Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Senyuman
Langit Jakarta sore itu berwarna kelabu, seakan ikut memantulkan perasaan yang menggantung di dalam dada Alya.
Angin berhembus pelan di balkon mansion Virello, menyapu pelan tiap helai rambutnya yang tergerai. Ia berdiam diri, memeluk tubuhnya, mencoba menghangatkan sesuatu yang tak bisa disentuh, perasaan yang semakin sulit ia pahami.
Sudah hampir dua minggu, sejak ia resmi menjadi istri Arkan Virello. Dua minggu hidup dalam rumah megah, yang terasa lebih seperti sebuah sangkar emas. Dan dua minggu menghadapi pria, yang tak pernah benar-benar bisa ia baca.
Alya menghela napas pelan, tatapannya kosong, menatap langit yang tak memberi jawaban. Semua terasa begitu cepat, begitu memaksa. Ia masih belum sepenuhnya menerima kenyataan, bahwa hidupnya kini terikat pada seorang pria, yang dunia dan prinsipnya begitu jauh dari kehidupannya.
"Udara dingin tidak baik untukmu."
Suara itu terdengar dingin, tapi selalu berhasil membuat jantungnya berdebar lebih cepat.
Alya menoleh, Arkan berdiri di ambang pintu balkon, mengenakan setelan hitam rapi seperti biasa. Wajahnya tetap dingin, tapi tatapan matanya selalu tajam, seolah bisa melihat jauh ke dalam pikirannya.
"Aku baik-baik saja," jawab Alya pelan.
Arkan melangkah, langkahnya tenang, tapi terasa berat. Aura dominasi yang ia bawa, selalu memenuhi ruang, bahkan saat ia hanya berdiri tanpa mengatakan apa-apa.
"Apa kamu terbiasa menyendiri?"
Alya menunduk sedikit, "Aku hanya butuh waktu."
"Untuk apa?"
Alya terdiam, ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
Untuk menerima kenyataan?
Untuk melupakan masa lalunya?
Atau... untuk mencoba memahami pria yang ada di depannya?
Alya menghela napas pelan, "Untuk terbiasa dengan kehidupan yang ada di dalam mansion ini," akhirnya ia berkata jujur.
Arkan menatapnya lama, tatapan yang membuat Alya merasa seperti sedang diuji, tanpa tahu soal hal apa.
"Apa salah satunya terbiasa menjadi istriku?" tanya Arkan.
"Iya," jawab Alya pelan.
Seketika suasana menjadi hening, angin berhembus, tapi kali ini terasa lebih dingin. Tiba-tiba Arkan mengulurkan tangannya, menyentuh pergelangan tangan Alya. Sentuhannya tidak kasar, tapi cukup kuat untuk menahan.
"Kamu tidak perlu terbiasa," katanya.
Alya mengernyit heran, "Kenapa begitu?"
"Kamu hanya perlu patuh, pada setiap aturan yang aku buat."
Jawaban itu langsung mematahkan sesuatu dalam hati Alya, ia menarik tangannya perlahan, menatap Arkan dengan sorot mata yang sulit dijelaskan, antara marah, kecewa, dan lelah.
"Aku bukan bonekamu, Arkan."
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi kamu memperlakukan aku seperti itu."
Arkan terdiam, ia hanya menatap Alya dalam, seolah mencoba menguji batas kesabarannya.
"Kamu ada di sini karena sebuah kesepakatan," ucapnya akhirnya. "Dan dalam kesepakatan itu, ada sebuah aturan yang harus kamu patuhi."
Alya tersenyum tipis, "Kesepakatan, atau paksaan?"
"Sejak awal, kamu sudah tahu konsekuensinya" ucap Arkan dengan menatap Alya tajam.
"Iya," jawab Alya. "Aku tahu, tapi bukan berarti aku harus berhenti merasakan ketidakadilan ini."
Alya langsung memalingkan wajah, menatap kembali langit yang semakin gelap. "Kamu boleh mengontrol hidupku, Arkan. Tapi kamu tidak bisa mengontrol apa yang aku rasakan."
"Jangan terlalu yakin."
Alya menoleh cepat, "Apa maksudmu?"
Arkan mendekat satu langkah, jarak mereka kini terlalu dekat. Bahkan terlalu intim, untuk dua orang yang tidak saling mencintai.
"Aku bisa membuatmu merasakan apa pun yang kamu mau."
Alya menelan ludah, "Coba saja jika memang kamu bisa," bisiknya.
Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu. Tidak ada yang mengalah, sampai akhirnya Arkan mundur. Ia berbalik tanpa berkata apa-apa lagi, meninggalkan Alya sendirian di balkon.
Namun entah kenapa, kepergiannya justru meninggalkan sesuatu yang lebih berat.
Malam itu, mansion terasa lebih sunyi. Alya duduk di tepi ranjang, memandangi ponselnya. Layarnya menyala, menampilkan satu nama yang sudah lama tidak ia hubungi.
Raka.
Jarinya sedikit bergetar, ia ingin menghubungi pria itu. Ingin mendengar suara yang dulu selalu menenangkannya. Tapi ia ragu, bukan karena tidak boleh. Tapi karena ia takut, jika semua yang ia rasakan sekarang, akan semakin rumit.
"Apa yang kamu lihat?"
Suara Arkab tiba-tiba terdengar dari belakang, Alya terkejut dan ia langsung mematikan layar ponselnya.
Arkan berdiri di dekat pintu, menatapnya tanpa ekspresi yang sulit di baca.
"Tidak ada," jawab Alya cepat.
Arkan berjalan mendekati Alya, tatapannya turun ke arah ponsel yang berada di tangan Alya.
"Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu?"
Alya menggenggam ponselnya erat, "Ini hal privasi, kamu tidak perlu tahu."
Arkan berhenti tepat di depannya, "Istriku tidak punya privasi dariku."
"Dan suamiku tidak punya hak untuk mengatur semuanya," jawab Alya.
Arkan menyeringai tipis, senyuman dingin yang membuat suasana semakin tegang.
"Jadi, kamu berani melawanku."
"Aku hanya tidak ingin hilang sebagai diriku sendiri."
Arkan menatapnya lama, lalu tanpa peringatan ia mengambil ponsel dari tangan Alya.
"Arkan! Kembalikan ponselku!"
Alya berdiri, mencoba merebutnya kembali. Tapi Arkan lebih cepat, ia mengangkat ponsel itu lebih tinggi, membuka layar yang masih menyala. Nama itu terlihat jelas.
Raka.
Rahang Arkan mengeras, "Siapa dia?"
"Hanya sekedar teman," jawab Alya pelan.
"Tapi saat kamu melihat namanya, kamu tidak terlihat sebagai teman."
Alya mengepalkan tangan, "Itu bukan urusanmu."
Arkan tertawa kecil, "Segala sesuatu tentangmu, sekarang adalah urusanku juga."
"Tidak semuanya tentangku, menjadi urusanmu, Arkan!"
"Selama kanu masih menyandang nama Virello, semuanya adalah milikku," ucapnya dengan menatap tajam Alya.
Kalimat itu terasa seperti belenggu, Alya menarik napas dalam, mencoba menahan emosinya.
"Kalau begitu," katanya pelan. "Kenapa kamu terlihat terganggu?"
Arkan menyipitkan matanya, "Terganggu?" ulangnya.
"Iya," Alya menatap langsung ke matanya. "Kamu tidak akan bereaksi seperti ini, kalau kamu tidak peduli."
Untuk pertama kalinya, Arkan kehilangan kata. Tapi cukup untuk membuat Alya melihat celah itu, dan entah kenapa, itu membuat hatinya bergetar.
Arkan akhirnya mengembalikan ponsel itu, gerakannya sedikit lebih kasar dari sebelumnya.
"Jangan hubungi dia lagi," katanya.
Alya mengernyit heran, "Kamu tidak bisa..."
"Aku bisa, Alya," potong Arkan cepat.
Alya menatapnya lama, lalu ia tersenyum kecil, yang anehnya terasa berbeda. Bukan penuh luka, bukan penuh kepasrahan, tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang Arkan sendiri tidak bisa memahaminya.
"Baik," kata Alya pelan.
Jawaban itu justru membuat Arkan semakin curiga, "Ternyata, kamu terlalu mudah menyerah."
Alya menggeleng cepat, "Aku tidak menyerah."
"Lalu?"
"Aku hanya mulai mengerti."
"Mengerti tentang apa?"
Alya tersenyum lagi, "Bahwa di balik semua sikap dinginmu, kamu tidak sepenuhnya tidak peduli."
Kalimat itu terasa menghantam sesuatu dalam diri Arkan, ia tidak menjawab atau pun membantah. Seolah Alya baru saja menyentuh sesuatu, yang seharusnya tetap tersembunyi.
Alya memalingkan wajah, ia kembali duduk di ranjang. Namun kali ini, hatinya tidak lagi sepenuhnya berat. Karena untuk saat ini, ia telah melihat sesuatu di balik dinding Arkan. Sesuatu yang selama ini tersembunyi dengan rapi.
Dan itu membuatnya bertanya dalam hati.
Apakah pria itu benar-benar tidak punya perasaan?
Atau... ia hanya terlalu takut untuk menunjukkannya?
Di sisi lain, Arkan berdiam diri, menatap Alya tanpa suara. Rahasia yang selama ini ia jaga, perlahan mulai retak.
Dan itu adalah hal yang paling berbahaya, karena sekali seseorang melihat celah itu, maka mereka bisa menghancurkan semuanya. Mungkin... mereka akan masuk lebih dalam, dari yang seharusnya.