“Ck..!! Kenapa aku bisa lupa!!!” rutuknya sambil melempar sembarangan botol air mineral yang dipegannya dan tanpa sengaja botol air mineral itu menganai kepala salah satu cowok yang sedang berkumpul di depan Elisan.
“Mati aku!” gumam Elisa saat pria yang terkena lemparan homerun nya tadi berjalan ke arah nya.
Dan dari muka pria itu sangat jelas kalau dia sangat marah.”Padahal tidak sengaja kan?” batin Elisa.
“Milik mu?” tanya Pria itu sambil mengarahkan botol yang Elisa lempar tadi ke arah Elisa.
“Sepertinya iya.” Aku Elisa mau tidak mau. Mau bohong juga percuma, jelas banyak saksi yang melihatnya.
Pria itu menatap Elisa dengan tatapan geram sambil membuka botol air mineral itu dan dengan tatapan tajam dan penuh kemarahannya dia menuangkan air itu di atas kepala Elisa. “ini baru sepadan.” Ucap nya tersenyum smirk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Elisa mengusap kepala bocah itu lalu say good bye pada dua bocah yang saat ini sedang tersenyum manis dan menatapnya dengan rasa penuh syukur.
“Aku pergi dulu ya.. semoga lain waktu kita bisa ketemu lagi.” Ucap nya lalu pergi.
Melihat Elisa pergi, Alhen pun ikut pergi. Kali ini telah terselip rasa ragu dalam diri Alhen untuk membunuh Elisa. Ya, karena kan Alhen sebenarnya tidak membunuh anak-anak dan wanita. Dia biasanya hanya menerima job untuk membunuh orang-orang yang menurut penyelidikan Alhen hidup tu orang lebih banyak mudoratnya dari pada manfaat nya.
Terkhusus untuk pekerjaan menghabisi nyawa Elisa, Alhen setuju karena Alhen ada masalah pribadi dengan Elisa.
Dan lagi, Alhen juga pernah melihat sendiri kelakukan Elisa yang menurut nya minus sehingga kalau harus dia lenyapkan pun kayak na gak masalah.
Elisa berjalan sambil menelpon, entah dengan siapa Elisa menelpon, Alhen tidak tahu dan tidak mau tahu.
Yang pasti saat ini cukup ikuti saja gadis ini terlebih dahulu. Lihat seperti apa diri si gadis sebenarnya. Apakah, memang sebaik yang dia lihat tadi atau jangan-jangan yang tadi hanya kesambet malaikat untuk sesaat saja.
Alhen terus berjalan di belakang Elisa tapi dengang tetap menjaga jarak. Jangan sampai keberadaan diri nya di ketahui oleh Elisa.
“Apa dia mau kembali ke kampus?” tanya Alhen dalam hati melihat Elisa bergerak ke dalam kampus nya.
Karena merasa Elisa akan kembali ke kampus nya, Alhen pun memerintahkan Jhon untuk mencari tempat parkir di sekitaran kampus.
“Jhon, target kita kembali ke kampus nya. So cari parkiran di sekitar kampus nya.” Perintah Alhen.
“Siap bos.” Jarvis pun bergerak pindah dari parkirannya semula mencari posisi untuk diri nya di sekitar kampus Elisa.
Baru sebentar saja perhatian Alhen teralihkan ke Jarvis, Elisa yang baru saja menginjakkan kaki di kampusnya sudah terlibat masalah baru.
Kali ini Elisa terlihat sedang menyiramkan jus alvokat yang entah dia dapat dari mana ke atas kepala seorang wanita yang terlihat sedang menangis tersedu-sedu di depan Elisa.
“Seperti nya ni cewek memang punya kebiasaan menyirap kepala orang lain dengan air!” ketus Alhen yang memutuskan untuk memperhatikan apa yang Elisa lakukan sambil pura – pura baca buku senderan di pohon tidak jauh dari tempat Elisa dengan berbuat semena-mena pada seorang gadis lainnya.
“Kemarin dia menyiram kepala ku dengan air. Lalu kepala Elisa! Dia memang tidak memiliki rasa menghargai orang lain! Orang seperti dia seharusnya tidak perlu ada di dunia ini. Lihatlah gadis itu sudah menangis bahkan memohon-mohon pada nya! Tapi lihat muka nya itu. JUTEK! BOSSY! Sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan pada gadis itu! Dia juga tidak iba melihat air mata gadis itu! Benar-benar pantas di lenyapkan.” Ujar Alhen.
Untuk sesaat ingatan Alhen mendadak menjadi sangat buruk. Alhen lupa bahwa dirinya lah yang menyiram air ke atas kepala Elisa. Dan sekarang bisa-bisa nya menuduh kalau hal tersebut adalah karakter asli Elisa.
“Aku mohon Elisa.. maafkan aku.” terdengar suara seorang gadis sedang memegangi kaki Elisa dengan kepala yang sudah di siram dengan jus Al vokad sedang memohon bagai pengemis bersimpuh di kaki Elisa.
“Maaf kata mu? Cih! Yang benar saja!” Elisa menepis tangan gadis itu dengan sangat kasar.
Semua orang yang melihat hal tersebut langsung berbisik-bisik dan melihat buruk pada Elisa.
Dari tatapan orang-orang yang sedang menyaksikan hal tersebut, sudah dapat disimpulkan kalau mereka semua berpikiran buruk pada Elisa.
“Benar dugaan ku! Tadi dia itu baik hanya karena kesambat malaikat saja. Lihatlah kini bar-bar nya keluar!” Seru Alhen pelan, menarik salah satu sudut bibirnya, tersenyum ke arah Elisa. Senyum yang penuh makna. Keyakinan Alhen untuk membunuh gadis ini mulai tumbuh lagi.