NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^30

"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak punya mulut untuk memberikan jawaban itu pada gurumu sendiri?" Terus saja mendesak muridnya agar mengatakan yang sejujurnya.

"Apa benar, mereka membantu mu membuat tugas ini?" Kembali bertanya dengan kalimat yang sama. Guru seni itu menatap sang murid penuh arti.

"Benar, kita membuatnya bersama." Bukan murid itu yang memberi balasan. Tetapi seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam ruang seni dengan tatapan datarnya kepada teman sekelasnya itu.

"Austyn." Rendah guru seni.

"Maafkan saya jika datang terlambat," sekilas menganggukkan kepala. "Saya harus menemui kepala sekolah terlebih dahulu."

"Itu tidak masalah, nilaimu juga tidak akan beda dengan rekan satu tim mu." Timpal guru seni. Kini kembali menatap gadis di depan matanya kembali.

"Jika kau keberatan, kau bisa mengajukannya setelah pulang sekolah. Kalian boleh pergi." Akhir guru seni yang membuat dua murid itu mengangguk sekilas, sebelum melangkah keluar ruangan.

Berjalan beriringan tanpa peduli beberapa pasang mata yang melihat dia insan itu. Karena semua penghuni sekolah itu sudah tahu, jika Austyn tidak akan bisa berteman dengan sosok gadis di sampingnya saat ini.

"Kau ingin mengadukannya? Jika hanya dirimu yang membuat tugas itu." Cetus Austyn sembari menghentikan langkah kakinya.

Diam sejenak, sebelum memberi tanggapan. Membalas tatapan Austyn. "Kau kira aku sebodoh itu. Jika aku melakukannya, itu sama saja aku menghancurkan nilaiku."

"Ahh benar, itu sama saja menghancurkan nilaimu. Tapi, setidaknya kau harus membalas apa yang guru itu katakan. Agar dia tidak mencurigai mu jika hanya dirimu saja yang mengerjakan tugas itu." Seru Austyn yang tertahan. Karena Austyn tidak ingin menarik perhatian siapapun.

"Kau tahu," Austyn mengikis jarak dengan melipat kedua tangannya di depan dada. "Jika kau diam menutup mulutmu, dia akan mencari tahu dan mengubah nilainya. Terutama milikmu."

Sang gadis diam, menelan ludahnya. Tanpa adanya rasa takut, mulutnya terbuka untuk memberi balasan. "Kau tidak perlu khawatir, itu tidak akan pernah terjadi. Jikapun itu terjadi, aku akan mengulangnya dengan mudah. Tapi, bagaimana dengan mu?"

Tidak langsung menanggapi, Austyn menatap tajam gadis di depan matanya. "Kau meremehkan ku?" Sekilas alis tidak begitu tebal milik Austyn naik ke atas.

Tersenyum hambar, gadis itu perlihatkan. "Untuk apa aku meremehkan mu? Jika kau jauh lebih memiliki segalanya keimbang diriku."

Satu langkah maju gadis itu melakukannya, hingga jarak mereka berdua sangat kecil .. mulai mengimbuhkan perkataannya, gadis itu terlalu berani melontarkannya. "Tapi, ketidak adilan itu akan terlihat sia-sia jika semesta berpihak pada kebenaran."

"Anna__"

Suara familiar, menarik perhatian sang pemilik nama yang spontan menoleh ke sumber suara sembari memberi jarak di antara dirinya dengan Austyn.

"Oh, ibu?" Begitu rendah Anna mencetuskannya, tapi sangat terdengar jelas di pendengaran Austyn.

"Apa yang ibu lakukan disini?" Tanya Anna seraya berjalan cepat menghampiri seorang wanita dewasa yang berdiri tidak jauh dari Anna. Kini mengabaikan Austyn begitu saja.

Diam, melihat punggung Austyn dengan sorot mata yang sangat sulit diartikan. Sebelum pergi dari tempatnya berdiri.

"Apa yang kau bicarakan dengannya? Hingga wajah gadis itu terlihat sangat kesal." Bukannya memberi jawaban apa yang Anna katakan. Wanita itu malah bertanya, dengan kedua mata melihat kepergian Austyn.

"Bukan hal yang besar, itu bisa di selesaikan tanpa pertengkaran." Balas Anna sembari terseyum simpul.

"Benarkan?" Bukan Vanda namanya jika tidak menaruh curiga pada putrinya. Karena Vanda tidak ingin Anna membuat masalah dengan orang-orang yang memiliki kuasa.

"Kenapa ibu tidak mempercayai ku?" Sedih Anna, kini melingkarkan kedua tangannya di lengan Vanda.

Berjalan beriringan pergi dari tempat mereka berdiri. Anna hanya tidak ingin semua mata di sekitarnya menatap Vanda dengan sorot mata yang sangat meremehkan itu.

"Bukannya ibu tidak mempercayai mu. Hanya saja, wajah gadis itu__"

"Sebenarnya apa yang ibu lakukan disini? Apa kepala sekolah memanggil ibu?" Tanya Anna yang menyela perkataan Vanda. Karena Anna tidak ingin Vanda terus membahas soal wajah Austyn yang memang terlihat sangat kesal pada Anna.

Tak butuh waktu lama Anna dengan Vanda telah tiba di taman sekolah yang tidak begitu banyak murid. Duduk disalah satu bangku panjang di sana.

"Kepala sekolah tidak memanggil ibu. Ibu datang kesini hanya ingin menemui wali kelas mu." Diam sejenak, dengan kening yang sesekali mengerut. "Bagaimana bisa study wisata di batalkan begitu saja? Tapi bukan berarti ibu juga tidak senang."

"Karena kalian sudah mengunjugi tempat wisata beberapa bulan yang lalu, dan pihak sekolah merencanakannya kembali dengan alasan jika mereka tidak ingin murid angkatan terakhir merasa terganggu akan kalian." Diam, membuang napas lelah. "Saat ini mereka membatalkannya tanpa alasan. Bukankah itu_"

"Berhentilah berpikir jika itu hal yang buruk." Rendah Anna.

"Bukan begitu, hanya saja, itu membuang uang mereka."

Anna yang melihat Vanda, gadis itu mengembungkan sebentar kedua pipinya sebelum menyunggingkan sudut bibirnya. "Bukankah itu jauh lebih baik?"

"Apa maksudmu?" Cepat Vanda.

"Dengarkan aku bu, jika mereka terus mengerluarkan uang. Itu akan membuat mereka kehilangan harta mereka. Dan memudahkan kita berada di posisi meraka." Entah hanya menghibur, atau memang berniat mengatakan hal yang tidak akan pernah terjadi pada kehidupannya. Anna sangat terlihat bodoh setelah melontarkannya.

"Apa kau tidak belajar selama ini?" Sekilas Vanda menunjuk Anna dengan dagunya. "Semakin mereka mengeluarkan banyak uang, akan semakin terlihat hasilnya. Jika mereka tidak akan pernah hidup miskin seperti kita. Karena, lingkungan mereka sangat sempit. Hingga mereka saling membantu tanpa perduli jika orang yang mereka bantu itu salah. Apalagi jika__"

Lagi, Vanda membuang napas gelisah tanpa melanjutkan perkataannya. Melihat sekitar dengan sorot mata sendu.

Anna mengangguk paham meluruskan pandangan. "Aku akan belajar giat agar mendapat nilai yang bagus jikapun bukan yang pertama. Dan lanjut sekolah di tempat yang bagus juga. Agar pekerjaan yang aku dapat nanti mampu membuat mereka tidak meremehkan ku ataupun ibu."

"Emm, kau harus belajar giat." Vanda menganggukkan sebentar kepalanya, membalas tatapan Anna. "Tapi ibu tidak mengharapkan apapun darimu. Kecuali, kau sehat dan bahagia. Itu sudah jauh lebih cukup bagi ibu."

"Sehat bahagia pun juga belum tentu menjamin uluran tangan itu datang. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi" Timpal Anna.

"Tapi setidaknya kau harus sehat jika ingin mendapat pekerjaan yang bagus. Dan merasa bahagia atas rasa ikhlas mu. Jika kau tidak memiliki kedua hal itu, kehidupan layak akan sulit kau dapatkan." Terang Vanda, yang membuang napas berat. Kedua mata melihat ke depan, membiarkan semilir angin menerpa wajahnya.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!