NovelToon NovelToon
Membawa Bayi Kembar Sang CEO

Membawa Bayi Kembar Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / Single Mom
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Pena cantik

Hidup Anaya tidak pernah beruntung, sejak kecil ia selalu di jauhi teman-temannya, dirundung, di abaikan keluarganya. kekacauan hidup itu malah disempurnakan saat dia di jual kepada seorang CEO dingin dan dinyatakan hamil setelah melakukan malam panas bersama sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah peninggalan neneknya yang sekarang di tempati oleh bude nya itu memiliki dia bagian.

Rumahnya terlihat satu namun didalamnya terdapat dua bagian terpisah. Satu dihuni oleh Bu Ningsih dan satunya kosong namun selalu dibersihkan sehingga ruangan itu sangat terawat dan bersih.

Bu Ningsih membukakan pintu untuk Farah. "Duduk disini dulu ya, bude mau ke dapur sebentar." ucap Bu Ningsih tersenyum.

"Terimakasih bude," Jawab Farah terseyum.

Farah duduk di kursi kayu yang mengeluarkan bunyi derit lembut ketika ia bersandar. Farah memejamkan matanya saat punggungnya menyandar di kursi. Tubuhnya terasa ringan namun juga nyeri di setiap Sendi.

Ia sangat bersyukur akhirnya bisa menemukan kampung halaman neneknya dan bertemu dengan bude nya yang sangat baik.

Bayi kembar tertidur pulas dalam pelukannya, nafasnya teratur. Farah membelai lembut wajah mereka.

"Maafkan mama ya, nak. Kalian harus melakukan perjalanan sejauh ini." gumam Farah.

bude Ningsih membawa segelas air hangat untuk Farah. "Ini di minum dulu, ndok." ucapnya seraya mengulurkan air minum itu.

"Terimakasih bude,"

Farah meneguk air tersebut hingga tandas. Ia benar-benar haus karna selama perjalanan ia tidak ada minum sama sekali karna uangnya tidak cukup.

"Kamu istirahat dulu disini ya, bude mau siapin kamar belakang. Kamu kelihatan sangat kelelahan," ujarnya lembut, menatap wajah Farah yang tampak pucat.

"Tidak perlu repot-repot bude. Aku bisa membersihkan nya sendiri nanti. Saya cuma... Ingin bayi-bayi saya aman." suaranya hampir tak terdengar, namun cukup untuk Bu Ningsih merasakan luka besar dari kata-kata itu.

Bu Ningsih mengusap lembut bahunya. "Tidak apa-apa, lagian hanya menyiapkan kamar saja. Karna kamar itu juga selalu bude bersihkan Setiap hari."

Lalu Bu Ningsih menatap kedua bayi lucu itu. "Bayi-bayi ini cantik dan tampan sekali, ndok. Sangat mirip dengan mu. Apa mereka ini kembar?" tanya Bu Ningsih.

Farah hanya mengangguk saja, sambil tersenyum ke arah bayinya.

Lalu Bu Ningsih menatapnya dengan penuh tanya. "Tapi ndok. Kamu datang sendirian? Dimana suamimu? kenapa tidak ikut bersama mu?" tanya Bu Ningsih.

Pertanyaan itu membuat Farah terdiam lama. Tatapan kosong menatap ke arah luar jendela.

"Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, bude." jawabnya lirih dan berat.

"Saya hanya ingin hidup tenang bersama anak-anak saya. Jauh dari semua orang."

Bu Ningsih menatapnya lama, ia tak lagi bertanya. Ia hanya mengangguk pelan lalu menepuk pundak Farah.

"Kalau begitu disini tempat mu, ndok. Kamu bisa tinggal disini selama yang kamu mau. Kamu aman disini."

Air mata Farah jatuh begitu saja, ia menunduk menatap bayinya yang tertidur pulas.

~

Sementara itu di sisi kota, Jackson masih belum bisa tenang. sudah berjam-jam mereka mencari Farah namun tak menemukan keberadaan nya.

Ia berdiri didepan mobil dengan wajah kusut. ponselnya terus berdering, laporan satu persatu dari anak buahnya.

"Bos, kami sudah cek terminal utama dan stasiun kecil. namun kamu tidak menemukan jejak nona Farah."

Jackson mengepalkan tangannya, "Cari terus, dia tidak mungkin pergi jauh dengan kondisi seperti itu, apa lagi membawa dia bayi bersama nya."

langit sudah mulai gelap. Jackson menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. ia memijat pelipisnya yang berdenyut.

"Sebenarnya kemana dia pergi? Kenapa sudah kali menemukan nya?"

Sudah dua kali Farah pergi darinya, dan tidak mudah menemukan keberadaan wanita itu. Ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bertemu kembali dengannya.

Di dadanya ada rasa sesal yang menyesakkan. "Kenapa kamu pergi, Farah? Apa aku membuat mu merasa tidak aman? Atau.... Kamu memang ingin pergi selamanya dari hidupku?" gumamnya pelan disela-sela rasa prustasi.

Kali ini, untuk pertama kalinya Jackson merasa kehilangan yang mendalam. Bukan karna amarah tapi karna ketakutan akan sesuatu yang tak bisa ia perbaiki lagi.

~

Di desa tempat Farah bersembunyi, lampu minyak menyala redup di ruangan. Farah menatap kamar sederhana itu dengan mata berkaca-kaca.

Disudut kamar ada lemari tua peninggalan neneknya, dan di dinding tergantung foto berukuran besar terpajang disana. Seorang wanita paruh baya tersenyum lembut mengenakan kebaya sederhana.

Farah menoleh ke arah bude Ningsih, "Bude... Ini foto nenek?" tanya farah pelan, jemarinya menyentuh bingkai foto itu.

"Iya ndok, ini foto almarhum nenek Sumi, ibu bude dan ibumu. Dulu beliau orangnya baik sekali, suka menolong siapapun. rumah ini dulu juga sering ditempati oleh orang yang kesulitan." jawab Bude Ningsih.

Farah tersenyum lirih, walaupun ia sampai didesa nenek. Tapi dia tidak dapat bertemu dengan neneknya.

bude menatapnya, "Dan rumah ini juga sudah lama kosong sejak nenek meninggal. Bude menempati rumah sebelah. Tapi bude tetap bersihkan kamar-kamarnya. Entah kenapa bude merasa rumah ini akan kembali punya penghuninya suatu hari nanti. Dan ternyata itu kamu."

Farah tersenyum lembut, "Mungkin karna nenek tahu, Farah akan datang."

Mereka tertawa kecil. Ada kehangatan yang menyelimuti, seolah sedikit luka mulai terjahit perlahan.

Bayi-bayi Farah menggeliat dalam tidurnya. Bu Ningsih mengusap lembut kepalanya memberikan kenyamanan agar bayinya kembali tenang.

"Astaga... Mereka lucu-lucu sekali." gemas Bu Ningsih.

"Mereka adalah alasan kenapa aku masih bisa kuat sampai sekarang, bude."

"Yasudah kamu istirahat dulu, ndok. Disini kamu ngak perlu takut lagi." ujar Bu Ningsih.

"Terimakasih bude,"

Farah terseyum dan bergumam dalam hati. "Mungkin takdir menuntunku ke sini... Supaya aku bisa mulai dari awal."

1
Ma Em
Mungkin itu emang cicit ibu .
Ma Em
Angkasa anak baik dan berjanji akan melindungi ibu dan adiknya .
Ma Em
Semoga Farah selalu bahagia bersama sikembar dan usaha kue nya semakin sukses , Jackson sdh tiga tahun tdk bisa menemukan anak2 nya biar saja Jackson merasakan penyesalannya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!