Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.21
Suasana di ruangan itu berubah semakin tegang setelah kalimat tersebut diucapkan. Udara terasa menipis, seolah-olah oksigen didalam ruangan itu menghilang entah kemana.
Alisa semakin menunduk dalam. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan, berusaha menahan gemuruh yang sejak tadi mengguncang dadanya.
Kata “buktikan” itu terus terngiang di benaknya. Itu bukan sekedar permintaan, melainkan seperti sebuah peringatan untuk menentukan apakah dirinya benar-benar pantas berada di keluarga ini.
“Memangnya, apa yang harus dia buktikan, Kek?” tanya Harlan akhirnya, suaranya terdengar tenang, meski ada nada tegas yang terselip di baliknya.
Pria tua itu tidak langsung menjawab. Ia menautkan kedua tangannya di atas kepala tongkat yang sejak tadi digenggamnya, lalu bersandar perlahan.
Tatapannya menyapu ruangan dengan penuh wibawa, seolah seluruh situasi ini memang berada dalam kendalinya.
“Tentu saja, dia harus membuktikan bahwa dia layak menjadi istrimu… dan menantu di keluarga ini.” jawabnya pelan namun jelas.
“Kek…” Harlan hendak membalas, namun Alisa sudah membuka suara terlebih dahulu.
“Maaf menyela.” suara lembut Alisa memotong obrolan itu, membuat semua mata seketika tertuju padanya.
Ia mengangkat wajahnya perlahan. Meski sorot matanya masih menyimpan kegugupan, ada keberanian yang mulai tumbuh di sana.
“Kalau boleh tahu… apa yang harus saya lakukan, Kek? Ini… pernikahan pertama saya. Dan jujur, banyak hal yang belum saya ketahui tentang pernikahan. Jadi, jika tidak keberatan, saya mohon bimbingannya.” lanjutnya dengan sopan, suaranya sedikit bergetar namun tetap terdengar jelas.
Harlan terdiam. Kata-kata yang tadi ingin ia ucapkan tertahan di tenggorokan. Ia menoleh ke arah Alisa, menatapnya dengan tatapan campuran antara rasa kaget dan juga rasa kagum.
Sementara itu, sang Kakek justru tersenyum. Namun, senyum itu bukan senyuman yang bersahabat. Melainkan… senyuman yang mengandung artian, yang sulit dijelaskan.
“Bagus, saya suka keberanian kamu.” ujarnya akhirnya, suaranya terdengar lebih ringan, namun justru membuat suasana semakin menegang.
Seketika, ruangan kembali sunyi. Bahkan detak jam di dinding terdengar begitu jelas, seolah ikut menunggu keputusan yang akan dibuat oleh Kakek Harlan.
Ia mengetukkan ujung tongkatnya perlahan ke lantai, satu kali. Membuat suasana semakin menegang.
“Kalau begitu… dengarkan baik-baik. Mulai hari ini, jadilah istri yang bisa mengurus Harlan dengan baik. Baik itu urusan lahir, maupun batin. Saya ingin lihat. Apa… kamu sanggup merawat Harlan jauh lebih baik dari kami.” lanjutnya, menatap lurus ke arah Alisa.
Ia berhenti sejenak, memberi jeda untuk mengambil nafas sebelum melanjutkan.
“Dan satu lagi… dalam waktu dekat, saya ingin agar Harlan segera memiliki momongan.” lanjutnya dengan tatapan yang menajam.
Deg.
Alisa tersentak kecil, jantungnya semakin berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Refleks, ia menelan ludah.
“Bagaimana? Apa… kamu sanggup?”
Hening. Tak ada yang berani menyela. Harlan mengepalkan tangannya, jelas tidak sepenuhnya setuju, namun kali ini ia tidak langsung berbicara.
Tatapannya kembali pada Alisa. Menunggu dengan khawatir, jawaban apa yang akan Alisa berikan kepada sang Kakek.
Sementara Alisa… Ia menarik nafas dalam. Lalu, akhirnya, ia mengangguk perlahan.
“Baik, Kek. Saya mengerti.” jawabnya pelan, namun penuh keyakinan.
Harlan langsung menoleh cepat ke arah Alisa.
“Alisa…” panggilnya pelan, ada nada keberatan yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
Namun Alisa hanya menatapnya sekilas dan memberikan senyum kecil. Senyum yang seolah-olah mengatakan ‘aku baik-baik saja’. Meski, jauh di dalam hatinya, ia sendiri tahu… jika semua ini tidak akan semudah itu.
Sang Kakek mengangguk puas. Lalu berkata…
“Bagus. Saya suka dengan orang yang tahu menempatkan dirinya.” ujarnya singkat.
Ucapan itu membuat jemari Harlan kembali mengepal. Rahangnya mengeras, tapi ia masih berusaha untuk menahan diri. Karena emosi, tidak akan menyelesaikan permasalahan.
“Kek… apa semua ini perlu?” tanya Harlan yang akhirnya Harlan membuka suaranya.
Ruangan kembali menegang. Tatapan sang Kakek perlahan beralih ke arah cucunya, Harlan.
“Kenapa? Apa… permintaan ini terlalu sulit untuk kalian? Kakek hanya ingin melihat, sejauh mana kalian bisa mempertahankan pernikahan ini. Apa, ini salah?” ucap Kakek Harlan, balik bertanya.
“Tidak. Tapi….”
“Kalau begitu, buktikan padaku kalau keputusanmu tidak salah. Kamu yang memilih dia. Maka kamu juga yang harus bertanggung jawab.”
Harlan terdiam. Kalimat itu seperti menampar, tapi juga… tidak sepenuhnya salah. Kakek Harlan benar, semua harus Harlan pertanggung jawabkan.
Sementara itu, Alisa kembali menunduk. Kali ini bukan karena takut, tapi karena sedang berusaha menata pikirannya.
Ia tahu… ini bukan sekadar tentang dirinya. Ini tentang posisi Harlan yang memiliki peran penting di keluarga itu.
Bukan hanya nama baiknya. Melainkan, ada nama besar sang Kakek yang harus ia jaga tidak boleh ia rusak hanya karena ia salah mengambil keputusan.
“Baiklah. Karena kalian berdua sudah mengerti. Sepertinya, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Pulang dan istirahatlah. Simpan energi kalian untuk acara resepsi kedua yang akan digelar 3 hari kedepan.” lanjutnya.
Perlahan, Kakek Harlan mulai berdiri, melangkah menjauh, meninggalkan ruang tengah. Diikuti oleh beberapa anggota keluarga lain yang sejak tadi hanya menjadi penonton dalam diam.
Tak lama, ruangan itu pun menjadi kosong. Menyisakan Harlan dan Alisa saja.
Harlan menghela nafas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar.
“Maaf.” ucapnya tiba-tiba.
Refleks, Alisa langsung menoleh. Saat mendengar Harlan meminta maaf.
“Maaf? Untuk apa?” tanyanya.
“Untuk semua ini. Untuk tekanan yang seharusnya tidak pernah kamu terima.” jawab Harlan, dengan suara yang berat.
Alisa terdiam sejenak. Kemudian, ia menggeleng pelan.
“Ini semua bukan salah kamu, Mas. Orang yang seharusnya minta maaf itu adalah Kak Marisa. Dia yang yang sudah menciptakan situasi ini,” ujarnya lembut.
“Lagipula, bukankah, kita sudah sepakat untuk menghadapi konsekuensinya bersama. Jadi, mari, kita hadapi semuanya bersama.”
Harlan terdiam, menatap Alisa cukup lama dan intens. Ada kelegaan yang mulai menjalar didalam hatinya. Menciptakan rasa haru dan percaya, jika ia tidaklah sendirian.
Ada Alisa yang kini membersamainya. Menemani dirinya, dan berjalan di sampingnya. Memberi kekuatan dari jalur yang baru Harlan temukan.
Dan tanpa mereka sadari… Di balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup, sepasang mata masih memperhatikan keduanya.