya sedang ada 'urusan darurat'. Dan urusan itu adalah kamu.”
Rasya menjauh sedikit, memegang dagu Mikayla dan memutar wajah sahabatnya itu ke kiri dan ke kanan di bawah lampu apartemen yang terang.
"Serius, Mika. Warna dark ash ini... entah kenapa membuat auramu jadi keluar. Dulu kamu terlihat seperti 'malaikat' yang terlalu pasrah. Sekarang?" Rasya menyipitkan mata, mengagumi hasil karyanya. "Sekarang kamu terlihat seperti CEO yang siap mengakuisisi seluruh perusahaan di Jakarta. Dingin, misterius, dan sangat berkelas."
Mikayla melirik pantulan dirinya di jendela kaca. "Malaikat yang pasrah itu sudah mati, Ras. Dia ikut terbakar bersama surat-surat cinta Elang yang kubuang di tempat sampah bandara kemarin.”
Sambil menunggu infus habis, Mikayla mulai menyusun jadwal yang lebih detail dengan bantuan Rasya untuk memulihkan fisiknya yang sempat drop.
"Dua hari ini, kamu harus makan makanan sehat. Ibu sudah menyiapkan katering khusus dari dapur rumah sakit yang kaya protein. Aku ingin saat kamu bertemu Elang nanti, kamu tidak terlihat seperti orang yang habis menangis semalaman," tegas Rasya.
Mikayla menggunakan laptopnya yang terenkripsi untuk memindahkan sisa-sisa jejak digitalnya dari rumah Elang. Ia memastikan tidak ada satu pun perangkat pintar di rumah itu yang masih terhubung dengan akun pribadinya, belum lagi ia membayar seseorang untuk membantunya membersihkan jalannya.
Reno mengirim pesan bahwa Elang mulai curiga karena Mikayla tidak bisa dihubungi, tapi Elang terlalu sibuk dengan kemanjaan Naura di Bali untuk benar-benar mencari tahu
"Terima kasih sudah tidak menghakimiku, Ras," bisik Mikayla tiba-tiba. Suaranya sedikit bergetar. "Aku tahu aku berantakan. Aku tahu aku melakukan hal-hal yang mungkin membuatmu kecewa."
Rasya menggenggam tangan Mikayla yang bebas dari infus, meremasnya kuat. "Mika, kita berteman sejak kita masih main tanah di halaman belakang. Aku melihatmu tumbuh, melihatmu berkorban untuk keluargamu, melihatmu mencintai Elang dengan seluruh jiwamu. Kalau sekarang kamu butuh 'meledak' untuk bisa bertahan hidup, aku akan jadi orang yang memegang payung untukmu di tengah ledakan itu.”
Mikayla memejamkan mata. Rasa hangat dari cairan infus dan keikhlasan sahabatnya perlahan mengikis rasa dingin di hatinya.
"Dua hari lagi, Ras," ucap Mikayla dengan nada yang kini jauh lebih stabil. "Dua hari lagi, hasil lab keluar. Dan di hari yang sama, koleksi 'Rebirth' akan resmi meluncur di Bali. Aku ingin Elang melihat bahwa saat dia sibuk merayakan 'kebangkitan' kakaknya, istrinya sudah lahir kembali sebagai sosok yang tidak akan pernah bisa dia gapai lagi."
"Dan aku akan ada di sana, di sampingmu," balas Rasya mantap. "Memastikan 'glow up' ini menjadi mimpi buruk terindah bagi mereka.”