Sekuel Terpaksa Menikah.
Yang langsung mau baca season dua juga boleh, ada di sini semua ya gaes.
Chelsi Amira Putri berusaha menghindari perjodohan yang dibuat oleh ayahnya. Namun, dia malah terjebak dalam kesalahannya sendiri. Dia menjadikan Alaska Lencana kambing hitam untuk menolongnya agar terhindar dari perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Pertanyaan.
“Mencuri first kissku,”
Amira melongo dengan mata melotot. Bagaimana pria ini tahu? Dia mati gaya mendadak. Balik kanan ingin kabur tetapi Laska lebih dulu menahannya.
“Mau ke mana?” tanya Laska sembari menaikturunkan alisnya.
“Anu ... itu aku mau mandi, iya mandi.” Amira langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Lasak yang langsung menggerutu kesal.
Di dalam kamar mandi, Amira duduk di belakang pintu sembari memegangi dadanya. Hampir saja jantungnya copot karena ucapan Laska. Lagian, dia bingung, dari mana pria itu tahu, apa dia memasang CCTV di kamarnya. Antahlah, Amira bingung. Dia langsung membuka semua bajunya, dan masuk ke dalam bathup untuk berendam.
Hampir dua puluh menit dia berendam, membasuh seluruh tubuhnya dengan air dingin. Setelah itu meraih kimono di belakang pintu. Saat akan keluar, dia baru ingat karena tak membawa baju. Akhirnya Amira tak jadi keluar, memilih memeriksa seragam sekolahnya kembali. Tampak lusuh dan basah karena tadi terjatuh dilantai kamar mandi.
Melonggokkan kepala di pintu, dia masih melihat Laska di sana. Pria itu tengah sibuk bermain ponsel di ranjang, Amira membuang napas kasar. Lalu menutup pintunya kembali.
Apa yang harus dia lakukan sekarang, tak mungkin keluar hanya dengan menggunakan ini saja. Takutnya Laska akan tergoda dan akan meminta haknya sebagai suami, sungguh Amira tak bisa membayangkan itu. Tetapi berada di kamar mandi terus justru membuat kakinya kram.
Akhirnya dengan terpaksa Amira keluar masih mengenakan kimono milik Laska. Berjalan santai menuju ranjang, lalu menjatuhkan bokongnya di sana.
“Om,” panggil Amira sembari menyentuh tangan Laska. Tentu saja membuat pria itu terkejut.
Mata Laska melotot sempurna, melihat keadaan Amira yang begitu menggoda. Dengan cepat Laska memalingkan wajah, untuk menghindari kontak mata dengan gadis di sampingnya.
“Pakai bajumu,” titah Laska masih melihat ke samping.
“Basah, makanya itu aku mau minta tolong sama Om. Tolong belikan baju,” ucap Amira sembari menyentuh tangan Laska, dengan cepat ditepis oleh pria itu.
“Iya, saya belikan. Jangan pegang-pegang!” cetus Laska. Amira mencibir sambil mengepalkan kedua tangannya.
“Dasar Om kelainan!” teriaknya ketika Laska sudah keluar.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Laska mengucapkan istigfar. Dia tak habis pikir dengan kebar-bar-an Amira. Sukses membuat dia panas dingin, dan akhirnya memilih menurut dari pada harus digoda kembali seperti malam sesudahnya.
“Mau ke mana Sayang?” Kia menghentikan langkah kaki Laska. Mendekati anaknya, dan menatap wajah Laska dengan intens.
“Keluar Mi, mau belikan baju buat Amira,” jawab Laska dengan suara bergetar.
“Kamu sakit?”
“Tidak!”
“Pakai baju Umi saja,” usul Kia, Laska tampak berpikir.
“Tapi Amira enggak mau pakai gamis Mi,”
“Tenang, Umi ada dress dulu saat masih gadis seumuran Amira. Mungkin saja muat untuk dia.”
Laska berjalan mengikuti Kia, memasuki kamar wanita itu. Kia mulai membongkar lemarinya, mengeluarkan semua pakaian yang dia simpan selama bertahun-tahun. Masih terlihat bagus semua, Kia mendadak bingung ingin memberikan yang mana. Lagi pun dia tak tahu kesukaan Amira.
“Kamu yang pilihin deh,”
“Kok Laska?”
“Ya ‘kan kamu suaminya Sayang, pasti ngerti kesukaan Amira.”
Akhirnya Laska memilih dress agak panjang dengan warna biru langit. Dia segera membawanya ke kamar dan memberikannya pada Amira.
Gadis itu tersenyum gembira dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Keluar dengan berjalan anggun layaknya seorang putri.
“Cantik banget, Om beli di mana?” tanya Amira sembari menyisir rambutnya di depan kaca rias.
“Punya Umi waktu gadis,” jawab Laska sembari menjatuhkan bokongnya di ranjang.
“What? Umi waktu gadis enggak berhijab?” Amira heboh, gadis itu sudah duduk di dekat Laska sambil memerhatikan wajah tampan milik pria itu.
Laska yang merasa risi, bergeser lebih ke tepi ranjang. Hingga jarak antara dia dan Amira cukup jauh.
“Om ngapain sih geser-geser, memangnya aku virus apa!”
“Iya. Kamu bahaya!”
Amira mendecih kesal, lalu berpindah mendekati Laska lagi. Dia tersenyum saat melihat pria itu kesal. Dengan lancangnya Amira menyenderkan kepalanya dibahu kokoh Laska.
“Om, malam pertama itu seperti apa?” tanya Amira masih berada diposisinya. Laska tidak bisa bergerak hanya untuk beringsut kembali, akhirnya dia hanya bisa pasrah.
“Enggak tahu!” cetus Laska dengan acuh.
“Masa iya enggak tahu, ‘kan sudah dewasa. Apalagi cowok, biasanya kalau yang begini-begini paling ngerti,” sindir Amira seraya mengangkat kepalanya. Dia mengambil tas lalu memberikan sebuah buku bersampul hitam biru ke Laska.
“Apa ini?” tanya Laska bingung.
“Bukulah, masa iya makanan.”
“Iya saya tahu, tapi buku apa?”
“Baca aja judulnya, pake nanya segala. Bikin kesel tahu gak!”
“Aneh.”
“Omlah!”
Amira beranjak dari duduk, menaruh kembali tas di meja lalu melangkah pergi keluar kamar. Sedangkan Laska masih di tempatnya, memegang erat buku pemberian Amira tadi.
Dia belum membalikkan bukunya untuk melihat judul yang tertera di cover. Memilih meletakkannya di ranjang, berlalu ke kamar mandi untuk mengambil wudu.
**
Obrolan ringan terjadi antara Amira dan Kia. Dua wanita itu terus membahas banyak hal, tentang makanan maupun sayuran kesukaan. Sejauh ini Amira belum bosan, bahkan dia sangat senang. Kia pun begitu, wanita itu begitu penyayang.
“Jadi usia kandungan kamu masuk berapa Minggu Sayang?” Pertanyaan Kia membuat Amira tersedak ludah sendiri. Gadis itu bergerak tak nyaman sembari membenarkan rambutnya.
Bingung. Amira tidak tahu harus menjawab apa, sedangkan dia tak hamil. Ternyata efek dari berbohong sejak awal bisa sangat berbahaya di masa depannya. Amira mengakui itu.
“Sayang.” Teguran Kia membuyarkan lamunan Amira.
“Iya Mi, apa tadi?” Amira pura-pura tak tahu. Hanya untuk menghindari pertanyaan menohok itu.
“Sudah berapa usia kandungan kamu.”
“Hmm, itu ... berapa ya? Sekitar dua Minggu kayaknya.”
Jawaban Amira membuat Kia bingung. Wanita itu menelisik jauh mata menantunya, terlihat jelas kebohongan di sana tetapi Amira menutupi. Dia mengangguk sebagai tanggapan, setelah itu mencari topik baru yang lebih berfaedah.
Terlihat pria tengah menuruni anak tangga, Laska menggulung lengan kemejanya hingga siku. Wajahnya sudah kelihatan segar dengan pakaian yang juga sudah berganti.
“Ayo kita cari makan,” ajak Laska dengan wajah datar. Kia menggelengkan kepala, lalu tersenyum ke arah anak-anaknya.
“Sana Sayang, cari makan dulu. Soalnya Umi belum masak, nanti kamu nunggunya lama,” ujar Kia pada Amira yang dibalas anggukan oleh gadis itu.
“Kalau gitu kita pamit, Mi,” ucap Laska. Setelah menyalami sang umi, dia berjalan keluar lebih dulu. Lalu diikuti oleh Amira.
**
“Alhamdulillah.”
Jemari terbalut mukena menyapu seluruh wajah, mengucap syukur pada Sang Maha Kuasa pemberi hidup seluruh manusia. Cinta melipat sajadahnya, lalu meletakkan bersama mukena di dalam lemari.
Setelah merapikan hijab, Cinta mengambil ponsel di atas nakas. Ia menghidupkan benda pipih itu, terpampang jelas pesan masuk di layarnya. Segera dia geser untuk segera melihat lebih panjang pesan yang baru terkirim.
[Save, Alfaliansky Afganda. Pria yang menolongmu mengambil buku di perpustakaan sekolah.]
Pesan singkat itu hanya dibaca oleh Cinta, dia tak berniat membalasnya saat sudah tahu sang pengirim.
Cinta adalah tipikal gadis yang enggan membalas pesan dari pria lain yang bukan mahram. Apalagi sampai bertegur sapa, dia paling tidak ingin. Sejauh ini, temannya hanya Amira. Kalau pun ada pria, itu teman Amira bukan dirinya.
Meletakkan ponsel kembali, Cinta berjalan keluar menuju dapur.
Bersambung
Cerita ini, mengisahkan dua pria yang sama-sama tengah berjuang.
Sang Kakak berjuang untuk mencintai istrinya. Sedangkan sang adik berjuang untuk mendapatkan cinta dari gadis yang tengah dia cantumkan dalam hati.
Jangan lupa like, komen dan vote. Kita harus saling menguntungkan readers.
Kamu masih muda,Kamu juga cantik,kamu juga gak benaran hamil kan,terus kenapa harus ngemis2 cinta sama orang..
awas Lo bucin sama om om 😃