Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Testpack
Troli belanjaan sudah hampir penuh. Tangan Adam sudah mulai pegal mendorong troli yang mulai berat, mengekor Erica yang masih belum juga selesai belanja.
"Kita kan sudah kesini, Ri," ucap Adam ketika ia kembali ke tempat yang sama beberapa saat lalu.
"Kita juga sudah ambil teh, Ri." Adam mengambil teh di dalam troli nya, menunjukkan pada Erica.
"Teh yang ini katanya bisa bikin langsing, Mas," sahut Erica yang masih sibuk membandingkan komposisi dan khasiat teh di kedua kemasan yang berbeda merk.
"Ambil saja dua-duanya." Adam mulai bosan. Kakinya terasa pegal, telapak kakinya mulai mati rasa, tapi Erica masih semangat menyusuri rak demi rak hanya untuk mendapatkan harga terbaik.
Erica menaruh kedua kemasan teh kedalam trolinya. Adam menghela napas, lega melihat Erica berjalan lurus ke kasir. Melewati counter obat, Erica terdiam sembari menunggu Adam menghampirinya. Bibirnya menyunggingkan deretan giginya yang putih.
"Kenapa?" Adam bertanya ketika menyadari gelagat tak biasa di wajah Erica.
"Mau beli disini?"
"Apa?"
Erica mengerucutkan bibirnya, kesal dengan ketidakpekaan Adam.
"Mau beli apa sayangku?" Meski diucapkan dengan tambahan embel-embel sayang, suaranya menjelaskan bahwa Adam sudah mulai jengkel.
Alih-alih menjawab pertanyaan Adam, Erica malah melesat pergi ke kasir dengan wajah manyun yang cukup bertahan lama.
"Mau beli apa, sayang?" Adam kembali bertanya ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Mata Erica memandang keluar lewat kaca disampingnya. Telinganya ditulikan. Tak ingin mendengar Adam.
Melihat Erica merajuk, sebelah tangan Adam tergerak meraih tangan Erica sementara tangan yang lain mengendalikan setir mobil.
"Mau beli apa, sayang?" Adam mengulang pertanyaannya dengan nada lebih lembut. "Ngomong dong sayang, biar Mas tahu kamu mau apa."
Dengan kasar Erica menarik tangannya.
"Tebak deh, Mas mau bawa kamu kemana?" Adam mengeluarkan jurus jitu andalannya.
"Pulang," sahut Erica ketus.
"Sebelum pulang ke rumah."
"Mana aku tahu."
"Tebak dong biar tahu."
Erica mengalihkan pandangannya ke wajah Adam yang fokus menyetir. "Emang Mas mau bawa aku kemana?"
"Ke tempat yang kamu mau."
"Kemana?"
"Tempat yang kamu mau."
Terbesit rasa senang di hati Erica. Ia mengulum senyum. "Benar Mas?"
"Benar dong, masa Mas bohong."
"Tapi aku baru telat dua bulan, emang bisa langsung ketauan?"
Adam terdiam, berpikir kemana arah pembicaraan Erica dan apa yang sedang dipikirkan istrinya itu.
"Aku takut hasilnya negatif, Mas."
Napas Adam tercekat. Sekilas ia menoleh ke sampingnya. Sekarang ia tahu keinginan Erica. Testpack. Erica ingin testpack.
Adam menggaruk ujung alisnya. "Kita coba saja dulu, Ri." Ia membelokkan mobilnya ke sebuah apotek.
"Tapi kamu jangan kecewa jika hasilnya tidak sesuai harapan."
Erica mengangguk penuh semangat. Matanya berbinar menyambut fase baru dalam hidupnya.
***
Adam duduk di ujung ranjang dengan tangan yang bergetar. Pagi sekali Erica membangunkan Adam. Ia gugup menanti Erica keluar dari kamar mandi dengan membawa hasil testpack. Matanya memejam, hatinya melantunkan doa berharap hasilnya negatif. Bukan tidak ingin Erica mengandung anaknya, hanya usia Zhafran yang masih kecil akan membuatnya kewalahan mengurus dua anak kecil. Belum lagi Ibu mertua Adam belum tentu mengizinkan anaknya melahirkan di usia yang masih terbilang muda.
Masih segar di memorinya, ketika Adam bertandang untuk pertama kalinya ke rumah Erica, meminta anak gadis mereka secara baik-baik. Adam mendapatkan respon kurang baik. Statusnya sebagai duda anak satu menjadi masalah bagi orangtuanya. Padahal Erica tidak mempermasalahkan sama sekali, justru digemari.
Apalagi sekarang, baru tiga bulan menikah tahu-tahu sudah hamil. Telinganya bisa merah mendengar wejangan-wejangan dari ibu mertuanya seperti sesaat setelah setelah ia mendapat restu.
Pintu terbuka, Erica berjalan lunglai kearah Adam. Lelaki itu langsung pasang badan, menunggu hasilnya. Dengan lesu Erica menunjukkan testpack yang menampilkan garis satu.
Adam menghela napas lega, doanya terkabul. Berbeda dengan Adam, Erica nampak lesu. Menatap kecewa benda kecil ditangannya.
"Ingat Mas bilang apa?" Adam menarik pinggang Erica hingga gadis itu terduduk di pangkuannya. "Jangan kecewa jika tidak sesuai dengan harapan."
Sebelah tangan Erica yang lain merogoh saku baju tidurnya, mengeluarkan benda yang sama dengan bentuk yang berbeda. "Tapi yang ini garis dua."
Bibir Erica mengerucut mengamati kedua testpack di kedua tangannya dengan hasil yang berbeda. Satu testpack menampilkan satu strip dan yang satunya lagi menampilkan dua strip.
Adam tergelak, tak kuasa menahan tawa. Bagaimana bisa mendapatkan hasil yang berbeda padahal diuji di waktu yang sama?
"Mas kok ketawa sih!" Omel Erica, kesal. Matanya memicing. Tak suka mendengarkan tawa Adam.
"Kok bisa beda gitu, Ri?" Adam memegangi perutnya yang terasa kram.
"Aku juga nggak tahu." Erica bangun dari pangkuan Adam. "Kira-kira yang benar yang mana ya? Satu strip atau dua strip?"
"Mas juga nggak tahu, Ri." Adam beringsut naik ke atas ranjang sembari menarik selimut yang menggulung di ujung ranjang. "Nanti siang kita periksa saja ke dokter. Sekarang kita tidur lagi."
Erica mengangguk. Matanya menatap pasrah kedua testpack ditangannya, lalu dengan lesu melempar kedua alat itu ke tempat sampah. Ia naik ke ranjang, ikut bergelung bersama suaminya.
"Kamu mau punya anak berapa, Ri?"
"Mas maunya berapa?"
"Terserah kamu, Ri. Kan yang hamil kamu, tubuh kamu. Mas tinggal nanam benih aja."
"Enak ya, cuma nanam aja."
"Dih, kata siapa? Kan nanti Mas juga yang menghidupi kalian."
Erica terkekeh. Tangannya tergerak memeluk tubuh Adam. "Aku mau punya tiga anak. Dua diantaranya kembar. Zhafran tidak termasuk dalam hitungan."
"Banyak amat, sayang."
"Banyak anak banyak rezeki, Mas."
"Kalau kebanyakan gimana ngurusnya nanti? Harus dipikirkan juga lho itu."
Erica mendongakkan wajahnya menatap Adam. "Kita urus bareng-bareng."
"Dua anak lebih baik, sayang." Adam mengecup singkat bibir Erica. "Sesuai anjuran pemerintah."
"Tapi aku maunya tiga." Erica balas mencium Adam. Matanya menatap wajah Adam, memberinya senyum penuh kemenangan. "Kan Mas sendiri yang bilang terserah aku."
"Senyum kamu manis," ucap Adam, membuat pipi Erica bersemu. "Pantas Syafiq tak berhenti menyukaimu."
"Syafiq memang OK, tapi Mas lebih menggoda." Tatapan tajam dan senyum Erica yang sedikit nakal membuat Adam terpaku. Gadis kecil itu terlihat begitu menggoda.
Dengan cepat Adam mengusap wajahnya. Darahnya berdesir. Sesuatu dalam tubuhnya telah terbangunkan. Ia segera menuruni ranjang, berjalan ke arah pintu. Kepalanya menoleh ke arah Erica sebelum jarinya memutar kunci pintu. Dan..
Klekk
Pintu terkunci.
"Mau Mas tanamkan benihnya sekarang?"
***
Ponsel diatas nakas beberapa kali berdering, menampilkan panggilan yang tak menyerah minta di jawab. Seolah berteriak meminta penjelasan atas apa yang telah dilakukan dua orang di atas ranjang yang saling memeluk satu sama lain. Dunia milik mereka berdua. Yang lain hanya ngontrak.
Tidak lama kemudian tangis Zhafran menyahuti. Membuat dua orang tersebut terperanjat, peduli.
"Mas... Zhafran nangis." Erica berkata lirih, matanya masih rapat tertutup. Nyawanya belum terkumpul sempurna.
Adam bergerak pelan agar tidak membangunkan Erica yang tidur dengan berbantalkan lengannya.
Ponsel di atas nakas kembali berdering. Menampilkan panggilan yang sama. Tangan Adam bergerak mengambil benda pipih itu. Baru saja ponsel itu diarahkan ke telinga, orang di sebrang sana sudah nyerocos panjang lebar.
"Halo, Ri? Kamu dimana? Kamu nggak lupa kan sekarang ada presentasi Design Thinking."
"*Halo, Ri? Kamu disana, kan?"
"Ri, aku jemput ya? Takut Pak Adam bentar lagi datang*."
Adam tersenyum kecil. Matanya menyapu setiap inchi wajah Erica yang masih terlelap, pun dengan tubuh Erica yang.. ah sudahlah.
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂