Elena, ku mohon cepatlah sadar! Aku sangat merindukanmu!
Seorang Pria muda duduk di samping ranjang, menemani seorang wanita cantik yang baru saja kembali dari gerbang kematian.
Apa yang terjadi dengan wanita itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Win, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11. Menyembunyikan perasaan
"Kelihatan mahal lho ini, bukan berlian asli kan?" tanya Elena penasaran.
"Bukan, palsu kok itu." jawab Ryuga berbohong. "Sini aku pakein!" ucapnya sambil mengambil cincin dari kotak.
Elena hanya tersenyum senang, namun wajah bahagianya tiba-tiba menghilang begitu Ryuga memakaikan cincin itu ke jari tangannya.
Elena mengingat hari ketika dia bertunangan dengan Steven. Dia juga di pakaikan cincin oleh laki-laki itu. Saat bertunangan, dia berpikir telah menemukan kebahagiaannya. Namun ternyata, semua hanya angan-angan belaka.
"Kamu kenapa, Len?" tanya Ryuga yang menyadari perubahan hati Elena.
"Nggak apa-apa kok. Yuk pulang, dingin!" ajak Elena.
"Sebentar lagi ya, kita lihat kembang api dulu. Masih rame!" jawab Ryuga yang masih ingin menikmati waktu berdua bersama Elena.
Ryuga melepaskan pakaian luarnya, dia memakaikan pakaian itu ke Elena .
"Terima kasih." ucap Elena.
“Tidak terasa ya, sebentar lagi sudah mau tahun baru!" ucap Ryuga.
“Iya, perasaan dulu kita masih anak-anak yang main lari larian kesana kemari. Tiap hari dijeritin sama Mama buat pulang ke rumah." sahut Elena sambil mengingat masa lalu.
“Iya, rasanya bahagia menjadi anak-anak, tanpa beban dan pikiran”
Elena mengangguk menyetujui perkataan Ryuga.
Mereka berdua lalu menatap langit, melihat kembang api sambil mengayun di ayunan. Ryuga menatap Elena, dia lalu berdiri dan berjalan ke belakang Elena yang masih duduk menikmati kembang api.
Ryuga tiba-tiba memeluk Elena dari belakang, dia lalu berbisik pelan, "Len, kamu jangan terluka lagi ya!”
Elena tersenyum, dia lalu menjawab, "Iya... Kan ada kamu yang jagain aku!”
Ryuga mengeratkan pelukannya, Elena yang tidak mengetahui perasaan Ryuga, dia hanya menganggap ini sebagai pelukan dari seorang sahabat.
“Yuk pulang, udah habis kembang apinya." ajak Ryuga.
“Iya, besok mau ke mana Ga?" tanya Elena sambil berjalan pulang.
“Besok aku di rumah aja sama keluarga. Lusa aku sudah mau balik ke Jakarta”
“Kok cepat banget baliknya?”
“Aku ada urusan mendadak Len.”
"Ya udah, aku masuk dulu ya." ucap Elena sambil melambaikan tangan dan di balas oleh Ryuga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ma, aku ke rumah Ryuga ya. Dia hari ini sudah mau balik ke Jakarta."
“Kok cepat baliknya?"
“Kata nya ada urusan mendadak Ma!”
“Oh, ya sudah sana pergi, titip salam dari Mama ya Len!"
“Oke, Ma!"
Ting Tong!
Ting Tong!
“Kok nggak ada yang buka pintu ya?” pikir Elena.
Elena mengeluarkan ponsel dari kantong celana, dia menelepon ke nomor ponsel Ryuga.
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk!"
“Kok nomor nya sibuk ya? Coba telepon lagi deh!” benak Elena.
“Hallo!” terdengar suara yang sedikit serak dari sana
“Hallo, Ga! Kamu di mana?”
"Di kamar." jawabnya dengan suara malas.
"Aku di depan rumah kamu nih. Kok nggak ada yang bukain pintu sih?"
“Ngapaen kamu pagi-pagi sudah datang ke rumah ku?”
“Loh, bukannya pagi ini kamu mau balik ke Jakarta?”
“Sore lo Len, ya ampun!"
“Oh ya? Aku kira pagi, makanya aku datang buat anterin kamu ke bandara! Aku sudah di bawah nih, bukain dong pintunya! Dari pada aku datang sia sia, bagusan kamu temani aku pergi sarapan!”
“Ya sudah, tunggu bentar!”
Ryuga bangun dengan malas-malasan, dia menuruni anak tangga untuk membuka pintu depan.
"Masuk, Len."
"Makasih, kamu cepat mandi sana!"
“Iya, iya...! Padahal rencana mau tidur sampe siang. Si bocil ini malah datang pagi-pagi, gangguin orang aja!" keluh Ryuga sambil menaiki anak tangga.
“Sudah jangan mengeluh, yang cepat mandinya!"
Elena mengikuti langkah Ryuga, dia naik ke atas dan masuk ke kamarnya. Ryuga langsung masuk ke kamar mandi, sementara Elena melihat sekeliling ruangan kamar yang mewah milik Ryuga.
"Sudah lama ya aku nggak main ke sini." benak Elena.
Ryuga selalu merapikan barang-barang miliknya, dia tidak tahan melihat barang yang berserakan di sana sini. Kebiasaan rapi Ryuga membuat suasana di kamarnya selalu terlihat rapi dan bersih.
Beberapa menit kemudian, Ryuga keluar dari kamar mandi. Elena menoleh ke arah pintu kamar mandi karena mendengar suara pintu yang terbuka.
Ternyata Ryuga keluar hanya dengan menggunakan handuk kecil untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Elena yang menatap ke arah Ryuga segera menjerit sambil menutup mata dengan menggunakan kedua telapak tangan.
"Ngapain kamu teriak-teriak?"
"Kamu tuh ngapain telanjang di depan aku? Malu tau!" jawab Elena sambil berbalik.
Melihat wajah Elena yang merona merah, membuat laki-laki itu tertarik untuk menggodanya. Ryuga berjalan mendekat, dia lalu berbisik di telinga Elena.
"Kamu belum pernah lihat laki-laki telanjang ya?"
"Ya belum lah, gila ya kamu?" jawab Elena kesal.
"Nih aku kasih lihat, biar kamu nggak penasaran. Mau di pegang juga boleh." goda Ryuga sambil tersenyum.
Ryuga berjalan mendekat, sementara Elena memundurkan langkahnya. Hingga akhirnya Elena terjatuh di atas ranjang, tanpa sengaja dia menarik Ryuga yang berada di depannya. Kini Ryuga menimpa tubuh Elena, keduanya saling bertatapan.
Ryuga tergoda melihat bibir merah Elena, dia semakin mendekatkan wajah mereka. Kini jarak di antara kedua bibir hanya tinggal beberapa centimeter saja. Melihat wajah Ryuga semakin turun, Elena segera menutup bibirnya dengan telapak tangan kanan.
"Mau apa kamu?" tanya Elena dengan nada kesal.
Ryuga tidak ingin perasaannya di ketahui oleh Elena. Dia langsung tertawa sambil berkata, "Kamu pikir aku mau nyium kamu? Dih, berkhayal!"
"Siapa juga yang pengen di cium sama kamu! Dasar kepedean!" bantah Elena.
"Aku pakai baju dulu, kamu tunggu di bawah gih!" ucap Ryuga yang lalu berdiri.
Elena segera kabur dari sana, wajahnya memerah karena malu melihat tubuh Ryuga yang bertelanjang dada.
Lima menit kemudian, Ryuga turun dari lantai dua. "Yuk, Len!" ajaknya sambil berjalan ke arah pintu.
"Makan di mana?" tanya Elena.
"Kamu maunya di mana? Ryuga balik bertanya.
"Aku lagi kepingin dimsum." sahut Elena bersemangat.
"Kamu nih, tau nya makan doang." ledek Ryuga.
"Makan tuh perlu lho demi kelangsungan hidup." jawab Elena tak mau kalah.
"Kalau kamu sih hidup demi makan."
"Lanjut sekali lagi ku tampol nih!" ucap Elena sambil mengangkat satu tangannya.
Ryuga hanya tersenyum dan tertawa geli mengingat kelakuannya yang sangat berbeda jika di depan Elena.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Angel mengunjungi Steven di penjara, dia meminta maaf kepada Steven atas kesaksiannya yang memberatkan Steven.
"Aku di ancam sama Elena, kalau aku nggak bilang yang sebenarnya, Elena bakal ngelaporin aku sebagai kaki tangan kamu. Maaf ya Stev, aku benar-benar terpaksa." ucap Angel dengan air mata buaya yang mengalir.
"Awas saja dia nanti, jangan sampai aku keluar dari sini. Akan ku balas dia!" Steven mengeratkan kepalan tangannya, dengan mata yang penuh dendam, dia bersumpah akan membalas Elena karena telah melaporkan dirinya.
^^^BERSAMBUNG...^^^
nyatain ajj cwe suka kok sama cwo baik🤗