"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"
Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.
Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.
Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.
Genre : Romantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Tentang Aku dan Dafa
Kini aku berada di ruangan bernuansa serba putih yang berukuran cukup besar, di sekelilingnya teratur rapi rak-rak besar yang berisi berbagai macam obat, di belakang salah satu rak, duduk beberapa apoteker yang tugasnya meracik obat.
Sambil menunggu beberapa pasien memberikan list resep obat, aku mengambil gawaiku yang sedari tadi berdering ramai. Entah kenapa begitu, padahal seingatku, aku tidak terlalu aktif berselancar di dunia maya seperti Facebook dan WhatsApp.
Kulihat notif gawaiku, di sana banyak tertera simbol WhatsApp, yang artinya banyak pesan yang masuk ke pesan WhatsApp-ku. Sedikit bingung juga sebenarnya, karena aku tidak pernah bergabung dengan grup apapun di aplikasi WA-ku. Pun untuk saling mengirim pesan dengan seseorang aku sangat jarang.
Aku membuka aplikasi bersimbol gagang telepon dengan perpaduan warna hijau dan putih itu. Di sana terlihat sebuah grup bernama "Alumni SMA Negeri 57". Rupanya aku di tambahkan sebagai anggota di grup alumni sekolah yang dulunya adalah sekolahku.
Segera kubuka grup yang memiliki 250 notifikasi itu. Penasaran dengan isi pesannya. Kubaca semua pesan dari awal ku masuk.
[Eh itu siapa yang baru di tambahkan Dafa?] Tanya seseorang dengan kontak yang bertuliskan nama Riaaaaa.
Aku tau siapa dia, salah satu sahabat gengku sewaktu SMA. Cewek tomboi yang tak mau jatuh cinta, karena baginya lelaki itu hanya bisa menggores luka pada perempuan.
[Ah itu si Riri, pujaan Dafa waktu masih SMA]
[Wah, kayaknya cinta lama bakalan bersemi kembali nih]
[Haha, Iyah, apalagi si Riri kan sudah berstatus janda kan yah, janda cantik gitu lagi, pastinya Dafa semakin semangat nih ngejarnya]
Semua celoteh teman-teman kuanggap sebagai hiburan saja. Pasalnya antara aku dan Dafa tak ada hubungan istimewa, kami hanyalah sahabat dekat yang saling memberi semangat dalam hal akademik. Hingga persahabatan itu mulai terasa renggang ketika Dafa jatuh cinta pada seorang perempuan, adik kelas kami yang berparas ayu dan cantik.
Saat itu kami sudah menduduki bangku Sekolah Menengah ke Atas kelas dua. Untuk pertama kalinya kulihat Dafa begitu serius dalam hubungannya. Ada rasa cemburu menyelimuti hatiku. Dia mulai menjaga jarak denganku.
Melihat aku dan Dafa seperti sudah saling jauh, sontak membuat gambar tanda tanya besar terlukis di semua benak teman-teman kami kala itu. Mereka bertanya-tanya perihal hubungan persahabatan kami. Aku yang tak tau pun, menjawab dengan seadanya.
[Mungkin Dafa lagi nggak mood main sama aku] jawabku pada teman-teman.
Semakin hari Dafa semakin jauh dariku. Aku penasaran apa yang membuat Dafa seperti itu, hingga akupun memberanikan diri bertanya padanya. Saat itu setelah jam pelajaran ibu Novi selesai, aku menghampiri Dafa yang tengah mengatur semua barangnya. Kelas mulai sepi karena sudah masuk jam istirahat.
"Dada, kok akhir-akhir ini seperti menjauh sih dari Riri?" Tanyaku pada Dafa yang tak mau memandang wajahku.
Aku dan Dafa terbiasa saling menyebut nama dalam berbicara. Tak ada kata loe dan gue dalam persahabatan kami. Saling menyebut nama merupakan salah satu penyaluran sayang kepada sahabat. Begitulah persepsi kami saat itu.
Dafa masih diam. Gerakannya semakin ia percepat. Seperti takut ketahuan seseorang jika berlama-lama denganku.
"Dada, jawab dong. Riri punya salah yah?" Sahutku dengan manja seperti biasa.
"Maaf Rianti, mulai sekarang jangan panggil gue Dada lagi, panggil gue Dafa!" Jawabnya dengan intonasi kata meyakinkan.
Jawabannya membuatku sejenak tergugu, tak tau harus menjawab apa. Dafa benar-benar telah berubah. Aku sangat tau, ini pasti karena Tania, wanita yang ia pacari kini. Kabarnya Tania itu tipe pencemburu dan posesif. Itu informasi yang diberikan Dafa dulu di awal-awal mereka jadian.
"Apa ini karena Tania Da?" Sahutku dengan tatapan kecewa.
Bagaimana bisa dia lebih memilih seseorang yang baru saja dia kenal beberapa bulan ketimbang aku yang sudah bertahun-tahun bersamanya.
"Maaf Rianti, kali ini aku serius dengan Tania, bahkan berencana untuk menikah dengannya. Tania tidak suka gue deket-deket loe." Kali ini kulihat tatapannya sedih, seakan berat untuk tak bersahabat lagi denganku.
"Baiklah Dafa, gue juga nggak berharap apa-apa sama loe, toh kita kan cuma berteman biasa," jawabku sambil berlalu pergi.
Sejak saat itu aku dan Dafa tak lagi menjadi sahabat. Dafa semakin sibuk bergaul dengan sahabat-sahabat Tania. Dan melupakan kami teman-teman ngumpulnya.
Aku lalui setiap harinya tanpa bermanja-manja pada Dafa. Ada rasa kehilangan, tapi segera kutepis. Untuk apa memikirkan Dafa yang tak pernah memikirkan perasaanku.
Sejujurnya rasa suka itu telah tumbuh semenjak persahabatan ini di mulia. Namun, perasaan itu kubuang saat ku tau Dafa tak pernah memiliki perasaan lebih selain perasaan bersahabat padaku.
Sudah dua bulan Dafa tak lagi bergaul dengan kami. Dalam geng kami ada Ria, Rian, Vika, Dinda, Alit, Icha dan aku. Kami menghabiskan waktu seperti biasa, dengan nongkrong di depan perpustakaan sekolah sambil bercanda ria.
Kulihat Dafa berjalan cepat kearah kami. Dengan raut wajah berbinar seperti hal yang di lakukannya dulu sebelum bertemu Tania.
"Hay semua, dah pada makan belum? Makan yuk gue lapar nih!" Celotehnya dengan duduk tepat di sampingku.
"Kesambet apa'an loe Daf tiba-tiba nyapa kami gini?" Jawab Rian dengan senyum sinis.
"Alah, palingan juga lagi di jutekin Tania, hahaha," cercah Ria tak kalah sinis.
"Aku tuh rindu sama Riri tau, makanya kesini," katanya sambil mengedipkan sebelah mata kearahku.
Melihat itu, perasaanku muak dibuatnya. Aku tak suka lagi berdekatan dengannya. Rasa kecewa sudah terlanjur tumbuh dan mengakar di hatiku.
"Haha, kasian deh loe Daf, Riri sekarang sudah ada yang punya oi, noh si Kak Galih yang ganteng itu, sekarang mereka sudah pacaran," cecar Dinda yang cerewet, membuat Dafa seketika memandangku.
"Beneran Ri?" Tanyanya sembari memandang lekat ke wajahku.
"Iyah Dafa, gue sudah berpacaran dengan kak Galih satu minggu lalu," jawabku santai.
Dafa terdiam. Netranya masih terus memandang kearahku seperti tak percaya. Aku beranjak menjauhinya. Pandangan itu masih terus mengikutiku. Tiba-tiba ia berdiri dan mohon pamit kepada kami untuk bertemu Tania.
***
[Apa'an sih loe pada, bukan ABG lagi saling bully gini, haha] balas Dafa pada teman-teman.
Aku hanya bisa mengukir senyum melihat setiap chat dari teman-teman seangkatanku.
"Mbak ini resepnya," sapa seorang pria muda.
Sapaan pria tersebut mengagetkanku. Segera kuambil resepnya. Dan mulai mengambil satu per satu obat yang tertera dalam kertas tersebut. Setelah siap semua, aku berikan obat itu ke pria yang kini sedang memapah pelan istrinya yang hamil.
Satu persatu orang-orang mulai mengantri memberikan kertas resep kepadaku dan Susan. Aku dan Susan dengan telaten menyediakan setiap obat yang tertera disana.
Bersambung 😁
dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...
karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....
banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...
keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...
lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝