Pria, 30 tahun. keturunan gelap dari pewaris utama klan, terpaksa menikah untuk memangkas opini keluarga tentang kehidupannya dan demi kesepakatan-kesepakatan lainnya demi menjaga kehormatan klan.
"Bagian mana dari tubuhku yang membuatmu tak pernah berselera untuk menyentuhnya," protes Dorrota sambil menanggalkan seluruh pakaiannya.
"Aku bukannya tak berselera, tapi..."
"Jadi benar kabar yang kudengar, kamu memiliki wanita lain. Ah, bukan! tapi Pria lain!"
"Aku tidak peduli apapun yang kamu pikirkan, kesepakatan tetaplah kesepakatan. Ingat batasanmu!" ucap tegas Math Male meninggalkan Dorrota yang terisak dalam kemarahan dan kekecewaannya.
mampukah Dorrota mengambil hati Math Male?
ataukah Math Male akan menemukan hati yang lainnya?
.......
Hallo reader, karya ini hanya berdasarkan imajinasi author sepenuhnya. jika ada kesamaan nama tokoh, latar atau kejadian, hanya merupakan kebetulan yang tidak disengaja.
selamat membaca,
Salam, author Yoshua,
Semoga Semua Bebahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 11
Usstica memang sangat menyukai bunga, hampir setiap sore, ia gunakan kebebasannya berkeliaran untuk sekedar berjalan-jalan menikmati bunga liar yang tumbuh subur di ujung desa, sebelum perbukitan.
Sampai suatu ketika, di beberapa bulan lalu, saat ia tengah asyik menikmati segarnya angin dan harumnya wangi bunga, tiba-tiba seekor babi hutan muncul entah dari mana, mengejar hendak menyerang Usstica. Beruntung, Miltus sedang melewati areal itu, lalu berhasil memanah si babi hutan hanya dengan satu anak panah, dan berhasil menyelamatkan Usstica.
Dari pertemuan itulah, keduanya semakin dekat dan saling jatuh cinta, setelah Usstica semakin mengenal Miltus yang begitu tegas membela rakyat miskin dan orang-orang buangan. Begitu pula dengan Miltus yang tak mungkin melewatkan begitu saja kecantikan, kecerdasan dan kebaikan hati Usstica.
"Oh? Mereka yang tadi bertemu denganku di tengah desa!" ujar Usstica saat melihat Liricca, adik Mesh Mayya terkapar lemah di sebuah pembaringan di ruang medis sederhana, di salah satu bangunan dari kayu di areal camp itu.
"Nona mengenalnya?" sahut anak buah Miltus.
"Hmm, iya. Dimana keluarganya?"
"Kakaknya sedang membersihkan baju sang adik yang penuh lumuran darah, sedangkan sang ibu sedang membantu di dapur umum."
"Jadi mereka yang kamu cari tadi?" sahut Miltus.
"Hmm, iya. Aku akan pulang sebentar untuk mengambil beberapa pakaian untuk anak ini."
"Baiklah, akan aku antar."
"Tidak! Kamu masih terluka, aku bisa pulang sendiri."
Usstica melesat cepat menuju istana, namun dalam perjalanannya, ia kembali bertemu dengan Redrik, sang paman, yang tentunya masih marah dengan apa yang terjadi tadi.
"Paman, aku buru-buru harus pulang. Jangan membuat keributan denganku, atau aku akan membuka mulut tentang rahasia paman pada kakek!" ucap tegas Usstica.
"Dasar anak kecil licik!! Jangan kamu kira aku takut dengan gertakanmu! Asal kamu tahu, aku tidak segan mengotori tanganku demi menyelamatkan kehormatan klan!" Redrik membalas dengan gertakan.
Namun, tiba-tiba Usstica merasakan pusing dan mual yang sangat hebat, dan membuatnya melemah. Meskipun sangat marah pada ponakannya itu, Redrik tak bisa membiarkan Usticca terbaring di jalanan. Redrik membawa pulang Usstica dengan kudanya.
"Periksa bocah nakal ini! Entah dia keracunan apa!" perintah Redrik pada tabib kepercayaan istana.
Sang tabib sedang memeriksa Usstica dengan seksama, hati-hati dan teliti.
.
.
.
Sementara itu Math yang dihukum kurungan kamar setelah persidangan oleh sang kakek, berdiri menatap keluar jendela, menyaksikan para perempuan di seberang halaman yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
"Dasar orang tua kolot! Kenapa harus memaksa menikah? Aku tidak ingin menikah!" gumam Math geram lalu menghela nafas. " Dimana si berisik, tak dengarkah kabar tentangku?"
Math melempar tubuhnya ke atas ranjang besar super king di kamar lama, kamar yang ditempatinya setiap menginap di istana besar milik sang kakek. Math menatap langit-langit yang masih sama sejak ia kecil. Di sana terlukiskan bintang-bintang kecil dan di sudutnya ada lukisan purnama.
Math menghela nafas, "Purnama itu, tak pernah bersinar untukku. Aku tidak pernah menikmati kapan kamu terbit, dan tidak pernah tahu kapan kamu tenggelam lagi," monolog Math lagi lalu memiringkan badannya menghadap cermin besar yang berdiri tepat di samping ranjangnya.
Dari pantulan cermin, ia melihat bayangan sang kakek yang entah sejak kapan sudah berdiri diambang pintu, mengawasinya. Namun Math berpura-pura memejamkan mata setelahnya.
"Darah ayahmu sepertinya mengalir deras di dalam tubuhmu," ucap Mattew berjalan mendekat ke arah jendela, lalu duduk di sebuah kursi favorit Math.
Tak ada sahutan dari mulut Math. Hanya helaan nafas dan gertakan gigi yang tertahan, tak berani melawan jika berhadapan. Bukan tak berani, tapi Math memilih diam dan tidak peduli.
"Ayahmu masih setia mencarinya, jika memang ada jalan untuk bertemu, suatu saat akan ia bawa, hanya saja....."
"Dia sudah mati, tak perlu dibicarakan lagi!" ucap Math memotong ucapan sang kakek.
"Math, tak bisakah kamu melanjutkan apa yang sudah kakek kerjakan? Bermurah hatilah pada kakekmu yang semakin tua ini."
"Tidak! Aku punya hidupku sendiri, jangan mengaturku! Aku juga punya uang dengan keringatku sendiri!"
"Hahahah... kamu benar-benar mewarisi darah ayahmu." Kesabaran Mattew tak pernah habis untuk cucunya yang satu ini. "Baiklah, nikmati waktumu, kakek harap kamu bisa menjaga kehormatan ibu tirimu."
Mattew meninggalkan Math yang masih bergeming pada posisinya. Kakek tua itu pergi sambil menghela nafas beberapa kali. Sementara Math semakin kesal setelah menyadari beberapa fakta mengenai ibu tirinya.
Kallida begitu menyayangi Math seperti janjinya pada Taddeus. Ia tak pernah membiarkan Math merasa kekurangan kasih sayang. Senakal apapun Math, Kallida akan datang dan memeluk Math. Hal-hal itulah yang membuat Math pun segan dan tak bisa membiarkan ibu tirinya terancam oleh kekuasaan dan hinaan dari keluarga lain.
TOK! TOK! TOK!
Seseorang mengetuk pintu kamar Math. "Math? Bolehkan ibu masuk?" suara Kallida terdengar sayup-sayup dari pembaringan Math.
Math menghela nafas sambil mengatupkan rapat-rapat rahang-rahangnya. "Hmmm!!"
Kallida masuk perlahan, sesaat menatap tubuh sang putra tiri dengan penuh kasih sayang, lalu menghela nafas, dan berjalan mendekati Math yang masih terbaring menatap ibu tirinya dari pantulan cermin.
"Kamu kesal?" Kallida mengusap pelan kaki sang putra tiri. "Sejak kapan kakimu sepanjang ini?" suara Kallida mulai bergetar.
Math menghela nafas, "Bukankah kamu yang membesarkan ku?" ucap datar Math kembali memejamkan mata.
"Percayalah kakekmu, dia hanya bermaksud baik. Dia hanya ingin kamu memiliki tujuan hidup. Jangan bermain-main terus setiap hari. Jika kamu tidak menikah, bagaimana adikmu bisa melewati batasnya."
"Jika si berisik itu ingin menikah, lakukan saja! Kenapa aku harus juga menikah!" Math bangun, lalu duduk menghadap Kallida.
"Tidak semudah itu di keluarga ini, Math. Apa yang akan dikatakan orang-orang jika seorang adik tiri perempuan, melewati sang kakak pewaris untuk menikah dengan pemuda lain? Hal terburuknya adalah, para tetua akan memaksamu menikahi adik tirimu. Kamu tahu itu kan?"
Math kembali menggerakkan gigi-giginya, ia terlihat semakin kesal. "Aturan konyol lagi!" Math mendengus dan memalingkan wajah.
"Itulah sebabnya, ibu berharap banyak padamu. Jadilah pemimpin, dan ubah semua aturan konyol itu. Lakukan apa yang tidak bisa ayahmu lakukan. Ibu percaya kamu bisa melakukannya, Math. Hmm?" pinta Kallida begitu sangat memohon.
"Iya! Bukankah tadi aku juga sudah menyetujuinya, Ibu!" ucap Math dengan nada masih kesal.
"Iya, ibu juga mendengarnya. Berjanjilah menjadi pria baik untuk klan ini, berjanjilah kamu akan menjadi pewaris selanjutnya."
"Pewaris? Apalagi yang ibu mau?"
"Ibu tidak menginginkan apapun, hanya berharap kamu bisa mengubah peraturan klan yang kamu bilang konyol itu," terang Kallida. "Percayalah Math, jika kamu berhasil menjadi pemimpin klan, banyak hal yang bisa kamu ubah dengan mudah."
"Aku tahu itu, ibu. Tapi ...."
"Sudah, jangan banyak berpikir. Ibu akan selalu berdiri di belakangmu untuk mendukungmu, seperti yang Jhonan lakukan."
"Lihatlah!! Gadis ini telah membawa aib bagi klan!! Hukum pancung! Atau nikahkan dengan saudaranya!" Teriak Redrik dihalaman utama istana, sambil melempar Usstica dengan kasar ke tanah.
Mendengar keributan itu, Math bersama Kallida abergegas keluar menuju halaman utama.
...****************...
To be continue...
Makasih juga buat bang yosh,keren novelnya, walaupun kadang2 bikin pengen demo wkwk 🤣 semangat terus bang,ditunggu karya2 selanjutnya 😄 jangan bikin yang sad ending Mulu bang hehe
tapi masih kurang sebenarnya... masih belum sebanding sama kejahatan yang dilakukan Kallida 😣