Ini adalah kelanjutan kisah dari novel Author yang sebelumnya.
----- ----- «» ----- -----
“Om, papa tidak merestui kita, ayo bawa aku pergi,” isak Ayara, sebelum kemudian ia terkejut melihat wajah pria yang di cintainya itu seperti habis kena pukul.
Ya, siapa lagi yang melakukannya, jika bukan Bara, ia memukuli sahabatnya itu tanpa ampun, karena telah mencintai putrinya.
“Apa sakit?”
“Sedikit, tapi tidak apa-apa.” Adit merasakan tangan halus Aya mengusap wajahnya yang habis kena bogem mentah dari Bara.
Ia sangat mencintai gadis kecil itu, tapi keadaan membuat ia harus menjauh!
Novel ini hanyalah hasil dari kegabutan Author!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ny.Jutex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberikan Izin
Baik Bara maupun Raisa memperhatikan putrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ayara yang jadi pusat perhatian itu pun terlihat malu-malu dengan mengulum senyum.
Saat dalam perjalanan pulang tadi, sebetulnya mereka sudah berencana untuk mengajak anak-anak mereka makan siang di luar. Tapi, melihat Ayara yang sudah rapi dengan senyum ceria di wajahnya, membuat Raisa tak tega untuk melarangnya pergi. Raisa pun menatap suaminya meminta jawaban.
“Ya sudah, hati-hati,” ucap Bara, pertanda memberikan izin.
“Pa, Ma, Aya pergi dulu ya,” pamit Ayara seraya menyalami kedua orangtuanya secara bergantian.
“Jangan nyusahin om Adit,” pesan Raisa.
Setelah mobil Adit meninggalkan halaman rumah mereka, Bara dan Raisa pun masuk ke dalam.
“Aku ga tega liat Aya udah terlihat rapih tadi, makanya aku minta pendapat kamu dulu,” ujar Raisa.
“Ya, kita perginya bisa lain kali aja,” sahut Bara.
“Ayo kita mandi sama-sama,” ajak Bara ketika mereka sudah di kamar. Raisa hanya membalas dengan tersenyum, ia sudah tau betul maksud sang suami.
Di perjalanan
Ayara hampir tak berhenti mengurai senyum, ia terlihat sangat menikmati perjalanan mereka walau sesekali Adit harus menghentikan mobilnya di lampu merah. Ayara juga tak bertanya kemana mereka akan pergi, yang penting baginya bisa jalan-jalan menghabiskan hari libur itu sudah lebih dari cukup.
Beberapa saat setelah lolos dari sedikit kemacetan, Adit memarkirkan mobilnya di dekat sebuah tempat makan.
“Ayo,” ajak Adit pada Ayara yang tampak tidak menyadari kalau mobil mereka sudah berhenti. Ayara pun turun dari mobil dan mengekor di belakang Adit.
“Duduk dulu,” titah Adit pada Ayara yang tampak melihat-lihat ke sekeliling tempat tersebut. Ayara pun duduk setelah menarik kursi untuknya.
“Om udah sering kesini?” tanya Ayara.
“Ya, tapi dulu,” jawab Adit, kemudian ia memesan makanan saat pelayan datang menghampiri meja mereka.
“Kamu mau apa?” tanya Adit pada Ayara.
“Apa aja,” jawab Ayara sambil tersenyum.
“Serius?” tanya Adit memastikan, ia ingat betul bagaimana dulu perjuangan Bara untuk memahami apa yang di sukai dan tidak di sukai Raisa. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, pikir Adit.
“Aku ngga seperti mama, yang banyak pantangan. Selagi halal dan bukan racun pasti aku makan,” kekeh Ayara. Adit pun tersenyum mendengar ucapan gadis itu.
“Tapi kalau ada, aku mau jus alpukat.”
“Apa ada?” tanya Adit pada pelayan.
“Ada, Pak,” jawab pelayan itu.
“Ok, kalau pun ngga ada, kalian harus adain,” pesan Adit, dan pelayan itu pun hanya mengangguk lalu ia pergi.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Adit mengajak Ayara mengobrol.
“Oiya, kamu kelas berapa sekarang?” tanya Adit.
“Kelas 12.”
“Ada rencana mau melanjutkan dimana?”
“Em, belum tau.” Ayara menggeleng. Selama ini ia hanya mengikuti apa pun pilihan orangtuanya, dan ia tidak pernah keberatan karena pilihan orangtuanya selalu yang terbaik menurutnya.
Obrolan berhenti sejenak ketika pelayan datang membawakan pesanan mereka.
Ayara lebih dulu mencicipi jus alpukatnya yang tersaji di hadapannya.
“Em, enak juga. Ternyata bukan hanya bagus tempatnya saja,” puji Ayara.
“Kamu suka tempat ini?” tanya Adit. Ayara menjawab dengan mengangguk, karena mulutnya sudah lebih dulu terisi makanan.
“Ya sudah, habiskan makanan dan minumnya.”
“Gitu doang?” batin Ayara, ia pikir bakal sering di ajak jika dirinya menjawab "iya".
Setelah selesai makan dan Adit membayar semuanya, mereka pun kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.
“Ok, sekarang kamu mau kemana?” tanya Adit, setelah ia duduk di belakang kemudi.
“Em, ngga tau,” jawab Ayara, bingung.
“Jadi, kita pulang?” tanya Adit lagi, dan Ayara menggeleng cepat.
“Terus kita kemana, nonton?”
Dan Ayara pun tetap menggelengkan kepalanya. Setiap pergi, ia selalu nonton dan nonton, ia merasa sudah bosan. Tapi ia juga bingung harus pergi kemana.
Adit pun menjalankan mobilnya meski ia juga belum tau akan kemana tujuan mereka.
“Kita kemana?” tanya Ayara, setelah tadi beberapa saat ia hanya diam.
Adit tersenyum, lalu kembali fokus mengemudi. “Kamu liat aja nanti,” ujar Adit. Ayara pun mengangguk, seraya tersenyum kecil.
Beberapa saat Adit menyetopkan mobilnya lalu mengajak Ayara turun dari mobil.
“Ini tempat apa?” tanya Ayara sambil memperhatikan tempat itu. Tidak ada kedai atau pedagang disana, tapi ada beberapa orang yang terlihat sedang bersantai dan sepertinya mereka adalah pasangan.
Adit membawa Ayara ke sebuah taman dekat danau. Tempat itu sering ia datangi bersama Ricky jika mereka belum ingin pulang ke rumah saat jaman kuliah dulu.
“Kita istirahat disini dulu, sambil menentukan kemana kita akan pergi selanjutnya,” ujar Adit seraya duduk di dekat tepi danau. Ayara pun ikut duduk disana sambil memperhatikan sekitar.
“Om juga sering kesini?”
“Hm, dulu.”
“Hanya waktu dulu Om sering pergi keluar rumah? Jadi selama ini Om kemana saja?” tanya Ayara, ia melihat ke samping, dimana Adit duduk dengan menatap lurus ke depan.
Adit hanya bisa menghela nafasnya mendengar rentetan pertanyaan dari Ayara. Memang benar, dia tidak seperti ibunya, batin Adit.
“Bukannya bekerja juga harus keluar rumah? Jadi, siapa bilang Om ga pernah keluar rumah?”
“Maksud aku, pergi jalan-jalan bersama teman atau pergi kencan, apa Om ga pernah?”
“Om ga kencan. Kamu sendiri kenapa ga jalan sama teman-teman kamu atau kencan?” Adit pun membalikkan pertanyaan yang tadi Ayara berikan padanya.
“Bukan tidak mau pergi, tapi mama selalu khawatir setiap aku pergi bersama teman-temanku, dan aku selalu di teleponin sama mama. Aku juga ga kencan, karena aku masih sekolah,” jelas Ayara, seraya membuang nafasnya.
“Tentu saja, Ricky yang anak cowo aja di jaga habis-habisan oleh Raisa, apalagi dia anak cewe,” batin Adit.
“Lalu, kenapa mama mu ga neleponin dari tadi?”
Ayara menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. “Mungkin mama lebih percaya kalau aku pergi sama Om,” sahut Ayara.
“Lalu, kenapa Om ga kencan, Om kan udah dewasa?”
“Dasar anak kecil!” Adit merasa gemas dengan tingkah Ayara yang selalu saja banyak tanya.
“Om, tunggu!” teriak Ayara ketika Adit lebih dulu berjalan menuju ke arah mobil.
“Apa Om sudah tau kita akan pergi kemana?”
“Udah, ayo!” sahut Adit. Ayara pun segera masuk ke dalam mobil.
Kurang lebih 20 menit, mereka sudah sampai di tempat yang jadi pilihan Adit untuk melanjutkan misi jalan-jalan mereka.
“Wahana?”
“Ya, ayo,” ajak Adit, kali ini ia menggandeng bahu gadis itu. Ayara pun mengiringi berjalan di sisi Adit.
Awalnya Adit hanya mengajak untuk naik kincir angin, namun Ayara meminta untuk mencoba semua permainan yang ada di wahana itu.
Selama ini Ayara tidak di perbolehkan untuk menaiki wahana apa pun, Raisa selalu melarangnya karena merasa khawatir. Hari ini ia menumpahkan semua keinginannya itu dengan mencoba semua permainan. Setelah ini ia tidak akan merasa penasaran lagi.
semangat up ya Thor 😘