NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Chicklit / Tamat
Popularitas:358.6k
Nilai: 4.7
Nama Author: Lin_iin

Katanya dokter jodohnya dokter juga. Biar dosisnya sesuai. Itu lah yang sering kali orang-orang bicarakan. Tapi tidak bagi Ayana, menurutnya justru sebaliknya. Ayana ingin jodoh yang bukan seprofesi dengannya. Lantas bagaimana kalau keluarganya justru menginginkan Ayana berjodoh dengan dokter juga? Apakah perempuan itu akan menurut atau justru sebaliknya?

Nantikan kisah Ayana dokter cantik, namun, sedikit ceroboh dalam menemukan belahan jiwanya. Hanya di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Negoisasi

Ayana reflek langsung berdiri saat menyadari keberadaan Saga. Perasaan gugup luar biasa mendadak ia rasakan saat kedua pasang mata itu saling bersitatap. Rasanya ia tidak seperti sedang bertemu calon gebetan, melainkan seperti sedang bertemu dokter konsulennya dulu. Apalagi aura mendominasi yang Saga pancarkan.

"Malam, dok, "sapa Ayana dengan nada canggung.

Saga mengangguk dan mempersilahkan Ayana untuk kembali duduk. "Silahkan," ucapnya sambil menunjuk ke arah cangkir teh yang ada di hadapan gadis itu.

Ayana yang masih merasakan gugup luar biasa, spontan meraih cangkir itu dan langsung menyesapnya begitu saja. "Akhhh... panas," pekiknya saat menyadari kalau teh itu ternyata masih panas.

"Hati-hati!"

Ayana meringis malu sambil mengangguk dan meletakkan cangkirnya kembali di atas meja.

"Iya, dok."

"Nama saja."

Lagi-lagi Ayana hanya mampu merespon dengan ringisan canggung.

"Ada apa?" tanya Saga pada akhirnya.

"Hah? Apanya yang ada apa?" Ayana balik bertanya dengan ekspresi bingungnya.

"Kedatangan kamu."

"Oh, itu, dok, anu... sebenernya... Saya mau tanya."

Saga mengangguk. "Silahkan!"

"Dokter Saga udah ketemu Abang saya?"

Saga menggeleng.

Raut wajah Ayana berubah panik. Ia sampai nekat datang kemari secara langsung karena ia pikir Tama sudah memberitahu Saga tentang rencana mereka. Tapi justru apa yang sedang terjadi ini? Tama bahkan belum menemui pria ini? Lalu ia harus menjelaskan seorang diri begitu? Tentang kencan mereka? Wah, yang benar saja. Ia merasa seperti sedang dikerjai.

Tama sialan. Umpat Ayana kesal.

"Ada masalah?" tanya Saga hati-hati. Ia sedikit menyipitkan mata saat menyadari raut wajah Ayana yang mendadak berubah.

Ayana tidak langsung membalas. Wajahnya terlihat seperti orang linglung. Dalam hati gadis itu tengah merutuki kebodohannya sendiri. Berbeda dengan Saga yang kini tengah memasang wajah herannya.

"Oh. Kami tidak bertemu. Tapi dia menelfon," ucap Saga tiba-tiba. Ia tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan sendiri, tapi entah kenapa ia merasa harus mengucapkan kalimat itu. Dan benar saja, setelah ia mengatakan kalimat itu raut wajah Ayana kembali cerah. Gadis itu terlihat lega.

"Memang ada apa?" tanya Saga kemudian.

What? Ada apa? Serius ini cowok tanya begitu? Lagi nggak salah denger nih gue? Batin Ayana merasa keki sendiri.

"Anda tidak ingin membahas sesuatu dengan saya?"

Saga menaikkan sebelah alisnya. "Soal date?" tebaknya tidak yakin.

Dengan ekspresi malasnya Ayana mengangguk dan langsung mengiyakan.

"Ladies first. Kamu boleh menentukan date pertamanya."

Ayana memasang wajah shocknya. "Emang dokter Saga mau ngedate sama saya?"

Dengan wajah yakin dan tanpa keraguan Saga langsung mengangguk.

"Kalau saya yang nggak mau?"

"Kamu nggak mau?" Saga balik bertanya.

Ayana diam saja. Bingung harus membalas apa. Ia mengigit bibirnya ragu.

"Oke, sabtu besok ngajar kelas pagi, siang, atau sore, dok?" tanyanya kemudian.

"Pagi. Sampai jam 2."

Ayana menggeleng. "Saya shift sore. Kalau minggu gimana?"

"Enggak ada kelas--"

"Oke, hari minggu jam satu?" potong Ayana cepat.

"Ada seminar di Bandung," sambung Saga melanjutkan kalimatnya yang tadi dipotong Ayana, "pulangnya malam."

Ayana mendadak kesal sendiri. "Lha terus gimana? Bisanya kapan? Kalau weekend aja nggak bisa gimana week day?" tanyanya ngegas. Detik berikutnya ia tersadar, cepat-cepat Ayana langsung meminta maaf karena kelancangannya.

"Sebentar," ucap Saga langsung berdiri meninggalkan Ayana seorang diri. Tak lama setelahnya ia kembali sambil membawa tab dan langsung menyerahkannya pada gadis itu.

"Apaan ini?"

"Schedule saya bulan ini, bisa kamu sesuaikan."

Anjir, mau ngedate doang aja udah kayak mau ketemu artis papan atas, disesuaikan sama jadwal. Mana jadwal operasinya penuh banget lagi. Gerutu Ayana dalam hati. Ia heran sendiri kenapa sih Abangnya semangat banget menjodohkan mereka? Padahal menurutnya keduanya sama sekali tidak cocok.

"Ya udah rabu sore minggu depan, jadwal operasi dokter Saga paling dikit di minggu ini. Gimana?" ucap Ayana menyarankan.

Saga mengangguk setuju. "Saya jemput?" tawarnya kemudian.

Ayana berpikir sejenak lalu mengangguk tidak masalah. "Ya udah oke."

"Sudah?"

"Dokter Saga bermaksud mengusir saya?"

Dengan wajah andalannya Saga menggeleng. "Kenapa kamu berpikir demikian?"

Ayana mendengus. "Soalnya pertanyaan dokter Saga kayak ngusir secara nggak langsung."

Saga tidak terlalu menggubrisnya. Pria itu kemudian bertanya untuk mengalihkan pertanyaan. "Kenapa kamu panggil saya dokter terus?" protesnya kemudian.

"Ya, karena dokter Saga dokter, gimana sih?"

"Kamu juga. Apa itu artinya saya juga harus begitu?"

"Ya, enggak, itu pengecualian."

"Saya tidak suka."

"Sama panggilannya?"

Saga langsung mengangguk cepat.

"Terus maunya dipanggil apa?"

"Terserah."

"Ya, kalau terserah harusnya nggak protes dong kalau saya panggil dok?"

"Kecuali itu."

"Astaga, banyak maunya. Ya udah, nanti saya pikirin lagi mau manggil apa kalau gitu saya pamit dulu, dok."

Saga menatap Ayana tidak suka.

"Ya untuk sementara doang, astaga, ntar kalau udah nemu panggilan yang cocok baru saya panggil itu. Udah deh, nggak usah banyak protes. Saya permisi."

"Saya antar."

Ayana berdecak sambil menggeleng tidak setuju. "Enggak usah. Ngapain? Rumah saya kan cuma di depan rumah dokter Saga."

"Tidak masalah."

"Tapi bagi saya itu jadi masalah."

"Kenapa?"

"Ya pokoknya bagi saya itu masalah."

"Ya sudah, hati-hati kalau begitu."

Ayana mengangguk lalu pamit pulang.

"Iya, terima kasih. Permisi."

1
Lia Kiftia Usman
malvin....ok banget...langka sahabat seperti malvin
Lia Kiftia Usman
mau gigit ayana ... rasanya😁
Lia Kiftia Usman
🤦‍♀️ mindset nya di rubah ayanaaa.... dahulukan lihat silaturahimnya..positif thinking ayanaaa....😊🤭
Lia Kiftia Usman
ayana...ayana... curhatnya ke suami .. bang tama kan bilang kalau pernikahan itu ngobrol..😊
walau malvin besti.
Quinn Cahyatishine
Luar biasa
Nur Ida Sannu
Biasa
Nur Ida Sannu
Kecewa
Naila hana
Ceritanya bagus, karakter tokohnya hidup juga, mungkin dg cover yg lebih menarik bisa lebih menarik minat para pembaca.. tetap semangat berkarya Kak, ditunggu karya selanjutnya..
Naila hana
kehangatan rumah yg selalu dirindukan Malfin
Naila hana
lanjutt..
Naila hana
dunia begitu sempit ya.. 😅
Naila hana
panjang umur nih ayana.. baru juga diomongin. 😁😁
Naila hana
cie robot bernyawa mulai tersenyum😄😄
Naila hana
poor Ayana..
Atik Kiswati
akhirnya happy ending juga....
mksh buat ceritanya thor.....
Baiq Marista
Luar biasa
Satria Rumii
/Drool/
Vie ardila
Luar biasa
T.N
setuju meski ada yg bantu tetep harus bisa dikerjakan sendiri
chika anaya
agak nggak nyangka sama endingnya, tapi adil buat semuanya sih...
terimakasih, selalu bikin cerita yg bagus, enak dibaca.
selalu semangat ya thor...
chika anaya: ok ok cuss marathon 😅😅
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!