Direnggut, dianggap remeh dan dihancurkan. Semua itu sirna saat diriku mengalami kebangkitan. Ingatan yang diwariskan akan menjadi saksi bisu untuk mengembalikan kehormatanku. Apa yang ditakdirkan untukku akan kembali padaku. Langit dan bumi, seluruh penjuru dunia, akan kuukir sebuah kisah, kisah tentang reinkarnasi sang dewa naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sam Ilfar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XYD 11 - Kekaisaran Jia
XYD 11 - Kekaisaran Jia
Setelah menjalani reinkarnasi kembali, Xiao Yang tidak terlalu terkejut saat mengetahui perebutan tahta ini menyebabkan kehancuran untuk sebuah negeri. Awalnya Xiao Yang mengira perseteruan ini hanya menyebabkan Jia Song dan Jia Feng saja, namun setelah menyelidiki lebih jauh Xiao Yang merasa ada yang janggal dengan semuanya.
‘Siapa orang yang mendukung Jia Feng?’ Xiao Yang membatin karena tidak dapat melihat lebih dalam ingatan Jia Feng tentang sosok orang yang menghasut dan mendukungnya untuk melakukan pemberontakan.
Atas dasar kecemburuannya kepada pencapaian Jia Song, Jia Feng meracuni kedua orang tuanya dan menuduh orang-orang terdekat Jia Song sebagai pelakunya. Ambisinya semakin besar mengingat dirinya memiliki kultivasi yang lebih tinggi dibandingkan Jia Song ataupun Jia Bai.
Bahkan setelah memiliki kultivasi yang dipuji oleh kaum bangsawan, Jia Feng merasa kalah dengan Jia Song setelah kakaknya itu menikahi wanita pujaannya. Setelah semua hal yang terjadi, akhirnya Jia Feng menjalankan rencananya dan berhasil mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.
Situasi yang terjadi di Kekaisaran Jia membuat aliran putih dan hitam terpecah. Aliran putih berada dibelakang Jia Song sedangkan aliran hitam mendukung Jia Feng. Rencana licik yang dijalankan Jia Feng berhasil membuat Jia Song terjebak dan terbunuh dengan bengisnya setelah kultivator dari Lembah Hantu berhasil menyandera Mu Jinxi yang merupakan istri dari Jia Song.
Kondisi Mu Jinxi sangat memprihatinkan, Xiao Yang melihat Ling Yui dan Lu Shin Rui serta beberapa tabib istana berusaha menyembuhkan wanita itu. Namun mereka semua sangat kesulitan karena titik meridian Mu Jinxi dihancurkan oleh Patriark Lembah Hantu.
‘Sekarang anaknya disandera dan dia telah melewati masa yang sangat sulit. Aku tidak menyangka manusia akan melakukan hal seperti ini kepada sesamanya...’ Xiao Yang menghela nafas panjang setelah membatin.
“Yang‘er, Permaisuri ingin berbicara denganmu.” Tiba-tiba Ling Yui memberitahu hal itu.
Xiao Yang segera masuk kedalam ruangan pribadinya Mu Jinxi. Disana terlihat Mu Jinxi terbaring lemah dan ekspresi wajahnya menunjukkan kekosongan.
Xiao Yang memberi hormat dan melihat Mu Jinxi yang mengamati dirinya.
“Bisa tinggalkan aku sendiri bersama anak ini.” Mu Jinxi berkata kepada para pelayannya dan semua orang terdekatnya.
Para pelayan pun langsung meninggalkan ruangan begitu juga dengan Ling Yui dan Lu Shin Rui. Setelah semuanya pergi, Mu Jinxi meminta Xiao Yang untuk duduk dikursi yang ada didekat ranjang.
“Aku sudah mendengar semuanya jika kau adalah orang yang menyelamatkanku dan menghentikan gejolak di Ibukota. Aku ucapkan terimakasih untuk hal itu.” Mu Jinxi berkata dengan suara lembut dan tulus membuat Xiao Yang tersenyum hangat tanpa sadar.
“Yui... Bukan, maksudku Bibi Yui sudah menjelaskan kepadaku jika kau adalah pengawalnya. Bisa aku minta tolong padamu, Ling Yang.” Mu Jinxi menatap Xiao Yang dengan sorot mata yang dipenuhi amarah.
“Aku mengira Permaisuri sudah tidak memiliki tujuan kehidupan. Ekspresi yang terpancar darimu sekarang adalah kemarahan, kebencian dan dendam. Apa yang bisa kulakukan untukmu, Permaisuri?” Xiao Yang bertanya.
Ia tidak membenci manusia seperti Mu Jinxi. Mengingat ingin menjalani kehidupannya kali ini secara alami sebagai manusia, Xiao Yang pun memutuskan untuk memainkan perannya sebagai Ling Yang dan merupakan seorang pengawal pribadi Ling Yui.
“Aku tahu kau adalah anak angkat, Bibi Yui. Kultivasimu tinggi dan entah mengapa aku merasa hanya bisa meminta bantuan kepadamu.” Mu Jinxi tiba-tiba mengulurkan tangannya memegang pipi Xiao Yang dengan lembut, “Balaskan dendam suamiku dan selamatkan anakku...”
“Bunuh mereka semua! Aku sudah menderita! Aku tidak terima dengan semuanya! Aku mengutuk mereka dan tidak akan pernah memaafkan mereka!”
Mu Jinxi terlihat histeris setelah mengeluarkan semua ekspresinya itu. Wanita itu menangis sejadi-jadinya dihadapan Xiao Yang yang duduk mematung melihat dirinya.
‘Perasaan apa ini? Aku merasa sangat kasihan pada dirinya...’ Xiao Yang merasa tersentuh dan langsung berdiri menatap Mu Jinxi.
Sembari melepaskan topengnya, Xiao Yang melepaskan Aura Dewa Naga keseluruh ruangan dan itu membuat Mu Jinxi berhenti menangis saat melihat bayangan seekor Naga dibelakang Xiao Yang untuk sesaat.
“Siapa kau sebenarnya?” Mu Jinxi bertanya dengan ekspresi yang memucat.
“Aku hanyalah seorang pengawal, Permaisuri.” Xiao Yang langsung menekan Aura Dewa Naga dan membuat Mu Jinxi bernafas lega.
“Aku akan mengabulkan permintaan Permaisuri selagi dapat menjaga rahasia tentang diriku ataupun kekuatanku.” Xiao Yang memberitahu Mu Jinxi dan mengajukan sebuah syarat.
“Aku akan menjaganya. Katakan padaku apa syarat itu?” ujar Mu Jinxi dengan penuh keyakinan.
“Izinkan aku melihat ingatanmu yang indah ataupun yang kelam.” Xiao Yang memberitahu syaratnya dan membuat Mu Jinxi cemas.
“Baiklah, aku akan memenuhi syarat mu.” Kemudian Mu Jinxi memejamkan matanya saat telapak tangan Xiao Yang menyentuh kepalanya.
“Mohon maaf atas kelancanganku, Permaisuri.” Xiao Yang pun mulai mengalirkan aura tubuhnya secara perlahan dan membuat kedua mata Mu Jinxi terbuka lebar setelah ingatannya dilihat Xiao dengan begitu mudahnya.
Selama beberapa saat Xiao Yang melihat ingatan Mu Jinxi dan mengetahui orang-orang yang sudah membuat wanita ini menderita ataupun membunuh Jia Song.
“Apa sudah selesai?” tanya Mu Jinxi.
“Sudah, Permaisuri.” Xiao Yang menjawab setelah melihat semuanya dan menemukan petunjuk tentang keberadaan putrinya yang diculik.
“Aku akan memberimu hadiah dan penghargaan jika berhasil melakukan tugas yang kuberikan padamu.” Mu Jinxi menjanjikan hal ini dan membuat Xiao Yang tersenyum.
“Maaf Permaisuri -”
“Panggil aku Bibi Mu atau Bibi Jinxi seperti yang kau lakukan kepada temanku Ling Yui,” kata Mu Jinxi.
Xiao Yang hanya mengikuti dan langsung berpamitan untuk pergi menemui Ling Yui.
“Baiklah, Bibi Mu, aku tidak akan mengecewakanmu.”
Selepas itu Xiao Yang menghilang dari pandangan Mu Jinxi dan membuat wanita itu memijat keningnya. Untuk sesaat Mu Jinxi masih mengingat jelas energi spiritual yang terlepas dari tubuh Xiao Yang dan bayangan seekor Naga yang ada dibelakang tubuh anak lelaki tersebut.
“Siapa sebenarnya anak itu? Aku seperti melihat seseorang yang lebih dewasa dibandingkan umurnya...”
Saat Mu Jinxi larut dalam lamunannya, Xiao Yang dan Ling Yui membicarakan tentang lokasi Lembah Hantu dan Hutan Bambu Emas.
“Apa kau berniat menghancurkan mereka sendirian Yang‘er?” tanya Ling Yui serius.
“Ini adalah permintaan Bibi Mu dan aku sudah berjanji. Apa kau memiliki sebuah peta menuju kesana, Bibi Yui?” ujar Xiao Yang memberitahu dan membuat Ling Yui terkejut.
“Kau barusan memanggil Permaisuri dengan sebutan Bibi Mu? Aku tidak salah dengar bukan?” Ling Yui menatap Xiao Yang dengan ekspresi bertanya-tanya.
“Dia yang memintaku memanggilku begitu.”
Ling Yui pun menggelengkan kepalanya dan tidak percaya Mu Jinxi akan mempercayakan semuanya kepada Xiao Yang.
“Aku tidak memiliki peta namun aku memiliki sebuah petunjuk...” Ling Yui memberitahu Xiao Yang dan memberi isyarat untuk mengikutinya.
Xiao Yang pun mengikuti Ling Yui sebelum keduanya sampai disebuah pemakaman Jia Song. Disana Ling Yui memberitahu lokasi yang dirumorkan menjadi markas Lembah Hantu dan Hutan Bambu Emas.
Ling Yui pun menjelaskan kepada Xiao Yang betapa gegabah keputusan yang diambil oleh anak lelaki tersebut, namun Xiao Yang bersikeras dan menunjukkan sikap kepercayaan diri yang tinggi.
“Apa Bibi Yui tidak percaya dengan kemampuanku?” ujar Xiao Yang dengan tatapan yang tajam.
“Tentu aku sudah melihat kemampuanmu dan aku mempercayainya. Namun kau tidak perlu mengambil tindakan sejauh ini hanya demi seseorang.” Ling Yui sebenarnya merasa cemas dan khawatir karena bagaimanapun Xiao Yang terlihat seperti seorang bocah dimatanya.
“Bibi Yui, sebelum pergi aku akan memperlihatkan sebuah ingatan yang diwariskan kepada dirimu.” Xiao Yang pun mulai memperlihatkan sebuah ingatan kepada Ling Yui hanya dengan melakukan kontak fisik saja.
Ling Yui yang disentuh tangannya hanya terdiam saat didalam ingatannya mulai bermunculan kehidupan Xiao Yang di Klan Kuno Xiao.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Aku akan membalaskan dendam Permaisuri dan menemukan keberadaan Tuan Putri.”