NovelToon NovelToon
Sopirku Seorang Mafia

Sopirku Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: irma rofiah

evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikut sarapan

Sementara di dalam rumah Alberto Chaplin, suasana pagi terasa jauh lebih hidup.

Para pelayan sibuk lalu-lalang menyiapkan sarapan di ruang makan besar. Aroma makanan hangat mulai memenuhi udara, menciptakan suasana yang biasanya… tidak pernah benar-benar dinikmati oleh semua anggota keluarga.

Di lantai atas, di dalam kamarnya— Evelyn duduk di depan cermin.

Hari ini, ia tidak hanya bersiap untuk keluar kamar. Lebih dari itu, ia bersiap… untuk masuk ke dalam kehidupan keluarganya sendiri.

Di belakangnya, Kelly dengan telaten menata rambutnya. Jemarinya cekatan, namun sesekali ia mencuri pandang ke arah wajah Evelyn melalui cermin.

Ada sesuatu yang berbeda. Dan ia tidak bisa mengabaikannya.

“Nona… sudah lama sekali Anda tidak mau sarapan bersama,” ucap Kelly pelan. “Kenapa ya… saya selalu merasa Nona berbeda?”

Evelyn menatap bayangannya sendiri. Matanya tenang. Namun jauh lebih hidup dari sebelumnya.

“Berbeda apanya?” tanyanya ringan. “Aku hanya ingin lebih dekat dengan kakak-kakakku dan Ayah. Apa itu aneh?”

Kelly langsung menggeleng.

“Tidak sama sekali, nona” jawabnya cepat, bahkan dengan sedikit senyum. “Justru saya senang… akhirnya Nona mau berbaur.”

Evelyn tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali pada dirinya di cermin.

Lebih dekat…Ya. Namun bukan hanya itu. Ia ingin—mengubah sesuatu. Memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Dan mungkin... mencegah sesuatu yang belum terjadi.

Ia berdiri perlahan setelah rambutnya selesai ditata.

“Kalau begitu, aku akan turun sekarang,” ucapnya tenang.

Langkahnya ringan saat berjalan keluar kamar. Namun di dalam hatinya—ia tahu. Hari ini bukan hari biasa.

Di luar sana, beberapa kandidat sedang menunggu. Dan salah satu diantara mereka adalah seseorang—yang pernah menghancurkan segalanya.

Evelyn Valencia menuruni tangga dengan langkah tenang.

Ruang makan sudah siap. Meja panjang itu dipenuhi berbagai hidangan—roti, telur, daging, buah, dan minuman hangat tersusun rapi. Semuanya terlihat sempurna, seperti pagi-pagi sebelumnya.

Namun—tidak ada siapa pun di sana.

Evelyn berjalan mendekat, lalu menarik kursi dan duduk. Tatapannya menyapu seluruh meja.

Dulu…ia tidak pernah benar-benar memperhatikan semua ini. Karena ia tidak pernah menjadi bagian dari momen ini.

Beberapa pelayan dapur yang melihat kehadirannya langsung terkejut. Mereka saling pandang sejenak, lalu segera bergerak cepat. Sebuah piring dan peralatan makan segera disiapkan di hadapannya.

Biasanya— tidak ada tempat untuk Evelyn di meja ini.

“Tumben sekali…” bisik salah satu pelayan pelan.

“Iya… sejak bangun dari demam panjang kemarin malam… seperti ada yang berbeda,” sahut yang lain.

Suara mereka pelan. Namun cukup jelas terdengar.

Evelyn tidak menoleh. Ia hanya menatap hidangan di depannya. Tenang. Seolah tidak terganggu. Namun dalam hatinya—ia sadar. Perubahan kecil ini…sudah mulai terlihat. Dan itu tidak bisa dihindari.

Beberapa detik berlalu. Suasana tetap sunyi. Namun kali ini— Evelyn tidak merasa asing. Ia duduk tegak. Menunggu.

Untuk pertama kalinya—ia tidak lagi menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Ia memilih…untuk hadir.

Suara langkah sepatu terdengar tegas di lantai marmer. Evelyn Valencia mengangkat pandangannya.

Dari arah pintu, seorang pria berjalan masuk dengan penuh percaya diri.

Charlie Chaplin.

Ia mengenakan kemeja navy yang rapi dipadukan dengan celana hitam. Rambutnya tersisir sempurna, mencerminkan pribadi yang selalu ingin terlihat berkuasa. Langkahnya berhenti tepat di depan meja.

Tatapan mereka bertemu.

Beberapa detik—sunyi. Lalu Charlie menyeringai tipis.

“Apakah matahari terbit dari barat?” ucapnya sinis. “Pemandangan yang langka terjadi.”

Ia sedikit menunduk, mendekat.

“Eve…” lanjutnya, nada suaranya merendahkan. “Kamu mulai berani.”

Tangannya terangkat, menyentuh dagu Evelyn seolah ingin mengangkat wajahnya lebih tinggi.

Namun—

tep!

Evelyn menepis tangan Charlie. Gerakannya cepat. Tegas. Tanpa ragu.

Untuk sesaat, suasana membeku.

Charlie terdiam sejenak. Bukan karena sakit—tapi karena terkejut. Ini pertama kalinya Evelyn menolak sentuhannya secara langsung.

Namun bukannya marah—ia justru tersenyum. Senyum mengejek. Matanya menyipit, menatap Evelyn dengan ketertarikan baru.

“Menarik…” gumamnya pelan.

Evelyn tidak menghindar. Ia membalas tatapan itu dengan tenang. Tidak lagi menunduk. Tidak lagi terlihat lemah. Karena kali ini—ia tidak akan menjadi gadis yang sama seperti sebelumnya.

Langkah kaki lain terdengar dari arah pintu.bDua wanita masuk bersamaan. Lauren Chaplin dan Rachel Chaplin.

Aura mereka langsung memenuhi ruangan—percaya diri, tajam, dan… sedikit merendahkan.

Lauren menatap ke arah meja, lalu matanya membesar dramatis.

“Oh my God, lihat siapa ini!” serunya dengan nada berlebihan.

Rachel menyusul, berdiri di sampingnya sambil melipat tangan di dada.

“Putri tidur akhirnya bangun…” ucapnya santai, lalu matanya menyapu Evelyn dari atas sampai bawah. “Dan sepertinya… sedikit berbeda.”

Tatapan itu menilai. Mengukur. Mencari celah.

Namun kali ini—tidak seperti biasanya. Evelyn tidak terlihat kusam. Wajahnya bahkan dirias tipis, cukup untuk menonjolkan kecantikannya tanpa berlebihan. Pakaiannya pun dipilih dengan baik—sederhana, tapi elegan.

Ia tampak… hidup. Berbeda dari bayangan mereka selama ini.

Lauren menyeringai tipis.

“Ada apa ini? Tiba-tiba ingin jadi manusia normal?” sindirnya.

Rachel terkekeh pelan. “Atau… ada sesuatu yang ingin kamu tunjukkan?”

Suasana menjadi tegang. Namun Evelyn tidak menunduk. Ia hanya menatap mereka berdua dengan tenang. Lalu—sudut bibirnya terangkat tipis.

“Tidak ada yang aneh,” jawabnya ringan. “Aku hanya ingin sarapan.”

Jawaban sederhana.

Namun cukup untuk membuat keduanya saling pandang sesaat. Karena untuk pertama kalinya—Evelyn tidak bereaksi seperti yang mereka harapkan.

Ingatan itu masih jelas bagi Evelyn Valencia. Terakhir kali ia duduk di meja ini—ia diremehkan. Ditatap rendah. Disindir tanpa henti. Dan biasanya…ia hanya menunduk. Menahan air mata yang hampir jatuh. Makanannya bahkan belum sempat tersentuh, namun ia sudah berdiri dan pergi dengan langkah tergesa.

Sejak saat itu—ia tidak pernah kembali. Tidak pernah duduk di sini lagi. Tidak pernah mencoba menjadi bagian dari keluarga ini.

Namun sekarang—berbeda.

Evelyn tetap duduk tegak di kursinya. Tatapannya tenang, bahkan saat Lauren Chaplin dan Rachel Chaplin masih menatapnya dengan ekspresi meremehkan.

Tangannya perlahan meraih alat makan. Gerakannya santai. Seolah semua bisikan, sindiran, dan tatapan itu… tidak lagi berarti.

Charlie yang berdiri di dekatnya memperhatikan dengan lebih serius sekarang. Sementara Lauren sedikit mengangkat alis, jelas tidak menyangka reaksi seperti ini. Rachel pun terdiam sejenak.

“Wah…” gumam Lauren pelan. “Sepertinya kita melewatkan sesuatu.”

Namun Evelyn tetap diam. ia tidak lagi duduk sebagai gadis yang terluka. Melainkan sebagai seseorang…

yang mulai mengambil kembali kendali atas dirinya sendiri.

Suasana yang sempat tegang itu berubah saat langkah kaki lain terdengar.

Semua perhatian langsung tertuju ke arah pintu.

Alberto Chaplin masuk dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Meski usianya tak lagi muda, auranya tetap kuat—cukup untuk membuat ruangan terasa lebih serius.

“Selamat pagi, Ayah,” ucap Lauren Chaplin dengan suara manis.

“Selamat pagi, Ayah” sambung Rachel Chaplin, tak kalah lembut.

Keduanya selalu berusaha menjadi yang pertama.

Alberto hanya mengangguk singkat.

“Selamat pagi.”

Ia berjalan ke ujung meja dan duduk di kursi utamanya. Belum sempat suasana benar-benar tenang—

Charlie Chaplin terkekeh pelan.

“Ayah, si bungsu juga hadir,” katanya dengan nada mengejek. “Ayah tidak mengucapkan selamat datang?”

Suasana kembali menegang.

Tatapan Alberto Chaplin perlahan beralih. Menuju Evelyn. Beberapa detik—hening. Semua menunggu reaksi ayahnya.

Namun kali ini—Evelyn tidak menunduk. Ia justru menatap balik dengan tenang. Lalu sedikit menundukkan kepala dengan sopan.

“Selamat pagi, Ayah.”

Suaranya lembut. Namun jelas.

Dan untuk pertama kalinya di meja itu—tidak ada keraguan dalam nada bicaranya.

Tatapan Alberto Chaplin tidak langsung berpaling. Ia memperhatikan Evelyn lebih lama dari biasanya. Dan untuk pertama kalinya—ia benar-benar melihat. Mata itu.

Mata abu-abu yang selama ini selalu tersembunyi karena kebiasaan Evelyn yang menunduk. Kini terlihat jelas. Tenang. Dalam. Dan… sangat familiar. Sama seperti milik Valencia.

Alberto terdiam sejenak. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya. Kenangan. Perasaan yang sudah lama ia tekan. Namun sekarang… muncul kembali tanpa izin.

Perlahan—sudut bibirnya terangkat. Senyum kecil. Tipis. Namun nyata. Reaksi yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya pada Evelyn.

Dan itu—tidak luput dari perhatian.

Charlie Chaplin menyipitkan mata. Rachel Chaplin terdiam, jelas tidak suka. Sementara Lauren Chaplin mengernyit halus.

Suasana berubah. Tidak nyaman bagi mereka.

“Aku akan senang jika setiap hari kalian berkumpul seperti ini,” ucap Alberto akhirnya.

Nada suaranya tenang. Namun cukup untuk membuat ketiga anak lainnya saling pandang.

Karena kalimat itu—terasa berbeda dari biasanya. Dan tanpa disadari—semua itu…berawal dari satu perubahan kecil.

Evelyn.

1
Gricelda Pereira
💪💪💪💪 semangat truuuuus yaaa ka update nya
Gricelda Pereira
tolongg lanjuuut updateee yaaa kaa sangat baguuus
Gricelda Pereira
sangat bagus tolong dilanjutkan yaaa
Gricelda Pereira
kaaaak tolong updeat lagiiiii yaaa biaaar rameee
irma rofiah: ditunggu ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!