Berasal dari keluarga 'berada' tidak selamanya bahagia. Hal inilah yang dirasakan oleh Putri Bungsu keluarga Maharani yaitu Aila Maharani. Terlahir dari keluarga yang terkenal karena bakat bermusik mereka membuatnya terbebani.
Kebebasannya terhalang karena takut mencoreng nama baik keluarga dan juga sering dibandingi oleh publik dengan saudara nya Airis.
Suatu hari, kediaman keluarga Maharani didatangi seorang Tuan Muda dari keluarga Davidson yaitu Egi Davidson, dikenal suka bermain wanita, tapi nyatanya dia hanyalah pria dewasa yang masih polos.
Kedatangannya ditemani seorang sekretaris dengan tujuan melamar salah satu putri dari keluarga Maharani.
Secara mengejutkan Si Tuan Muda itu memilih Aila sebagai pasangannya..
Semua orang terkejut dengan hal ini, termasuk Aila...
Apa yang terjadi? Kenapa semua orang terkejut? Apa Aila akan memanfaatkan kesempatan ini untuk meraih kebebasan??
Penasaran cerita nya??
Mari ikuti kisah mereka di Our Secret Marriage
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giriri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner (2)
Didepannya sekarang Aila dihadapi deretan pakaian branded terkenal, sepatu yang berkilau, serta aksesoris yang berkelap kelip karena pantulan lampu diatasnya.
"Hm, kenapa kita disini." Tanya Aila.
Dia kebingungan dari awal mula mereka berhenti di basement mall yang merupakan anak perusahaan grup Davidson.
"Kita harus menyiapkan diri kalau ingin bertemu ayah dan ibuku. Aku ingin kita berdua lebih berkilau daripada mereka." Dengus Egi. Dia memanggil beberapa pegawai untuk menyarankan pakaian yang sesuai dengan mereka berdua.
Pfft..apa dia mau bersaing dengan ayahnya. Aila
Aila bukannya tidak terbiasa dengan pemandangan seperti ini, tapi dia memang tidak terlalu suka memakai pakaian berlebihan yang dibarengi dengan aksesoris berat.
Aila juga mengatakan referensi cara berpakaian nya pada pegawai yang melayani mereka. Sampai ada beberapa usulan untuk pakaian, sepatu dan aksesoris.
"Aku akan membantu mu..tolong temani dia ganti pakaian." Usul Egi
Dia berhenti dari kesibukannya sebentar hanya untuk membantu Aila menilai pakaian yang sesuai.
Di sofa tunggu, Egi sedang berbicara dengan Arya mengenai jadwal nya..
Kemudian tak lama, pegawai yang menemani Aila keluar dari ruang ganti.
"Oh kelihatannya sudah siap." Ucap Arya yang membuat Egi melihat ke arah tirai ganti.
Saat itu juga, tirai tersebut digeser oleh Aila dan menunjukkan penampilan dirinya yang menggunakan salah satu pakaian tadi.
"Bagaimana." Tanya Aila sambil menunjukkan seluruh sisi pakaiannya.
"Tidak, terlalu kuno. Ganti lagi."
Aila menurut dan mengganti lagi pakaiannya.
Kemudian..
"App.. itu terlalu terbuka. Ganti." Egi terkejut saat melihat Aila memakai pakaian dengan tali sejari di bahu dan bagian depannya sedikit menunjukkan bagian dada Aila.
Aila terus mengganti baju hingga dia mendengar kalau Egi setuju.
Ekhh..aku lelah
Ini sebabnya aku tidak terlalu suka membeli baju begini. Aila
Aila ditunjukkan 1 pakaian terakhir yaitu dress dengan panjang selutut dan bagian lengan menutup sampai pergelangan tangan. Bahan dari dress ini juga ringan dan sedikit menerawang jika tidak ada lapisan.
Dan Aila pikir kali ini pasti sudah cukup. Dia sudah tidak sanggup lagi memasang dan melepas pakaiannya.
"Yang ini terakhir. Bagaimana." Aila membuka tirai nya dan memperlihatkan pada Egi.
"...Menggemaskan sekali."
Gumaman Egi terdengar oleh Arya dan membuatnya terkejut, namun Aila tidak mendengar apa yang Egi katakan.
"Apa. Apa yang kamu bilang." Tanya Aila.
"Eh..ekheem, aku bilang itu bagus. Kami ambil ini."
"Hmm, tapi pakaianmu." Tanya Aila lagi.
"Sudah disiapkan. Kau nanti ambil ya." Perintah Egi pada Arya yang mana pria itu masih mencerna apa yang dia dengar.
Selanjutnya Egi membawa Aila mencoba berbagai sepatu yang cocok dengan dress nya serta aksesoris seperti anting dan kalung.
Selesai mencoba aksesoris, Egi membawa Aila ke salon yang ada di mall tersebut.
Aila mengerti kalau Egi sudah biasa ke tempat-tempat seperti ini bersama pacarnya, tapi Aila sendiri tidak terbiasa. Harus berdandan dan bertingkah lemah lembut dalam balutan dress.
Dia bukan kakaknya yang terbiasa dengan ini semua. Bahkan jika dia ke kampus Aila hanya memakai pelembab wajah sedikit bedak tabur dan lipbalm dengan sedikit lip cream agar terlihat cerah.
Penampilannya yang sederhana membuat Aila jarang memerlukan barang mewah seperti ini.
Tapi dengan perubahan kehidupannya yang sekarang, Aila harus berusaha beradaptasi karena dia sudah menikah.
Di salon ini, Aila didandani habis-habisan bahkan dia kesulitan bernapas karena orang-orang ini.
Memakan waktu hampir 30 menit, akhirnya Aila selesai didandani.
Egi menunggu di ruang tunggu sambil memainkan handphonenya. Tak lama kemudian Arya datang dan menyerahkan beberapa set jas yang siap dipakai oleh Egi.
"Tuan, istri anda sudah selesai kami dandani."
"Ohh sudah selesai, ku kira ini memakan waktu 2-3 jam seperti biasa." Ucap Egi sambil melihat jam tangannya.
"Hehe, itu karena istri anda tidak banyak mengeluh dan dia percaya pada kami 100%. Kulit istri anda juga masih mulus jadi bedaknya mudah untuk masuk."
"Begitu. Lalu mana di..."
Tak..tak..tak..tak
Bunyi hak sepatu yang bertemu dengan lantai salon tersebut dibarengi dengan Aila yang berjalan ke arah Egi.
Egi melihat penampilan Aila dengan mata terbelalak dan mulut sedikit terbuka.
Beruntungnya disitu ada Arya, jadi dia menyenggol bahu Egi agar tersadar.
"Ehmm apa kelihatan aneh. Aku..jarang terlihat begini bahkan ayah dan ibuku tidak pernah melihatku dengan penampilan ini."
Ucap Aila sambil memainkan jari tangannya karena gugup.
Egi masih terdiam, dia perlahan mendekati Aila yang masih berdiri.
"Ehm?." Aila bingung saat melihat Egi tepat didepannya namun masih diam.
Dan saat itu juga Egi menarik tubuh Aila, memeluknya erat seakan-akan dia tidak mau Aila dilihat orang banyak dalam penampilan seperti ini.
"Eh..ap...apa yang anda.. maksudku apa yang kamu lakukan. Orang-orang melihat kita."
Arya mendapat kejutan berkali-kali hari ini dan untuk yang satu ini dia tidak akan menyadarkan Egi. Arya hanya melihat dengan senyum yang ditutupi dengan tangannya.
Semua orang bersorak kegirangan melihat fenomena romantis tersebut.
"..gi..Egii." panggil Aila yang masih terbenam dalam pelukan Egi.
"Haa..astaga..maafkan aku." Ucap Egi dengan suara pelan agar tidak terdengar aneh didepan orang banyak.
Akhirnya Egi melepas pelukan erat nya dan mengakibatkan rambut Aila kembali berantakan dan lipstik Aila yang menempel di jas Egi.
"Ohh astaga, kami akan memperbaiki riasannya tuan jadi tunggu sebentar. Ayo, nyonya." Pegawai salon tersebut kembali membawa Aila ke dalam, meninggalkan Egi yang kesadaran nya sudah kembali seutuhnya.
"Heiiii..kenapa kau tidak menyadarkan ku tadi..." Kesal Egi.
"Ehm?. Memangnya kenapa?. Bukankah itu bagus untuk pasangan baru seperti kalian." Ucap Arya bersikap masa bodoh.
"Oh, itu lihat." Arya mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk bagian jas Egi yang terkena lipstik Aila.
"Wow seperti ciuman. Hahaha. Apa anda ingin menggantinya." Tanya Arya.
"Tidak usah, lagipula jas ini hitam tidak akan kelihatan, mata ayah dan ibu tidak seperti kau." Gerutu Egi kembali duduk disofa nya.
"Hmm baiklah ~~."
Tak lama kemudian Aila keluar dengan penampilan kembali fresh.
Aila memiliki rambut tebal yang lurus, mata sedikit kecokelatan, bulu mata panjang, dan kulit yang sedikit eksotis. Penampilannya sekarang tidak merubah siapa dia sebenarnya, hanya sedikit riasan wajah dan hair style yang imut membuatnya sedikit berbeda.
"Ayo, kita berangkat." Ajak Egi sambil menaruh ke depan seolah memberitahu bahwa tangan Aila yang akan dia gandeng.
....
"Oh sepetinya mereka sudah sampai." Ucap ibu Egi sambil menyiapkan diri di kamarnya.
"Ayo kita sambut mereka." Ajak ayah Egi dan mereka pun keluar menuju ruang makan.
Egi keluar duluan dari mobil dan berinisiatif membukakan pintu untuk Aila.
"Terima kasih." Ucap Aila sambil memegang tangan yang disodorkan Egi.
Saat Arya ingin mengikuti keduanya masuk rumah, Egi tiba-tiba menghentikan langkah pria itu.
"Kau pergi ke alamat ini." Egi menyodorkan alamat sebuah bioskop pada Arya.
"Ehh apa ini." Arya makin kebingungan saat Aila memberikan tiket bioskop padanya.
"Kau tidak tau itu tiket bioskop." Tanya Egi dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak, saya tau ini apa. Tapi apa maksudnya. Kenapa tiba-tiba tiket bioskop, apa dari.."
"Shtt pergi saja sana. Dan cari gadis bernama..siapa tadi nama nya."
"Oh nama nya Dany. Maaf karena awalnya dia mengajak saya untuk pergi, tapi harus batal karena dinner ini. Apa anda tidak mau menemani nya sebentar hanya menonton film, dia tidak punya teman lain." Aila membujuk Arya dengan wajah yang memelas sampai Egi menjadi frustasi.
"Sudahlah pergi saja. Setelah selesai kau boleh langsung pulang ke rumah, aku dan Aila akan bermalam disini."
"Ehh..apa." Aila terkejut mendengar perkataan Egi. Tapi Egi tidak menghiraukan dia masih berusaha untuk mengusir Arya agar segera pergi.
"Yaah baiklah dan anda tidak perlu minta maaf, Nyonya Muda. Kalau begitu selamat menikmati malam malamnya, selamat malam." Arya membungkuk dan segera berbalik kembali menaiki mobil.
Setelah melihat mobil yang dipakai Arya menghilang dari pandangan, Aila langsung bertanya pada Egi.
"Serius. Apa kita bermalam disini." Tanya Aila dengan ekspresi gugup.
"Yaah walaupun belum mendengar dari mereka, tapi aku yakin 100% ibu tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja." Ucap Egi dengan santainya.
Egi melirik Aila yang seperti nya gugup akan bertemu ayah dan ibunya.
"Santai saja. Mereka tidak seseram mertua di film-film."
Mendengar perkataan Egi, Aila sedikit menurunkan rasa gugup nya.
Aila menghembuskan napas panjang dan menampilkan ekspresi percaya dirinya.
"Huuhh, yaa aku harus percaya dengan diri sendiri."
Mendengar itu entah mengapa membuat Egi senang dan tanpa sadar dia tersenyum tipis seakan bangga dengan Aila.
------------------------------------------------------------------------
...Jangan lupa Subscribe, Komen dan Like nya gaiss 😉...
...Support kalian buat author buat rajin update ...
...😁...
...Happy reading...