Dinikahi kemudian disiksa, begitulah takdir Seruni. Ia harus menerima perjodohan yang memiliki tujuan tersembunyi. Dinikahi hanya dijadikan ibu pengganti. Terkurung dalam sangkar emas penuh derita, apa ia akan bertahan atau malah melawan?
Sebuah kisah yang menguras emosi dan jiwa, bagaimana cara Seruni bisa lepas dari suaminya yang keji seperti iblis tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Seruni Dendam Istri Pertama Bagian 11
Oleh Sept
Mungkin aku terlalu ketakutan dan gugup, sampai tidak bisa membuka pintu dengan kunci yang kupegang sekarang. Sejenak aku menarik napas panjang, kuhempaskan secara perlahan. Aku harus tenang agar bisa berpikir jernih.
Aku lihat 3 kunci yang ada di tanganku. Harusnya 4 buah. Jadi yang satu ke mana? Sudah pasti itu adalah kunci yang aku cari. Kutatap lantai di belakang, mungkin terjatuh. Kosong, tidak ada apapun. Aku lantas melihat jendela, dan harus bisa menarik napas dengan pasrah. Jendela rumah kami semua terpasang jeruji besi. Ini karena untuk keamanan agar pencuri tidak gampang keluar masuk. Dan kini akulah yang terjebak.
"Tenang Seruni ... tenanglah. Masih ada waktu." Aku bicara lirih pada diriku sendiri. Agar tetap tenang dan tidak panik.
Setelah aku pikirkan, aku kemudian menyembunyikan tas yang hendak aku bawa. Ku sembunyikan di lemari kecil yang ada di dapur. Sepertinya kabur saat ini belum bisa. Nanti ketika mas Erwin lengan, baru aku akan meninggalkan rumah yang seperti neraka ini.
Sesaat kemudian
Aku membersihkan rumah untuk mengalihkan pikiran. Sebab aku harus bersikap biasa agar mas Erwin tidak curiga dan kembali marah lalu menyiksaku lagi. Ku dengar dari dapur pintu kamar terbuka. Aku mengatur napas agat tidak mencurigakan.
"Runiiii!" panggilnya dengan nada tinggi tapi suara yang serak. Mungkin dia baru bangun. Aku pun datang, sebelum dia menghampiri dan marah.
"Iya, Mas." Aku datang dengan wajah tertunduk.
"Sedang apa?" tanya mas Erwin sembari perlahan menuruni ranjang. Kuamati dengan kedua ekor mata, dia meraih kemeja dan juga celana. Dia hendak memakai itu semua tepat di depanku dengan ekspresi datar.
"Bersih-bersih," jawabku gugup. Aku tidak berani menatapnya karena belum memakai apa-apa.
"Aku menikahimu bukan hanya untuk bersih-bersih! Aku tidak butuh pembantu!" cetus mas Erwin mulai kasar, dan aku mulai waspada.
"Cepat siapkan makan, aku lapar!" tambah mas Erwin. Katanya dia tidak butuh pembantu, tapi dari caranya meminta aku melakukan ini dan itu, dari para seorang istri, aku merasa aku hanya pembantu baginya. Pembantu yang merangkap jadi samsak jika dia marah. Pembantu yang bisa membuatnya puas saat berhasil membuatku terluka atas penyiksaan yang aku terima.
Tidak mau pria kejam ini marah, aku pun berbalik. Bergegas menuju dapur. Dengan hati yang semrawut, aku menyiapkan makan. Entah rasanya bagaimana, sebab indraku sudah kebas, hambar tidak bisa lagi merasakan. Apalagi saat pria itu sudah berjalan ke meja makan, aku pun bergegas merapikan semuanya di meja.
"Hanya ini? Apa saja yang kau lakukan di rumah?" sentaknya kasar.
"Pintunya terkunci, Mas. Aku tidak bisa keluar ... hanya bahan ini yang ada di kulkas," jawabku mencari alasan. Padahal banyak bahan di dalam kulkas. Hanya saja aku tidak berselera memasak untuk pria dingin ini.
Tidak kusangka, dia langsung berdiri. Kemudian berjalan ke arah TV. Setelah itu melempar benda kecil ke atas meja.
"Kau menjatuhkannya!" ujar mas Erwin kemudian duduk kembali.
Mataku berbinar menatap kunci rumah yang kata mas Erwin jatuh, tapi aku tidak yakin bagaimana benda itu jatuh.
BUEH ... BUEH ...
Aku kaget menatap wajah suaminya yang masam.
"Masakan apa ini? Apa kamu sengaja?" sentak mas Erwin setelah melepeh makanan yang aku sediakan.
Aku menggeleng pelan. Tapi mas Erwin kembali bangkit dan berjalan ke arahku.
"Kau sengaja, Ya? Apa kau dendam padaku?"
Aku menggeleng ketakutan. Aku pikir mas Erwin akan kembali menyiksaku, tapi ia malah memintaku berdiri dan ganti baju.
"Ganti bajumu, Kita makan di luar."
Aku menelan ludah, kemudian dia malah melotot.
"Kau tidak dengar?"
Aku pun langsung bergegas ke kamar, dan suamiku terdengar mengikuti di belakang. Ketika aku berganti pakaian, kulihat mas Erwin ke kamar mandi. Sepertinya dia mandi terlebih dulu. Sempat curiga, untuk apa dia mengajak makan di luar. Lama-lama aku bingung, sikap mas Erwin sama sekali tidak terduga.
***
Di dalam mobil
Kami duduk di dalam mobil tanpa banyak bicara. Hanya ada suara audio, sesekali pria dingin di sebelahku ini melirik.
"Mau makan apa?" tanya mas Erwin. Mendadak dia seperti laki-laki yang aku kenal saat baru bertemu dulu. Dingin, kaku, tapi masih sopan. Apa suamiku mengidap bipolar? Apa dia punya kepribadian ganda? Di mana dia bisa mengebu-ngebu menyakitiku, dan di sisi lain dia menjadi sangat normal seperti sekarang ini? Astaga, aku malah semakin gelisah karena dia yang susah ditebak suasana hatinya.
"Terserah, Mas Erwin," jawabku kemudian.
"Oke!"
Mobil pun kembali melaju cepat, meninggalkan gedung-gedung tinggi yang bertingkat. Sebenarnya moment seperti ini adalah sangat jarang. Selama tiga bulan menikah mungkin bisa dihitung dengan jari mas Erwin mengajakku makan di luar.
La' Ros Cafe
Mobil mas Erwin berhenti tepat di salah satu lahan parkir milik cafe yang cukup besar menurutku. Terlihat ramai akan pengunjung. Ku lihat dari sini desain cafenya pun bagus dan cukup unik. Entah kerasukan setan dari mana, mengapa mas Erwin mengajak aku ke sini.
"Ayo."
Aku shock, dia yang selalu menatap tajam malah mengulurkan tangan kemudian melempar senyum. Bukankah bahagia, aku malah gelisah. Ingin ku acuhkan, tapi takut. Akhirnya aku raih tangan yang ternyata terasa hangat tersebut. Kami berdua masuk ke dalam cafe, jika dilihat mungkin kami seperti pasangan yang romantis, tapi jauh di dalam hati aku malah ketar-ketir. Semakin mas Erwin baik padaku, aku semakin takut.
Ada meja kosong, mas Erwin mengajakku ke sana. Sesaat kemudian pelayan datang. Sepertinya pengunjung kebanyakan, kami pesan dan menunggu makanan datang. Selama menunggu, mas Erwin sibuk dengan ponselnya. Hingga dia beranjak dari duduknya ketika ponselnya berbunyi nyaring. Sepertinya ada telpon penting. Entahlah, mungkin dari si Riana, pikirku.
Hampir lima menit lebih mas Erwin menjauh, kulihat di berdiri agak jauh. Mencari tempat sepi untuk bicara di telpon. Sedangkan aku, kini menanti pesanan seorang diri. Hingga akhirnya minuman yang aku pesan telah tiba.
"Terima kasih," aku mendongak menatap ramah pada waiter yang masih muda tersebut. Karena dia tersenyum ramah, aku pun membalas.
Saat akan ku buka sedotan yang masih terbungkus, tiba-tiba benda itu malah melompat dan jatuh. Waiter itu menatapku sejenak, kemudian membantu mengambil untukku.
"Biar saya ganti, Mbk," serunya sambil melempar senyum.
"Maaf, ya Mas." Aku jadi merasa tidak enak karena jadi sedikit ceroboh.
"Tidak apa-apa, sebentar. Saya ambilkan yang baru."
Aku mengangguk pelan. Tidak butuh waktu lama, pemuda yang aku taksir usianya sama denganku itu pun berjalan ke mejaku.
"Ini, Mbk."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Waiter itu kemudian pergi lagi, dan mas Erwin kulihat masih asik telpon. Sambil minum aku masih menunggu pesanan yang lain datang. Dan setelah menunggu, akhirnya bau wangi nan lezat akhirnya muncul juga. Pesananku datang bersama dengan pesanan mas Erwin. Tapi pria itu sibuk dengan ponselnya.
"Terima kasih," ucapku pada waiter yang tadi. Dia hanya mengangguk lalu pergi.
Tap tap tap
"Kau kenal pelayan itu?"
Aku mendongak, tiba-tiba mas Erwin muncul menatapku dingin.
"Aku bertanya padamu, apa kau kenal laki-laki itu?"
Aku menggeleng pelan, menahan napas. Akankan singa ini akan bangun di sini? Tapi baguslah, setidaknya ada yang tahu, kalau pria ini gemar melakukan kekerasan padaku.
"Bangun!" sentaknya marah.
Aku menelan ludah, kemudian menoleh. Kulihat pengunjung lain mulai memperhatikan kami. Sedangkan mas Erwin, dia mengeluarkan dompet dan beberapa lembar uang warna merah. Dia letakkan di atas meja.
Aku panik, pasti dia akan membawaku pergi lalu meyiksaku lagi. Kabur dalam keramaian seperti ini sepertinya cukup membantu, aku pun berdiri, tapi tidak mendekat. Kakiku mundur lalu menjauh.
Dia langsung menatapku marah. Jantungku berdegup, aku harus kabur sekarang. Aku harus minta tolong pada orang. Kebetulan di belakangku ada waiter yang tadi. Reflek aku bersembunyi di balik tubuhnya. Dan BUGH
Bersambung
crita uda hampir slesai ko, penderitaannta g habis2