NovelToon NovelToon
Menggenggam Mentari

Menggenggam Mentari

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kurniasih Paturahman

Sebuah kabar mengejutkan hadir menghampiri hari bahagia Mentari kala itu.

Bintang yang merupakan calon suaminya, mengalami kecelakaan disaat mereka akan meresmikan hubungan mereka menuju halal.

Mentari pun menangis dengan gaun pengantin yang masih membalut tubuhnya.

dan...

Mentari kembali terkejut, sebuah permintaan terakhir terucap dari mulut Bintang. Memintnya untuk menikah dengan pria lain, bukan dengan dirinya.

Langit nama pria itu, yang sesungguhnya juga mencintai Mentari dalam diam.

"Nikahilah Mentari, jadikan dia istrimu." pinta Bintang.

Apakah Langit mampu membuat Mentari bahagia, menghapus kesedihan yang begitu menumpuk.

"Izinkan aku untuk Menggenggam mu Mentari." ucap Langit di saat hari pernikahan mereka.

Yuk.. kepoin Ceritanya, jangan lupa dukungan terbaiknya😚🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecewa

🌿Selamat membaca.

🌿Semoga suka dan terus ikuti kisahnya.

🌿Like dan komen baiknya selalu dinanti 🤗.

...----------------...

Di sudut kamar, Mentari tampak menatap dari kejauhan Langit berserta keluarganya yang kini kian perlahan pergi.

Mentari menghela napasnya kemudian, pikirannya terbang saat pertemuan dirinya dengan Langit di kafe.

"Mas.. aku setuju kita menikah. Tapi dengan syarat." ucap Mentari saat itu.

Mentari menghela napasnya kembali. Ia mengingat kembali syarat yang diajukannya pada Langit kala itu.

"Katakan lah." ucap Langit.

"Aku tak ingin ada pesta pernikahan, dan aku tak ingin ada yang tahu kalau kita menikah. Aku tak ingin teman sekantor aku dan kamu tahu. Cukup keluarga dekat kita saja." pinta Mentari saat itu.

Langit sempat terdiam untuk beberapa saat, lalu dengan berat ia menyetujuinya. Langit dan Mentari bekerja pada perusahaan yang sama. Langit merupakan pemimpin perusahaan dan Mentari adalah salah satu karyawannya.

"Oke.. aku setuju, tapi aku tetap perlu memberitahu Bayu, asistenku." ucap Langit menyetujuinya.

"Tak masalah dan aku percaya kamu bisa melakukannya."

Memang berat bagi Langit untuk memenuhi permintaan Mentari. Tapi ia merasa harus tetap melakukannya. Biarkanlah Mentari meminta seperti itu. Walaupun hati kecil Langit begitu kecewa.

"Apakah aku begitu buruk untuk menjadi pendamping mu." bisik Langit sendiri dan ia sangkal dengan cepat saat itu. "Mentari hanya belum siap, belum bisa menerima kehadirannya. Kehadiran pria lain di dekatnya. ya.. harusnya seperti itu." sangkalnya.

Tok..tok..tok..

Ketukan pintu terdengar, menyadarkan Mentari yang masih terngiang dengan pembicaraannya bersama Langit.

"Mentari.." panggil Senja.

"Ya Bu.." ucap Mentari cepat dan bangun dari duduknya menghampiri pintu dan membukanya.

"Ibu masuk ya, ada yang ingin ibu bicarakan."

ucap Senja seiring dengan langkah kakinya yang kian masuk lebih ke dalam.

"Ada apa Bu?" tanya Mentari kemudian duduk mengikuti Senja yang telah duduk terlebih dahulu.

"Mengenai pernikahan kalian. Kau yang meminta untuk tidak ada pesta pernikahan kan?" tanya Senja dan Mentari mengangguk.

Anggukan Mentari membuat Senja menghela napasnya. Ia sudah menduga hal ini sebelumnya.

"Kenapa?"

"Untuk apa Bu? Aku menikah dengan Mas Langit juga karena janji. Ibu tahu aku tak mencintainya. Jadi untuk apa ada pesta, itu sesuatu yang tak penting untuk dirayakan."

"Mentari, ibu berharap kau menikah untuk seumur hidupmu. Menikah itu sesuatu hal yang penting. Bukan semata karena janjimu pada Bintang." ucap Senja dan menatap Mentari begitu dalam.

"Ibu kenapa membela mas Langit terus dibandingkan aku. Tak mudah bagi Tari menerima Mas Langit dengan cepat Bu."

"Ibu tidak membela siapapun, ibu hanya mengingatkan mu, ibu enggak mau kau menyesal nantinya." ucap Senja lagi dan menggenggam jemari Mentari. "Ibu ingin kau bahagia, hanya itu."

Mentari terdiam, ia tak lagi membalas ucapan Senja. Ia masih begitu egois dengan perasaannya sendiri saat ini.

"Istirahatlah, beberapa hari ke depan kau akan mulai sibuk dengan pernikahan mu." ucap Senja dan pamit kemudian.

Mentari sendiri kembali dan merenungi keputusannya.

.

.

.

.

"Maafkan Langit Bu.." pinta Langit pada Rubi yang sejak tadi masih begitu sulit untuk tersenyum. Menatap Langit pun ia tak lakukan.

"Ibu tak mengerti dengan keputusan kalian, kenapa pernikahan kalian harus ditutupi. Ini momen yang ibu harapkan hanya terjadi sekali seumur hidupmu."

"Langit juga berharap seperti itu Bu.."

"Sudahlah, ibu lelah hari ini.." ucap Rubi memotong perkataan Langit dan pergi begitu saja. Meninggalkan Langit dan Surya.

"Maafkan Langit, Yah.." pinta Langit kemudian dan Surya menepuk lembut bahu Langit menenangkan.

"Ayah tidak dapat memaksamu. Kalian sudah dewasa dan dapat memutuskannya sendiri dan menentukan mana yang tebaik."

"Ya Ayah.."

"Ibumu, ayah yang urus. Kamu tenang saja." ucap Surya kembali dan membuat Langit tersenyum akhirnya.

Selama perjalanan pulang, Langit begitu cemas menatap sang Ibu yang begitu kecewa atas keputusan yang dibuatnya.

Langit merupakan anak satu-satunya hasil dari pernikahan Rubi dan Surya. Seorang pemimpin perusahaan yang berharap hari bahagianya dapat disaksikan oleh banyak orang. Bukan ditutupi seperti kemauan Langit dan Mentari. Wajar bagi Rubi begitu kecewa atas keputusan putranya itu.

.

.

.

.

Sehari sebelum pernikahan pun tiba, hanya selisih dua hari setelah kedatangan ke dua orang tuan Langit ke rumah Mentari. Langit masih begitu sibuk mempersiapkan segalanya. Walaupun hanya pernikahan sederhana, Langit tetap mempersiapkan segalanya semaksimal mungkin. Ia tak mau mengecewakan Ke dua orangtuanya, mengecewakan Senja dan Mentari.

"Aku sebentar lagi sampai, tunggulah.." ketik Langit dan kemudian mengirim pesan itu ke Mentari.

Mentari membacanya namun tak membalasnya. Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Besok dirinya sudah akan menjadi istri dari seorang Langit.

Bunyi bel terdengar kemudian, Mentari pun bangkit dari duduknya menghampiri pintu dan membukanya. Ia yakin yang berada di balik pintu saat ini adalah Langit.

"Kau sudah siap?" tanya Langit yang memang benar dirinya yang kini telah datang di rumah Mentari.

"Ya.." jawab Mentari dan melangkah terlebih dahulu meninggalkan Langit, berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir di depan rumahnya. Langit pun menyusul langkahnya.

"Maafkan aku, sudah mengganggu waktumu. Tapi aku tak bisa memutuskannya sendiri kali ini." ucap Langit dan kemudian membukakan pintu mempersilahkan Mentari masuk ke dalam.

Hari ini, Langit dan Mentari berencana ke butik, tempat dimana Langit memesan pakaian pernikahan mereka. Mencoba kembali sebelum besok mereka kenakan. Langit merasa perlu memastikannya lagi. Ia tak mau kesalahan kecil terjadi esok, apalagi ini kaitannya dengan Mentari.

Tak menghabiskan waktu yang lama, Mentari dan Langit akhirnya tiba. Mereka masuk perlahan dan mencobanya secara bergantian.

Mentari tatap dirinya di hadapan sebuah cermin besar saat ini. Ia terdiam terpaku dengan kebaya berwarna putih gading yang sudah melekat di tubuhnya. Air matanya menetes tanpa disadari. Ia teringat kembali pernikahannya dengan Bintang, pernikahan yang gagal terjadi dan tak akan pernah terjadi untuk selamanya.

"Mentari.." panggil Langit berulang, karena tak ada balasan terdengar dari Mentari.

"Mentari kau baik-baik saja?" tanya Langit lagi dan terdengar kecemasan yang menyelimuti dirinya.

Langit mencoba membuka pintu kamar ganti, ia merasa perlu melakukannya. Karena Mentari tak memberikan jawaban dari panggilannya.

Klek..

Pintu terbuka, Langit tatap Mentari yang masih terdiam menatap dirinya sendiri di sebuah cermin yang dihadapannya. Terlihat air matanya menetes di pipinya.

Langit raih tubuh Mentari dengan cepat. Ia peluk Mentari begitu erat. Memberikan bahunya untuk menopang kesedihan yang kini tengah menyelimuti Mentari.

"Mas.. pakaian ini mengingatkan ku dengan mas Bintang." ucap Mentari dan terisak. Langit makin mengeratkan pelukannya, ia usap perlahan punggung Mentari mencoba menenangkannya.

.

.

.

.

Yuk.. bisa yuk.. Mangat Tari🤭🤗

1
Umrida Dongoran
Gantengn bintang ya thor ketimbang langit
💜⃞⃟𝓛 ᎩᏬᏁhiat ⍣⃝ꉣꉣ❀∂я
Mantap 👍
belum saya baca habis ada waktu luang nanti saya mampir baca ya thor 🤗
tetap semangat berkarya sukses selalu🙏
it's me oca -off
ehm langit bintang bulan nya mana
temen mentqri😅😅
it's me oca -off
uda vote uda hdir onel
sakura
..
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kamu nanyak Langit 🤭
Nur Adam
lnjut
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
hamil ya gak papa Tari kalau yang menghamili Langit 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
hayo kenapa ada disitu 🤔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
ngapain aja boleh
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Intan mau jadi pelakor sepertinya 🤭
༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ᴍᴏᴇᴛ𝐀⃝🥀83709693
auto mengulum bibir sendiri ehh 🤭🤭🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
gak papa mendadak bodoh, kan yang bikin mendadak bodoh suamimu sendiri 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sepertinya Mentari cemburu 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sama Mak , aq pun mau 🤣🤣
@ѕ⍣⃝✰𝓐ⷨ𝖒ⷷ𝖊ᷞ𝖑𝖑 ♛⃝꙰𓆊
mau aja Langit kan emang kamu suka sama mentari
♀️
pasti mentari bisa ayo semangat bahagia menantimu
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
semoga suatu saat nanti Mentari bisa mencintai Langit 🤲
🦋 165
kebayang klo mentari tau langit yg kasih gaun pasti lari ke planet(Wawa)
🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
𝓐𝔂⃝❥Nona M ѕ⍣⃝✰
banyak bawangnya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!