Aisyah Maharani adalah istri dari Ahmad Baihaqi.
Aisyah adalah pemilik butik dan penjahit terkenal. Karyanya sudah banyak di kenal khalayak.
Baihaqi adalah seorang dosen di salah satu Universitas Terbuka di Semarang.
Kehidupan rumah tangga mereka hangat dan romantis walaupun usia pernikahan mereka sudah lima tahun.
Selama itu pula mereka menantikan kehadiran buah hati yang tak kunjung datang.
Ujian dan cobaan silih berganti membuat mereka semakin menguatkan cinta dan iman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Hidayah Hijrahku
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Kesucian Syahadat
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
"Sandwich? Mas, aku membuat Nasi goreng dengan telur mata sapi dan irisan tomat cukup banyak." ucap Aisyah pelan.
Baihaqi pun memberhentikan mobilnya dan menoleh ke arah Aisyah dengan raut wajah penuh kekecewaan.
"Humairah... tapi kotak itu berisi sandwich. Ingin menghargai pemberian Istri tercintaku, tetapi kenyataannya Mas tidak doyan." ucap Baihaqi pelan dan mantap.
"Atau mungkin kotakmu tertukar Mas? atau sengaja di tukar?" ucap Aisyah yang semakin gencar bertanya. Rasa penasarannya sudah teramat sangat di liputi rasa cemburu yang berlebihan.
Sebenarnya tidak dibenarkan, cintailah manusia dalam batas yang wajar jangan melebihi kecintaan kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad sebagai Rasul.
Baihaqi pun seperti tampak berpikir keras, mengingat kejadian atau sesuatu yang bisa membuat kotak ini tertukar kepemilikannya.
"Ahh.. iya Humairah... Aku ingat sekarang. Tadi aku buru buru untuk cepat sampai di ruangan kerja, karena hasrat untuk..." ucapan Baihaqi pun terhenti dan tidak dilanjutkan.
Baihaqi sadar, istrinya sedang dikuasai rasa cemburu yang teramat sangat.
"Hasrat apa Mas Bai?" tanya Aisyah yang tidak sabar menunggu jawaban dari Baihaqi.
"Hasrat untuk Vivis. Hahaha..." ucap Baihaqi kemudian terkekeh.
"Hubungannya dengan kotak makan apa?" tanya Aisyah terdengar sedikit ketus.
"Ya, ada seorang mahasiswi ku yang tidak sengaja menabrak tas bekalku hingga terjatuh, tas miliknya pun terlempar dan isinya berceceran keluar. Mungkin itu yang membuat kotak kita tidak sengaja tertukar." ucap Baihaqi pelan.
Aisyah pun mendengarkan dengan jelas dan seksama penjelasan Baihaqi. Selama ini Baihaqi belum pernah sedikit pun berbohong kepada Aisyah. Apa yang dikatakannya selalu jujur dan dapat dipertanggung jawabkan. Tapi waktu terus berjalan, seseorang yang alim pun tidak akan pernah bisa sempurna tanpa noda setitik pun. Kita hanyalah manusia biasa yang mempunyai rasa dan perasaan, pikiran dan imajinasi serta amarah dan nafsu.
"Sudah sampai Umi?" tanya Nadya yang terbangun dari tidurnya.
"Belum sayang, ini masih dalam perjalanan."
ucap Aisyah pelan. Menutupi apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan menyuruh Nadya untuk kembali tidur.
Mobil pun melaju lagi dengan kecepatan sedang. Banyak obrolan yang mereka bicarakan, biasanya seputar tentang kehidupan sehari-hari dan amalan yang baik.
"Mas Bai, aku takut bila tidak bisa memiliki anak." tanya Aisyah kemudian.
"Humairah... Allah SWT akan memberikan sesuatu yang baik selalu tepat pada waktunya, walaupun ada ujian yang cukup berat harus kita lalui bersama." ucap Baihaqi mengingatkan.
Pasrahkan semuanya kepada Allah SWT. Perbanyak istighfar dan beribadah lah tepat waktu, agar semua munajat kita pun akan di kabulkan oleh Allah SWT tepat waktu juga.
"Mas Bai, kita belikan mainan dulu, baru kemudian kita belanja untuk kebutuhan bulanan dirumah, baru kita makan bersama." ucap Aisyah memberikan pilihan kepada Baihaqi.
"Humairah, kamu wanita, kamu pasti sudah lebih paham, apa yang harus kamu lakukan. Tugasku hanya mengantarkan tuan putri dan Humairah berbelanja dan bersenang senang." ucap Baihaqi dengan tersenyum sangat tulus.
Nadya sejak tadi pun sudah terbangun saat mendengar suara ramai dari luar. Kedua matanya menatap ke arah luar jendela, dan matanya menatap dengan takjub.
Kehidupan Nadya memang berkecukupan atau bahkan lebih. Kedua orang tuanya pun mencintai dan menyayangi Nadya. Hanya saja keduanya kadang larut dalam kesibukan yang tidak pernah berujung. Mereka hanya berlibur setahun sekali, memang sekalinya berlibur mereka akan menghabiskan waktu cukup lama mungkin sekitar satu minggu full. Nadya pun terkadang merasa kesepian hingga lebih memilih bermain dengan Aisyah.
Kedekatan Aisyah dan Baihaqi, yang baru beberapa hari saja mengenalnya pun membuat Bu Hanyfah dan Suaminya agak terkejut. Nadya hanya berani lengket dengan Aisyah, entah apa yang diberikan oleh Aisyah sehingga seperti sulit untuk dipisahkan.
"Nadya, ayok sayang, kita pilih yang kamu suka." ucap Aisyah penuh semangat.
"Apapun Umi? Nadya boleh memilih." tanya Nadya penuh keraguan.
"Apapun Nadya sayang." ucap Papa Baihaqi dan menjawil hidung mancung Nadya.
Nadya pun tersenyum lebar dan berlari ke lorong mainan yang ia suka. Banyak mainan terpajang disana. Ada kartun, ada yang edukasi, ada yang hanya untuk hiburan dan ada mainan yang hanya bisa dipajang saja.
Pilihan Nadya tetap pada mainan pasir pantai. Warna dan wanginya persis dengan aroma pantai. Hanya saja mainan itu bisa dibentuk dan dibuat istana layaknya pasir pantai.
"Nadya ingin yang ini Papa. Boleh?" tanya Nadya penuh harap kepada Baihaqi.
"Tentu sayang. Berikan pada Kakak di kasir kita akan membayarnya." ucap Papa Baihaqi dengan lembut.
"Humairah... kita jadi berbelanja?"' tanya Baihaqi.
"Jadi Mas, Mbok Surti sudah memberikan list belanja yang sudah menipis stoknya." ucap Aisyah pelan.
Mereka pun berbelanja di Supermarket lantai dasar. Memilih dan membaca, itulah wanita, membeli dengan penuh pertimbangan harus sesuai dengan asas manfaat dalam rumah tangga. Membeli sesuatu tanpa ada manfaatnya maka akan sia sia dan pemborosan.
Baihaqi dan Nadya sedang memilih camilan untuk mereka. Nadya memang manja terhadap Baihaqi, tapi Baihaqi merasa senang memanjakan Nadya, sudah dianggap seperti anak sendiri.
Aisyah pun berjalan di lorong yang berisikan perlengkapan mencuci. Ada sepasang lawan jenis yang tengah berangkulan. Aisyah seperti mengenal perawakan wanita ini, ya ... dia Anggie.
"Anggie... " panggil Aisyah pelan saat melewati mereka dengan kereta belanjanya.
Anggie pun menatap ke arah Aisyah dan berlalu begitu saja bersama pria tua itu.
"Kamu mengenalnya Nastiti?" ucap pria tua itu.
"Mana mungkin aku kenal dengannya. Kita berbeda, lihat cara berpakaiannya pun berbeda." ucap Anggie dengan sedikit ketus.
"Aku tidak suka kamu berinteraksi dengan orang lain. Kamu adalah milikku!!!!." ucap Pria tua itu pelan.
Anggie pun hanya menoleh ke belakang sesaat menatap manik mata Aisyah dengan kesenduan.
Aisyah hanya tersenyum tipis dibalik cadarnya.
"Sudah selesai Humairah. Nadya sudah lelah sepertinya." ucap Baihaqi kepada Aisyah. Nadya sudah dalam posisi di Gendong karena mulai lelah.
"Tinggal dibawa ke kasir Mas. Keluarlah dulu dan cari tempat duduk, atau belilah sesuatu untuk anak ini." ucap Aisyah pelan.
"Baiklah, aku tunggu di tempat tunggu ya Humairah." ucap Baihaqi pelan.
Nadya dan Baihaqi pun keluar supermarket dan mencari lapak yang menjual es krim.
"Nadya mau es krim cokelat?" tanya Papa Baihaqi.
"Mau Papa." ucap Nadya yang tampak bahagia dan menggadeng tangan Baihaqi dengan erat.
"Anggie? dengan siapa kesini?" tanya Baihaqi pelan.
"Pak Baihaqi... iya saya sendiri. Kebetulan ada perlu, dan ingin menyendiri sambil minum es krim." jawab Anggie dengan asal.
Saat mengantri, keduanya pun tidak ada pembicaraan. Satu sama lain hanya terdiam dan membisu hingga pesanan itu selesai dibuat.
"Saya duluan Pak Baihaqi permisi..." ucap Anggie pelan.
"Iya Anggie .. silahkan." ucap Baihaqi datar.
sedikit pun tidak menatap Anggie, hubungannya hanya sebatas Mahasiswi dan Dosen yang bertemu di jalan. Tidak ada obrolan hangat ataupun obrolan sederhana. Dunia selalu mempertemukan mereka dengan kondisi dan keadaan yang tiba tiba.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....