Mutiara, gadis yang menjadi korban keegoisan kedua orang tua berjuang untuk terus melanjutkan hidup dengan baik dengan bantuan sang eyang.
Namun saat orang terakhir yang menjadi alasan untuk hidup telah pergi untuk selamanya membuat Mutiara semakin terpuruk.
Namun hidup tidak lah seburuk itu.
Karena takdir memberikannya seseorang yang akan kembali menjadi alasan dirinya bisa kembali tersenyum pada kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Dwi melihat Mutiara dengan tatapan tak terbaca
"Ara, Ikut Ayah!"
Perintah Dwi dengan suara pelan namun tegas sembari melangkahkan kakinya ke arah ruang kerja diikuti Mutiara tanpa mempedulikan tatapan orang-orang disekitarnya.
"Kamu menolak Arjuna? Ayah lihat dia tertarik padamu" Ucap Dwi saat sudah berada dalam ruang kerjanya tanpa basa basi.
"Dia tidak tertarik, hanya penasaran pada Ara."
"Apa maksudmu?" Tanya Dwi heran dengan ucapan Mutiara.
"Apa Ayah tahu, Arjuna masih memiliki seseorang yang dia cintai meskipun sudah mantan. Ayah mau Ara hanya dijadikan pelarian"
"Dari mana kamu tahu?" Tanya Dwi ragu dengan ucapan yang dilontarkan Mutiara. Dwi menganggap itu hanyalah alasan yang dibuat untuk menolak perjodohan itu.
"Ara lihat sendiri bagaimana cara dia melihat gadis itu" ucap Mutiara berusaha meyakinkan.
"Bagaimana cara kamu melihat Arjuna melihat gadis yang dia cintai jika kalian baru pertama bertemu" Dwi menatap Mutiara dengan bingung. Kalimat yabg keluar dari mulut Mutiara memunculkan banyak pertanyaan pada diri pria paruh baya itu.
"Karena mantan yang masih dia cintai ada di rumah ini"
Dwi terkejut mendengar perkataan Mutiara. Bagaimana mungkin dia bisa tidak mengetahui bahwa pria yang ingin dijodohkan dengan putri sulungnya adalah mantan kekasih putri keduanya dan parahnya lagi keduanya masih menyimpan rasa.
"Itu tidak mungkin" elak Dwi masih tidak menerima perkataan Mutiara.
"Itu kebenarannya Ayah"
Mutiara menghembuskan nafas perlahan. percuma dia memberitahu Ayahnya tentang hubungan Arjuna dan Savira jika Ayahnya tidak mau mempercayainya.
"Ayah tidak mau tahu, Ayah dan Paman Sony akan membahas pertemuan kalian selanjutnya dan kamu tidak boleh menolak. Lagi pula mereka sudah mantan." kekeh Dwi tetap pada keinginannya.
Dwi beranggapan jika Mutiara menikah dengan Arjuna maka hidup Mutiara akan terjamin dan memiliki mertua yang bisa melindunginya. Sekali lagi itu hanya pemikirannya saja.
"Kenapa harus Ara, sedangkan disini ada yang lebih pantas melakukannya" Mutiara masih terus menolak.
" Lagi pula Ayah tidak perlu memikirkanku. Mutiara tidak tahu alasan ayah melakukan ini. Jika pun ada sesuatu yang terjadi padaku orang-orang tidak akan menyalahkan Ayah. Mereka hanya tahu anak Ayah hanya Savira dan Rendi jadi Jodohkan Savira dan Arjuna, mereka berdua lebih cocok. Arjuna juga masih mencintai Savira dan putri Ayah juga sepertinya masih memiliki rasa pada Arjuna" Sambung Mutiara mencoba memberi penjelasan yang bisa jadi pertimbangan agar perjodohannya dengan Arjuna tidak dilanjutkan.
Dwi hanya terdiam melihat Mutiara dengan pandangan tak terbaca."
"Besok pagi Ara akan pulang ke rumah Eyang"
Dwi menghelas nafasnya kasar atas kekeras kepalaan Mutiara.
"Terserah tapi Minggu depan kamu harus datang lagi" Titah Dwi dengan nada tak ingin dibantah.
"Ayah.... "
"Keluarlah, Ayah masih punya banyak kerjaan"
Dwi menyela ucapan Mutiara kemudian berjalan menuju kursi kerjanya lalu membuka lembaran kertas yang tadinya berada dalam sebuah map tidak peduli keberadaan Mutiara yang menatapnya dengan pandangan sendu.
Mutiara keluar dari ruang kerja Ayahnya. Langkah kakinya berjalan pelan menuju kamarnya namun langkahnya terhenti saat seseorang menghalangi langkahnya.
"Jangan terlalu sok jual mahal menolak Arjuna" cibir orang itu yang tidak lain adalah Savira.
Mutiara hanya diam tak ingin menimpali perkataan yang keluar dari lisan wanita didepannya. Bermaksud untuk kembali melangkahkan kakinya namun lengannya dipegang oleh Savira.
"Jangan terlalu percaya diri akan mendapatkan laki-laki yang lebih dari Arjuna, terima saja perjodohan itu"
Mutiara tersenyum mengejek mendengar perkataan Savira hingga gadis itu menampilkan raut wajah tak suka pada Mutiara.
"Aku bukan jual mahal tapi aku tidak suka mengambil sisa pakai dari anak istri kedua Ayahku" bisik Mutiara seraya tersenyum miring.
Savira mendelik tidak suka "Jaga bicaramu" ucap Savira dengan penuh penekanan.
"Kamu yang memancingku Savira, harusnya kamu membiarkan aku tenang disini seperti biasa. Jangan pernah ikut campur urusanku bahkan yang berurusan denganmu biarkan aku sendiri yang menyelesaikan tanpa harus kamu mengadu pada ibu dan Ayahmu" tegas Mutiara. Dia berhenti sejenak menikmati perubahan raut wajah Savira, kemudian kembali melanjutkan ucapannya.
"Oh ya, kalau kamu masih punya rasa sama Arjuna, kembalilah padanya sebelum dia mendapatkan seseorang yang lebih dari kamu bahkan kamu pun tidak akan mendapatkan pria yang kini jadi incaranmu. Dia tidak akan pernah jadi milikmu Savira. Ingat penyesalan selalu datang belakangan "
"Diam!" bentak Savira pelan. Entah apa yang Savira kini rasakan dia bahkan harus berusaha keras mengucapkan satu kata itu.
"Kenapa? takut apa yang aku ucapkan itu menjadi kenyataan" tantang Mutiara memperlihatkan seringaian diwajahnya.
Melihat wajah Savira yang berubah pucat semakin membuat Mutiara ingin memojokkan gadis itu.
"Tapi kamu tenang saja aku sudah bilang sama Ayah tentang hubunganmu dengan Arjuna. Ayah mungkin bisa mempertimbangkan hubungan kalian dan memberikan restunya jadi kamu takkan merasa cemburu lagi."
"Jadi hentikan setiap rencana yang ada di otakmu. Ingat! Aku akan selalu mengawasi"
Mutiara melepaskan lengannya dari genggaman Savira dengan kasar lalu berjalan masuk ke kamarnya.
Savira hanya bisa berdiri mematung melihat punggung Mutiara hingga gadis itu menghilang di balik pintu kamar.Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya saat tadi berbicara dengan Mutiara.
Kalimat yang dikeluarkan Mutiara, caranya berbicara serta tatapan mata seperti menghipnotis Savira untuk masuk dalam lingkaran ketakutan dipikirannya hingga dia tidak bisa membalas lebih banyak perkataan Mutiara.
Sedangkan Mutiara segera mengunci pintu kamarnya. Mutiara merasakan debaran keras denyut jantungnya, pandangannya mulai terasa kosong.
Ada rasa sakit saat dia melakukannya lagi. Entah hal itu bisa dikatakan anugrah atau kutukan. Mutiara perlahan membaringkan dirinya dilantai, meringkuk dengan air mata yang terus jatuh tanpa isakkan.
"Aku ingin pergi"
.
"Kamu benar-benar tidak tertarik sama Mutiara, Nak?" Tanya Widya pada Arjuna yang duduk di kursi pengemudi sedangkan dia dan suaminya duduk dibangku kedua.
"Dia cantik loh" Sambungnya dengan melihat kearah suaminya memberi kode persetujuannya yang hanya dibalas anggukan, membuatnya kembali mengalihkan netranya pada Arjuna
"Arjuna masih bingung, Ma" Jawab Arjuna jujur.
"Wajarlah masih bingung ini baru pertemuan pertama kalian, papa juga yakin Mutiara juga begitu. Jadi minggu depan datanglah kembali ke rumah itu, ajak Mutiara keluar." ucap Sony memberikan masukkan.
"Kenapa harus tunggu minggu depan, kalau mau besok temui Mutiara" Ucap Widya sambil tersenyum membayangkan jika Arjuna berhasil memdapatkan hati Mutiara.
"Dia tidak tinggal dirumah itu, Ma. Arjuna tidak tahu dimana tempat tinggalnya" Arjuna menyelah khayalan Widya.
"Tapi Mama tahu tempat kerjanya. Mengenai rumah Eyangnya kamu bisa bertanya langsung sama Om Dwi" Widya tidak mau menyerah. Dia benar- benar ingin Mutiara menjadi menantunya. Pernyataannya itu menimbulkan pertanyaan di benak anak dan suaminya.
"Mama sudah kenal Mutiara sebelumnya?" Sela Sony penasaran.
"Tentu saja" Widya tersenyum membayangkan memiliki menantu seorang desainer sekelas Mutiara.
"Maksud Mama?"
"Ikuti perkataan Mama, kalau kamu ingin mendapatkan Mutiara"
(Ω Д Ω)
babai hadir disini untuk memberi semangat kaka author yang kecteh.. /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/