NovelToon NovelToon
Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Barat
Popularitas:213.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rudi Hendrik

Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.

Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.

Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.

Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Malam Pemisah

Malam menyelimuti desa. Semuanya terlelap di dalam buaian sang malam yang menyajikan berbagai aneka keindahan bunga-bunga alam mimpi. Dinginnya yang bernama udara, mengunci sendi-sendi rasa ingin bangkit, meringkuk terasa lebih nyaman. Dan kehangatan pelukan sang pendamping hidup menjadi selimut terbaik di malam itu.

Beberapa anak buah Ki Lurah yang bertugas menjaga keamanan malam, tampak malas-malasan di gardu ronda. Untuk mengusir rasa kantuk yang menyengsarakan kelopak mata, mereka isi kesepian dengan mengobral berbagai cerita lucu yang tidak jarang menyerempet cerita cabul.

Anak-anak desa yang sudah tidak beribu bapak lagi, terlelap nyenyak di dalam selimut dingin dengan dongengan tembang-tembang sang nyamuk.

Tanpa mereka sadari, di dalam kegelapan tidur itu telah mengancam sesuatu yang tidak akan pernah mereka harapkan sebelumnya. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di detik dan menit berikutnya di malam itu.

Di dalam kegelapan yang terlihat damai membelai, terdapat mata-mata setan siap menusuk saraf-saraf kehidupan di desa itu. Aroma maut yang mengambang tidak membuat penduduk merasa sedang berada di ambang maut. Setan telah bertengger di setiap sudut desa.

Jleg!

Tiba-tiba, mereka yang asik di pos ronda dikejutkan oleh melompatnya seseorang di tengah-tengah mereka.

Crass! Crass! Set!

Satu logam panjang dan tajam berkelebat sangat cepat menebas dua leher dan merobek dada orang terakhir. Tiga nyawa anak buah Ki Lurah melayang dalam satu waktu.

Saat yang bersamaan, dari berbagai tempat kegelapan berlesatan sosok-sosok tubuh ke segala penjuru desa. Jumlah mereka banyak.

Brak!

Satu orang menerjang satu pintu rumah penduduk. Pintu itu hancur berantakan, membuat penghuninya melompat terkejut, seolah dibangunkan dari kematian.

Crass! Crass!

Kepala sepasang suami isteri dalam rumah pun harus jatuh ke pembaringan setelah dibabat tanpa ampun oleh tamu tak diharapkan itu.

Lelaki sadis itu langsung membongkar tempat pakaian mencari barang berharga. Setelah dapat, langsung pergi mencari sasaran lainnya.

Brak!

Pintu rumah penduduk lain didobrak hancur, mengejutkan.

Crass! Crass!

Tanpa jeritan kematian lagi, sepasang suami isteri tewas dengan leher putus rata. Uang dijarah dan anak perempuannya yang menangisi kematian orang tuanya, dipanggul pergi.

“Keparaaat!” teriak pemilik rumah yang lain kepada perampok yang masuk.

Tang! Jrub! Crass!

Demikianlah bunyi bahasanya. Dengan mudahnya si perampok menangkis, lalu menusuk perut pemilik rumah, kemudian memenggalnya.

“Ayah! Ibuuuu…!” jerit kedua anaknya, laki-laki dan perempuan.

Buk!

Si perampok menendang keras perut anak lelaki dan menyambar pergi si anak perempuan yang berusia tanggung.

“Rampok….! Ram …. Akh!”

Teriakan seorang warga pun harus putus oleh tajamnya sebilah golok perampok.

“Kebakaran…! Kebakaran…!” teriak warga di sudut lain yang rumahnya dibakar perampok.

Kekacauan, jeritan dan pembunuhan terjadi nyaris di setiap sisi desa.

Crass! Crass! Set! Bret!

“Akh…! Aaa…! Aukh…!”

Setiap manusia yang bukan gadis, terancam dibunuh. Para perampok dan pembunuh ini hanya mengincar dua sasaran, harta benda dan anak gadis. Bahkan anak gadis masih bau kencur pun mereka culik pergi. Pola para perampok itu adalah setelah mendapatkan dua hal tersebut, mereka pun akan pergi meninggalkan desa.

Di saat salah satu perampok penyerang desa hendak pergi dengan harta jarahan dan seorang anak gadis, tiba-tiba dari kegelapan berkelebat sesosok tubuh menabraknya.

Bak! Babak!

Perampok pemanggul anak gadis itu terjerembab setelah tiga tendangan beruntun menghajar tubuhnya. Anak gadis yang turut jatuh bersama, buru-buru bangun dan berlari pergi ketakutan. Perampok segera fokus kepada penyerangnya.

Tidak jauh darinya telah berdiri seorang lelaki berkumis 40 tahunan berpakaian biru gelap. Orang itu tidak lain adalah Gujara.

Tanpa komunikasi kata lagi, perampok langsung menyerang Gujara. Ternyata anggota perampok itu memiliki kepandaian tarung yang baik. Namun, Gujara adalah murid seorang tokoh sakti yang terkenal kesaktiannya. Maka meski demikian, perampok dapat dijatuhkan dalam beberapa gebrakan saja.

Perampok segera bangun. Kali ini dia lebih serius. Terbukti satu sabetan goloknya begitu cepat. Tak dapat mengelak, Gujara menahan mata golok dengan selipan dua jari ampuhnya. Saling tekan pun terjadi. Perampok pun kerahkan tenaga dalam.

Ting!

Namun, tenaga dalam Gujara jauh lebih unggul hingga kedua jepitan jarinya mematahkan mata pedang.

Kondisi kekacauan yang luas, membuat Gujara harus segera melumpuhkan perampok yang satu ini. Maka dalam serangan berikutnya, Gujara mengerahkan jurus Tapak Gempur Gunung. Maka dalam dua hantaman tapak tangan saja, tulang dada si perampok telah remuk. Nyawanya pun melayang.

Seorang perampok lain yang sudah mendapatkan harta dan seorang gadis dalam panggulannya, terpaksa berhenti berlari ketika melihat temannya tumbang di tangan seseorang. Gadis yang merontah dalam panggulannya ditotok lalu diamankan di bawah pohon beserta harta jarahannya. Si perampok kemudian berkelebat menyerang Gujara dari arah samping.

Gujara yang sudah sempat melihat kedatangan musuh lain, sigap mengelak. Gujara serang balik dengan jurus Tapak Gempur Gunung, tapi rupanya anggota rampok yang satu ini lebih tangguh dari yang pertama.

Sementara itu di tempat lain, masih di dalam desa itu.

Kusuma Dewi masih menatap awang-awang, dia tidak bisa pejamkan mata. Ingin rasanya ia menangis kembali. Jelasnya dia sangat menyesal, tapi kerinduan memenuhi hati dan benaknya, padahal ia berpisah dengan Joko Tenang baru kurang dari setengah hari.

“Walau hanya bisa memandangmu,” ucap Kusuma lirih. “Walaupun hanya bisa memimpikanmu. Aku pasti menunggumu, Joko.”

Kata-kata itulah yang Kusuma ucapkan tadi siang kepada Joko.

“Berisik!” hardik Limarsih tanpa membuka matanya.

Sang kakak yang juga berwajah jelita itu bergerak memunggungi tubuh Kusuma sambil satu tangannya diletakkan menutupi telinganya. Gerakannya membuat ranjang kayu reot itu berderik kencang.

Kusuma hanya melirik memandang kakaknya yang berbaring di sisi kiri. Selanjutnya dia kembali menerawang ke atas, memandang langit-langit gubuknya yang sudah berlubang di beberapa sisi.

“Sepertinya kau marah kepadaku!” tuding Kusuma tanpa mengalihkan pandangannya.

“Aku marah karena kau berisik!” ketus Limarsih, tanpa membuka matanya dan tetap seperti itu.

“Tidak, kau marah setelah tahu cerita aku dan Joko tadi siang!” tandas Kusuma.

Limarsih diam, tapi sepasang matanya membuka. Gadis itu lalu bangun, membuat ranjang yang mereka tiduri berderit kencang, goyangan keempat kaki ranjang seolah ingin roboh. Limarsih duduk bersila menghadap tubuh adiknya dan menatap wajah sedih itu.

Cahaya dian yang tergantung masih bisa memperlihatkan sepasang mata Limarsi yang merah. Gadis ini memang sempat tidur sejenak, setelah berjuang untuk tidur. Pikiran Limarsih juga kacau mendengar cerita adiknya dan anak Ki Lurah, Curaina, tentang peristiwa di sungai tadi siang.

“Aku sudah tahu sejak awal bahwa kau pasti jatuh cinta dengan Joko. Tapi kau benar-benar bodoh!” kata Limarsih agak emosi.

“Maksudmu?” tanya Kusuma lalu memandang wajah serius kakaknya.

“Jika kau sudah tahu Joko adalah lelaki yang tidak bisa disentuh oleh perempuan, lalu kenapa kau masih menyatakan cinta? Bagaimana bisa menjalin asmara dengan cara seperti itu? Adalah omong kosong jika kau mengatakan walau  hanya bisa memandangnya, walau hanya bisa memimpikannya!” kata Limarsih dengan nada tinggi.

“Kau marah karena kau cemburu!” tuding Kusuma lalu bergerak dari terlentang ke posisi miring, memunggungi kakaknya.

“Kalian berdua!” tiba-tiba seseorang memanggil.

Limarsih seketika menoleh memandang ke dipan bambu beralas tikar lusuh di dekat pintu dapur. Di dipan kecil itu terbaring seorang wanita agak tua berbantalkan gulungan kain. Dia hanya mengenakan kain sebatas dada atas. Itu adalah ibu dari Limarsih dan Kusuma Dewi.

“Apa yang kalian ributkan?” tanya si ibu yang tidurnya terganggu oleh suara Limarsih yang keras. “Ini sudah larut.”

Tiba-tiba….

Brakkr!

Ketiga wanita penghuni rumah gubuk usang itu terkejut bukan alang kepalang, ketika pintu rumah yang terpalang kayu hancur oleh hantaman sesuatu.

Seketika lamunan Kusuma Dewi buyar dan langsung menengok ke arah pintu. Limarsih sudah berdiri di sisi ranjang. Ibu  mereka pun terduduk dengan wajah ketakutan.

Di ambang pintu kini berdiri seorang lelaki sangar bergolok tak dikenal. Seringainya menakutkan ketika mendapati wajah Limarsih dan Kusuma Dewi.

“Hahaha! Ternyata di dalam rumah jelek seperti ini menyimpan dua dewi jelita!” ucap lelaki berusia kepala tiga itu, didahului dengan tawa kesenangan. Dia bernama Kudaraksa.

Melihat kondisi rumah yang memang miskin, Kudaraksa pastikan tidak ada harta berharga di rumah itu, karenanya lelaki yang merupakan anggota Perampok Raja Gagah itu langsung mendatangi Limarsih. Tangan kirinya yang kekar dan kosong, seenaknya saja langsung menyambar pinggang Limarsih.

“Lepaskan!” pekik Limarsih sambil memukuli wajah si penjahat, tapi pukulannya laksana hantaman gumpalan kapas bagi Kudaraksa.

“Mampus kau!” pekik Kusuma Dewi yang melambung dengan ayunan batang bambu ke arah Kudaraksa.

Buk!

“Hukh!”

Namun, kaki si perampok lebih panjang dan cepat menghajar perut Kusuma di udara. Tubuh gadis itu terlempar keras menghantam rak pakaian. Kusuma mengeluh kesakitan, perut dan isinya begitu sakit.

Limarsi terus merontah berusaha melepaskan diri dari pelukan tangan kiri Kudaraksa.

“Lepaskan anakku!” teriak ibu kedua gadis sambil datang dengan tangan mengangkat pisau dapur.

Crass!

“Ibuuuu!” jerit Limarsih dan Kusuma Dewi bersamaan, seiring tumbangnya ibu mereka dengan tubuh depan robek panjang mengerikan oleh tebasan golok si perampok.

Kudaraksa lalu menotok tubuh Limarsih hingga berhenti merontah.

“Lepaskan, Biadab! Akan kubunuh kau!” teriak Limarsih tanpa bisa bergerak, suaranya tidak ikut ditotok.

Sambil menahan sakit, Kusuma bangkit dan melompat menerkam Kudaraksa. Lelaki itu hanya bergeser lalu dorong lututnya ke tubuh Kusuma. Gadis berpakaian biru lusuh itu terdorong jatuh menghantam pinggiran ranjang kayunya.

Setelah itu, Kudaraksa menyarungkan goloknya yang berlumur darah di pinggang. Dia menotok pula Kusuma Dewi.

“Hahaha!” tawa Kudaraksa penuh gembira sambil memanggul kedua gadis cantik itu.

“Lepaskan, Keparat! Lepaskan!” teriak Limarsih dan Kusuma Dewi tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Prak!

Satu gerakan kaki menghantam dian minyak yang menggantung hingga lepas dari gantungannya dan menghantam tumpukan pakaian lusuh di rak pakaian. Api segera berkobar. Dengan jumawanya, Kudaraksa melangkah ke luar.

Setibanya di luar gubuk yang gelap, Kudaraksa melihat beberapa rumah terdekat sudah terbakar oleh api sebab ulah rekan-rekannya yang lain.

“Hei!”

Tiba-tiba satu teriakan keras menghentikan langkah Kudaraksa yang tampak tidak kerepotan memanggul dua tubuh.

Dari dalam kegelapan, seorang lelaki tanggung berlari kencang sambil membawa sebatang balok kayu.

Kudaraksa tidak bergerak dari tempat berdirinya, menunggu serangan orang yang datang dari kegelapan.

“Heaaat!” pekik lelaki yang adalah seorang remaja, tubuhnya melompat sambil ayunkan balok mengincar kepala Kudaraksa.

Set!

“Biraaaa!” jerit Kusuma Dewi yang bisa melihat apa yang terjadi.

Jeritan adiknya membuat Limarsih tegang dalam ketertotokannya.

“Apa yang terjadi?!” tanya Limarsih berteriak.

“Dia… dia memotong kepala Bira!” jawab Kusuma gemetar.

Dengan hanya sekali gerak mencabut golok sekaligus menebas, Kudaraksa dengan mudah menebas leher pemuda tanggung yang menyerangnya,  yang tidak lain adalah Bira, sahabat Limarsih dan Kusuma. Tubuh, kepala dan balok kayu Bira kini tergeletak diam di tanah, hanya darah yang terus mengalir keluar dari leher yang putus.

“Setaaaan! Akan kubunuh kau, Biadab! Lepaskan aku! Kita bertaruh nyawa!” teriak Limarsih.

“Hahaha! Nanti kita beradu nyawa di kasur saja, hahaha!” kata Kudaraksa setelah menyarungkan kembali goloknya.

“Seraaang…!”

Tiba-tiba terdengar teriakan beberapa orang.

Sekelompok pemuda tanggung muncul membawa senjata kayu dan batu, berlari ke arah posisi Kudaraksa. Kelompok pemuda itu dipimpin oleh Parsuto.

Sezz! Blarr!

Kudaraksa melesatkan satu sinar merah berekor dan menghantam tanah di depan Parsuto dan keempat temannya, Kumisan, Kulajang, Widarya, dan Dudut.

Ledakan beberapa langkah di depan mereka membuat lima sekawan itu berpentalan. Bias tenaganya membuat mereka terluka cukup serius dan tidak bisa bangkit lagi, meski tidak sampai tewas.

“Parsutooo!” pekik Limarsih histeris saat menyaksikan sahabat-sahabatnya berpentalan dan terkapar dalam kondisi serius.

“Dasar cecurut kampung!” rutuk Kudaraksa lalu berlari pergi masuk ke dalam kegelapan meninggalkan area itu. Ia merasa senang sekali karena mendapat dua gadis belia yang cantik-cantik.

Parsuto berusaha menarik tubuhnya yang berlumuran darah untuk bangkit. Rasa sakit yang begitu perih dan menusuk ditahannya habis-habisan.

“Par,” ucap Kumisan dengan tatap lemah menatap api yang membakar rumah penduduk. Wajahnya sudah tidak bisa ia gerakkan. Bibirnya gemetar menahan sakit dan darah terus merembes keluar melalui mulut dan hidungnya.

Kondisi parah yang tidak jauh berbeda dialami oleh Kulajang, Widarya dan Dudut. Ketiganya juga terkapar.

“Limarsiiih! Dewiii!” teriak Parsuto menangis dengan mulut penuh darah. Ia akhirnya bisa berdiri dengan kaki yang bengkok dan bergetar.

Bruk!

Parsuto ambruk ke depan, tenaga kedua kakinya sudah tidak mampu lagi bertahan.

“Kenapa kau, Par?!” tanya seseorang dengan nada terkejut.

Pemuda tanggung yang tidak lain adalah Joko Tingkir, muncul bersama Gunjar.

“Bira, Bira ma... ti,” ucap Parsuto lemah tanpa bisa mengangkat wajahnya untuk melihat Joko Tingkir dan Gunjar.

“Mana Bira? Mana Bira?” tanya Gunjar sambil mencari dengan matanya. Dan ketika Gunjar menemukan sebutir kepala yang tergeletak bebas di tanah, maka remaja tanggung itu pun berteriak histeris, “ Biraaa!”

Gunjar berlari ke depan wajah Bira yang sepasang matanya mendelik tanpa cahaya. Gunjar kemudian meraih kepala tanpa tubuh itu.

“Biraaa...!” teriak Gunjar sekuat-kuatnya seraya memeluk kepala sahabatnya. Ia tidak peduli darah mengotori pakaian dan tubuhnya.

Joko Tingkir tidak bisa berkata apa-apa menyaksikan kengerian dan kondisi para sahabat barunya itu.

Sementara itu di sisi lain. Gujara melesat cepat mengejar lawannya. Karena merasa tidak sanggup melawan Gujara, anak buah Pangeran Bejat memilih kabur dan menyusul teman-temannya yang sudah pergi dengan membawa harta rampokan dan gadis-gadis culikan.

Namun, karena luka yang dideritanya akibat bentrokan tenaga dalam dengan Gujara, membuat pelarian penjahat tersebut tidak maksimal. Ujung-ujungnya, Gujara yang mengejar sampai ke luar desa, bisa menyusul.

Gujara melompat ke sebuah pohon sambil melesatkan selarik sinar putih yang meledakkan sebatang besar pohon waru di depan anggota Perampok Raja Gagah yang dikejar. Lelaki jahat itu terpaksa berhenti karena terkejut. Saat itulah Gujara datang menyerang dengan kedua telapak tangan yang sudah berubah membara laksana bara api. Dengan gerakan yang masih gesit, lelaki itu mengelaki semua serangan, tidak berani menyentuh atau menangkis dua telapak Gujara yang panas. Si perampok akhirnya memilih melompat mundur menjauh.

Sess!  Ses...!

Kembali si perampok melepaskan sinar-sinar merah kecil secara beruntun, tanpa peduli bahwa hal itu menguras tenaga dalamnya dengan cepat.

“Hah!” kejut anggota perampok itu, karena dengan mudahnya telapak bara Gujara menelan sinar-sinar merah miliknya.

Hingga akhirnya Gujara merangsek maju dengan cepat dan serangan kakinya mengincar kuda-kuda si perampok.

Baks!

“Akh...!”

Si perampok yang melompat menghindari serangan kaki Gujara, harus menjerit keras saat telapak bara Gujara berhasil mencekal pergelangan kaki kirinya. Lelaki itu ditarik jatuh ke bumi.

Si perampok cepat bangkit, tapi ia harus terkejut, ternyata tulang kakinya di pergelangan sudah hancur menjadi lunak. Ia pun kembali jatuh.

Tuk tuk!

Dengan sepasang telapak tangan yang sudah tidak membara, Gujara bergerak cepat menotok si perampok. Tangan kanan Gujara kemudian mencengkeram batang leher si perampok dan memaksanya berdiri dengan satu kaki kanan.

“Di mana tempat kalian bersarang?” tanya Gujara.

Anggota perampok itu hanya menatap tajam musuhnya. Gujara agak terkejut saat melihat cela bibir lelaki itu merembeskan darah segar. Setelah itu, kepala si perampok jatuh terkulai menunduk, seiring seluruh anggota tubuhnya menjadi lemas tidak bertenaga lagi. Dia telah mati bunuh diri.

“Heh!” Gujara hanya menghempaskan napas kekesalan mendapati kondisi itu. Ia jatuhkan begitu saja mayat lawannya.

Gujara lalu memandang ke sekelilingnya, tapi yang ia dapati hanya kegelapan malam dan kobaran api yang melahap rumah penduduk di kejauhan.

Gujara kemudian memutuskan melesat ke selatan. Mungkin dengan begitu ia bisa menemukan jejak atau seorang anggota perampok yang lain. Namun, selama melesat ke sana dan ke mari, pendekar itu tidak menemukan seorang pun dari anggota Perampok Raja Gagah.

“Cepat sekali mereka pergi dan menghilang,” ucapnya kesal.

Gujara akhirnya memutuskan untuk melesat kembali ke desa. Banyak korban dari warga yang memerlukan pertolongan.

Di dalam penerangan si jago merah yang panas, air mata menjadi mata air yang deras di malam itu. Air darah pun menjadi tumpahan akhir dari kematian para penduduk yang tidak bersalah.

Tanah desa yang subur itu mau tidak mau harus menyerap genangan darah di mana-mana. Gelimpangan mayat berserakan tidak teratur. Masih ada pula orang-orang yang selamat yang hanya bisa menangisi mereka yang dibunuh. (RH)

1
Muhamad Yasri
Luar biasa
Ling Kun menghilang
wkwkwk jantungnya Joko sabar Joko😂
Om Rudi: terima kasih
total 3 replies
Ling Kun menghilang
kasian siapa yang perduli nya itu untuk minta tolong
Hadijah Nadia
👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌹
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah joko yg menyelamatkan kusuma ya. keren
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
waduh kusuma dewi beraksi. ngga bahaya ta buat dia
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wkwkwk kebayang adegannya kaya apa😂😂
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
anak manusia masa anak setan ih
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
berani juga si parsuto sm centeng ki lurah.. awas hati2 nanti kena hajar kau
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah tdi beli monyet,sekarang lagi nawar burung. mau buat kebun binatang ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
emangnya apa yg lagi di cari sih joko..
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
jaman dulu ki lurah punya tukang pukul.. kok sekarang ngga ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
buat apa joko membeli monyet..?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sungguh kasihan siapa yang kelak dapat menumpas Rombongan biaadab ini?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sadeees ini rombongan raja gagah
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
gerombolan ini sangat licin susah dibasmi dan ditangkap ya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
Hmm nama pangeran yang Unic
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
ini pasti gerombolan perampook
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah hanyut kan bolanya. mainnya jangan di pinggir sungai ya..jd ngga masuk ke kali tuh bola
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah..kena temennya kan bolanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!