Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.
Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENUNTUT JAWABAN
Mobil Eva sudah tak terdengar lagi di halaman.
Di dalam kamar, Purbaya tetap duduk di karpet bersama Noya.
“Coba susun hurufnya lagi, ya. N... O... Y... A...”
Noya tersenyum kecil saat balok itu berdiri sempurna.
Beberapa menit kemudian, langkah Mbok Sri terdengar mendekat.
“Bapak...” panggilnya pelan dari ambang pintu.
Di tangannya ada ponsel Purbaya yang tadi tertinggal di meja ruang tengah. Layarnya masih menyala, bergetar halus.
“Ngapunten, Pak,” ucap Mbok Sri lembut.
“HP-ne njenengan geter terus. Mbok kira penting.”
Purbaya menoleh.
“Telpon dari... asisten riset,” lanjut Mbok Sri hati-hati, membaca sekilas nama yang muncul tanpa benar-benar mengerti.
Ia menyerahkan ponsel itu.
Purbaya berdiri, mengambilnya cepat.
“Iya, Mbok. Matur nuwun.”
“Nggeh, Pak,” Mbok Sri mengangguk. “
Saat Purbaya mengambil ponsel dari tangan Mbok Sri, layar sudah gelap.
Panggilan itu terputus.
Ia menatap nama yang masih tertera beberapa detik, lalu menarik napas pelan.
“Noya,” panggilnya lembut.
Anak itu mendongak.
“Papa mau telepon dulu, ya. Noya main sendiri dulu sebentar.”
Noya mengangguk kecil. Tangannya masih memegang balok huruf.
Purbaya berdiri dan melangkah keluar kamar. Ia tidak menjauh sepenuhnya, hanya berhenti di lorong dekat ruang tengah.
Ia menekan tombol panggil ulang.
Nada sambung terdengar pelan.
Wajahnya kembali datar. Berbeda dari ekspresinya saat bermain tadi.
Beberapa detik menunggu.
Pagi di rumah itu terasa sunyi, dalam kamar, Noya mulai menyusun baloknya sendiri. Sementara di luar, Purbaya menunggu seseorang menjawab.
Nada sambung itu akhirnya berhenti.
“Hmm,” suara perempuan di seberang terdengar lebih dulu. Lalu sebuah dengusan kecil.
“Ratumu sudah berangkat?”
Purbaya menoleh sekilas ke arah kamar Noya, memastikan anaknya tidak keluar.
“Iya. Sudah.”
“Tadi aku telepon nggak diangkat. Takut ketahuan, ya?”
“Alya.” suaranya merendah, “jangan sering telepon aku. Chat saja.”
“Halah...”
“Tadi yang ambil bukan aku. Asisten rumah tangga kebetulan yang pegang.”
Terdengar tawa kecil di ujung sana.
“Terus?”
“Untung nomor kontak kamu aku simpan namanya sebagai asisten riset. Jadi nggak terlalu mencurigakan.”
Beberapa detik hening, lalu--
“Bhaa... asisten riset?” Alya tertawa pelan.
“Riset apa, Pak Doktor? Riset ketahanan iman dosen?”
Purbaya mengembuskan napas, setengah kesal setengah geli.
“Sudah, jangan macam-macam.”
“Atau riset praktik lapangan?” suara Alya terdengar makin menggoda.
“Kayaknya penelitian Bapak makin intens, ya.”
“Sudah kubilang jangan telepon sembarangan.”
“Baiklah, Pak Pembimbing...,” suara Alya terdengar ringan di ujung sana. “Nanti laporan perkembangannya aku kirim lewat chat saja.”
“Tapi, kamu jadi datang nggak, Mas? Tadi pagi kamu bilang mungkin bisa mampir. Aku pulang hari ini, lho. Masa nggak ada waktu sebentar saja?”
Purbaya menurunkan suaranya.
“Sepertinya nggak bisa. Aku harus antar Noya terapi.”
Hening sejenak.
Lalu terdengar dengusan kecil.
“Kamu tuh selalu begitu. Semua rencanamu pasti kalah sama urusan anakmu itu.”
Nada itu berubah tajam.
Purbaya berhenti melangkah.
“Alya.”
“Apa? Aku cuma bilang fakta. Aku cuma heran. Kamu seperti hidup mengelilingi anak yang jelas-jelas perkembangannya tertinggal. Sampai kapan kamu mau begitu?”
“Jangan sebut dia begitu.” Suaranya kini lebih tegas. “
“Aku cuma realistis. Dia memang berbeda, Mas. Kamu sendiri pernah bilang dia butuh perhatian ekstra.”
“Dia butuh dukungan. Bukan ejekan.”
“Aku nggak mengejek,” jawab Alya ringan. “Aku cuma nggak mau kamu terikat selamanya pada keadaan yang... ya, membatasi kamu.”
Napas Purbaya terdengar lebih berat.
“Noya anakku. Dan dia tidak ‘membatasi’ siapa pun.”
“Ya, tapi kamu seperti hidup cuma buat dia. Dia kan kamu tahu sendiri kondisinya.”
“Noya tidak sakit,” potong Purbaya. “Dia istimewa.”
Terdengar tawa kecil, tipis dan sedikit sinis.
“Kalau memang istimewa, biar ibunya saja yang urus. Kamu ini terlalu terikat. Padahal...” ia menggantungkan kalimatnya, lalu melanjutkan lebih pelan, “kamu juga akan punya anak dariku nanti.”
Kalimat itu membuat Purbaya refleks menoleh ke arah dapur.
Langkahnya otomatis menuju kamar. Ia masuk dan menutup pintu lebih rapat.
“Alya, cukup,” katanya merendah. “Jangan bicara sembarangan.”
Namun ia tidak langsung memutus panggilan.
Dan di situlah masalahnya.
Hening sesaat.
“Ya sudah. Kalau kamu lebih memilih itu, silakan. Tapi jangan lupa... kamu juga punya masa depan lain.”
Kalimat itu membuat Purbaya terdiam beberapa detik.
Lalu ia berkata tegas, “Kalau kamu bisa bicara seperti itu tentang anakku... mungkin aku harus berpikir ulang.”
Alya tertawa kecil di seberang.
“Berpikir ulang tentang apa?”
“Tentang kamu.”
Suasana menjadi hening.
“Kalau sejak sekarang kamu tidak bisa menerima Noya,” lanjut Purbaya, “bagaimana mungkin aku membayangkan kamu menjadi bagian dari hidupku? Dari keluargaku?”
Nada suaranya berubah lebih berat.
“Mungkin ini cara Tuhan menunjukkan kepadaku siapa kamu sebenarnya.”
Di seberang sana terdengar tawa pendek, tajam dan mengejek.
“Haha... jangan bawa-bawa Tuhan, Mas.”
Alya mendengus.
“Memangnya kamu merasa sudah suci?”
Purbaya terdiam.
“Kamu bicara seolah-olah kamu orang paling benar,” lanjutnya. “Padahal kamu sendiri membohongi istrimu. Menipunya. Datang ke hotelku. Tidur denganku. Begitu juga sewaktu kita masih di Jerman.”
Suaranya makin rendah, tapi menusuk.
“Jadi jangan pura-pura bermoral di depanku.”
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Lalu Alya menambahkan dengan nada lebih dingin.
“Kita berdua sama saja, Mas. Sama-sama tahu apa yang sedang kita lakukan.”
Di ujung telepon, napas Purbaya terdengar lebih berat. Ia tidak menjawab lagi. Tanpa berkata apa-apa, panggilan itu ia akhiri.
Beberapa detik kemudian ponselnya kembali bergetar.
Pesan dari Alya.
Fine. Mungkin kamu lagi kesal sama aku sekarang. Yang jelas aku pulang hari ini. Pesawat jam tiga. Kalau sampai jam dua belas kamu nggak datang ke hotel, berarti aku anggap kamu sudah memutuskan semuanya.
Purbaya menatap layar ponselnya lama.
Tidak ada balasan yang ia ketik. Tidak juga pesan yang ia hapus.
Hanya kalimat terakhir itu yang terus tertinggal di kepalanya. Sebuah batas waktu yang tiba-tiba terasa terlalu dekat.
Purbaya menurunkan ponselnya perlahan.
Di ruang kamar anak, Noya masih duduk di atas karpet. Anak itu sibuk sendiri dengan mainan edukatif yang tadi mereka keluarkan. Balok-balok warna-warni tersusun tidak rapi di depannya. Sesekali Noya mencoba menumpuknya, lalu tertawa kecil ketika susunannya roboh.
Purbaya berdiri di ambang pintu kamar.
Ia memperhatikan anaknya itu beberapa saat.
Noya tidak menyadari sedang diperhatikan. Ia hanya fokus pada balok di tangannya, lalu mencoba menaruh satu lagi di atas susunan yang sudah miring.
Balok itu jatuh lagi.
Noya tertawa pelan.
Dada Purbaya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak ia sadari.
Beberapa menit lalu ia baru saja membela anak itu di depan Alya. Mengatakan dengan tegas bahwa Noya adalah anaknya, tanggung jawabnya.
Namun ponsel di tangannya masih menyimpan pesan yang lain.
Pesan yang menunggu jawaban.
Purbaya menatap Noya sekali lagi, lalu layar ponselnya.
Dua dunia yang sama-sama menuntutnya.
terimakasih telah membuat cerita yang hebat👍👍
aku seneng banget akhirnya irgi dan eva menjadi sepasang kekasih semoga cepat diresmikan ke jenjang yg lbh serius kalian kan udah cukup dlm segala hal ga perlu ditunda lg menikahlah kalian secepatnya
yaa Allah yaa Allah aku yang ikutan baper maaas 😄😄
tapi hidup harus tetap dijalani.
semangat mas pur..
gusti Alloh ora sare. kejujuran pasti ada balasannya
bgm mas pur.. boleh😄😄