Cahaya tidak menerangi hidup seorang wanita yang terjebak dalam gelapnya kehidupan. Mati rasa mendeskripsikan kisah hidupnya.
Cahaya Jelita Jaharah harus hidup dipenuhi masalah demi masalah. Perjodohannya dengan putra bungsu keluarga Reynold menjadi satu-satunya jalan untuk mengungkapkan kematian sang ayah.
Berhari-hari ia harus hidup bersama jenazah ayahnya yang perlahan membusuk, memberikan bau menyengat.
"Ah~ inilah bau kematian." Itulah ucapan terakhir kali saat melihat ayahnya berada di dunia.
Sang ibu yang berselingkuh dengan tetua Raynold semakin menambah beban pada kehidupan Cahaya.
Zaydan Reynold seorang direktur di perusahaan Reynold adalah pria yang menjadi suaminya.
Mereka hidup bersama tanpa ada perasaan apa-apa, sampai kebenaran terungkap.
Keberadaan Fiona Ganezha yang merupakan tunangan Zaydan pun menjadi pelengkap cerita keduanya.
Bagaimana Cahaya mengungkapkan semuanya? Bisakah mereka jatuh cinta dan menghilangkan mati rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 11
Langit bertabur bintang malam ini, bulan pun menampakkan jati dirinya dan duduk di singgasana ternyaman.
Pemandangan cakrawala membentang di atas sana begitu indah dan sama sekali tidak memberikan kenyamanan pada dua insan yang masih bergelut di taman mansion Raynold.
Semilir angin menyapa, menyapu wajah putih keduanya. Mereka sama-sama tengah bergelut dengan pikiran masing-masing.
Zaydan sedari tadi tidak melepaskan genggaman di lengan kiri Cahaya. Manik mereka saling bertubrukan membaca sorot mata satu sama lain, tidak mengindahkan sekitar.
Di balik iris kelam keduanya, ada kesedihan bersembunyi apik di balik ekspresi datar Cahaya.
Zaydan menyadari jika selama ini istrinya berpura-pura kuat dan tegar dalam menghadapi semua masalah yang menimpa. Namun, ia tidak tahu seberapa dalam luka dirasakan pendamping hidup di atas kertasnya ini.
Tidak ada rasa cinta maupun sayang di antara keduanya, Zaydan hanya penasaran, kenapa wanita itu selalu menampilkan wajah muram, di samping pernah tinggal bersama jenazah ayahnya serta perselingkuhan sang ibu, ia masih penasaran apa yang dirasakan Cahaya.
"Lepaskan!"
Satu kata membuyarkan keheningan, Zaydan terkesiap dan masih menggenggam pergelangan pasangan halalnya saat ini.
"Tidak akan! Kenapa kamu tiba-tiba saja pergi? Apa kamu tidak-"
"Aku bilang lepaskan!"
Cahaya menarik lengan kirinya kasar dan menutupi apa yang ada di sana sembari memunggungi sang suami.
Sikap Cahaya mengundang tanda tanya besar, dahi tegas Zaydan mengerut dalam. Tangan kanan yang tadi menggenggam pergelangan istrinya pun masih menengadah ke udara dan terasa sangat dingin.
Zaydan pun merasakan ada sesuatu yang salah dan menjatuhkan pandangan ke telapak tangannya. Betapa terkejutnya ia kala mendapati jejak cairan berwarna merah kental di sana. Ia semakin kebingungan melihat darah itu.
Zaydan lalu tersadar jika ada luka di pergelangan tangan Cahaya. Dengan gerakan patah-patah ia berjalan ke hadapan sang istri.
Ia kembali terkejut, amat sangat terkejut apa yang dilihatnya saat ini. Cahaya tengah menggenggam pergelangan tangannya sendiri dengan darah merembes keluar.
Luka dari hari itu kembali terbuka akibat cengkraman kasar dan kuat dari suaminya. Jahitan yang belum kering terputus lagi serta mengeluarkan darah.
"Darah?"
Satu kata dari pria di hadapannya membuat Cahaya mendongak. Tatapan mereka kembali bertemu dan menyelami keindahan bola mata satu sama lain.
Untuk kesekian kali, Zaydan terpekik menyaksikan keringat dingin bercucuran di pelipis Cahaya. Wajah istrinya pun nampak pucat pasi.
Sedikit demi sedikit kesadaran Cahaya memudar dan tidak lama berselang kegelapan menyambut. Tubuh ramping itu limbung ke depan dan secepat kilat Zaydan menangkapnya.
"Cahaya... hei Cahaya!" Zaydan berusaha menyadarkan, tetapi tetap saja Cahaya menutup mata rapat.
"Apa yang terjadi? Cahaya kenapa?"
Suara sang bibi menyela, Zaydan menatap kedatangannya dengan panik.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja Cahaya tidak sadarkan diri," jelasnya memandangi sang istri yang berada dalam pelukan.
Naura yang sudah berdiri di samping mereka pun memindai Cahaya dari atas kepala sampai ujung kaki. Hingga pandangannya jatuh ke pergelangan tangan keponakan iparnya yang terkulai lemas.
Manik berlensa abunya melebar sempurna dengan mulut ranum terbuka lebar.
"Pergelangan Cahaya berdarah lagi? Kenapa kamu tidak cepat membawanya ke rumah sakit?"
"Ayo cepat bawa Cahaya ke rumah sakit, sekarang juga!" gertaknya menyadarkan Zaydan yang sedari tadi diam membisu.
Seketika itu juga ia langsung menggendong Cahaya dan membawanya ke mobil. Di tengah-tengah langkah kaki, Zaydan menyadari jika berat badan pasangan hidupnya begitu ringan.
Apa Cahaya tidak pernah makan? Pikirnya gamang.
Zaydan serta Naura pun bergegas pergi dari pekarangan mansion menuju rumah sakit.
...***...
"Bagaimana bisa ini terjadi lagi? Bukankah saya sudah mengatakan untuk terus mengawasi pasien? Apa yang kalian lakukan selama ini? Mengabaikannya? Atau mengintimidasinya?"
Dokter paruh baya berkacamata sedikit tambun itu pun mencak-mencak pada keturunan Raynold sembari memandangi mereka bergantian.
Sejak pertama kali Cahaya melakukan percobaan bunuh diri, Dokter Bahran menjadi penanggungjawabnya.
"Kami benar-benar minta maaf, Dok. Kami lepas pandangan darinya." Naura menundukkan kepala dalam, menyesal.
Bahran menghela napas kasar seraya mengusap wajah gusar.
"Kamu tahu sendiri, anak itu mengalami depresi hebat. Kehilangan ayah yang membusuk tepat di depan matanya, apa kamu pikir... hal itu wajar? Kondisi psikisnya sudah sangat terganggu," jelas Bahran lagi.
"Lalu, kenapa dia tidak mendapatkan penanganan dari psikiater?" tanya Zaydan mengalihkan perhatian sang dokter.
"Dia sangat keras kepala dan tidak ingin mendapatkan penangan apa pun. Beberapa tahun lalu kami pernah memaksanya mendapatkan perawatan, tetapi dia terus berhasil kabur dan tidak ingin melakukannya."
"Karena takut dia melakukan hal nekad, akhirnya kami membiarkannya saja dan mempercayakan pada keluarga untuk mengurusnya, tapi apa yang didapatkan lagi kali ini? Cahaya kembali ke rumah sakit dengan luka di lengannya terbuka lagi. Bukankah kamu yang menjadi walinya?" racau Bahran tidak habis pikir memandang ke arah Naura.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Cahaya? Kenapa lengannya bisa berdarah?" Zaydan yang tidak tahu menahu pasal itu pun kembali angkat bicara.
Bahran melirik Naura yang menggelengkan kepala pertanda jika keponakannya tidak tahu apa-apa.
"Aku serahkan semuanya padamu. Karena selama ini kamu yang sudah memberikan segalanya pada Cahaya dan menjadi satu-satunya keluarga yang kami percaya," kata Bahran pada Nuara, lalu menoleh pada Zaydan. "Kamu bisa menanyakan semuanya pada dia," jelasnya lagi melirik singkat pada wanita di samping Zaydan.
Setelah itu sang dokter angkat kaki, meninggalkan berjuta kebimbangan dalam diri Zaydan. Naura seketika mendudukkan diri di kursi tunggu sembari menjatuhkan pandangan ke bawah.
Zaydan pun mengikutinya dan duduk tepat di samping sang bibi.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Tan? Kenapa Cahaya-"
"Dia melakukan percobaan bunuh diri," jelas Naura memotong ucapan sang keponakan.
"APA? Apa yang-"
"Dan ini sudah kedua kali." Sambar Naura lagi.
Bola mata Zaydan bergetar, tidak percaya atas apa yang didengarnya barusan. Cahaya pernah melakukan hal nekad itu, tidak hanya sekali bahkan sampai dua kali.
Mendengar penjelasan Naura membuat Zaydan tidak bisa berkutik. Ia memikirkan banyak hal dalam kepalanya mengenai siapa sebenarnya sang istri.
Pernikahan mereka sudah berjalan lima bulan lamanya, selama itu pula banyak kejadian yang baru ia alami. Mulai dari bangun tidur ada yang menyiapkan sarapan hingga pulang pun ada yang menyambut.
Meski mereka menikah akibat perjodohan, tetapi Cahaya melakukan tugas sebagai istri dengan baik. Namun, satu yang belum bisa keduanya laksanakan, yaitu menjadi pasangan suami istri sesungguhnya.
Zaydan tetap menjalin hubungan serius dengan Fiona di belakang Cahaya, walaupun begitu istrinya sama sekali tidak mempertanyakan mengenai status mereka.
Cahaya bersikap acuh tak acuh mengenai kehidupan pribadi sang suami. Itulah yang sudah keduanya sepakati di awal, untuk tidak ikut campur.
Setelah mengetahui jika Cahaya pernah melakukan tindakan di luar nalar, Zaydan merasa tertampar sekuat tenaga. Ingatannya pun berputar pada saat ia mendapati sang istri duduk di ruang tengah dengan hujan mengguyur ibu kota sangat deras.
"Saat Tante menghubungimu malam itu dan mengatakan jika kamu akan dijodohkan dengan seseorang... siang harinya Tante mendapati kabar Cahaya berada di rumah sakit. Dokter Bahran mengatakan dia melakukan percobaan bunuh diri untuk kedua kalinya," ungkap Naura.
Pada saat itu ia masih berada di kota sebelah, menghadiri acara yang mengundang dirinya. Ia mendapatkan panggilan dari tetangga sekitar rumah Cahaya jika wanita itu ditemukan dalam keadaan diambang batas.
Para tetangga sudah curiga, sebab sebelum kejadian Cahaya sama sekali tidak terlihat keluar dalam kurung waktu satu minggu. Pasca ayahnya ditemukan oleh warga, Cahaya sangat tertutup pada lingkungan sekitar.
Naura yang selama ini mengawasinya tidak habis pikir akan kejadian sama terulang kembali.
lanjut thor /Ok//Ok//Good//Good/