NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Boss CEO Karena Skandal

Terpaksa Menikahi Boss CEO Karena Skandal

Status: tamat
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Perjodohan / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Aura, seorang sekretaris teladan, dan Arkan, CEO dingin yang perfeksionis, terpaksa menikah setelah dijebak dalam sebuah skandal memalukan saat perjalanan bisnis di Bali. Pernikahan paksa ini memaksa mereka menjalani peran sebagai atasan-bawahan di kantor sekaligus suami-istri di rumah. Di balik kerumitan perasaan yang mulai tumbuh, keduanya harus bersatu memburu dalang konspirasi yang sengaja menjebak mereka sebelum karier dan nyawa mereka menjadi taruhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Siapa Sang Pengadu?

Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, menciptakan tirai air yang menyamarkan kemegahan rumah Menteng. Di dalam ruang kerja pribadinya yang berbau kayu cendana dan cerutu mahal, Arkan Mahendra duduk terpaku di balik meja jati besarnya. Lampu meja yang temaram memberikan siluet tajam pada wajahnya yang tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Di depannya, Bimo berdiri dengan raut wajah yang tidak menyisakan ruang untuk humor sedikit pun.

Bimo meletakkan sebuah map hitam tipis di atas meja. "Aku sudah mendapatkan data teknis dari server pusat kepolisian Bali dan log komunikasi dari operator seluler lokal," ucap Bimo tanpa basa-basi.

Arkan membuka map tersebut. Matanya menyipit saat melihat deretan angka dan waktu yang tercetak di sana. "Jelaskan," perintah Arkan singkat.

"Laporan anonim mengenai penyalahgunaan narkoba di suite kamu masuk ke pusat panggilan darurat pada pukul 03.15 dini hari waktu Bali," Bimo menjeda sejenak untuk memberikan penekanan. "Masalahnya adalah, berdasarkan analisis toksikologi sementara yang kita dapatkan secara ilegal dari lab, efek obat bius yang ada di minuman kalian baru akan membuat kalian tidak sadarkan diri sepenuhnya sekitar pukul 05.00 pagi. Dan penggerebekan terjadi pukul 06.00."

Arkan mengerutkan kening. "Artinya?"

"Artinya, seseorang sudah menelepon polisi bahkan sebelum kalian benar-benar 'siap' untuk digerebek. Si pelapor sudah tahu persis apa yang akan terjadi. Laporan itu disiapkan setidaknya dua jam sebelum kalian ditemukan dalam kondisi seperti itu," Bimo melangkah mendekat, suaranya merendah. "Ini bukan sekadar laporan warga yang curiga, Arkan. Ini adalah skenario yang sudah diketik rapi. Si pengadu tahu kapan obat itu akan bekerja, dan dia ingin memastikan polisi sudah berada di posisi tepat saat kamera media siap membidik."

Arkan menyandarkan tubuhnya, jemarinya mengetuk meja dengan irama yang tidak beraturan. "Dua jam sebelum kejadian... itu berarti saat aku dan Aura masih berada di restoran atau baru saja kembali ke kamar. Siapa yang punya akses untuk memantau pergerakan kita sedetail itu?"

"Itulah yang menarik," Bimo mengeluarkan selembar kertas lagi. "Panggilan itu berasal dari nomor prabayar yang dibuang segera setelah telepon ditutup. Namun, sinyalnya terlacak dari menara telekomunikasi yang mencakup area hotel Royal Amarilla. Si pengadu ada di sana, Arkan. Dia melihat kalian. Dia mungkin melihatmu memapah Aura masuk ke kamar."

Tepat saat itu, pintu ruang kerja terbuka pelan. Aura berdiri di ambang pintu, masih mengenakan pakaian kerjanya namun dengan rambut yang sedikit berantakan. Ia membawa nampan berisi kopi untuk Arkan, sebuah kebiasaan yang mulai ia lakukan secara spontan sejak mereka pindah ke rumah ini.

"Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu," ucap Aura ragu saat melihat ketegangan di antara kedua pria itu.

"Masuklah, Aura," ucap Arkan. "Kamu perlu mendengar ini juga."

Aura meletakkan kopi di meja dan berdiri di samping Bimo. Saat Arkan menjelaskan temuan Bimo, wajah Aura perlahan memucat. Rasa dingin menjalar di punggungnya saat ia menyadari bahwa selama ini ada mata yang mengawasi setiap langkah mereka, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan mereka.

"Dua jam sebelumnya..." Aura bergumam, matanya menatap kosong ke peta digital di tablet Bimo. "Pak Arkan, ingat tidak? Saat kita di restoran, ada seorang pramusaji yang terus-menerus salah mengantar pesanan ke meja kita? Dia tampak sangat gugup."

Bimo menoleh dengan cepat. "Pramusaji? Kamu ingat wajahnya?"

"Tidak terlalu jelas, tapi dia memiliki tato kecil di pergelangan tangan kirinya. Bentuknya seperti segitiga," Aura mencoba mengingat-ingat. "Dan saat kita kembali ke lantai kamar, saya sempat melihat seseorang keluar dari pintu darurat dekat kamar 404. Saya pikir itu hanya staf kebersihan, jadi saya tidak curiga."

"Kamar 404," geram Arkan. "Kamar yang dipesan atas nama fiktif itu."

Bimo mencatat poin tersebut. "Jika si pengadu ada di hotel, berarti ada keterlibatan orang dalam. Tidak mungkin seseorang bisa menaruh narkoba di suite presiden tanpa akses kunci atau kerja sama dengan staf keamanan."

"Danu," cetus Arkan tiba-tiba. "Hanya dia yang punya motif sebesar ini untuk menjatuhkanku tepat sebelum penandatanganan proyek Bali."

"Tapi Danu ada di Jakarta saat kejadian, Arkan," Bimo mengingatkan. "Dia punya alibi yang sangat kuat. Dia sedang menghadiri perjamuan makan malam dengan beberapa pejabat kementerian."

"Danu tidak perlu ada di sana untuk menarik pelatuknya," sahut Arkan dingin. "Dia hanya perlu membayar orang yang tepat."

Aura merasa mual. Dunia bisnis yang ia geluti ternyata jauh lebih kotor dari yang ia bayangkan. Ia bukan hanya sekadar korban skandal, ia adalah bidak yang digunakan untuk menghancurkan raja.

"Pak Bimo," panggil Aura pelan. "Apakah mungkin pelapornya bukan orang suruhan Danu? Maksud saya... apakah ada musuh lain?"

Bimo menatap Arkan sejenak. "Daftar musuh Pak Arkan cukup panjang untuk memenuhi satu buku telepon, Aura. Tapi Danu adalah satu-satunya yang mendapatkan keuntungan langsung secara struktural di perusahaan jika Arkan jatuh."

Arkan berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap hujan yang kini semakin deras. "Bimo, cari tahu siapa pemilik nomor prabayar itu, meskipun kemungkinannya kecil. Dan Aura..."

Aura menatap punggung Arkan yang kokoh.

"Mulai besok, kamu tidak boleh pergi ke mana pun sendirian. Meskipun di kantor, pastikan ada staf keamanan yang memantau koridor sekretariat. Jika mereka berani menjebak kita di Bali, mereka mungkin berani melakukan hal yang lebih nekat di sini," perintah Arkan tanpa menoleh.

"Baik, Pak," jawab Aura patuh. Ada rasa aman yang aneh yang menyelimutinya saat mendengar instruksi itu, meski di sisi lain ia merasa tercekik oleh situasi ini.

Malam itu, setelah Bimo pulang, Aura tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia duduk di ruang makan yang sunyi, menyesap teh melati yang sudah mendingin. Pikirannya melayang pada pramusaji di Bali, pada sosok di pintu darurat, dan pada kenyataan bahwa pernikahannya dengan Arkan adalah satu-satunya hal yang mencegahnya jatuh ke jurang yang lebih dalam.

Arkan masuk ke ruang makan, sudah berganti pakaian dengan kaos hitam santai. Ia duduk di kursi seberang Aura, sesuatu yang jarang ia lakukan di rumah ini kecuali saat makan malam formal.

"Kamu takut?" tanya Arkan pendek.

Aura menatap Arkan. "Saya hanya merasa... aneh. Ternyata saya tidak mengenal dunia tempat saya bekerja selama ini. Saya pikir bekerja keras dan jujur sudah cukup."

Arkan tersenyum tipis, sebuah senyum pahit. "Di dunia ini, kejujuran adalah komoditas yang mahal, Aura. Dan bagi orang-orang seperti Danu, itu adalah kelemahan yang bisa dieksploitasi."

"Kenapa Bapak tidak menyerah saja?" tanya Aura tiba-tiba. "Bapak sudah punya segalanya. Bapak bisa membangun perusahaan baru tanpa drama keluarga seperti ini."

Arkan menatap mata Aura dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan. "Karena ini bukan soal uang, Aura. Ini soal harga diri. Ayah saya menyerahkan perusahaan ini padaku bukan untuk kulihat hancur di tangan pengkhianat. Dan sekarang... ini juga soal kamu. Saya sudah menyeretmu ke sini, dan saya tidak akan berhenti sampai orang yang membuatmu menangis di kantor polisi Bali itu berlutut di depanmu."

Aura tertegun. Kalimat Arkan barusan tidak terdengar seperti strategi bisnis. Itu terdengar seperti janji seorang pria kepada seorang wanita.

"Terima kasih, Pak Arkan," bisik Aura.

"Tidurlah. Besok kita punya banyak hal untuk diselesaikan," Arkan berdiri dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Aura dengan perasaan yang semakin tidak menentu.

Di tengah hujan Jakarta yang belum juga reda, teka-teki "Siapa Sang Pengadu" mulai menampakkan titik terang yang berbahaya. Jejak digital yang ditemukan Bimo membuktikan bahwa mereka tidak sedang menghadapi kecelakaan, melainkan perang terbuka yang sistematis. Dan di dalam rumah yang megah itu, dua orang yang terpaksa bersatu mulai menyadari bahwa musuh yang mereka hadapi mungkin lebih dekat daripada yang mereka duga.

Besok, mereka akan kembali ke kantor, kembali ke sandiwara mereka. Namun kini, mereka memiliki senjata baru: pengetahuan bahwa mereka sedang diburu. Dan bagi seorang predator seperti Arkan Mahendra, mengetahui bahwa dirinya sedang diburu adalah langkah pertama untuk berbalik dan menerkam.

1
liyute_281
yg mahendra itu arkhan ato aura sih... bukannya aura si sekertaris?
liyute_281
kenapa jadi aura mahendra?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!