"Pulanglah, Nak!" Caroline menghubungi Sarah dan memintanya pulang. Sudah bertahun-tahun Sarah meninggalakan rumah seorang rumah seorang pembunuh berantai, kini ia kembali. Kembali menghadapi cinta yang dia miliki untuk ayahnya dan tubuh yang di kubur di sana.
Ada rahasia yang belum terungkap di dasar Mile Stone yang terkenal kejam. Sarah harus menghadapi, dan mencari tahu apa yang sebenaranya tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Beberapa hari kemudian, ketika Sarah sedang duduk di meja belajarnya, menulis paragraf tentang siklus hidrologi untuk kelas Ilmu Pengetahuan Alam, samar-sama Sarah mendengar suara ibunya.
Suara itu terdengar keras dan bahkan seperti teriakan. Sarah menelan ludahnya, ia berdiri dan menyerah pada situasi itu. Ia membuka lemari dan mengeluarkan keranjang cuciannya, kemudian menyingkirkan beberapa pasang sepatu, dan duduk di dalamnya.
Sarah menutup pintu lemari hampir sepenuhnya, setelah itu ia bersandar di sudut lemari yang gelap. Ia memejamkan mata, naamun ia masih bisa mendengar suara pertengkaran itu, dan itu membuatnya merasa ketakutan.
Sarah menjentikkan jarinya empat kali dengan cepat, dan seketika suara ibunya memudar seolah-olah ada yang mengecilkan volumenya. Sekarang suasana cukup tenang hingga Sarah bisa mendengar napasnya sendiri, Sarah menjulurkan kakinya dan menyenggol pintu lemari.
Pintu terbuka sedikit, ia merasakan suasana sepi. Dengan ragu-ragu dan hati-hati, Sarah meninggalkan lemari dan membuka pintu kamar tidurnya. Suara ibunya kembali terdengar mengiris keheningan seperti bilah sekop yang membuka tanah. " Kau menyakitiku, kau tidak akan bisa menyelamatkan...."
Mata Sarah bertemu dengan mata ayahnya. "Saa?"
Untuk sesaat Sarah terdiam, ia kemudian menutup pintu. Suasana seketika kembali hening. Apakah pertarungan sudah berakhir? Sarah menjentikkan jarinya, seperti sedang membaca mantra sebab glombang kepanikan mulai menyeruak di benaknya karena ia baru saja memergoki pertengkaran orang tuanya, ia bergegas masuk lagi ke lemari. 'Semuanya baik-baik saja' batin Sarah.
Samuel mengetuk pintu kamar Sarah dengan lembut dengan satu buku jarinya. “Bolehkah daddy masuk?”
Sarah bangkit berdiri, keluar dari lemari, memasukkan sepatu dan mencucinya kembali sehingga tidak terlihat kalau ia bersembunyi di sana seperti anak kecil. Ketika Sarah membuka pintu kamar, Samuel berdiri di sana, menunggu dengan sabar.
Samuel masih terlihat pucat tapi ia tersenyum kepada putrinya. "Berapa banyak yang kamu dengar?" tanyanya.
“Hampir tidak ada. Apakah daddy akan bercerai?”
Samuel tertawa pendek. "Apa? TIDAK! Mommy dan daddy hanya perlu meluruskan masalah, itu saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua rumah tangga pasti akan mengalami masalah dan bertengkar tapi semua itu akan berlalu,” tambahnya.
“Aku tidak khawatir,” Sarah berbohong
Samuel mengangkat alisnya, diam-diam ia mengetahui kebohongan putrinya, tetapi ia membiarkannya. "Yah, bagus, karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ulangnya. “Ngomong-ngomong, Brandon ada di depan. Dia ingin naik sepeda, mommy bilang kita punya waktu sekitar satu jam sebelum makan malam, jika kamu ingin pergi bermain."
Sarah mengerutkan keningnya "Bukankah seharusnya aku membantu mommy menyiapkan makan malam?"
Samuel mengangkat bahu. “Kamu boleh pergi ke dapur itu kalau kamu mau, tapi Daddy peringatkan, sekarang ini dapur bukan tempat yang paling ramah di rumah ini.”
Sarah berbalik untuk mengambil sepatunya dari dalam lemari, sebetulnya ia tidak ingin naik sepeda, tapi ia juga tidak ingin berada dekat dengan ibunya sehingga pilihan bersepedalah yang ia pilih.
Setelah memakai sepatunya Sarah berlari menuruni tangga beranda, ia melihat Brandon sudah berdiri di teras rumahnya. Brandon adalah sahabat terbaiknya, mereka sering bermain bersama sejak kecil. Tapi sekarang mereka sudah mulai beranjak remaja, Brandon sudah mulai mengenakan gel di rambutnya untuk membuat rambutnya terlihat rapih dan mengkilap dan itu membuatnya terlihat tampan.
“Ada sesuatu di tanganmu,” ucap Brandon sambil menunjuk.
Sarah melihat ke arah yang di tunjuk dan benar bahwa ada sesuatu yang tebal dan gelap di jari-jarinya. Sarah menyekanya di celananya tapi kotoran itu tidak lepas, ia membungkuk untuk menggosokkan jari-jarinya kuat-kuat ke rumput. Kotoran itu menyebar seperti minyak tua, tetapi kemudian hilang dari kulitnya.
“Menjijikkan,” ucap Brandon. “ Apakah kotoran itu berasal dari ruang bawah tanah?”
Sarah memutar matanya karena Brandon tidak benar-benar mengira itu dari ruang bawah tanah, dia hanya ingin alasan untuk berbicara tentang apa yang mungkin ada di bawah sana, di balik pintu terlarang itu. “Itu hanya kotoran,” ucap Sarah dan kemudian ia mulai mengayuh sepedanya.
Mereka mengendarai sepeda dengan cepat, Sarah berdiri di atas pedal dan mengayuh kakinya dengan keras, lalu meluncur sebentar untuk membiarkan Brandon mengejar.
“Ayo kita lomba!” ajak Brandon.
Sarah tersenyum kemudian ia mengayuh dengan keras untuk mengejar Brandon, ia ingin mengalahkan Brandon pada balapan yang tiba-tiba ini. Sarah ingin menang.
Sekarang Brandon ada di depannya, kakinya bekerja keras untuk menjaga jarak di antara keduanya, tapi Sarah mulai mendekatinya. Angin bertiup di rambut Sarah membuatnya merasa seperti burung elang yang terbang bebas.
Sarah mengepalkan jarinya kuat-kuat di sekitar setangnya, ia memikirkan foto yang ditunjukkan polisi padanya, foto rekan kerja ayahnya yang hilang. Ia memikirkan bagaimana Brandon saat dewasa nanti apakah akan mirip dengan ayahnya atau tidak, Sarah juga bertanya-tanya apakah saat mereka dewasa nanti mereka masih berteman.
Itu adalah pikiran terakhir Sarah sebelum akhirnya ia menyadari, ia hampir saja kalah, ia masih berada di belakang ban Brandon, dan sahabatnya itu masih melaju terlalu cepat.
Sarah menyentakkan setangnya untuk menghindari benturan sepedanya dengan sepeda Brandon. Ada momen yang menggetarkan hati ketika ia tahu bahwa dirinya hampir saja menabrak trotoar, tetapi dengan refleknya Sarah mengangkat setang hingga sepedanya berhasil naik ke trotoar dan entah bagaimana caranya, secara ajaib Sarah bisa menjaga sepedanya tetap tegak.
"Wow!" Brandon berteriak, dan terdengar terkesan.
Sarah pun ikut berteriak, karena ternyata ia bisa melakukan wheelie, hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Mereka berdua meluncur melintasi jalanan kota Jogja tanpa henti. Meski di awal tadi Brandon sempat curang dengan mengambil start lebih dulu, tapi Sarah yakin dirinya bisa menang.
Sarah mengerem dengan keras, ia membiarkan bannya selip sedikit, dan menoleh untuk memandang Brandon yang juga baru saja ngerem. Seringai lebar membelah wajah Brandon ketika memandang Sarah, pada saat itu juga Sarah jatuh hati pada sahabatnya karena bukan tipe orang yang marah karena kalah dalam perlombaan dengan seorang gadis, atau mungkin saja dia justru mengalah agar Sarah menang.
Pada saat itu juga enah mengapa Sarah memikirkan tentang pernikahan, pernikahan impiannya yang di dalamnya tanpa ada tatapan dingin, handuk basah dia atas tempat tidur dan pertengkaran di malam hari.
semua dibikin teka teki smpai mnuju bab2 akhir...
Ga ada clue alasan atau apa yg melatarbelakangi Samuel melakukan pesugihan/kejahatan...membuat reader mencoba menebak nebak apa yg terjadi 🤭🤭
Overrall ceritanya seru dan menarik..
pesan dari cerita ini.., hiduplah dengan rasa syukur yg telah Tuhan berikan..jangan pernah brrsekutu pada jin utk menghalalkan segala keinginan kita.
akhir yg bahagia utk mereka
tp paling tidak Sarah bs melihat wajah ibunya yg sperti dulu
Apakah ini alasan ibunya Sarah..agar sarah pergi dan jangan pulang ke rumah? agar tidak diambil darahnya...
apa dia mahluk yg menyebabkan ayahnya Sarah melakukan pesugihan..
berarti selama ini Sarah juga tauu klu ayahnya melakukan pesugihan...