NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Tentang Gaharu

“Dunia adalah tempat yang kotor dan berantakan bagi mereka yang lemah,” tulis Gaharu di jurnal digitalnya.

Di dunia yang ia bangun dengan presisi, cacat terkecil adalah dosa terbesar. Sebagai pewaris tunggal bisnis Gardapati Group, dunianya dibangun di atas pilar-pilar keteraturan yang kaku. Baginya, hidup adalah sebuah papan catur di mana setiap langkah telah dikalkulasi matang—tidak ada ruang untuk improvisasi, apalagi kegagalan.

Gaharu selalu tampil rapih, berwibawa. Ia memiliki aura otoritas yang membuat orang segan untuk sekadar bernapas terlalu keras di dekatnya. Ia membenci suara kekacauan, jadwal yang meleset, dan orang-orang yang bekerja tanpa tahu aturan.

Ia terlahir dengan penuh kesempurnaan, ia tidak pernah merasa kekurangan dalam finansial maupun fisik. Sampai pada dua tahun lalu, sebuah kecelakaan tunggal membuat fungsi kedua kakinya lumpuh. Hal itu menjadi pusat kebencian pribadinya. Akibat kecelakaan itu, ia harus bergantung pada kursi roda elektrik yang sampai saat ini ia gunakan.

Walaupun lumpuh yang ia derita tidak permanen, hal itu tetap saja menjadi noda hitam yang tidak bisa ia maafkan dalam catatan hidupnya. Setiap putaran roda pada kursinya terdengar seperti ejekan konstan yang mengingatkannya pada malam di mana ia kehilangan kendali.

Baginya, pemulihan yang lambat adalah bentuk ketidakefisienan yang menjijikkan. Dokter menyebutnya kemajuan, namun Gaharu menyebutnya sebagai penghinaan.

Ia pernah berada di titik di mana ia di remehkan dan di sepelekan. Banyak ujaran kebencian tentangnya karena sosok yang dulunya sempurna dan banyak di agung-agungkan, kini menjadi pria cacat yang kesehariannya selalu terduduk di kursi roda.

Namun, hal itu tidak membuat Gaharu goyah. Sebaliknya, ia semakin mengasah kemampuan otaknya, menjadikannya salah-satu senjata mematikan. Ia menaklukkan pasar saham dan kompetitor bisnis bukan dengan kekuatan fisik, melainkan dengan strategi yang kejam dan tanpa celah.

Ia membuktikan kepada semua orang, jika keterbatasannya tidak akan pernah menghalangi jalannya untuk tetap berada di puncak. Itulah jawaban mengapa Gaharu yang sekarang menjadi sosok yang arogan dan terobsesi dengan kendali.

“Dua puluh empat bulan, dan kaki ini masih betah duduk di mesin sialan ini,” gumam Gaharu seraya menatap pantulan dirinya di jendela kaca yang mengarah langsung pada jalanan padat kota.

Walaupun arogan, ada di suatu masa ia terpikirkan kata 'kenapa'. Kenapa cacat ini harus di berikan kepada dirinya?

“Seharusnya aku sudah bisa berdiri,” suaranya rendah. “Tidak ada kata 'hampir' dalam kamusku. Jika aku belum bisa berjalan dengan tegak, maka aku masih gagal.”

Ia tidak pernah merasa puas, tidak pernah merasa puas akan dirinya sendiri. Ia belum merasa cukup. Walaupun ia berada di puncak, namun kecacatan ini masih menjadi kegagalan yang membuatnya merasa muak.

Ia menatap kakinya yang terbungkus celana kain seharga puluhan juta rupiah. Kaki itu tidak bergerak, tetap kaku meski otaknya memerintah untuk berlari. Baginya, kaki itu adalah sebuah pengkhianatan. Sebuah cacat yang seharusnya sempurna.

“Dunia mungkin melihatku masih berkuasa,” bisiknya dingin pada pantulannya sendiri, “tapi aku tidak akan benar-benar menjadi Gaharu Gardapati sampai aku bisa menginjakkan kaki di lantai ini tanpa bantuan teknologi apa pun.”

“Kamu tetap Gaharu Gardapati, putra tunggal kesayanganku. Kamu tidak gagal putraku, kamu putra hebat, Nak.”

Suara lembut yang sangat akrab di telinganya membuat Gaharu menegang. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang baru saja masuk ke dalam ruangnya. Hanya satu orang yang berani masuk tanpa mengetuk pintu, dan hanya satu orang yang diizinkan memanggilnya dengan sebutan serapuh itu.

Gaharu memejamkan mata sejenak, membiarkan aura otoritas yang baru saja ia bangun sedikit retak di udara. Ia memutar kursi rodanya perlahan, gerakan mesinnya yang halus terasa begitu bising di tengah keheningan ruangan. Di ambang pintu, berdirilah wanita yang menjadi satu-satunya alasan ia masih memiliki sisa-sisa kemanusiaan di dalam dadanya.

“Hebat?” Gaharu mengulang kata itu dengan nada getir, bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang ditujukan untuk dirinya sendiri. “Ibu melihatku duduk di sini, tidak mampu bahkan untuk sekadar mengambilkanmu segelas air dengan tanganku sendiri sambil berdiri, dan Ibu masih menyebutku hebat?”

Wanita itu melangkah dengan ringan, mendekat pada putranya. “Kekuatanmu tidak pernah ada di kakimu, Gaharu. Kekuatanmu ada di sini,” ucap sang ibu lembut, sambil menyentuh kening putranya, lalu berpindah ke dadanya, “dan di sini.”

Gaharu memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata yang terlalu jujur itu. Ia benci terlihat lemah, terutama di depan ibunya. Ia membenci kenyataan bahwa ia masih butuh ditenangkan.

“Di dunia bisnis, Ibu, orang tidak melihat apa yang ada di dalam dada. Mereka melihat apa yang tampak di permukaan. Dan permukaanku saat ini..." Ia melirik kakinya yang masih terdiam kaku. "...aku cacat.”

Gaharu mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya, nada suaranya terdengar lebih keras, penuh dengan obsesi yang telah lama ia pendam.

“Aku tidak butuh dikasihani, Ibu. Aku tidak butuh penghiburan bahwa aku masih 'hebat' secara intelektual. Aku ingin menginjak lantai ini. Aku ingin merasakan sensasi dinginnya marmer di bawah telapak kakiku tanpa harus dibantu oleh mesin ini. Karena sebelum itu terjadi, setiap pencapaian Gardapati Group hanyalah kompensasi yang hambar atas apa yang hilang dariku.”

Ibunya menggenggam tangan Gaharu yang gemetar karena emosi, mencoba menyalurkan kehangatan pada jemari putranya yang selalu terasa sedingin es.

“Kecelakaan itu bukan kesalahanmu, Nak. Dan pemulihan bukan tentang seberapa cepat kamu bisa kembali berlari, tapi tentang bagaimana kamu berdamai dengan prosesnya.”

“Berdamai?” Gaharu menarik tangannya pelan, sebuah penolakan halus namun tegas terhadap kehangatan yang ditawarkan ibunya. Wajahnya kembali mengeras, setiap otot di rahangnya menegang.

“Berdamai adalah kata untuk mereka yang sudah menyerah, Bu. Berdamai adalah alasan yang diciptakan pecundang agar mereka bisa tidur nyenyak dalam kegagalan mereka.”

Wanita itu terdiam, Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan getaran di suaranya. Ia tahu, tidak ada gunanya berdebat dengan putranya saat ini. Hatinya benar-benar keras, dan putranya selalu memiliki kata senjata untuk membungkamnya. Kelembutan tidak membuat Gaharu terpengaruh.

Jika boleh jujur, ia merindukan sosok putranya yang dulu. Sosok putra yang belum terdoktrin untuk selalu terlihat sempurna.

“Apa yang membuat Ibu datang ke sini?”

Wanita itu tersenyum, “apakah harus ada alasan untuk mengunjungi putra Ibu sendiri?”

Gaharu menghela nafas pelan. Berusaha meredam ketegangan yang ia ciptakan karena perdebatan kecil dengan Ibunya.

“Bagaiman kabar istrimu?”

“Kenapa menanyakannya?”

Ibu mengernyitkan keningnya bingung. “Apa Ibu tidak boleh menanyakan kabar menantu Ibu sendiri?”

“Ibu bisa datang ke rumahku jika Ibu penasaran.” Gaharu menggerakkan kursi rodanya. Ia duduk di balik meja kebesarannya. Meraih map hitam dan mulai menelitinya.

Ibunya menghela nafas pelan. Ia memperhatikan setiap gerakan yang di timbulkan putranya yang sekarang terlihat sibuk dengan berkas di kedua tangannya.

“Jangan terlalu menekan istrimu,” katanya.

Gerakan Gaharu yang tadinya sibuk membuka setiap lembaran kertas terhenti. Ia mendongak menatap ibunya.

“Dia berada di wilayah kekuasaanku, tentunya dia harus mematuhi setiap peraturan yang ada."

“Laura istrimu, bukan bawahanmu yang harus selalu patuh pada peraturan yang kamu buat.”

Gaharu menutup map hitam itu dengan suara dentuman yang pelan namun tegas. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan, menciptakan sekat yang semakin tebal antara ibu dan anak tersebut.

“Di dunia ini, Ibu tahu betul bahwa garis antara kepatuhan dan ketertiban itu sangat tipis,” ujar Gaharu datar. “Jika aku membiarkannya berjalan tanpa arah, dia akan hancur oleh ekspektasi orang-orang di luar sana. Aku melindunginya dengan cara yang aku tahu.”

“Melindungi atau mengendalikan, Nak? Kamu merampas suaranya.”

Wanita itu tahu seluk beluk istri dari putranya ini. Bukan tanpa alasan mengapa ia memilih Laura dan menawarkan kesuksesan bisnis sebagai imbalannya. Ada suatu hal penting mengapa ia menjodohkan putranya dengan gadis bernama Laura itu.

“Suara?”

'Dia bisa bersuara Ibu, dia berani menentangku tadi malam.'

Mengingat hal itu membuat Gaharu kembali kesal. Bagaimana ekspresi wajah istrinya yang menantang dirinya, mata rubahnya yang menatap berani kepadanya, ibunya tidak tahu akan hal itu.

“Menyandang nama keluarga Gardapati bukan 'kah sudah cukup?”

Ibu kembali menghela nafas, merasa lelah setiap berhadapan dengan hati sekeras batu putranya.

“Cinta seorang suami. Kamu tidak memberikan itu kepada istrimu,” Sahut ibu pelan.

Gaharu terkekeh sinis. “Ibu yang memaksaku untuk menerima pernikahan ini. Jadi jangan terlalu berharap akan hal itu.”

“Kenapa? Apa bayang-bayang wanita sialan itu masih menghantuimu?” sadar tidak sadar suara Ibu naik, dadanya bergemuruh.

Gaharu sontak menatap Ibunya dengan tajam. Di bawah meja, tangannya terkepal erat. Berusaha agar tidak meledak dan melukai hati seorang wanita yang telah melahirkannya ke dunia.

“Dia memiliki nama, dia bukan wanita sialan. Berhenti membencinya.”

Jawaban itu sukses membuat Ibunya tertawa miris, sangat miris melihat putranya yang masih di hantui bayang-bayang wanita yang sangat ia benci.

“Dia meninggalkanmu! Dia menghianatimu! Karena apa? Karena kondisimu sekarang. Dia tidak berjuang bersamamu, dia tidak berada di sisimu saat masa-masa terpurukmu. Dia memilih pergi dengan laki-laki lain, dan kamu masih memikirkan wanita sialan itu?”

“CUKUP IBU!”

Lepas, Gaharu lepas kembali dan berani melontarkan bentakan pada wanita pemilik hati lembut di depannya. Urat-urat lehernya menonjol sangat jelas, dan sang Ibu hanya diam. Terlihat jelas, satu tetes air mata jatuh pada pipi wanita itu.

Sang Ibu menghapus jejak air matanya. Ia berusaha bernafas dengan teratur. Ia memegangi dadanya yang terasa sakit. Gaharu sudah akan bergerak saat melihat pergerakan tangan Ibunya, namun wanita itu memilih mundur.

“Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu, Nak.” Lantas, wanita itu mengambil langkah pelan namun teratur untuk mundur dan pergi meninggalkan ruangan itu.

Di tempatnya, Gaharu terdiam seribu bahasa. Ia kesal, kesal kepada dirinya sendiri karena dengan berani mengeluarkan nada tinggi pada Ibunya pertama kali.

***

Halo-halo! Author update lagi.

Sejujurnya agak ragu mau lanjutin, takut pada nggak suka sama alur ceritanya. Minder juga sama tulisan sendiri, apalagi liat tulisan di karyaku yang satunya lagi, acak-acakan banget. Tapi kalo boleh jujur, better tulisan karyaku yang ini, sedikit lebih teratur, mungkin (?)

Mohon dukungan dari kalian para pembaca ya 😉 butuh penyemangat untuk kembali melanjutkan dan tetep optimis biar bisa namatin satu karya tanpa hiatus panjang.

Kalo ada kesalahan dan tata cara penulisan, mohon bantuannya untuk di tandai, biar kedepannya aku lebih teliti lagi.

Untuk pembaca yang sudah mampir di cerita absurd ku ini, banyak-banyak terimakasih aku ucapkan 🥹🫶🏻 terimakasih juga kepada kalian yang sudah memberikan komentar dan juga like pada cerita ini.

Terus dukung author, ya 😉

Sekali lagi, terimakasih.

Jum'at, 10 April 2026

Published : Jum'at 10 April 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!