Kemil Izdan Arayan merupakan anak dari sahabat papa Kamelia Sipria Effendi. Kemil di paksa untuk menikahi Kamelia yang tengah hamil tiga minggu. Sedangkan dia sudah memiliki kekasih yang sangat sulit untuk dia dekati sebelumnya. Gadis itu bernama Misya Putri.
Misya bersedia menjadi kekasih Kemil hanya karena Misya mengetahui Kemil anak dari Idris Arayan pemilik perkebunan terluas di desanya.
"Kemil sudah punya kekasih pa... Dan lagipula Kemil tidak akan pernah sudi menikah dengan wanita murahan itu..." ujar Kemil ketus dengan setengah berteriak.
PLAAAAKK..
Satu tamparan mendarat di pipi Kemil.
Kemil memegangi pipinya yang panas dan memerah akibat tamparan papanya.
"Papa... kenapa kamu memaksa anak kita untuk menikahi anak temanmu yang sudah hamil itu...? Entah anak siapa yang ada dalam kandungannya. Suruh saja orang tuanya mencari lelaki yang telah menghamilinya..." Rahma istrinya Idris mencoba untuk membela Kemil.
"Kamu tidak usah ikut campur kecuali untuk membujuk anak tidak tau diri ini menikahi Kamelia.
Jika anakmu ini tidak mau menikah dengan Kamelia, maka aku sendiri yang akan menikahi gadis itu." Ancam Idris sambil berlalu meninggalkan Rahma dan Kemil yang terperangah oleh kata-katanya.
Akankah Kemil bersedia untuk menikahi Kamelia atas paksaan papanya?
Penasaran bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERSIAP-SIAP
Tok...Tok... Tok...
Seorang pelayan rumah Effendi mengetuk pintu kamar Kamelia.
"Nooon... Ini bibi, non..." Ujarnya sambil terus mengetuk pintu kamar Kamelia.
"Masuk, bik..." Sahut Kamelia dari dalam.
Pintu kamar itu perlahan-lahan terbuka. Tampak Kamelia masih saja memangku kedua lututnya dan bersandar di atas tempat tidurnya itu.
Ya, disanalah tempat ternyaman bagi Kamelia dalam beberapa minggu sejak kepulangannya dari kota.
"Non... Bibi punya kabar gembira untuk non..." Ujar pelayan paruh baya itu dengan sumringah meski mata beningnya menampakkan telaga di dalamnya.
"Kabar gembira apa, bi?" Tanya Kamelia menatap bingung pelayan yang sudah seperti keluarga baginya.
"Nanti non akan tau sendiri... Sekarang non Kamelia siap-siap, ya..." Pinta pelayan itu lirih sambil tersenyum.
Mungkinkah om Idris jadi datang bersama Kemil?~ Pikir Kamelia. Secercah harapan datang menghampirinya. Dia mengelus perutnya yang masih datar sebelum menyahuti pelayan itu.
"Baiklah, bik... Tapi bibik bantuin Kamelia buat sisir rambut ya." Pintanya. Sedari dulu ia paling senang jika pelayan satu itu menyisirkan rambutnya. Pelayan yang sudah bekerja di keluarganya semenjak dirinya kecil.
"Baik, non... Sekarang non bersih-bersih dulu. Biar bibi carikan baju yang indah buat nona Kamelia." Ujar pelayan itu bersemangat.
"Bibik..." Panggil Kamelia lagi. Wajahnya kembali murung dan tak bersemangat.
"Iya, non... Kenapa nona Kamelia bersedih lagi?" Tanya pelayan dengan memasang wajah murung pula.
"Apa ini sebuah harapan untuk Kamel bisa bangkit lagi, bik? Mama, papa dan Abung sudah tidak peduli lagi sama Kamel... Hanya janin ini yang Kamel punya sekarang, bik..." Tuturnya sendu sambil mengelus perutnya yang masih datar.
"Nona Kamelia masih punya bibik... Dan lagian, tuan sama nyonya dan den Adan bukannya tidak peduli sama non... Biarkan mereka seperti itu sesaat non, sampai mereka lupa dengan kondisi nona sekarang. Nanti mereka akan baik lagi. Mereka sangat menyayangi non makanya ada rasa kecewa di hati mereka. Jika tidak... Mungkin mereka tidak akan peduli sedikitpun tentang non. Apa yang non kerjakan itu salah atau tidak. Seseorang marah karena kesalahan kita, itu tanda mereka sayang non..." Tutur pelayan itu sambil membelai kepala Kamelia.
"Terima kasih ya bik..." Ucapnya sedikit tenang seraya memeluk pelayan itu.
"Iya, sama-sama, non... Sekarang non bersih-bersih... Kasihan tamu-tamu pada nungguin." Ujar pelayan itu lagi.
Kamelia melepaskan pelukannya dan beranjak ke kamar mandi.
Setelah bersih-bersih, Kamelia bersiap-siap dengan memakai pakaian mini dress yang terlihat sopan pilihan pelayannya tadi.
"Nona Kamelia cantik sekali..." Ucap pelayan itu memuji sambil menyisirkan rambut Kamelia yang tebal, hitam dan mengkilau. Poninya yang sedagu dijepitkan ke sisi kiri kepalanya dengan jepitan mutiara yang indah.
"Tapi sudah tidak ada artinya lagi, bik..." Ujarnya sendu sambil menatap matanya lewat pantulan kaca di depannya.
"Non... Jangan ngomong seperti itu... Jika non merendahkan diri non sendiri, sama artinya non memberikan kesempatan untuk orang lain merendahkan diri non. Nanti jika anak non terlahir, non tidak akan mampu membelanya dari kata-kata remeh orang-orang..." Tutur pelayan itu dengan raut wajah sedih. Dia tahu bagaimana perasaan nona kecilnya itu. Tapi dia juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Tidak boleh, bik... Tidak ada yang boleh merendahkan anak Kamelia sebelum atau sesudah terlahir... Dia tidak boleh serapuh Kamelia... Dia harus kuat..." Ujar Kamelia sambil mengelus perutnya yang masih datar.
"Dia tidak bersalah, bik..." Tambahnya mulai terisak.
"Non... Sudah... Non jangan menangis lagi. Non harus kuat kalau mau anak dalam kandungan nona kuat juga. Kalau nona Kamelia cengeng seperti ini, dia akan jauh lebih cengeng lagi." Ujarnya menakut-nakuti Kamelia agar Kamelia berhenti menangis dan berusaha kuat.
Kamelia mengangguk dan menghapus kembali air matanya dengan kasar. Dia mengoleskan sedikit pelembab di wajahnya untuk menutupi kesedihannya dan memoleskan sedikit liptin ke bibir tipisnya.
Dia mencoba untuk tersenyum dan kemudian bangkit dari tempat berhiasnya untuk menemui Keluarga Kemil.
.
.
.
.
.
.