Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!
Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.
Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....
Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.
Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Festival
“Kalau begitu, saya akan menjemput saat matahari mulai turun.”
Itu adalah yang dikatakan Havren dua hari lalu di Paviliun Barat.
Walaupun kalimat itu tidak ditujukan padaku, mendengarnya berkata begitu membuat jantungku berdebar.
Aaaakk! Mereka akan kencan! Gemas sekali!
Padahal Jovienne yang akan pergi kencan, tapi aku ikut gugup menunggu waktu yang dijanjikan tiba.
Seperti tiap kali keluar istana, Jovienne menyamar sebagai warga biasa. Gaun megah atau pakaian bertarungnya hari ini digantikan pakaian sederhana berwarna gading. Rok sepanjang betis dan rompi cokelat dipadukan dengan sepatu berleher tinggi berwarna senada. Rambut panjangnya dikepang satu, tanpa aksesoris yang mencolok selain ikat rambut hitam.
Menurutku pribadi, setelannya terlalu sederhana untuk dipakai kencan! Tapi, yah, wajah cantik memang tidak akan pernah salah kostum. Pakaian sehambar apapun akan tetap menarik.
Havren tiba sesuai janji. Ketika matahari mulai bergerak turun ke arah barat, ia mengetuk pintu kamar Jovienne. Dan penampilan Havren sungguh…. unik.
Lelaki itu juga melakukan penyamaran dengan melepas segala atribut kerajaan yang biasa menempel di tubuhnya. Tidak ada kain sutra lembut berwarna biru atau ungu pucat. Tidak ada jubah panjang yang menyapu lantai ke manapun ia pergi. Tidak ada bros safir yang tersemat. Tidak ada aksesoris berkilau yang biasa menghiasi rambut peraknya. Bahkan, rambut perak itu tidak terlihat sedikitpun. Kepalanya dibebat topi berlapis kain yang menjuntai hingga pundak. Seperti tudung. Seperti turban. Pakaiannya sendiri sederhana, seperti yang biasa terlihat dikenakan para pedagang di ibu kota.
Pangeran muda itu tersenyum lebar dan berusaha bersikap normal, namun jelas terlihat bahwa dia merasa canggung dan kagok.
Penutup kepala itu pasti membuatnya kepanasan.
Untungnya suhu di musim semi masih cukup sejuk, terutama di sore hari.
Tanpa diminta, aku melompat ke pundak Jovienne dan mengikut mereka meninggalkan istana.
Mana mungkin kan aku melewatkan hal besar semacam kencan dua orang ini.
Jovienne juga tidak tampak keberatan. Dia mengusap bulu emasku lalu mendekapku di lengannya.
Ketika memasuki jalanan alun-alun, matahari sedang berada di posisi yang sangat cantik. Golden hour. Waktu paling baik untuk mengabadikan momen dalam kamera. Sayang, tidak ada yang seperti itu di sini.
Jalanan besar itu dihiasi lampion yang menggantung berderet warna-warni. Musik sayup-sayup terdengar di antara ramai obrolan dan pedagang yang menawarkan barangnya. Aroma daging panggang dan madu memenuhi udara, seketika membuat lapar.
Dalam keramaian itu, dua orang ini melebur. Tidak ada tatapan yang tinggal lebih lama dari seharusnya; selain dari penjaga kios dagangan yang menyodorkan sampel produk.
Mereka mengunjungi festival itu tanpa ditemani siapapun. Atau, setidaknya, begitu kesan yang tampak sepintas. Keberadaan pengawal yang mengawasi tidak diketahui lokasinya, sehingga mereka bisa dianggap tidak ada.
Tempat pertama yang didatangi Jovienne ialah gerai makanan. Gadis itu begitu antusias mencoba segala macam makanan yang tersedia. Keputusan yang sangat aku dukung.
Walaupun selama di istana tidak pernah kekurangan, dan selalu mendapat makanan kualitas terbaik dari koki pilihan, tetap saja… ada kelezatan tersendiri dari jajanan seperti ini. Apalagi melihatnya dimasak dan dipersiapkan langsung di depan mata.
Di tengah alun-alun, mengelilingi air mancur dengan patung kaisar pertama Kaelros, meja-meja berderet dipenuhi gelas dan botol anggur.
Ini dia tokoh utama festival ini.
Produsen anggur dari seluruh Kaelros berkumpul dan memamerkan produk mereka. Gelas-gelas kecil diisi untuk sampel. Anggur merah dengan tingkat kepekatan yang berbeda tampak begitu menggiurkan, seperti juga anggur putih yang jernih dan tampak menyala di bawah matahari terbenam.
Sebentar!
Havren kan belum cukup umur untuk minum alkohol??
Dia belum cukup dewasa, seharusnya dia tidak ikut minum anggur!!
Bisa-bisanya tidak ada seorangpun di sana yang menghentikan pangeran muda itu!
Biarpun dengan penyamarannya, Havren tetap terlihat masih berusia kurang dari dua puluh. Seharusnya pria yang menuang anggur itu tidak memberikannya pada Havren!
Aku mengeong-ngeong nyaring sambil mengulurkan tangan ke arah Havren, berusaha menjatuhkan gelas anggur di tangannya.
“Kau juga ingin?” Havren malah bertanya sambil sedikit membungkuk untuk berbicara padaku.
Dua tungkai depanku kini terjulur.
Yah, kalau dia mau berpikir aku menginginkannya, biar saja begitu. Tidak salah juga sih, sebenarnya. Aku juga ingin minum wine!
Havren terkekeh. Cahaya matahari terbenam membuat mata birunya semakin pucat
“Tunggu sampai usiamu empat belas tahun ya Lumi,” katanya.
…hah?
Dia tidak tahu saja aku sudah usia tiga puluh—
Eh, bukan.
Mana ada kucing yang sampai usia empat belas—
Bukan! Bukan itu masalahnya!!
Batas usia minimum untuk minum alkohol di Kaelros adalah EMPAT BELAS TAHUN?????
...*...
...*...
...*...
Meski disebut sebagai festival wine, alun-alun Valtheris dipenuhi berbagai macam kios dagangan. Selain sederet makanan, di sana juga ada yang menjajakan kain, bunga, dan berbagai kerajinan termasuk macam-macam aksesoris.
Di tengah langkahnya, Jovienne sempat berhenti di depan salah satu kios yang menjual aksesoris rambut. Satu barang tampak mencolok di tengah deretan itu.
Sebuah jepit berbentuk kupu-kupu dengan warna sayap bergradasi oranye dan biru, seperti langit saat fajar.
Selepas menatapnya selama beberapa detik, Jovienne lanjut berjalan.
Namun, baru satu langkah ia bergerak, Havren berbicara pada si penjaga kios. Dan dia membeli jepit kupu-kupu itu.
Selesai membayar, pangeran bungsu itu menghadap Jovienne dan mengulurkan benda di tangannya.
“Untukmu,” ia berkata. “Selamat ulang tahun.”
Kyaaaaahhhh!!
Ini dia!
INI DIA Havren yang manis dan sangat perhatian itu!!
Tidak persis seperti ini, tapi di dalam game juga ada kejadian serupa.
Havren selalu tahu apa yang diinginkan dan dibutuhkan protagonis, tanpa perlu menjelaskan. Sifatnya yang observan itu sungguh membuat hati meleleh.
Dan sepertinya juga cukup mengetuk hati Jovienne.
Ada semburat merah di wajah gadis itu.
Dia tidak membantah bahwa itu adalah benda yang sempat menarik perhatiannya.
Namun, alih-alih menerima jepit yang diulurkan, Jovienne memutar tubuh seraya berkata,
“Pasangkan untukku.”
Havren tampak terkejut dan selama beberapa detik hanya berdiam di tempatnya.
Sampai Jovienne menoleh dan menunjuk kepang rambutnya.
“Di sini,” katanya.
Seolah diamnya Havren adalah karena pangeran itu benar-benar tidak tahu di mana harus memasang jepitnya.
Havren mendekat perlahan. Jemari pucat menyentuh kepang rambut itu sejenak. Logam keemasan lalu dijepit di antara helai cokelat.
Hiasan berbentuk kupu-kupu itu tampak begitu cantik menghiasi rambut Jovienne. Tepian sayap berupa gurat emas dan batu kecil berwarna amber di bagian tengahnya amat selaras dengan mata Jovienne. Sementara sayapnya yang bergradasi oranye-biru, menyebar dari pangkal hingga tepi—berkilau di bawah cahaya.
Dua warna itu tidak tampak bertabrakan. Malah, saling melengkapi.
Seperti langit pagi yang menjanjikan harapan baru.
Untuk pertama kalinya, dua orang ini terlihat seperti pasangan yang sedang kencan!
Mungkin upaya perjodohan yang ini belum sepenuhnya gagal.
...*...
...*...
...*...
Di antara hangat keramaian festival itu, sepasang mata sewarna langit malam lekat mengawasi. Di bawah atap kedai, sosoknya separuh tertutup bayangan. Hanya perawakan yang tinggi dengan tubuh tegap dan rambut hitam yang diikat jatuh melewati punggung membuatnya sulit luput dari perhatian.
Dia telah berdiri cukup lama di sana. Mata tajam tidak lepas mengikuti gerak-gerik dua orang di tengah kerumunan. Lengannya terlipat di depan dada selama memperhatikan. Jemari panjang bergerak mengetuk-ngetuk dalam ritme lambat.
Apapun yang mengisi benaknya, dia memikirkannya cukup dalam.
“Komandan. Semuanya sudah siap.”
Seseorang menghampiri dan berbicara dengan kepala tertunduk.
Pria itu berbalik tanpa mengatakan apa-apa. Cahaya obor memantul pada logam yang terpasang di pinggang.
Ketika malam semakin larut dan festival semakin ramai, derap langkah terdengar di jalanan berbatu. Barisan prajurit berperlengkapan berat bergerak dalam diam, melewati jalur tersembunyi di luar benteng kota.
Pedang berhias garnet merah memimpin rombongan menuju utara.