Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.
Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.
Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
“Menurutku tidak separah itu,” ujar Jenaka. “Mungkin sekarang berantakan, tapi takkan ada yang hancur. Dante sendiri yang mengawasi pemasangan alat, dan aku yakin dia tidak akan membiarkan ada yang rusak.”
“Kaulihat saja sendiri.”
Jenaka menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya. “Kurasa sebaiknya kita makan siang dulu. Taman takkan ke mana-mana, tapi makanan kita akan mendingin.”
“Kau ingin mengulur waktu?” tanya Lingga dengan dingin. “Aku sudah memberitahumu, Nona Jenaka. Aku tidak ingin ada yang berubah dari rumah ini.”
“Aku tidak bisa menyangkal, juga tidak bisa membenarkan perubahan apa yang sudah dilakukan, karena aku belum pergi ke luar. Aku bersamamu sepanjang pagi. Tapi aku percaya Dante memiliki selera bagus," ucap Jenaka dengan tegas.
“Bukannya aku tidak memercayai suamiku.” Mentari memulai dengan emosi, tapi Lingga memutus kata-katanya dengan mengangkat satu tangan.
“Jangan berdebat sekarang,” ucapnya singkat. “Aku ingin melihat halaman rumah kita.”
Mentari langsung bungkam, meski wajahnya cemberut. Rupanya Lingga masih kakak yang berkuasa, meski kesehatannya buruk. Suara Lingga menyiratkan nada perintah. Sakalingga Ibra terbiasa memberikan perintah dan ingin perintahnya dilaksanakan segera, sikapnya pagi ini selama bersama Jenaka benar-benar berlawanan dengan karakter aslinya.
Ini pertama kalinya Jenaka menginjak di halaman kediaman Ibra yang ditata indah, sejuk dan wangi, meski matahari Bandung saat itu sedang terik. Tanaman-tanamannya di hiasi berbagai bunga dan berbagai spesies kaktus tumbuh sempurna dengan tanaman-tanaman yang biasa ditemukan di tempat beriklim jauh lebih bersahabat.
Ada sebuah saung yang begitu rindang. Batu-batu putih besar terhampar membentuk jalan setapak, untuk menuju ke arah saung di tengahnya ada air mancur yang bergemuruh merdu dengan semburan sempurna.
Di belakang saung, gerbang tinggi yang membuka ke area kolam renang, ada bangku yang dipahat indah dengan warna abu-abu mutiara yang lembut. Jenaka tidak tahu bangku itu dari jenis kayu apa, tapi yang jelas sangat indah.
Keadaan saung memang berantakan, karena rupanya tukang yang dipekerjakan Dante menggunakan saung untuk menyimpan perabot dan juga beberap bahan bangunan. Tetapi, Jenaka melihat para pekerja berhati-hati sehingga tidak mengganggu satu tanaman pun, semua barang diletakkan dengan hati-hati di batu putih.
Mentari berlari ke bangku indah itu dan menunjuk retakan panjang di sisi bangku. “Lihat!” teriak Mentari.
Mata Lingga seakan menyala. “Ya, aku melihatnya. Well, nona Jenaka, kelihatannya para tukangmu merusak bangku yang kuanggap sangat berharga. Ayahku menghadiahkan bangku itu kepada ibuku saat mereka pindah ke sini. Ibuku duduk di sini setiap malam, dan di bangku itu aku bisa selalu melihat ibuku dalam benakku. Aku ingin semua pekerjaan ini dihentikan sebelum ada barang lain yang rusak, dan aku ingin kau keluar dari rumahku!!”
Jenaka merasa bersalah karena bangku itu rusak, dan hendak membuka mulut untuk meminta maaf, namun ia melihat secercah kemenangan berkelebat di mata Mentari, dan ia tidak jadi mengatakannya. Ia berjalan mendekati bangku dan membungkuk untuk mengamati kayu yang tergores.
Dengan serius Jenaka menyusurkan telunjuk di goresan itu, kemudian sekilas ia melirik Mentari, ia menangkap kecemasan di mata yang sangat ekspresif itu. Apa yang Mentari khawatirkan? Ketika Jenaka kembali menatap bangku, jawabannya menjadi jelas. Bangku itu memang mengalami kerusakan, tapi bekas goresan itu sudah cukup lama dimakan cuaca. Goresan itu jelas bukan terjadi pagi ini.
Jenaka bisa saja langsung menuduh Mentari sengaja ingin membuat onar, tapi tidak ia lakukan. Jenaka menganggap Mentari hanya sedang berjuang untuk kakak yang dia sayangi, meskipun cara sayang Mentari kepada Lingga salah, ia tidak ingin melihat kakaknya sakit karena terapi, padahal itu justru untuk kesembuhannya.
Jenaka tak perlu berdebat dengan Mentari, ia hanya perlu menjauhkan Mentari dari Lingga untuk sementara agar pekerjaannya bisa dilanjutkan tanpa terus-menerus di ganggu, dan Dante harus memutar otaknya untuk membuat istrinya sibuk dengan hal lain.
“Aku bisa mengerti alasan kalian berdua marah,” ucap Jenaka dengan lembut, “tapi goresan itu bukan terjadi hari ini. Kalian bisa lihat?” tanya Jenaka sambil menunjuk kayu. “Itu bukan goresan baru. Aku menebak goresan itu sudah terjadi beberapa minggu.”
Lingga memajukan kursi rodanya lebih dekat dan membungkuk untuk mengamati sendiri bangku itu. kemudian ia menegakkan tubuh lambat-lambat. “Kau benar Jenaka.” Lingga mengembuskan napas. “Aku bahkan yakin aku pelakunya.”
Mentari terkesiap. “Apa maksud kakak?”
“Beberapa minggu lalu aku ke sini dan kursi rodaku menyenggol bangku ini. Kau akan menyadari letak retakan itu setinggi kursi rodaku.” Lingga menggosok mata dengan tangan kurusnya yang gemetaran karena tegang. “Aku benar-benar minta maaf, Tari.”
“Jangan menyalahkan dirimu!” ratap Mentari sambil berlari ke samping Lingga dan menggenggam tangannya. “Bukan masalah besar. Kumohon jangan sedih. Masuklah, kita makan siang. Aku tahu kau pasti lelah. Tak ada gunanya membuat dirimu kelelahan seperti ini. Kau butuh istirahat.”
Jenaka memperhatikan saat Mentari berjalan di samping kursi roda, sikapnya penuh perhatian dan kasih sayang. Sambil menggeleng-geleng kecil karena kesal bercampur geli, karena masalah bangku tadi Jenaka menyusul mereka.
Mentari terus berada di sisi Lingga sepanjang hari, mengusik kakaknya seperti ayam betina menjaga anaknya. Lingga memang lelah setelah menjalani terapi hari pertama, jadi Jenaka membiarkan Mentari memanjakan kakaknya. Meski Jenaka sempat merencanakan sesi latihan dan pemijatan sekali lagi, ia melupakan rencana itu alih-alih harus bertengkar dengan Mentari. Besok akan lain cerita.